Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 257


__ADS_3

Callista sempat marah marah saat melihat vas bunganya pecah dan itu ulah Nicho tapi dengan lihainya Nicho bisa membujuk Callista kalo dia akan membelikan Callista sepuluh vas bunga baru nanti di Korea. Dan sialnya Callista sudah terpukau dengan rayuan Nicho itu.


Callista beralih ke pintu utama dan membukanya. Alangkah terkejutnya Callista saat melihat Yesline yang basah kuyup sedang berdiri di depan rumahnya dengan memeluk kedua lututnya. Callista langsung berhambur memeluk Yesline dan mengajaknya masuk ke dalam. Nicho tertegun di dekat pintu, dia tahu dan bisa menebak apa yang terjadi, dia sangat kasihan melihat Yesline seperti itu, tapi posisinya tidak bisa melakukan apa apa.


Yesline berdiri di samping sofa, dipeluk Callista. Nicho berlari ke kamarnya untuk mengambil handuk dan baju ganti milik Callista. Callista menyadari kekhawatiran Nicho, bagaimana pun Callista tahu jika dulu Nicho memang pernah sangat mencintai Yesline. Dia tidak masalah, itu hanya masa lalu.


Nicho kembali dan menyerahkan handuk dsn baju ganti kepada Callista untuk diberikan kepada Yesline.


"Yes, aku bantu keringin rambut kamu ya?" pinta Callista dengan sopan. Yesline hanya mengangguk. Meski begitu perasaan Callista sudah tak karuan. Dia penasaran, apa yang Al lakukan sampai Yesline terlihat begitu sedih dan terpuruk.


Setelah mengeringkan rambut Yesline, Callista juga menyisirnya.


"Yes, ganti bajumu dulu, ya?" Callista menyodorkan baju itu kepada Yesline. Yesline menurut, dia menerima baju itu.


"Terima kasih, Call." Yesline mengatakannya dengan datar. Ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi di kamar tamu.


Callista dan Nicho saling bertukar pandang.


"Kamu pasti tahu apa yang sedang terjadi kan, Cho?" tuduh Callista. Ya, harusnya Nicho tahu karena tadi dia baru saja pulang dari tempat nongkrong dengan Al.


"Mungkin Yesline kesini mau bercerita sesuatu, kita tunggu dia yang cerita," Nicho menunggu, dia berdiri disamping Callista. Yseline kembali, dia duduk di sofa di samping Callista.


Niat kedatangan Yesline ke rumah Nicho adalah untuk menanyakan soal Al. Soal Lusi, lebih tepatnya soal masa lalu Al dan Lusi. Yesline ingin tahu semuanya, sehingga dia bisa mengambil sikap yang tepat untuk Al nantinya.


Dengan meminta ijin dari Callista tentunya. Callista mengijinkan Yesline untuk mengobrol berdua di ruang tamu dengan Nicho. Dan sesuai yang Nicho tahu, dia menceritakan semuanya. Termasuk alamat rumah Lusi dulunya.


Nicho menyampaikan kepada Yesline bahwa Al memang tidak sepenuhnya salah, Nicho menyakinkan Yesline betapa Al mencintainya, dia sekarang hanya sedang bimbang dan kembali terbayang bayang rasa bersalahnya di masa lalu dengan Lusi.

__ADS_1


Yesline mengerti. Dia sekarang tahu harus berbuat apa.


Setelah Yesline mendengar semuanya, dia meminta Nicho untuk menemani dirinya ke rumah Lusi dan menemui Isti gadis yang diceritakan oleh Al pada Nicho.


*******


Al memeluk nisan Lusi, dia datang kesana ingin meminta maaf sekaligus meluapkan segala perasaannya juga mengucap kalimat perpisahan. Jika dalam keadaan normal mungkin Al akan lari terbirit birit mendengar suara burung hantu, dan berada di kuburan tengah malam akan menjadi pilihan dia yang keseribu. Tapi Al ingin menyelesaikan semuanya malam ini juga. Sehoror apapun malam itu, dia tidak peduli lagi.


Kenapa aku bisa seperti orang bodoh


Yang tak mampu melupakanmu


Padahal kamu sudah pergi


Matamu, hidungmu, bibirmu, hingga jari jarimu yang dulu menyentuhku


Bagai terbakar habis, hancur lebur cinta kita,


Begitu menyakitkan.


Namun kini hanya akan aku sebut kau sebagai kenangan.


Air mata Al menetes. Mengatakan perpisahan kepada Lusi yang bahkan sudah tiada begitu lama, masih saja mampu membuatnya merasakan sakit yang begitu dalam.


Ya, Al menangis di atas batu nisan itu. Dia benar benar menyesal karena tidak bisa menyelamatkan Lusi. Dia adalah laki laki cengeng yang tidak bisa kehilangan sesuatu yang sudah sangat ia cintai.


Karena itu, kepada Yesline dia sangat begitu over protektif dan posesif. Dia tidak ingin kehilangan orang yang dia sayangi untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


"Kak, Al," panggil sebuah suara.


Al sangat terkejut, dia mengusap matanya yang sembab. Dia menoleh dan mendapati Isti berdiri tak jauh dari tempatnya bersimpuh. Dia sangat terkejut.


"Isti? Kenapa kamu berada disini?'' tanya Al yang sudah berdiri di depan Isti.


"Aku ingin menyampaikan sesuatu ke Kakak." Isti menatap ke arah Al dengan serius.


"Menyampaikan apa? Apa kamu sudah tahu siapa aku?'' sarkas Al.


Isti mengangguk.


"Iya, Kak. Isti sudah tahu, kalo kak Al adalah laki laki baik yang dulu sering kak Lusi ceritain. Laki laki tulus yang selalu memperhatikannya dan menjaganya. Berbeda dari teman laki lakinya yang selalu memanfaatkanya," jelas Isti dengan getir.


Dadanya juga sesak bila mengingat sang kakak meninggal dengan tragis dalam keadaan hamil.


Al semakin menundukkan pandangannya.


"Maafkan aku Isti, aku gagal menjaganya, aku gagal melindunginya, aku gagal menyelamatkannya. Aku menyesal, Isti." Al kalut, dia kacau. Dia mengusap mukanya dengan kasar.


''Tidak apa apa, Kak. Ini yang ingin aku sampaikan. Kakak sudah melakukan sebisa kakak, tolong jangan merasa bersalah karena kematian Kak Lusi, dia sudah bahagia di sana, kak. Akan lebih bahagia jika kakak bisa mengikhlaskan semuanya, setelah sekian belas tahun berlalu. Kami juga sudah mengikhlaskan kak Lusi, dan tidak menyalahkan siapa siapa atas kematiannya. Dia sudah sampai pada takdir yang tidak bisa kita rubah, Kak. Maaf karena kehadiran Isti membuat kakak mengingat semuanya kembali, Isti tidak bermaksud seperti itu, Kak. Maafkan Isti," tutur Isti disela sela isakan tangisnya.


"Aku berjanji pada Lusi, akan hidup lebih baik, Isti. Terima kasih karena sudah datang dan membantuku melepas rasa bersalah ini. Sekali lagi maafkan aku, Isti."


"Iya, Kak. Tidak apa apa."


Yesline muncul dari balik tubuh Isti, dia memang yang membawa Isti kesana, dia ingin Al melepaskan beban dihatinya. Dia mengerti kalo Al tidak sepenuhnya salah.

__ADS_1


__ADS_2