
"Kalian ini apa apaan, sih! Masa istriku dijadikan tumbal di tengah tengah pertengkaran kalian? Kan bisa ngomong sendiri berhadapan, saling minta maaf dan mengoreksi kesalahan. Al kamu bawa gih, Yesline ke kamar! Kamu juga Yesline, sesalah apapun suami kamu, tetap kamu harus kasih dia kesempatan bicara, terus dengerin. Diem dulu itu mulut jangan ngomel terus. Kasihan istriku!" Hans jadi kesal, kan. Baru kali ini Yesline dan Al dimarahi Hans langsung pada diem.
Meriam yang di dalam pelukan Hans sedikit menahan tawanya. Gemas sama tampang Hans yang tiba tiba terlihat semakin tampan.
"Kamu kenapa jadi marah marah juga sih, Hans. Ngenes bangat aku hari ini disalah salahin terus," rutuk Al pada dirinya sendiri.
"Emang? Mas salah. Masih juga gak sadar. Udah ah, aku mau ke kamar dulu, kamu jangan ikut. Tidur ajah tuh di sofa. Sampai bau badan kamu bersih dari wanita ular." Yesline bersungut marah, dia berjalan meninggalkan Al menaiki anak tangga.
"Sayang, jangan gitu dong." Al merengek hendak mengejar Yesline tapi Yesline langsung berhenti mengambil bantal di sofa dan melemparnya ke Al.
"Jangan kejar aku atau nanti aku tambah hukumannya, gak aku kasih jatah sebulan! Mau?'' hardik Yesline, membuat Al langsung menciut.
Tanpa menunggu jawaban Al, Yesline berlari masuk kamar.
"Yah, Yesline kalo ngasih hukuman kenapa serem bangat sih. Pasti soal ranjang. Bisa kan hukumannya dirubah, bikin candi dalam waktu semalam misalnya?" cerocos Al.
"Emang bisa bangun candi dalam semalam?'' Hans menimpali.
"Bisalah. Tinggal beli aja yang udah jadi. Aku aja bisa bikin rumah sehari buat kamu." sombong Al.
Hans memutar bola matanya dengan malas. Sahabatnya ini kelewatan bangat sombongnya. Sayangnya emang uangnya banyak. Jadi gak malu maluin.
#######
Leni memacu motornya dengan kecepatan penuh, dibelakangnya Gabriel mengejarnya dengan naik ojek. Pasti kebayang gak kekejar kan? Gabriel sampai di apartemen dan mendapati Leni tidak ada di apartemennya. Gabriel mencari ke segala penjuru apartemen, namun Leni tidak ada juga. Sepeda motornya juga gak ada. Gabriel kelimpungan, Pasalnya Leni tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Di saat bingung seperti itu, tiba tiba Gabriel mendapat telepon dari Ayah Leni.
Tumben.
Batin Gabriel, dengan gugup langsung mengangkat telepon dari Ayah mertuanya. Kalo telat semenit aja, tongkat melayang.
"Halo, Ayah." Gabriel sedikit tergagap. Duh, berhadapan sama tentara membuat nyalinya ciut. Kemungkinan besar Leni pulang ke rumah Ayahnya. Bisa jadi pepes, kalo sampai Leni mengadu kepada sang ayah soal tragedi semalam.
Gabriel menelan salivanya.
"Kamu kesini sekarang, ke rumah Ayah. Ada Leni disini." suara bariton itu bagaikan petir menggelegar. Gabriel bergidik ngeri.
"Iya, Yah. Gabriel kesana sekarang."
Dari seberang telepon langsung dimatikan. Gabriel masuk ke kamarnya, dia menyambar jaket motornya, dia berlari menuruni anak tangga sambil memakai jaketnya. Setelah sampai di garasi, Gabriel langsung menaiki motornya, memakai helm dan melajukan motornya dengan kecepatan penuh.
__ADS_1
Leni......,
Kamu masih ingat, pertama kali kita bertemu. Percayalah, dari awal aku melihatmu, hati ini langsung terpaut. Dan hari itu sampai hari ini, perasaan cinta itu masih sama. Jangan ragukan aku, Leni.
Aku tak kuasa jauh dari kamu.
Sepeda motor Gabriel memasuki gerbang rumah Leni. Jantung Gabriel berdetak tidak menentu.
Ternyata Ayahnya Leni, sudah menunggu di depan rumahnya, memakai pakaian seragam tentara lengkap. Semakin Gabriel berjalan mendekati rumah, semakin dengan jelas dia bisa melihat ayah mertuanya itu mengacungkan senjata api ke arahnya. Sontak Gabriel berhenti, dia mematung tidak berniat melanjutkan langkahnya.
Leni pasti sudah cerita, ngeri bangat itu senjata. Sekali tembak, langsung mati aku. Tolong ayah mertua, jangan tembak dulu, nanti cucu anda gak bisa lihat bapaknya.
Di dalam hati Gabriel menangis. Tahu gini, Gabriel gak akan mau nyakitin Leni. Jika lawannya langsung pakai senjata api.
Berasa kayak mau dieksekusi mati. Kaki Gabriel kaku seperti patung.
Suara tembakan itu menggelegar, membuat Gabriel terhenyak. Pasalnya peluru itu seperti melewatinya tadi. Desingan angin dan udara seakan membeli bulu kuduknya.
Merinding.
Untuk tidak kencing di celana.
Gabriel paling tidak nyaman jika berkunjung kesini. Hawanya horor melebihi di ganggu setan.
Kepala Gabriel menoleh ke segala arah. Dimana apel yang dimaksud?
Gabriel mencari kesana kemari. Dan akhirnya tidak sengaja melihat ke bawah kakinya, ternyata apel itu tergeletak di sana.
Gabriel mengambilnya, sampai ia bersihkan dengan ujung bajunya.
"Ini, Yah." Gabriel menyerahkan apel sebiji itu kepada mertuanya.
Pria paruh baya itu tidak tersenyum sama sekali. Dia hanya membersihkan apel dan senjata itu bergantian. Gabriel ingin bertanya soal Leni, tapi ia urungkan, pasti istrinya ada di dalam kamar. Dengan hati hati Gabriel berucap.
"Yah, Gabriel ke dalam dulu ya? Ketemu Leni."
Tidak ada sahutan, pria itu masih sama, kecut dan kaku.
Gabriel berbalik badan, mau masuk rumah tapi suara mertuanya menghentikan gerak langkah Gabriel.
"Tunggu!"
__ADS_1
"Iya, Yah." Gabriel sudah berpikir yang aneh aneh.
"Bawa apel ini, taruh di atas kepalamu. Dan berdiri di sana." perintah itu mutlak dan harus dituruti.
"A-apa, Yah?" Gabriel masih tergagap, Apa Mertuanya akan melakukan adegan seperti di film film.
Gabriel menurut, dia berdiri di samping pohon di depan rumahnya. Berdiri tegap, dengan sebuah apel yang ditata di atas kepalanya.
"Kamu diam saja. Jangan bergerak, kalau peluru ini kena kepalamu karena kamu banyak gerak, bukan salah ayah."
Gabriel meneguk salivanya kembali. Dia benar benar tidak bergerak.
Sedangkan mertuanya berdiri di tempat sebelumnya. Gabriel mematuhi, sungguh dia tidak berani bergerak sama sekali saat mertuanya mulai mengacungkan senjatanya ke arah kepalanya. Gabriel memejamkan matanya. Jantungnya sudah mau copot.
Sementara dari balkon atas kamar Leni, wanita itu sedang memperhatikan syok terapi yang diberikan sang ayah kepada Gabriel.
"Yah, Hati hati..... Kepala Gabriel cuma satu, Yah." laki laki itu benar benar ketakutan.
"Makanya berdiri yang benar, ayah ini baru latihan, kalo meleset jangan salahkan ayah, ya?" gertak Ayah Mertuanya. Membuat Gabriel mati kutu. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.
Perlahan, pelatuknya ditarik. Gabriel sudah merapalkan semua doa yang dia hafal. Berdoa semoga umurnya lebih panjang dari hari itu.
Suara tarikan pelatuk dari senapan itu seperti suara detik detik seorang tahanan akan diadili.
"Ini peringatan Gabriel. Kalo kamu berani sakitin Leni lagi, peluru itu benar benar bisa mengenai kepalamu!''
"Enggak, Ayah. Gak mungkin, Yah. Gabriel gak pernah nyakitin Leni."
Peluru meluncur menembus buah apel, membuatnya terkoyak tanpa sisa.
Suara desingan peluru membuat Gabriel terdiam. Tangannya gemetar. Apel yang ia letakkan di atas kepalanya tadi, terpecah dan muncrat kemana mana. Mengotori kepala Gabriel. Laki laki itu hanya memejamkan matanya.
Terlihat Gabriel belum berani mencoba membuka matanya.
"Kamu harus bisa menjaga Leni, Gabr. Kalo kamu kecewakan dia, bukan cuma kepalamu yang hancur seperti apel itu, tapi seluruh yang kamu miliki."
Gabriel membuka matanya, dia melihat Leni berjalan ke arahnya dengan membawa handuk kecil. Leni tampak tersenyum manis menatapnya.
"Maaf ya, Aku biarin Papa ngerjain kamu," ujar Leni sambil mengelap kepala Gabriel.
Entah kenapa, melihat senyum Leni kembali, membuat hatinya tenang dan bahagia. Suara desingan ribuan peluru pun tak kan membuatnya gentar.
__ADS_1
I Love You, Leni.