
" Aku cuma berhasil memotretnya, seharusnya ini sudah cukup. " kata Leni, sambil menunjukkan beberapa foto yang berhasil Dia ambil. Al bergerak maju, mengambil ponsel itu dan melihatnya. Kelihatan sekali dari raut wajahnya, bahwa Dia sangat marah.
" Dia sudah memalsukan tanda tanganku ??? Sialan !!! Kenapa cepat sekali pergerakannya ?? "
" Kita tetap butuh berkas aslinya, Leni. " kata Hans menambahi.
" Nanti Aku cari info lagi. " jawab Leni.
" Seharusnya Kamu langsung saja hajar Gabriel, Len. " kata Clinton.
Leni malah meninju lengan Clinton.
" Tidak segampang itu, Pak. Jika Aku tidak salah dan Dia juga jago bela diri ??? Keuntungan Kita adalah Dia belum menyadari jika Kita sudah tahu. "
" Dia lebih licik dari Erwin dan Callista. " kata Al menggerutu.
" Iya. Tapi Dia juga korban seperti Callista, Pak Al. Aku sempat membaca bukunya, Dia menulis semua kisah hidupnya disana. Tentang awal pertemuannya dengan Erwin hingga Dia memutuskan untuk membalaskan dendam Ayah angkatnya itu. Jika Kita bisa merubah jalan pikirannya, mungkin Kita akan menang tanpa melakukan baku hantam. " kata Leni.
" Kamu bisa urus Dia sesuka hati Kamu, Len. Lanjutkan penyelidikan Hans dan pantau juga pergerakan Erwin, siapa tau Gabriel menemuinya lagi. Clin ??? " panggil Al yang melihat Clinton kurang fokus, matanya terlihat menatap kelayar ponselnya. Memencet mencet layarnya tidak jelas.
" Hm .... " jawab Clinton santai.
Dia benar benar tidak fokus. Pikirannya entah kemana mana.
" Kamu kenapa sih dari tadi gak fokus ??? " kata Al kesal.
" Gak tau nih, Aku jagain Yesline ajah deh biar semangat. " gerutu Clinton.
" Enak ajah!!! Gak boleh !!! " jawab Al langsung menolaknya.
" Trus, tugas Aku apa ??? Aku benar benar gak bisa fokus nih. " kata Clinton.
" Untuk sementara, Kamu pantau perkembangan ajah deh. "
__ADS_1
Pertemuan hari itu berakhir. Al menghubungi pihak Management Rumah Sakit untuk meminta data Gabriel dan tanpa lama langsung mengirimkan apa yang diminta Al ke ponselnya. Al mulai melihat data Gabriel.
Disana tidak ada yang menyebutkan bahwa Dia Anak dari Erwin. Kedua Orang Tuanya sudah meninggal sejak Dia masih kecil. Tidak ada informasi apapun yang Al temukan selain informasi palsu.
" Sialan!!! " umpatnya dalam hati.
Dia meminta pihak management untuk mencari Dokter pengganti, untuk menggantikan posisi Gabriel. Karena Gabriel sudah memegang sebagian besar saham Rumah Sakit makanya Al tidak bisa memecatnya begitu saja. Dia akan melakukan sebuah siasat untuk membuat Gabriel menandatangani surat penyerahan saham itu kembali.
Al tau, Clinton dan Leni bisa melakukannya. Jika bukan karena Papanya yang mati matian membela Rumah Sakit, Dia juga tidak akan tertarik mengurusi Rumah Sakit itu.
Uang dari bisnisnya sudah sangat banyak. Tidak akan habis dipakai sampai tujuh turunan sekalipun. Dan amannya, sampai sekarang tidak ada yang tau Al memiliki bisnis itu.
*****
Berkat Mama Al, Orang Tua Nicho sudah merestui pernikahan Nicho dan Callista. Dalam minggu minggu ini, Mereka kelihatan sibuk untuk mempersiapkan semua menjelang pesta pernikahannya. Orang Tuanya akan mengadakan pesta yang mewah dan megah untuk pernikahan Anak sulungnya itu.
Hari ini Nicho dan Callista sedang berada di sebuah butik yang terkenal di Jakarta. Mereka akan fitting baju pengantin.
Callista tidak terlalu merisaukannya. Hidupnya, Dirinya sendiri yang menjalani bukan Orang lain. Dan sejatinya Mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
" Kamu suka yang itu ??? " suara Nicho tiba tiba membuyarkan lamunannya. Callista menoleh dan mengangguk penuh semangat.
" Oke. Kita coba yang itu. " jawab Nicho mengiyakan dan langsung meminta Petugas untuk melayaninya dan membantu Calon Istrinya untuk mencoba gaun itu.
Callista mengikuti Petugas tadi memasuki ruang ganti, sementara Nicho menunggu dan duduk di sofa, menunggu Callista sambil membuka sosial medianya. Tidak disangka banyak yang mengirim pesan, berisi kalimat hujatan dan lain sebagainya.
Menuduh Nicho menikung Sepupunya sendiri, menganggapnya kegatelan karena suka sama janda. Menyebut Nicho Laki Laki tidak baik, yang sebenarnya sudah memiliki hubungan Callista jauh sebelum Mereka bercerai.
Ada juga yang memberi dukungan. Dengan sengaja Nicho malah mengupdate status Dirinya yang sedang melakukan fitting baju Pengantin. Sontak langsung saja banyak komentar.
*Hidupmu adalah Hidupmu
Hidupku adalah Hidupku
__ADS_1
Aku bahagia dengan pernikahan ini*
Isi status yang Dia update di sosial medianya.
" Cho ?? " panggil sebuah suara.
Nicho menoleh dan beberapa saat Dia menatap Callista tanpa berkedip. Wajah itu, mata itu, bibir itu, Nicho mulai mengaguminya. Callista memang cantik, sangat cantik.
Callista dan Yesline sama sama cantik, hanya keduanya memiliki karakter yang berbeda. Dulu Nicho benar benar tidak menyadari kecantikan Callista, meski Mereka sering menghabiskan waktu bersama.
Tapi, kini ..... Matanya enggan untuk berkedip. Callista yang ditatap dengan intens begitu jadi tersipu malu.
" Jelek ya ??? Kalau jelek bilang, nanti Aku ganti model deh. " kata Callista sengaja mengatakannya agar Nicho meresponnya.
" Ha ah ?? kata siapa jelek ??? Bagus kok, cantik, Kamu cantik. " jawab Nicho dengan gugup. Sedikit tidak biasa bagi Nicho untuk mengatakannya. Memuji Callista seperti itu membuatnya agak merasa canggung.
" Benarkah ???? " ulang Callista. Benarkah Dirinya cantik??? Callista menatap Dirinya di cermin besar yang ada di depannya. Nicho datang dan memeluknya dari belakang. Menatap Wanita yang sebentar lagi akan menjadi Istrinya itu penuh cinta.
Mungkin Dia sudah mulai mencintai Callista, setelah banyak waktu yang Mereka habiskan bersama. Benih cinta mulai tumbuh.
" Kamu sangat cantik. Aku suka. Kita pilih gaun ini saja. " kata Nicho menyakinkannya lagi.
Wajah Callista kelihatan sangat berseri seri. Dia berbalik dan memeluk Nicho. Pernikahan keduanya ini terasa berbeda. Dia merasa bebas dan sangat bahagia. Nicho bagaikan pangeran berkuda putih yang telah menyelamatkan hidupnya. Mengangkatnya menjadi Seorang Putri.
Dalam hati Callista sangat bersyukur, berterima kasih kepada Tuhan setelah semua dosa yang Dia lakukan. Tuhan memberikan kebahagiaan di langkah hidupnya yang baru.
" Terima kasih, Cho. " bisik Callista tepat di telinga Nicho.
" Aku juga berterima kasih, karena Kamu sudah mau mengandung dan melahirkan Anak Kita. Dan bersedia menjadi Istriku. Meski tau Aku tidak sekaya Al. " seloroh Nicho. Callista terkekeh.
Nicho memegang bisnis Keluarga Gunawan. Itu jauh lebih cukup untuk kehidupan hingga Anak keturunannya. Meski jika di total semua kekayaannya, memang masih banyak harta Al.
" Bohong jika Aku bilang, Aku tidak peduli soal uang, karena Kita hidup membutuhkan uang. Tapi Aku yakin, Kamu akan selalu mampu menjadikanku Ratu. Kamu akan selalu bisa memperlakukanku dengan baik. Aku ingin hidup tenang, Cho. Menjadi Ibu rumah tangga yang baik, Mengurus Kamu dan Anak Kita. Aku hanya ingin itu. " kata Callista yang semakin erat memeluk Nicho. Benar benar dunia serasa milik Mereka berdua, yang lain ngontrak. Nicho mengecup kening Callista dengan lembut, mengamini semua yang baru saja di katakan oleh Callista.
__ADS_1