Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 185


__ADS_3

"Kalian berdua kayak anjing sama kucing, kayaknya nanti kalau anak kamu cewek mending kamu dijodohin sama Azka aja deh, Len. Biar tuh Gabriel sama Al akur." sahut Nicho sambil terkekeh.


"Wah.... Ide bagus tuh, Yes, Len!" seru yang lainnya kompak.


"GAK!!!!!" teriak Gabriel dan Al kompak.


"Ya juga ya, Len. Kalau cewek boleh tuh kita jodohin." ucap Yesline langsung mendapatkan tatapan tajam dari Al.


"Sayang!! Kamu jangan ngaco dan dengerin ajaran sesat mereka. Ini tuh bukan zaman Siti Nurbaya men jodoh jodohkan. Biar Azka cari pasangannya sendiri. Lagian kalian kalau suka baca novel romansa perjodohan terapin ke anak kalian, jangan ke anak saya yang bibit unggul!!" kesal Al.


"Lagian saya juga ogah besanan sama si Al!!" cibir Gabriel.


"Woy kamu pikir sama mau besanan sama kamu!!" balas Al.


"Stop!! Kalau kalian masih mau berdebat, mending kalian berdua keluar aja deh dari sini! Gak usah ikut acaraku!" ucap Leni berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


Leni benar benar kesal terhadap Gabriel dan Al, tidak pernah tahu tempat, selalu saja bertengkar. Bahkan Leni jadi benar benar berharap jika anaknya perempuan akan ia jodohkan dengan Azka, Namun jika anaknya laki laki, ia akan hamil lagi agar mendapatkan anak perempuan.


"Sayang, kok kamu juga ngusir aku!" rajuk Gabriel sama Leni.


"Biarin, habis kamu juga sama kayak Al!!" sarkas Leni.


"E-eh Leni, enak aja kamu samain saya dengan suami kamu!! Kamu harus tau, saya lebih berkelas dari dia!'' celak Al yang tidak mau disama samakan dengan Gabriel oleh Leni.


"Mas Al, kamu bisa diam gak sih, Mas!!" kesal Leni.


"Aku dari tadi diam, sayang. Gabriel aja yang mulai." dalih Al.


"Ck! Udah udah, kalian berdua berisik deh! Udah ikut saya yuk, ada yang mau aku omongin sama kalian." ajak Nicho.


"Ngomongin apa? Kenapa gak disini aja sih?'' tanya Clinton pada Nicho.

__ADS_1


''Tau, Ngomong tinggal ngomong. Ribet bangat!'' sinis Gabriel.


"Ini bicara khusus laki laki, biarin para wanita ngomong masalah wanita." Ngeles Nicho.


"Ada masalah apa sih, Mas?!" akhirnya Callista ikut bertanya pada Nicho.


"Gak ada apa apa. Aku cuma mau bahas sedikit masalah bisnis aja." jawab Nicho sambil memberi kode ke Hans untuk memberikan bala bantuan yaitu penjelasan pada Callista.


Hans paham maksud Nicho, Hans pun berdiri dari duduknya dan berkata. "Ini Call, bisnis laki laki biasa." jelas Hans kepada Callista.


"Bisnis laki laki? Emang bisnis laki laki, apaan?" tanya Callista.


"Nicho mau berencana buat bisnis jasa konsultan sama saya. Dan mau minta saran sama Al, Clinton dan juga Gabriel." jelas Hans kembali.


"Nah, iya. Benar tuh sayang kata Hans. Ya udah, kamu ngobrol aja dulu disini sama Yesline, Clara dan Leni, ya." sahut Nicho.


Csllista menganggukkan kepalanya, Namun Leni malah membuka suaranya dan bertanya. "Emang Nicho mau buka jasa konsultan di bidang apa?"


"Itu konsultan di bidang KDRT." jawab Hans.


"Sembarangan!! Enak aja, saya gak pernah ya yang namanya KDRT sama Callista. Tanya aja Callista?!" jawab Nicho kesal atas tuduhan Leni.


"Iya, Mas Nicho gak pernah tuh mukul aku ataupun KDRT. Kamu jangan bikin hoax Hans." jawab Callista.


Nicho, Al, Clinton dan Gabriel hanya bisa tersenyum geli melihat Hans yang harus mencari cari alasan di depan para wanita.


"Hey, dengerin dulu makanya!!" kata Hans terkekeh. "Yang saya maksud itu, KDRT disini adalah Keharmonisan Dalam Rumah Tangga." jawab Hans.


Semuanya tertawa lebar, termasuk Nicho yang benar benar merasa lega, karena Hans bisa mematahkan rasa penasaran para wanita itu.


"Udah, ya. Saya kesana dulu sama yang lain. Kalian mumpung bisa ngumpul, sana deh kalau mau ngegosip." Hans menimpali.

__ADS_1


"Iya, iya. Hush! Hush! para cowok kesana aja." usir Leni sembari langsung merangkul Callista. Yesline sudah berdiri disamping Callista menggamit tangan sahabatnya itu.


"Ish, sekarang diusir. Tadi dilarang larang." gerutu Hans.


Bingung kalau sudah berurusan sama perempuan, pasti serba salah. Dalam hati Hans ia mengoceh.


Nicho tidak berkata apa apa lagi, dia membawa Gabriel dan Al keruangan lain, ruang kerja Gabriel. Hans dan Clinton menyusul dibelakangnya.


"Mau ngomongin apa sih kamu?" tanya Clinton to the point. Dia duduk santai di sofa panjang.


"Ini soal mami." jawab Nicho. Kini semua mata memandangnya.


"Dia ada bikin ulah lagi?" timpal Al, memasang wajah serius.


Nicho menganggukkan kepala. Sementara yang lain masih mendengarkan.


"Dia mengancam akan melaporkan Callista ke polisi, saya harus gimana dong? Saya gak bisa jauh darinya, Dan putri saya juga tidak akan bisa hidup jauh dari ibunya. Saya takut, karena saya tahu Callista memang salah." suara Nicho terdengar parau. Para sahabatnya mengerti kenapa Nicho sampai sekhawatir itu. Karena yang diincar kini adalah Callista.


"Saya ngerti masalah kamu sekarang. Jika ingin mami tidak mengganggu hidup keluargamu, maka kamu harus memberikan apa yang dia mau." Al menyahut, yang langsung dijawab oleh Clinton.


"Gak bisa gitu dong, Al. Saya gak bisa nyerahin klub alexiz begitu aja." Clinton benar benar tidak bisa melakukan itu, bukannya dia egois dengan sahabatnya tapi dia benar benar tidak bisa.


Al menghela nafasnya pelan.


"Kalau gitu, kamu tawarkan dia sejumlah uang senilai klub alexiz itu, Dia suka dengan uang. Mungkin dia akan mau. Wanita itu parasit, jika tidak kamu bungkam, sebungkam - bungkamnya, dia akan menyusahkanmu lagi lain waktu. Jika dia butuh uang, dia akan mengancammu lagi. Sebenarnya daripada memberi uang, lebih aman memberi dia efek jera sih. Biar dia gak ganggu hidup kamu lagi." Al berbicara panjang lebar. Membuat semuanya saling pandang. Memikirkan apa yang Al katakan tadi. Dan yang dikatakan Al semuanya benar.


Nicho mengangguk mengerti. Dia meminta bantuan teman temannya untuk melakukan rencananya. Dia sudah tercerahkan.


Pesta malam ini berakhir sampai pagi. Dengan rasa puas yang senang dan mendalam. Setelah berkumpul dengan para sahabatnya mereka mendapat semacam suntikan booster.


Pukul delapan setelah semuanya sarapan, baru Leni mengijinkan para sahabatnya untuk bisa pulang. Kedua pasangan itu kembali ke rumah masing masing. Kecuali Hans, Dia langsung menuju bandara, dia akan langsung ke jogja. Dia akan menemui papanya Meriam, meminta putrinya itu untuk boleh ia nikahi.

__ADS_1


Semoga Hans tidak terlambat, karena hari ini juga adalah hari dimana Meriam akan memberikan jawaban kepada Wisnu, tentang lamarannya. Sekarang sudah pukul 10 pagi. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar satu jam 30 menit. Hans mencoba menghubungi Meriam beberapa kali tapi tidak diangkat. Dia benar benar cemas.


"Meriam, tunggu aku." Hans bergumam lirih.


__ADS_2