
Al yang lagi mengemudi melajukan mobilnya dengan pelan. Dia mengemudi serta masih memikirkan sesuatu. Dua kalut karena didalam otaknya rangkaian masalah dalam hidupnya bagiakan benang kusut yang sangat susah untuk ditemukan ujungnya. Dia mempercayakan masalah kasus kematian Istrinya itu sama Clinton dan Orang yang Mereka sewa itu. Al memijit pelipisnya serta menghela nafasnya sejenak.
Amarah di dadanya masih bergejolak. Dia masih tidak bisa berpikir dengan jernih dan tenang kenapa Papanya bisa berhubungan dan merahasiakan sesuatu dengan Nicho.
Apa sebenarnya yang direncanakan Papanya itu ??? Ingin menyelidiki Callista kah ??? Al menghela nafasnya kesal.
" Mungkin Papa lebih percaya Nicho daripada Aku. " gumam Al yang semakin membuatnya kesal jika memikirkannya.
Tapi memang Al dari dulu tidak pernah sejalan dan sependapat dengan Papanya itu. Papanya yang begitu berambisis bagaikan Dua kutub yang berbeda.
Mobilnya memasuki area parkir Apartemen. Al turun dengan mengatakan istigfar beberapa kali.
Dia harus mengembalikan moodnya jangan sampai Dia menunjukkan mimik wajah yang kusut didepan Yesline karena Istrinya itu tidak boleh stress.
Setelah dari Apartemen Cinton tadi, Al sengaja ke Rumahnya dulu biar Rizky tidak mengikutinya lagi. Al beralasan ingin istirahat. Karena tadi Rizky menanyakan Yesline sama Clinton. Al dan Clinton berbohong jika Yesline lagi di rumah Orang Tua Clinton yang di Semarang.
Al menekan beberapa tombol password Apartemen. Tangannya mendorong gagang pintu hingga terbuka. Sudah jam 12 malam, Lampu ruang tamu hanya dinyalakan satu membuat ruang itu sedikit redup.
Dia tidak ingin menyalakan lampu yang ruang tamu itu karena Leni tertidur di sofa dan mungkin juga Yesline sudah tidur. Mungkin karena Al tidak dirumah, tidur disofa bisa membuat Leni lebih sigap untuk was was jika Yesline dalam bahaya atau butuh bantuan. Makanya Al tidak ingin Leni bangun. Wanita itu benar benar totalitas dalam pekerjaannya membuat Al sedikit merasa lega.
Al berjalan mengendap endap melewati Leni. Karena sedikit gelap membuat Al tidak fokus memperhatikan langkah kakinya dan tidak sengaja menabrak kaki meja membuat vas bunga diatasnya sedikit bergoyang.
Al langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Leni. Dia masih tertidur pulas dan Al merasa lega.
Alih alih tidak ingin mengganggu malah tiba tiba mendapat serangan dari Leni. Sebenarnya Leni sudah mendengar kedatangan Al dari langkah kakinya dan Dia pura pura tidur. Ketika momentnya pas baru Dia langsung beraksi.
Dia langsung melompat dari bawah dan mengcengkeram pundak Al dan memutar tubuhnya lalu menendang kakinya hingga Dia berlutut, Leni sedikit membungkukkan badannya mengunci leher Al menggunakan tangannya hingga memelintir tangan Al.
" Siapa Kamu ??? Ada urusan apa kesini ??? Suapa yang menyuruhmu ??? jawab !!!! kata Leni karena lampu diruang tamu itu sedikit redup sehingga Dia tidak melihat Al dengan jelas.
Leni semakin memelintir tangan Al dengan kuat karena tidak menjawab.
Al mengaduh dan mengumpat.
" Sial !!!!! " teriak Al.
" Kamu gila iya ???? ini Aku Al !!! Bos Kamu !!!! " bentak Al kesal dan berusaha melepaskan tangannya.
" Apa ???? " Leni kaget dan dengan cepat melepas tubuh Al lalu berlari menyalakan lampu. Setelah menayalakan lampu, benar saja Laki Laki yang didepannya itu adalah Al suami Yesline.
Dia menundukkan kepalanya " Maaf Bos, Leni minta maaf. "
Al yang masih memijit pergelangan tangannya karena Pelintiran Leni cukup kuat membuat Dia merasa kesakitan.
Leni tertawa tapi ditahan melihat Al yang kesakitan. " Habisnya gelap Bos, Karena lampu dimatikan. " kata Leni sedikit malu karena ulahnya itu. Tangannya mengusap usap rambutnya yang potongan bob itu.
" Iya lain kali jangan Saya yang jadi korbannya. Kalau Clinton tidak apa apa, Saya dukung ...." kata Al sedikit jail.
Dia juga ingin Clinton merasakan apa yang barusan Dia dapatkan dari Leni.
" Sepertinya Mereka berdua bisa dicomblangin. " gumam Al sedikit tertawa membayangkannya sembari berjalan melewati Leni.
Mendengar kegaduhan dan suara membuat Yesline terbangun dan keluar dari kamarnya.
" Sudah pulang Mas ??? " tanya Yesline sembari meraih tangan kanan Al dan menciumnya.
" Maafkan Aku sayang .... Gara gara Kami berisik jadi Kamu terbangun. " jawab Al sambil mengelus kepala Yesline.
Yesline sedikit bingung dan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
" Maafkan Leni juga Bu. Leni kira tadi Bapak Orang jahat jadi tidak sengaja memukul Bapak pakai sapu. " jawab Leni bohong dan nyengir dan meraih sapu yang didekatnya.
" Lampu utama mati jadi wajar kalau Dia pikir Aku Orang jahat jadi wajar kalau Dia refleks memukulku pakai sapu. " tambah Al menjelaskan.
" Kenapa Kamu tidur disofa ???" tanya Yesline bingung.
" Iya Bu. Bapak kan tidak dirumah. Saya hanya ingin menjaga Ibu. Meski hanya bisa memukulnya dengan sapu sudah lumayan sakit. " jawab Leni sedikit mengurangi kebingungan Yesline.
Yesline tersenyum mendengar jawaban Leni itu.
Leni juga menjaga rahasia bahwa Dia tidak memberi tahu ke Yesline bahwa Dia sebenarnya Pegawal atau penjaga Yesline. Karena setau Yesline, Leni hanya sebagai ART.
Karena kondisi Yesline yang sedang hamil jadi Dia butuh bantuan untuk di rumah. Mendengar perkataan Leni membuat Yesline melihat Mereka berdua bergantian.
" Ada ada saja Kamu. Tidur di kamar tamu ajah Len, Kamu kan bukan pengawal atau penjaga yang bisa bela diri. Kamu gak usah khawatirin Aku karena gak akan ada yang tiba tiba datang kesini. " jawab Yesline.
Dia menatap Al dan melihat pergelangan tangan Al yang memerah. Dia meraih tangan Al dan menariknya untuk duduk di sofa.
" Tolong ambilkan batu es dan taruh di icebag iya Len. " kata Yesline dan melihat pergelangan tangan Al.
" Baik Bu. " jawab Leni dan langsung bergegas ke dapur.
" Sakit Mas ??? " tanya Yesline dan melihat Al dengan penuh rasa iba.
" Ini Bu. " kata Leni sambil memberikannya.
" Sedikit. " jawab Al sambil menyipitkan matanya seperti menahan rasa sakit.
Yesline duduk disamping Al dan mulai mengompres tangannya yang memerah dan memar itu. Beberapa kali Al merintih saat Yesline memegang tangannya dan menaruh es dipergelangan tangannya.
" Tahan iya Mas .... Ini gak apa apa kok. Palingan sedikit sakit dan nyeri kalau Mas lagi olahraga. " kata Yesline membuat Al tertawa karena Dia tahu maksud perkataan Yesline itu.
Al Mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik ditelinga Yesline.
Melihat moment itu membuat Leni pergi meninggalkan Mereka dan masuk ke kamar tamu dan menguncinya. Membuat pikiran mesum Al semakin bergejolak. Dia berinisiatif melakukannya diruang tamu karena sudah menerima sinyal dari Al tidak mungkin Leni keluar kamar.
Nafasl Al membelai kulit telinga Yesline. membuatnya sedikit merinding dan memejamkan matanya.
Menikmati kenikmatan yang disalurkan Al lewat lidahnya yang menyapu liar leher Yesline. Kedua tangan Al mengangkat tubuh Yesline dan mendudukannya diatas meja.
Piyama yang Yesline kenakan memang cukup pendek membuat Al mulai melepasnya satu per satu memperlihatkan keindahan tubuh Yesline. Al mulai beraksi membuat Yesline mendesah keras tidak mempedulikan keberadaan Leni yang bisa saja mendengarnya.
Al semakin liar dan Yesline hanya bisa pasrah sembari mencengkeram pinggir meja menahan kenikmatan yang semakin menjadi jadi.
Yesline mencoba mengimbangi permainan itu dan perlahan membuka kancing kemeja Al hingga terlihat dadanya yang bidang itu.
Yesline mendorong Al hingga jatuh di sofa, Dia menindihnya hingga berlawanan arah membuat areanya tepat di muka Al. Yesline membuka sabuk pengaman Al.
Al yang sudah bermain dengan ganas tapi tetap slow membuat Yesline sudah gelagapan dengan permainan Al kali ini.
" Mas .... Aduh .... Aku udah gak tahan Mas ... " rintih Yesline membuat Al semakin bersemangat lagi.
Yesline tidak mau kalau hanya Dia yang merasakan kenikmatan itu. Melihat aksi Yesline membuat Al tidak bisa untuk tidak meronta ronta kenikmatan.
Malam begitu cepat berlalu dengan penuh kenikmatan. Entah sudah berapa kali Yesline merasakan puncak kenikmatan itu sedangkan Al sudah terbuai lemas hingga apa yang Dia minum sehingga bisa membuatnya tidak bisa bertahan lama.
Al melepaskan pertahanannah membuat itu mengakhiri permainan panas Mereka malam ini. Tidak lama kemudian Adzan subuh terdengar dan mereka sholat bersama hingga kemudian tertidur pulas.
Hari itu Al memutuskan untuk memberikan waktunya bersama Yesline. Yesline menggeliat, memiringkan tubuhnya, mencoba membuka matanya perlahan. Dia masih melihat Al tidur lalu Yesline mengecup bibir Al pelan. Sangat pelan, Kalau sampe Al bangun bisa terjadi permainan panas lagi.
__ADS_1
Bisa bisa Al tidak membiarkannya berpakaian satu harian ini. Dengan pelan Yesline menuju kamar mandi dan menyalakan shower.
Yeslen senyum, Dia tau kalau Al sudah bangun. Dia membasuh rambutnya, Al berjalan mendekatinya.
" Mimpi apa Aku semalam sudah mendalat full servis, Trus laginya masih bisa mandi bareng ??? " bisik Al dan mencium punggung Yesline.
" Rejeki Suami Sholeh. " jawab Yesline senyum.
" Sayang .... hari ini Kita sarapan di luar iya, Sekalian habis sarapan Aku temanin Kamu belanja dan jajan apapun yang Kamu mau. " kata Al dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Al.
Yesline mengangguk dan meng iyakan ajakan Al.
Dinding kamar mandi mereka adalah kaca dan penutupnya hanya menggunakan gorden karena di design seprivate mungkin oleh Al.
Jika gordennya tidak ditarik, Bisa dipastikan yang berada di dalam kamar itu bisa melihat aktivitas yang di dalamnya.
*
*
*
*
Setelah beberapa jam kemudian akhirnya Mereka sampai di sebuah Mall. Mereka langsung masuk dan mencari restoran. Mereka langsung masuk dan Al mengajak Yesline duduk di sofa yang ada sembari memilih menu yang mau Mereka pesan.
Restoran yang Mereka tuju hari ini ternyata ada live musiknya sehingga Mereka bisa menikmati lantuman lagu lagu yang dibawakan oleh penyanyi itu.
Yesline menatap dan menikmati lagu yang dibawakan Mereka yang berjudul Ku Tak Bisa. Dia mengingat Hans yang menyanyikan itu untuk dirinya dengan iringan gitar.
Mereka menyantap makanan yang Mereka pesan dengan penuh rasa syukur.
" Yesline ??? Kamu disini ???? Sudah lama tidak ..... " kata Seorang Laki Laki yang tiba tiba menyapa Yesline dan ternyata itu Hans.
" Hans ..??? " dengan penuh senyum Yesline membalas sapaan Hans.
Seketika itu Al menghentikan makannya dan berdiri.
" Pulang Sayang !!! " dengan wajah memerah dan menahan amarah, Al memegang tangan Yesline menjauhkannya dari Hans.
" Al .... Sebentar .... " kata Has mencoba menghentikannya.
" Apa Kamu ??? " cetus Al dengan sigap memegang kerah baju Hans.
" Jangan Mas .... Sudah ... " kata Yesline menghentikan Al.
" Mari Kita pulang. " lanjut Yesline.
Mereka berdua pun pergi tanpa mempedulikan Hans. Selama diperjalanan Al hanya diam dengan muka yang masih merah karena menahan amarah dan emosinya.
" Mas Kita makan ditempat biasanya iya . Aku belum kenyang. " rayu Yesline.
Al hanya diam dan malah menaikkan laju kecepatan mobilnya hingga tidak butuh waktu lama sudah parkir di Apartemennya.
" Mas .... Marah ??? " kata Yesline sambil menggandeng tangannya yang terburu buru masuk ke lift. Al pun langsung masuk kamar dan tidur membelakangi Yesline.
" Maaf Mas .... Hans itu .... "
" Stop !!! jangan sebut nama itu !!! " sambil menunjuk bibir Yesline dengan tangan Al.
__ADS_1
" Maaf Mas .... " kata Yesline lalu memeluk Al yang dari belakang karena memunggunginya.
" Dasar Dokter posesiffff ..... " gumam Yesline.