
Clinton hanya melirik tajam ke arah ke dua mertuanya yang rada rada itu.
" Cepat, Sekarang giliranmu. Cepetan! " sentak Rojak.
Rojak yang memperhatikan gerak tangan Clinton yang nampak ragu ragu.
" Kamu itu CEO, tapi mau meletakkan bidak catur aja kaku." Rojak meledek calon menantunya.
" Beda ceritanya, Om. Emang apa hubungannya main catur dengan bisnis? " Clinton menimpali.
Ia meletakkan bidak caturnya sekenanya. Lalu matanya melihat ke arah Rojak yang mulai memindahkan bidak caturnya lagi. Dengan mudah mampu menyingkirkan bidak catur milik Clinton.
" Bermain catur mengajarkan kita untuk pandai mengatur strategi dan mengambil keputusan mendesak dengan benar dan tepat. Itu sangat erat hubungannya dengan bisnis. "
" Aku tidak pandai bermain catur karena sedikit membosankan, Om. Tapi aku pandai menjalankan bisnis. " sombong Clinton. Ia baru saja mau memindahkan bidak caturnya saat dari arah lain datang Clara yang membawakan mereka minuman dan cemilan. Ia kembali meletakkan bidak caturnya di meja.
" Iya, kebetulan saja mungkin itu. " sangkal Rojak apa adanya. Dia cenderung lebih berkata apa adanya kepada Clinton.
Laki laki itu memajukan bibirnya, tidak suka diremehkan oleh sang calon mertua. Tapi dia tidak mengambil hati dengan omongan Rojak yang tidak bermaksud menyinggungnya.
" Gak apa apa, Mas. Kamu hebat dalam hal lain. " bela Clara, matanya berkedip manja kepada Clinton.
Laki laki itu tersenyum geli. Dia tahu apa maksud Clara.
Tangan Clara menyodorkan minuman yang ia bawa kepada Clinton dan juga Papanya secara bergantian. Lalu duduk di samping sang papa. Mendekap nampan di dadanya.
" Terima kasih, Sayang. Kamu tau aja kalau mas lagi haus. " ujar Clinton yang menerima uluran minuman dari Clara yang sudah di taruh di meja. Calon istrinya itu tersenyum.
" Tahu dong ..... " Clara mengakuinya dengan manja.
" Sudah jangan lirik lirikan disini, Sekarang jelaskan ke papa, kalian mau mengadakan pesta besar besaran atau hanya mengundang keluarga saja? " tanya Rojak menatap keduanya.
" Aku terserah Mas Clinton aja, ya. " Clara melempar pandangan ke arah Clinton berada yang langsung disambut Clinton dengan senyum paling manisnya. Memamerkan jajaran giginya yang putih.
__ADS_1
" Aku ingin melakukan private party aja, Om. Mengundang keluarga dan teman teman terdekat aja. Mungkin ditambah beberapa relasi bisnisku. Agar lebih sakral. " tutur Clinton yang langsung diangguki oleh semuanya.
" Semua persiapan sudah diatur sama WO handal, Kita tinggal datang di acara saja. " Clinton menambahi.
Tiba tiba Claudia sudah berdiri di samping Clara. Ikut mendengarkan dengan seksama.
" Iya, Nak Clinton. Nanti Tante dan Om juga hanya mengundang keluarga dekat saja. Soalnya waktunya mepet juga. Yang penting kalian halal dulu. Kami sudah sangat bahagia. " Claudia menanggapi dengan antusias.
" Selamat ya, Sayang. Mama ikut bahagia jika kamu bahagia. Gak nyangka putri kecil mama sudah mau jadi istri orang. " Claudia menatap Clara dengan lembut. Mendekapnya dengan penuh kasih sayang.
Clara hanya mengulas senyum. Dia sendiri juga tidak menyangka jika hatinya akan menerima ajakan pernikahan dari Clinton dengan cara seperti itu. Hadeuh .....
Clinton yang nampak paling bahagia dan merasa puas. Akhirnya pernikahannya dengan Clara hanya tinggal menghitung hari.
*****
Pagi harinya di rumah Hans.
" Pagi, Nak. " sapa Mamanya pada putranya yang baru melangkahkan kaki menuruni anak tangga. Sudah siap dan rapih dengan setelan baju kerjanya. Hans tersenyum dan mengecup pipi Mamanya. Lalu duduk di meja makan. Di sampingnya, Mamanya mengambil sedikit nasi dan beberapa lauk.
" Papa dikamar sedang siap siap untuk menjemput Adikmu di pesantren. Hari ini santri sudah mulai libur, jadi dia juga libur mengajar di sana. " jawab Mamanya.
Hans mendengarkan sambil mulai menikmati sarapannya. Matanya melirik mamanya yang sudah nampak rapih.
" Mama juga ikut? " tanya Hans ke mamanya.
" Iya, Mama ikut. "
Wanita paruh baya itu berjalan ke arah dapur, ia mengambil map biru yang sudah disimpannya dan memberikannya ke Hans.
" Ini, CV taaruf dokter meriam yang kamu minta semalam, kamu sudah mulai membuka hati kamu untuk dia, Nak? " Mamanya penasaran dengan apa yang dirasakan putranya. Wanita itu duduk disampingnya anaknya, menyentuh pundaknya, matanya menatap Hans penuh kelembutan.
Sejenak Hans menghentikan aktifitas makannya dan menerima berkas itu. Dia mengedikkan bahunya.
__ADS_1
" Entahlah, Ma. Hans juga belum tau. " jawab Hans asal.
Mamanya memukul bahu Hans dengan kuat, membuat Hans kesal. Wanita paruh baya itu mulai kesal dengan tingkah putranya yang tidak serius memikirkan perempuan.
" Sakit, Ma! " protesnya, memegang bagian yang dipukul mamanya.
" Mama jengkel sama kamu, Nak. Sudah ada wanita baik, sholehah, pintar dan cantik malah kamu abaikan. Sungguh sungguh sama Dokter Meriam, jangan permainkan dia. Jika kamu suka, segera bilang iya. Jika tidak segera beri penolakan. Biar kalau ada orang lain yang siap menikahinya, dia bisa langsung menerima lamaran orang itu tanpa menunggu kamu yang tidak pasti. "
Degh!
Perkataan mamanya menohok ulu hatinya.
Dalam hatinya, Hans bergumam bahwa yang dikatakan mamanya itu benar. Sekarang saja sudah ada yang melamarnya. Hans tidak rela dia menikah dengan orang lain. Hans suka saat dia terang terangan bilang suka sama Hans.
Kemarin dia saat bersikap acuh tak acuh, hati Hans merasa aneh. Tapi dirinya terlalu angkuh dan tidak tahu bagaimana caranya bilang ke Meriam sebenarnya Hans ingin menerima ajakan ta'aruf nya. Rasanya canggung dan aneh. Padahal dulu dengan Yesline dan Clara, Hans bisa leluasa mengungkapkan perasaannya.
Mamanya menyenggol lengan Hans yang terlihat melamun.
" I-iya Ma. " Hans tergagap.
" Jangan melamun kamu, nanti kesambet! Kamu baca CV nya, Mama mau panggil Papa dulu untuk sarapan. "
Hans menganggukkan kepalanya sementara mamanya berjalan menuju kamarnya.
Dia mulai membuka berkas biru itu dengan hati bergetar. Baru kali ini dia melewati jalur perkenalan dengan seorang wanita menggunakan cara ini.
" Bismillah ..... " Hans membacanya dalam hati.
Meriam Hawa. Umur 25 tahun, Seorang Putri dari tiga bersaudara. Nama Ayahnya adalah Husein dan Mamanya Laksmi. Memiliki sebuah pesantren besar di kota Yogyakarta. Nama pesantrennya Asalamm.
Hans mulai membaca seluruh isi CV itu hingga halaman terakhir. Di Sana lengkap tertulis makanan, hobi dan minat Meriam dalam hal apa aja. Sampai kebiasaan dan kekurangannya ada di sana.
Seperti kita sedang disuguhi spek lengkap saat ingin membeli sesuatu disebuah toko.
__ADS_1
" Bagaimana, Ayu toh? Dokter Meriam itu cantik luar dan dalam. Papa juga ridho kalau kamu sama dia. " saking seriusnya membaca CV Dokter Meriam, sampai tidak menyadari kalau papanya sudah berdiri di dekatnya, duduk di kursi tepat disampingnya. Begitu juga mamanya yang duduk disamping suaminya.
Hans nyengir, memperlihatkan jajaran gigi putihnya.