Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Bab 247


__ADS_3

Hans mengayunkan langkahnya memasuki hutan, dengan tergopoh gopoh, dengan sisa harapan dari dalam dirinya, dia berharap itu Meriam. Mendengar suara minta tolong yang semakin menghilang, Hans semakin cepat menyibak semak semak dan melompat untuk berlari.


"Meriam!"


"Meriam!''


"Dimana kamu?!'' Hans terus berteriak, sampai pada detik kakinya menginjak sebuah batang pohon, di balik semak yang tinggi itu dia melihat lima orang berandalan mengangkat tubuh Meriam dengan tatapan penuh nafsu.


Amarah dalam diri Hans terbakar, memuncak. Dengan matanya memerah karena emosi, dia menyambar batang kayu dengan ukuran yang lebih besar, menyabetkan ke punggung mereka satu per satu. Ada yabg terkena di bagian kepala. Hans sudah tidak peduli lagi.


Sialan! Bangsat kalian semua! Lepasin istri saya!'' teriak Hans, dia menarik lengan para berandalan itu dan memukulnya.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Hans memukul mereka tanpa ampun. Batang pohon itu sudah dipenuhi darah segar.


"Kalian telah berani menyakitinya? Hah? Aku akan habisi kalian semuanya!'' teriaknya lagi.


Satu pukulan diayunkan ke kaki mereka yang hendak membopong Meriam membawanya pergi. Laki laki itu terjatuh dan Hans dengan cepat membopong tubuh Meriam.


"Anjir!! Hidungku patah!" seru salah seorang berandalan yang baru saja bangkit. Mereka menyeringai.


Hans dalam keadaan membopong Meriam tidak akan bisa berkelahi dengan leluasa. Akhirnya jalan satu satunya adalah Hans berlari dengan membopong tubuh Meriam. Tentu mereka terus mengejar di belakang Hans. Dia harus mencapai titik dimana para polisi tadi menutup jalan. Baru dia akan mempunyai bantuan.


Dengan cepat Hans merebahkan tubuh Meriam di kursi depan.Hans berjalan berputar mengitari mobil dan masuk ke dalam mobil.


Berandalan itu sudah terlihat melewati semak semak. Dengan cepat Hans berusaha menyalakan mobilnya, tapi beberapa kali distarter hanya bunyi.


DDRRTTTT.

__ADS_1


DRRRTTTT.


DDRRRRTT.


"Ayolah, di keadaan genting begini, cepat! Nyala!'' Hans memukul kemudi berkali kali, dia frustasi. Nyawa mereka bisa jadi taruhannya jika mobil itu tidak segera jalan.


Hans sangat terkejut ketika dua berandalan itu sudah mencapai mobilnya. Mereka memukul kap mobil Hans. Namun, di beberapa detik terakhir itu, untungnya mobil bisa di stater dan bisa jalan. Hans mengabaikan mereka yang memukul kaca mobilnya hingga pecah. Dia terus membawa mobilnya menjauh.


Sembari sesekali melirik ke arah Meriam, Istrinya masih pingsan. Setelah sampai di tempat polisi, dia akan langsung membawa Meriam ke bandara, dia akan membawa Meriam ke negara lain.


Dari balik spion, Hans bisa melihat jika di belakangnya ada dua pengendara sepeda motor yang sedang mengejarnya. Hans menarik nafasnya berkali kali.


"Ayo, Hans. Kamu bisa."


Beberapa meter lagi, Hans semakin mempercepat laju mobilnya. Dia harus segera mencapai polisi itu.


Ya, di depan sana, di sana, Hans bisa melihat polisi polisi itu masih berjaga. Hans menengok kebelakang, dia melihat dua pengendara itu mulai memperlambat laju sepeda motor mereka.


Saat itulah Hans bisa menghembuskan nafas dengan lega.


"Ayah, Maafkan Hans,"


Tiba tiba kedua mata Hans melihat pergerakan dari tubuh Meriam, Meriam sudah siuman. Ia sedikit melenguh memijit dahinya yang mungkin masih terasa sedikit pusing.


"Eugh....." Meriam melenguh.


"Sayang, kamu sudah sadar! Apa yang sakit? Dokter....Dokter!'' pekik Hans terdengar senang dan juga panik melihat Meriam kesakitan dan segera berteriak memanggil dokter.


Dokter jaga dan kedua suster masuk ke dalam ruang rawat dan memeriksa kondisi Meriam.


"Tidak apa apa, mungkin masih sedikit pusing aja karena pasien mengalami pukulan yang lumayan keras." ucap Dokter tersebut dengan menggunakan bahasa inggris.


"Terima kasih, Dokter." jawab Hans.


Hans beralih tatapannya ke Meriam, dan menggenggam jemari Meriam sambil ia kecupi.

__ADS_1


"Sayang.... Maafin Mas ya, telat nolongin kamu." ucap Hans menyesali kejadian sebelumnya. Niat hati ingin bulan madu, memadu kasih dengan istri tercinta, namun sayang musibah malah memintanya.


"Iya, Mas. Aku juga minta maaf, karena terlalu bersemangat melihat kembang api sampai tidak sadar jika aku sudah terlalu jauh dari sisi kamu, Mas," lirih Meriam yang masih agak pucat dan terlihat syok dengan kejadian yang dia alami.


"It's oke. Mas janji mulai detik ini, Mas akan lebih ketat lagi buat jagain kamu. Kalo perlu, kalo kamu ke kamar mandi Mas ikut." seru Hans.


"Yeah.... Itu sih memang mau kamu Mas. Dasar omes!" gerutu Meriam sambil tersenyum.


********


Berbeda dari Hans, saat ini Al tengah gelisah. Pasalnya gadis manis yang dihadapannya itu mengingatkan dirinya dengan masa lalu Al.


"Terima kasih ya, Mas. Maaf tadi saya buru buru karena ingin mengejar bus jadi nyebrangnya gak hati hati." ucap sang gadis pada Al.


"Oh iya, gak apa apa. Saya juga minta maaf karena melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut. Kamu mau kemana? Kalo memang searah biar aku antar sekalian." jawab Al.


"Saya mau ke jalan kenanga, Kalo Mas nya mau ke arah mana?"


"Kebetulan saya lewat jalan itu, kalo kamu mau bisa ikut saya. Daripada kamu harus nunggu bus malam malam begini. Lagipula hujannya juga lumayan deras." Al memberikan penawaran.


"Kalo Mas nya gak keberatan, boleh deh." jawab gadis manis tersebut.


Sementara disisi lain, Yesline tengah gelisah di kamar Azka. Karena ponsel Al yang dihubungi dari tadi tidak aktif padahal Yesline sudah menghubungi rumah sakit, dan dari pihak rumah sakit menginfokan jika Al sudah pulang setengah jam yang lalu.


Entah kenapa hati Yesline merasa tidak enak, ia takut terjadi sesuatu terhadap suaminya. Batin seorang istri itu terkadang memang ternyata kuat, apalagi saat ini Yesline sedang hamil, membuat jiwanya sedikit tidak labil.


"Mama, kenapa sih? Dari tadi mondar mandir terus, aku sampe pusing lihatnya!'' keluh Azka yang sedang menggambar sketsa di atas kertas. Azka ini sangat pandai dalam menggambar. Kepandaiannya itu keturunan dari Yesline yang dulu suka menggambar, hanya saja nasib dan takdirnya berkata lain. Karena dirinya harus bekerja saat sekolah.


"Ini nih, Sayang. Mama lagi bingung, kok papa belum sampai ya? Mama takut terjadi kenapa kenapa sama papa kamu, mana lagi hujan." adu Yesline menceritakan kegelisahannya pada putra pertamanya.


"Ck----" Azka menghentikan kegiatannya.


"Mam, Please deh, jangan terlalu lebay. Pertama papa pulang pake mobil dan tentu gak akan mungkin kehujanan, dan kedua ini Jakarta mama, Mama kan tau kalo Jakarta itu macet sekali, Ke sekolah Azka aja macet! Apalagi ini sudah malam, positif thinking ajalah Ma. Kasihan tuh, adek twins aku di dalam perut mama jadi ikutan pusing. Aku aja yang ngeliatin mama pusing," keluh Azka pada Yesline.


Yesline hanya bisa terdiam dan terperangah mendengar kata kata putranya. Ia masih tidak percaya jika yang bicara barusan adalah putranya. Azka memang sedikit memiliki pemikiran yang dewasa dan itu di dapat dari sifat Al. Namun, jika dilihat makin kesini, sifat Al malah makin jadi kekanak kanakan semenjak mengenal Gabriel.

__ADS_1


"Astaga itu beneran Azka yang ngomong sama aku tadi." gumam Yesline dalam hati.


__ADS_2