Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 160


__ADS_3

" Kalau kamu nikah sama dokter Meriam, Nanti saya semua yang tanggung biayanya. Gimana? " sombong Gabriel membuat Al tidak tahan untuk tidak membantahnya.


" Saya punya uang sendiri!! " ketua Hans.


" Dasar, OKB!! Makanya sok pamer kekayaan!!" cibir Al kepada Gabriel.


" Ish!! Suka suka, saya. Uang saya sendiri dan bukan minta ke kamu! " balas Gabriel.


" Saya juga ogah ngasih uang ke kamu, mending buat amal, saya sebar di panti. Lebih bermanfaat!! "


Kedua orang itu sudah mulai adu mulut, membuat teman temannya yang lain menghela nafas panjang.


Yesline bergerak menutup mulut Al dengan tangannya, begitu juga Leni yang langsung membekap mulut Gabriel. Membawa mereka ke kamar masing masing untuk berganti pakaian, sebelum Nicho, Chloe dan Azka datang.


Semuanya berhambur meninggalkan tepi kolam, kecuali Hans yang hanya menunggu di kursi, memainkan ponselnya dengan malas. Namun tiba tiba telepon Hans berbunyi, dia langsung mengangkatnya.


" Kamu yang bernama Hans? Besok datang ke rumah saya jam 8.00 pagi tepat. " suara bariton itu memerintahnya.


Hans kaget. Dia melihat layar ponselnya, itu nomor baru. Tanpa bertanya apa apa lagi dia langsung menutup panggilan itu.


" Orang aneh, Rumah saya?!! Rumah siapa lagi maksudnya? Saya ini lawyer bukan abnormal, Eh .... Salah paranormal maksudnya. " gumam Hans.


Ponselnya kembali berdering, tapi kini bukan panggilan masuk, melainkan sebuah pesan singkat dari nomor yang menelponnya tadi.


Ini alamat rumah saya.


Tak lupa orang yang menelpon tadi mengirimkan alamat rumahnya melalui share lokasi. Hans mengernyitkan dahi, dia merasa aneh dengan orang ini, yang tanpa salam dan basa basi langsung memintanya datang ke rumahnya? Hans membaca pesan itu tanpa berniat membalasnya. Dia menganggap itu hanya nomor nyasar yang salah kirim.


Laki laki itu menyimpan kembali ponselnya ketika Clinton sudah datang menghampirinya.


" Kamu gak ganti baju, bro? " tanya Clinton yang sudah duduk di sampingnya.


" Gak usah. Saya juga sudah keren. " sarkas Hans. Laki Laki itu mengenakan kemeja polos warna hitam dengan celana jeans.


Clinton sedikit merasa canggung, Dia ingin membahas rencana pernikahannya dengan Clara.


" Maafin saya, bro. " kata Clinton tiba tiba. Matanya menatap langit yang cerah malam itu.

__ADS_1


" Tidak apa apa. " Hans tahu maksud Clinton. Laki Laki itu menyenggol lengan sahabatnya.


" Saya sudah punya incaran baru, Kamu tenang aja bro, saya kan ganteng. " kata Hans, bibirnya menguras senyum. Mengusir keanehan yang masih mengganjal di hatinya. Tangannya menepuk pundak Clinton.


" Saya percaya, Kamu bisa membahagiakan Clara. Saya titip dia, ya? " Hans tersenyum getir. Ingin mengikhlaskan tapi nyatanya sesak itu begitu dalam.


" Terima kasih, Saya tunggu hari jadi Kamu sama Dokter itu. " Clinton menyikut lengan Hans, Dia terkekeh.


Hans tertawa lebar.


" Dulu, karena ada Clara akhirnya saya bisa ngelupain Yesline, sekarang saya mungkin butuh wanita lain lagi untuk membuat saya melupakan Clara. Miris sekali ternyata hidup saya. " rutuknya pada diri sendiri.


" Masa, Pak Ustad bisa galau! Dia kan punya segudang kata kata mutiara. " ledek Clinton, cekikikan. Dia hanya ingin membuat suasana tidak canggung.


Dari arah berlawanan datang Al, Yesline dan kawan kawan. Al nampak mendekati saklar lampu, memencet satu tombol dan seluruh lampu kelap kelip yang memenuhi area kolam padam. Menjadi gelap gulita.


Hanya ada cahaya lilin di kolam yang membentuk kata Azka dengan indahnya. Hans bangkit dari duduknya, begitu juga dengan Clinton. Mereka berdua ikut berkumpul di satu sudut. Leni dan Clara nampak sedang membantu Yesline membawa sebuah karakter untuk Azka.


Kata Callista, Nicho sudah sampai di depan gerbang rumah mereka.


" Sstt ... diam ya. Sepertinya itu langkah Nicho. " kata Yesline. Ia meletakkan jari telunjuknya di depan bibir saat telinganya mendengar langkah kaki yang bergerak menuju ke arah mereka.


" Satu .... Dua ... Tiga .... " Clinton menghitung dengan suara pelan, sembari tangannya bersiap menekan tombol saklar lampu saat waktunya tiba. Leni, Gabriel, Clara dan Jans siap dengan terompet juga.


Dari arah lain Nicho melangkah beriringan dengan Azka dan Chloe - Putrinya. Mata Azka sudah ditutupi dengan kain. Nicho melangkahkan kakinya memasuki area kolam renang.


" Tara!!! Selamat ulang tahun, Jagoan! " seru Al yang langsung menggendong putranya ke dalam dekapannya. Berbarengan dengan teriakan Azka tadi, Clinton sudah menekan tombol saklar membuat semua lampu langsung menyala.


Mata Azka membelalak terkejut, begitu juga Chloe yang nampak mengagumi area itu. Matanya bahkan tidak berkedip. Semua orang memberi tepuk tangan dan sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun.


" Papa, Mama. Ini bagus sekali. Azka suka! Terima kasih Mama, Papa. " celotehnya sembari mendaratkan ciuman penuh cinta di pipi Al dan Yesline secara bergantian.


Chloe yang pertama mendekat memberikan kado. Gadis kecil itu mengibaskan rambutnya.


" Selamat ulang tahun, Kak Azka. " Chloe dengan sumringah.


Pesta kejutan malam itu berjalan dengan lancar. Setelah acara selesai, semua ijin untuk pulang. Al membopong tubuh Azka yang audah terlelap. Mereka berjalan menuju kamar dan merebahkan tubuh mungil itu di atas kasur empuk.

__ADS_1


Yesline mengelus pipi putranya yang lucu lalu menyelimutinya. Setelah di rasa Azka sudah aman, Al langsung menarik tangan Yesline dan mengangkat wanita itu ke atas pundaknya. Membawa Yesline masuk ke dalam kamar mereka.


" Mas, turunkan aku! Kamu jail bangat sih? " protes Yesline, bibirnya gak henti henti tertawa.


" Bentar lagi. " katanya. Sedang Al berusaha membuka gagang pintu kamarnya, dengan sekali dorongan menggunakan kakinya pintu itu kembali tertutup.


" Mas, turunkan aku! " kata Yesline lagi.


Al merebahkan dirinya do samping Yesline lalu berguling menindih tubuh itu. Al menatap wajah itu lekat.


Yesline hanya tersenyum, Dia tau apa yang sedang Al pikirkan dan apa yang akan dia lakukan nanti.


Matanya berkilat, ada gelenyar panas yang merasuki tubuh mereka.


" Kita olahraga lagi malam ini. " kata Al menatap Yesline dengan tatapan sayu.


" Boleh, Mas. Silahkan nikmati sesuka Mas. * Yesline menyahut.


Tangannya membuka kancing kemeja Al satu demi satu. Al mulai menciumi seluruh wajah Yesline, dari kening, pipi kemudian turun ke leher dan bagian inti Yesline.


Malam ini, dua sejoli sedang di mabuk cinta. Saling meliuk dan mendesah menikmati ritme permainan pasangannya.


" Ah ..... Mas Al, Aku mencintaimu. " bisik Yesline di telinga suaminya. Membusungkan dada, melakukan pelepasan yang ketiga. Tubuhnya seketika lemas. Al berguling dan merebahkan tubuhnya kembali do samping Yesline. Nafas mereka ngos ngosan.


******


Hans sudah berada di rumahnya. Ia akan bersantai sebentar sebelum melanjutkan membaca dokumen yang ia akan tangani ke esokan harinya.


" Huh! Nyaman bangat. " Hans meluruskan kakinya di sofa. Setelah cukup bersantai di sofa, Hans akan mandi setelah itu akan istirahat.


Tidur adalah hal yang cukup menyenangkan bagi seorang Hans. Sepertinya dirinya sangat jarang sekali seperti ini. Karena hidup seorang diri, Hans mulai merasakan sedikit kejenuhan. Apalagi setelah mengetahui Clinton dan Clara akan segera menikah.


Rasanya, Hans juga ingin ikut menjadi pengantin. Entah siapa calonnya, Hans juga tidak tahu. Apakah dokter Meriam yang dekat termasuk dengannya?? Entahlah. Hans tidak tahu pasti.


Hatinya yang semula untuk Clara yang secara perlahan mulai dihilangkan dari sekarang. Karena bagaimanapun, ia tidak mungkin menjadi perebut. Perebut calon istri orang lain, terlebih itu sahabatnya sendiri.


Hans yang hendak beranjak dari sofa sedikit dikejutkan dengan dering ponsel. Lagi lagi dari nomor yang tidak dikenal. Kenapa sedari tadi banyak sekali nomor asing menelpon dirinya??

__ADS_1


Meski malas, Hans mau tidak mau mengangkat telepon dari nomor yang tidak di kenal tersebut.


" Halo? " ujar Hans malas.


__ADS_2