Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 253


__ADS_3

Clara menggandeng tangan Yesline masuk ke dalam klub alexiz. Dia sudah tidak sabar bertemu suaminya. Sementara waktu baru masuk ke dalam klub, Yesline sudah menutup hidungnya meski dia sudah memakai masker.


Bau minuman beralkohol dan juga asap rokok benar benar menyengat hidung. Suasana klub sangat ramai, tempat itu memang seperti memiliki aura pemikat sendiri, dari awal Yesline masuk kesana sebagai pekerja sampai sekarang pemiliki klub berganti Clinton, selalu ramai tidak kekurangan pengunjung. Mungkin bedanya dulu dan sekarang adalah, Clinton mengolah tempat itu tanpa menyediakan jasa wanita penghibur. Jika ada mungkin hanya untuk melayani sebagai pelayan saja. Masuk ke tempat itu mengingatnya kepada Suzan, bagaimana kondisi temannya itu, setelah dia membawa Suzan ke rumah sakit dan melakukan operasi, karena bertabrakan dengan hari H Hans menikah, Yesline jadi belum sempat menjenguknya lagi. Dia bahkan belum sempat menanyakannya kepada Al.


Nantilah dia tanyakan ketika mereka sudah sampai di rumah. Sebelum berangkat liburan dia harus sudah memastikan keadaan Suzan, bagaimanapun juga Suzan adalah temannya di kala susah.


"Yes, itu mereka," Clara menunjuk ke arah sofa melingkar disudut ruangan. Di Sana memang tampak ada Al juga Clinton dan Nicho. Yesline membuyarkan lamunannya, pandangannya dikejutkan fakta Al yang memegangi kerah Nicho dan memukulnya. Mereka sedang bersitegang. Yesline jadi penasaran, apa masalah yang mendasari itu. Yesline semakin mempercepat jalannya, Clara mengejar di belakang Yesline. Clara mengerutkan dahinya karena tiba tiba Yesline yang berubah jadi bersemangat untuk bertemu Al.


Jarak Yesline yang semakin dekat dengan posisi Al juga Nicho dan Clinton, membuatnya bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi mereka bertiga belum menyadari keberadaan Yesline.


Mereka masih berdebat. Yesline tidak mengerti apa yang mereka perdebatkan.


Lusi? Siapa Lusi?

__ADS_1


Karena Yesline berhenti mendadak membuat Clara menabrak punggung Yesline. Kedua wanita itu berdiri di sebelah kursi. Memperhatikan adegan panas di depan mereka. Clara panik, begitu juga dengan Yesline.


"Siapa Lusi?'' suara Yesline mengagetkan mereka bertiga. Al mematung, dia tidak langsung menoleh. Dia tahu betul siapa pemilik suara itu. Al mengisap rambutnya kebelakang, dia mengambil nafas dan mengatur ekspresinya agar tidak terlihat gugup. Sementara Nicho mengalihkan pandangannya menatap Yesline, dia tahu akan ada perang sebentar lagi. Kebetulan ponsel Nicho berdering dan itu dari Callista, Nicho menggunakan kesempatan itu untuk undur diri.


"Eh, ini Callista telepon. Aku pulang dulu ya?'' Nicho bangkit dsn menepuk pundak Al, berjalan melewati Yesline. Sebelum menghilang pergi, Nicho menyapa Yesline terlebih dahulu. Dari lirikan Yesline dia sudah bisa melihat hawa panas dan amukan ganas akan terjadi. Lebih baik dia pergi, daripada kena amukan Yesline.


"Aku pulang dulu, Yes," ucap Nicho kepada Yesline, sambil melambaikan tangan dan berlari pergi. Yesline tidak membalas, dia malah melangkah maju mendekati Al.


Clinton menarik tubuhnya menjauhi Al dengan canggung, niatnya agar Yesline bisa duduk. Sementara Clinton juga merasa terintimidasi dengan tatapan Clara padanya.


"Mas, siapa Lusi?" tanya Yesline lagi tanpa basa basi, sementara Al hanya menunduk. Jujur dia bingung harus mengatakan apa. Dia tahu sang istri jiwa keponya sangat tinggi, dan Yesline selalu tahu jika dirinya berbohong atau ada yang disembunyikan. Al juga tidak pernah bisa membohongi Yesline. Dia mencintai wanita itu tapi Yesline juga adalah segalanya.


Bagi yang pernah merasakannya, pasti tahu, seberapa berbahayanya perasaan bersalah, atau merasa ada janji yang belum terpenuhi di masa lalu, itu adalah magnet yang bisa menarikmu kembali ke masa lalu, kau ingin kembali tapi tidak bisa, semua hanya masalah rasa bersalahmu yang terlalu besar jadi mampu membunuh harapan dan segala keindahan yang telah kau miliki di masa kini. Kamu lupa, kamu khilaf, sampai kamu hanyut dalam keindahan kenangan yang bahkan kini tak bisa kamu gapai dan raih.

__ADS_1


Yesline menyentuh dagu Al dan membawanya menegakkan kepala agar Al sejajar dengan matanya. Saat mata mereka saling beradu, Al kembali memalingkan wajahnya dan salah tingkah, mata Yesline adalah kelemahannya. Dia tidak sanggup menatap mata itu.


"Ada yang kamu sembunyiin dari aku, Mas?'' Yesline bertanya, dia tahu betul apa yang sedang terjadi.


"Aku tidak menyembunyikan apa apa darimu, Yes. Hanya aku belum memberitahunya, dsn berniat untuk tidak membahasanya sama kamu. Takutnya, ya gini. Kamu langsung salah paham. Aku tidak mau kita bertengkar soal ini, bukan masalah besar kok." Al berdalih. Ya, bagi dia mungkin bukan masalah besar, tapi bagi Yesline tidak seperti itu. Karena itu menyangkut hati Al, tentu akan mempengaruhi hubungan mereka juga jika Al terus memilih bungkam, seakan tidak mempercayainya.


"Apa? Kamu tidak mengatakannya hanya karena takut aku salah paham? Betulkah? Kamu tidak belajar dari keadaan yang lalu Mas, kamu tidak ingat, aku hampir meninggalkan kamu karena hal yang kamu tutupin dari aku soal kamu dan Callista, sekarang kamu mau mengulanginya lagi? Munafik kamu, Mas! Sok baik menjaga perasaanku, tapi ujung ujungnya jika aku tahu dari orang lain, itu rasanya lebih sakit, Mas. Kamu tidak percaya sama istrimu sendiri dan lebih percaya dengan sahabatmu? Dan kamu juga belum sadar, jika Tuhan tidak akan mengijinkan seorang suami menyembunyikan masalah soal wanita lain dari istrinya, pasti akan ketahuan cepat atau lambat. Dan akibatnya selalu buruk. Aku kira wanita masa lalumu hanya Callista, ternyata ada juga yang bernama Lusi. Ah, betapa bodohnya aku yang menganggap kamu sudah tidak menyembunyikan apa apa lagi dariku, nyatanya terlalu banyak hal yang kamu sembunyikan Mas, sampai aku sadar ternyata aku belum begitu mengenalmu."


Dia kesal, sangat kesal. Al tidak mau memberitahunya.


Yesline menyentakkan dagu Al, dia duduk di sofa dengan perasaan campur aduk, untuk kesekian kalinya perasaannya seperti dipermainkan.


Al menyesal menatap Yesline yang kini membuang muka darinya.

__ADS_1


"Dia hanya masa lalu, Yes. Tapi melupakan dia seutuhnya juga diluar kemampuanku. Sudah belasan tahun, dan aku tidak menyimpan barang atau apapun yang berhubungan dengan dia, aku juga tidak lagi mengingat ingat dia. Tapi waktu membawa kenangannya kembali, dan aku tidak mengkhianatimu, aku tidak membohongimu, aku juga tidak selingkuh darimu, aku hanya kembali mengingat dia dan kenangan masa lalu yang membuat hatiku dulu begitu tersiksa karna tidak bisa menolongnya, menolong orang yang aku cinta, sama seperti aku yang kalut, saat kamu tertembak dan aku tidak bisa menolongmu, hanya itu. Aku masih suamimu dan kamu masih istriku, apa salahku, Yes? Kenapa kamu begitu marah? Padahal aku hanya membahas soal Lusi dengan Nicho? Apa kamu merasa aku duakan dengan apa? Aku bahkan tidak melakukan apa apa." Al juga jengkel dengan sikap Yesline yang dirasa kekanak kanakan. Dia capek, pikirannya didominasi oleh Lusi kini. Dirinya memang tidak melakukan hal yang melanggar apapun. Dia hanya tiba tiba mengingat kisah masa lalunya, penyesalannya, apa itu salah?


Al masih berdiri membelakangi Yesline.


__ADS_2