Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 269


__ADS_3

Berbeda dengan Gabriel yang tidak menunjukkan kesedihan sama sekali. Sebaliknya, dia malah tersenyum bangga. Sepertinya si tua bangka itu mulai berulah lagi. Memang ya, sudah tua, sok sokan, enggak tahu malu pula. Jadi, ya gitu deh, selalu tidak ada puas puasnya membuat orang kesal.


"Hahaha, kalian lebay amat. Harusnya kalian berterima kasih sama aku. Soalnya, program kehamilan yang Clara jalani dari rumah sakitku berjalan lancar. Dan bisa aja dia mungkin hamil. Itu termasuk salah satu ciri ciri orang hamil tuh," ujar Gabriel menyombongkan diri.


"Dih, pede amat. Kalo Clara gak hamil, malu sendiri entar kamu," kritik Al tak terima.


Gabriel masih tertawa dengan santai, ''Ya elah, gak usah ngegas juga kali. Kualitas rumah sakit aku emang lebih baik daripada kualitas rumah sakit kamu, Al. Iya gak, Hans?'' tanya lelaki itu meminta penguatan argumentasi dari Hans selaku istri Meriam yang menjadi dokter andalannya di rumah sakit Gabriel.


Bukankah kualitas kerja istri Hans bisa jadi bukti seberapa berkualitasnya rumah sakit Gabriel? Sayangnya dia bergantung kepada orang salah. Mana peduli, orang kayak Hans kepada orang orang yang hobi debat tidak jelas begini.


"Ya kagak taulah. Kok tanya tanya aku juga?'' tanya Hans cuek.


Al yang kesal dengan kesombongan Gabriel, sekaligus enang dengan sikap apatis Hans kepada Gabriel, merasa memiliki celah untuk membuktikan diri balik. Al tersenyum miring.


"Hilih! Modal omong doang. Kamu Kira rumah sakit kamu aja yang bisa sukses bikin program kehamilan? Rumah sakitku juga kali! Mau bukti? Nih ya, aku pasti berhasil buat program kehamilan buat Hans."


"Dih, apa apaan, ngajak ngajak aku?'' protes Hans.


Al menghembuskan nafas. Dia mencoba menahan kekesalan dalam batin. "Ayolah, Hans. Ikut program kehamilan di rumah sakitku kalo Meriam dalam tiga bulan belum juga hamil. Nah, biar si Gabriel juga tau kalo kualitas rumah sakitku lebih unggul daripada rumah sakitnya." pinta Al.


Hans hanya memicing mendengar permohonan Al. "Ogah! Ribet. Lagian aku juga yakin kalo Meriam subur. Termasuk aku juga. Jadi, nanti juga Meriam bakal cepat hamil. Lagian aku juga udah rajin olahraga ranjang sama istriku," ujar lelaki itu datar.


Haish, sial. Hans ini memang tidak ada habisnya berperan kubu netral yang gak bisa diajak kerja sama ya! Bisa bisanya, udah mempermalukan Gabriel, masih juga mempermalukan dirinya! Kalo kayak begini, lihat saja Gabriel malah tertawa mengejeknya.


"Hahaha, gimana, Al? Cari pasien aja kagak bisa. Yakin bisa jalanin prosedur program kehamilan dengan benar?'' ejek Gabriel bangga.


Namun, belum sempat Al menjawab, tiba tiba ucapannya terinterupsi. Padahal mulut Al sudah menganga ingin memprotes balik.


"Dokter Al!''


Semua orang terkejut ada orang yang memanggil nama Al. Terlebih, Al sendiri. Pria itu bahkan sampai terperanjat melihat apa yang tengah menguasai netranya. Padahal, Al baru bisa menikmati hari hari semenjak disini. Tapi, kenapa dimana mana selalu bertemu orang itu?

__ADS_1


"Aish! Sialan!'' umpat Al sangat kesal.


Laki laki itu hanya tertawa sambil menceburkan sebagian tubuhnya di dalam kolam pemandian. Beberapa pasang mata milik teman temannya menatap Al dengan bingung. Memang siapa dia? Kenapa Al begitu kesal?


***************


Nisa tertegun di depan hotelnya, sembari menatap rintik hujan yang turun di depannya. Bau tanah menyeruak, menelusup ke dalam hidung, menciptakan dejavu aneh yang membuatnya menyukai bau itu.


Bau tanah basah.


Hidup tak selamanya berjalan sesuai dengan apa yang ia mau, Nisa masih ingin berada di Singapura tapi jadwal seminarnya sudah selesai. Beberapa hari di sana, Rizky sudah mendominasi pikirannya.


Tangan dokter cantik itu menengadah menangkup air hujan dalam genggaman telapaknya. Dia suka bermain hujan. Seharusnya dia harus segera ke bandara karena mengejar pesawat yang akan ke Jakarta. Nisa baru memesan taksi, dia hanya sedang menunggu di depan Hotel.


Dia memeluk kedua lengannya, menggosokkannya perlahan untuk mengusir dingin yang baru saja merangkulnya.


Hujan bolehkah


Laki laki jutek dan kaku tapi diam diam perhatian dan manis.


Kelak, jika ada kesempatan semoga dia masih jomblo begitu pula aku.


Entah kenapa hatiku masih saja tak malu karena berharap berjodoh dengannya setelah dikatakan sebagai penguntit.


Nisa terkekeh. Hatinya memang lucu, kenapa begitu lemah dan rapuh hanya karena perhatian receh dari laki laki itu.


Sebuah taksi berhenti di depan Nisa.


"Ah, akhirnya datang juga, tapi kenapa berasa gak rela pergi ya? Hu.... Hu....." Nisa seperti sedang berdebat dengan dirinya sendiri. Kakinya mengayun siap masuk ke dalam taksi, tapi mata dan wajahnya celingukan kesana kemari. Dia berharap tiba tiba ada seseorang yang datang menghentikan kepergiannya.


"Ngimpi aja kamu, Nis," Nisa merutuki dirinya sendiri yang tak berhenti berhayal. Jaim, tapi masih ngarep.

__ADS_1


Bolehkah?


Dia memang tidak memberi tahu Rizky kalo dia akan pulang ke Indonesia hari ini. Bagaimana caranya memberi tahu Rizky? Apa hubungan mereka dan siapa dia sehingga boleh dan akan memberitahunya, sehingga kepergiannya terasa penting buat dia?


Yang ada Nisa hanya akan menjadi bahan ledekan bagi Rizky.


Wanita penguntit. Tak tahu malu! Kepedean! Sok cantik! Tak punya etika! Dan lain sebagainya.


Panas tuh kuping kalo dengerin ocehan Rizky yang pendek, padat dan jelas. Seperti judul tulisan dalam surat kabar. Membakar gendang telinga Nisa.


Sang sopir turun dari taksi dengan menggunakan payung sebagai pelindung diri agar tidak basah, sopir itu berlari kecil menghampiri Nisa yang berdiri di dekat tiang. Pandangan Nisa teralihkan oleh suara derap sepatu pak sopir ketika menginjak jalanan yang mulai di genangi air.


"Mari bu, saya bantu bawakan kopernya." suara suara dalam pikiran Nisa yang sedari tadi sibuk membahas topik laki laki tampan, jutek tapi manis itu buyar seketika.


Suara hujan yang begitu deras itu tak cukup mampu menyumbat ilusinya tentang Rizky.


"Ah, Rizky. Dirimu terlalu berkharismatik. Ngidam apa sih, mamamu saat mengandungmu dulu? Hm?" gumam Nisa tak bosan.


Enggak ada wujudnya dirinduin tapi kalo ketemu kayak kucing dan tikus.


Ada yang bilang, benci dan cinta itu bedanya hanya tipis. Kebanyakan kepleset.


"Berangkat sekarang, Bu?" tanya pak sopir itu lagi ketika mendapati Nisa tak kunjung memberikan kopernya kepada pak sopir.


Kepalanya masih menghadap ke arah lain. Seperti menunggu seseorang.


Bagaimana dia akan datang, jika kamu saja tidak memberitahunya?


"Bu?'' panggil pria paruh baya itu lagi.


Nisa terperanjat, ''Ah, iya, Pak." serunya gugup sambil memberikan koper kepada sopir taksi, pria itu membantunya mengangkat koper. Sementara kini, payung di pegang oleh Nisa.

__ADS_1


Tapi.


__ADS_2