Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 232


__ADS_3

Akhirnya geng kampret baikan dengan para istrinya, hanya tinggal Al yang belum bisa menjinakkan hati Yesline. Yesline benar benar mengunci pintu kamarnya dan membiarkan Al berada di luar kamar, tapi saat Yesline bangun jam 5 pagi, dia melihat Al sudah tidur disampingnya dengan memeluknya erat, memandangi wajah Al saat tidur membuat hati Yesline goyah.


Wajah tampan suaminya itu begitu sangat menggemaskan. Dia tidak akan tahan lama lama marah dengan laki laki itu. Tapi, saat Al tiba tiba bangun, Yesline buru buru membuang mukanya lagi, menarik tubuhnya menjadi memunggungi Al. Al memeluk Yesline dari belakang.


"Sudah bangun kenapa gak cium aku kayak biasanya sayang? Masih marah, ya?'' tanya Al.


"Menurut kamu, Mas? Kamu melanggar aturan aku. Gimana cara kamu masuk ke kamar ini?''


Al terkekeh pelan.


"Aku kan punya kunci serep. Aku kangen tidur meluk gini. Aku punya hadiah buat kamu, mau kemana hari ini aku temani, dan nanti aku ajak ke suatu tempat.''


Tiba tiba Yesline kepikiran sesuatu, Tapi ragu ragu mau mengatakannya.


"Anter aku periksa kandungan hari ini ke Gabriel. Aku mau diperiksa dia.'' Yesline mengatakannya dengan sedikit judes.


Mendengar nama Gabriel, Al langsung melepas pelukannya dan bangun dari tidurnya. Dia membalik badan Yesline untuk menghadapnya. Kini Al yang cemberut.


"Kamu demen sekali ya, bikin Mas emosi!'' sentak Al tapi tidak cukup keras.


Dalam hati Yesline tertawa, tapi di depan Al dia masih memasang muka juteknya. Dia masih marah.


"Kenapa harus periksa sama Gabriel? Suamimu kan punya rumah sakit sendiri?''


"Pengen aja, kalau gak mau nganterin ya udah, nanti aku berangkat sendiri.''


"Yesline!! Aku gigit kamu, ya!'' teriak Al sambil menggelitik perut Yesline, membuat Yesline terpaksa tertawa, Al juga benar benar menggigit puncak gunung Yesline dengan gemas.


"Mas! Aku masih marah!'' teriak Yesline mengingatkam, tapi Al gak peduli.


Dia sedang kesal. dan emosinya harus tersalurkan ke jalan yang benar.


#############

__ADS_1


PAgi itu, Meriam bangun lebih awal setelah sholat subuh bersama Hans di kamarnya, dia langsung melipir ke dapur, Meriam sedang mencuci sayuran saat Hans tiba tiba memeluknya dari belakang.


"Mau masak apa, istri sholehahku?'' tanya Hans dengan lembut, degunya menyandar di pundak Meriam. Dia sudah mulai merasa nyaman dan tidak canggung lagi memeluk Meriam.


Meriam pun begitu. Dia semakin nyaman dan tidak kikuk lagi saat Hans tiba tiba bergelayut manja, tiba tiba menyentuhnya atau menciumnya. Ya, seharusnya istri memang begitu, bukan?


Kecuali yang menikah terpaksa, akan berbeda lagi ceritanya.


Meriam tersipu, dipeluk Hans seperti itu sebenarnya membuatnya malu, bagaimana jika nanti Al atau Yesline melihat mereka bermesraan di dapur?


"Mas, malu ah, nanti kalo dilihat Kak Al dan Kak Yesline bagaimana?'' tanya Meriam balik, tanpa menjawab pertanyaan dari Hans.


"Enggak apa apa, enggak dosa. Kan kita sudah suami istri. Biar mereka pengen dan cepat baikan.'' jawab Hans.


"Kamu masak sayur bening ya? Itu kesukaan Yesline, dia suka sekali makanan itu. Dulu Mama sering minta aku kirimin ke rumah dia,'' tiba tiba Hans nyerocos saja saat Meriam sedang memotek bayam.


Meriam menghentikan aktifitasnya. Tiba tiba saja hatinya berasa nyeri, saat mendengar Hans berkisah soal masa lalunya dengan Yesline.


"Dulu kalian sedekat itu, Mas?'' tanya Meriam penasaran.


Tumben Hans tidak sadar kalau Meriam sedang cemburu. Meriam menjentikkan bahu, dan melepas ikatan tangan Hans yang melingkari perutnya.


Dia tidak marah, hanya.......


Tahu kan bagaimana rasanya?


Hans menautkan kedua alisnya. Bingung dengan reaksi Meriam yang tiba tiba,


"Kenapa dilepas pelukannya?'' tanya Hans kepada Meriam dengan perasaan aneh. Dan Meriam beralasan kalo dia mau segera masak, takut Yesline dan Al bangun tapi sarapan belum jadi, kan niat Meriam ingin menjamu tan rumah.


"Mana bisa masak sambil dipeluk? Mas tunggu, duduk di kursi, aku masak dulu.'' Meriam menyentuh kedua pundak Hans dan membimbingnya untuk duduk di kursi. Hans menurut sambil memandangi Meriam dari belakang punggungnya.


Akhirnya setelah lumayan lama, Al turun dari kamarnya mencari Hans, dia lupa memberi tahu Hans sesuatu.

__ADS_1


"Hans! Kamu dimana? Woi!! Pengantin baru....,'' panggil Hans seenak jidatnya. Teriak teriak begitu, meski memang enggak ada yang melarang karena di rumahnya sendiri.


Di dapur Hans yang sedang membantu Meriam mendengar suara Al yang berteriak memanggilnya.


"Mas, dipanggil Kak Al tuh,'' Meriam memberi tahu Hans yang pura pura tidak tahu.


"Biarin, biar dia kesini.'' Hans terkikik, dia ingin tahu seberapa serius Al mencarinya. Atau hanya karena sesuatu yang enggak penting.


"Hans!!'' suara itu terdengar lagi. Al sedang menyandarkan punggungnya ke sofa di ruang tamu.


"Mas, enggak baik begitu. Mungkin Kak Al sedang ada perlu, kamu samperin, gih,'' pinta Meriam, Hans langsung bangun dan melakukan apa yang diinginkan oleh istrinya akan selalu Hans berusaha penuhi.


"Iya deh, Mas kesana dulu.'' Hans bangkit, setelah mengecup kening Meriam, Hans melangkah ke luar dapur.


Melihat AL sedang merebahkan dirinya di sofa, dengan kaki selonjoran ke atas punggung sofa membuat Hans ingin memberikan kultum pagi untuk sahabatnya.


"Ada apa kamu nyariin aku, Pak Bos?'' tanya Hans sambil duduk di dekat Al.


Al bangun dari psosisi dia rebahan sebelumnya, kini duduk dengan serius menatap Hans.


"Kamu mau kemana hari ini, Hans?'' ucap Al.


Hans terlihat bingung ditanya seperti itu, tapi jika menelisik dari kejadian di masa lalu, saat seperti ini, Al biasanya membutuhkan bantuannya, tapi apa?


"Mau honeymoon.'' Hans menjawab pertanyaan Al dengan asal. Dia akan mengajak Meriam ke rumahnya. Lalu mungkin balik lagi ke Jogja, sambil mindahin kerjaan di laptop miliknya.


"Aku ada tugas, terpaksa kamu enggak bisa kemana mana dulu.'' Al menjelaskan. Dia melirik sekilas ekspresi dari Hans. Pasti tidak menyenangkan harus menunda acara berlibur mereka lagi.


"Tugas apa?'' Hans bertanya dengan mimik wajah serius.


"Aku masih cuti sebenarnya,'' dalih Hans.


"Iya, hari ini aja kamu masuk, aku sudah tangkap mami. Jadi kamu perlu pantau dia di Polsek bagaimana perkembangan kasusnya. Aku percayakan sama kamu.'' Al menambahi.

__ADS_1


Lalu ketika Meriam memberitahu mereka jika sarapan sudah siap, Mereka langsung berhambur ke meja makan, Yesline menyusul beberapa saat kemudian.


__ADS_2