Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 237


__ADS_3

Lalu lalang orang di bandara begitu ramai. Bahkan jika ada orang berlari pasti akan sulit untuk dilihat dan ditemukan, kecuali orang itu menggunakan pakaian yang sama, dan si pengejar mengenali ciri cirinya. Naasnya tas Meriam dibawa pencopet itu. Laki laki dengan topi dan jaket berwarna hitam juga jeans sedikit sobek di bagian paha. Dilehernya juga bertato.


"Kamu gak apa apa, Sayang?'' tanya Hans sedikit panik. Dia membantu Meriam berdiri, sambil melihat ke arah copet tadi lari. Aneh juga di bandara ada pencopet. Seharusnya keamanan bisa bergerak dengan cepat.


Dari arah belakang Hans, ada beberapa orang yang berlari mengejar pencopet tadi. Dari arah yang lain beberapa keamana juga ikut mengejar. Dari suara pengeras suara mikrofon juga digaungkan bahwa ada pencuri dengan ciri ciri sebagai berikut harap ditangkap.


"Copet!!! Tolong hadang dan tangkap copet itu!!'' teriak para pengejar copet.


Pandangan Hans beralih ke Meriam yang masih panik.


"Sayang, kamu tunggu disini, aku kejar dulu pencopetnya.'' Hans mengusap kepala Meriam, wanita itu menganggukkan kepalanya. Hans ikut berlari mengejar pencopet bersama beberapa orang tadi. Terakhir Hans melihat orang itu ke arah lobby.


Menyisir dari celah orang yang berlalu lalang Hans terus berlari, dia tidak ikut rombongan pengejar, Hans mengambil arah lain yang dia anggap paling benar. Di dekat parkiran mobil, dia melihat orang yang mencurigakan dengan ciri ciri pakaian yang dipakai pencuri tadi sedang berjongkok disamping badan mobil dan celingukan ke sana kemari.


Hans mendekati orang itu dengan mengendap endap. Hans bisa bela diri tapi tidak sejago Leni. Bisa di kick sama Leni dengan mudah jika diadu berdua untuk duel. Leni sudah kalangan atas, elit, Hans baru setengah matang.

__ADS_1


Dalam hatinya, Hans berharap kalo orang itu tidak terlalu jago berkelahi. Lumayan bisa jadi hero di mata Meriam, bukan cuma jadi kacung.


Hans melangkah perlahan dari balik punggung orang itu, setelah diperhatikan dengan seksama, orang itu memang pencuri tadi. Dengan sigap dan sedikit keahlian bela dirinya Hans menendang punggung orang itu hingga tersungkur jatuh ke depan, tas yang dipegangnya jatuh begitu saja, termasuk milik Meriam.


Lalu Hans maju menonjok muka orang itu beberapa kali, Hans itu tidak pernah tega menyakiti orang sebenarnya, jadi untuk membuat orang itu hingga berdarah darah Hans tidak tega. Orang itu melawan, dan terjadilah perkelahian. Untungnya dia tidak terlalu jago dari Hans.


"Mas Hans, awas!!'' tiba tiba suara Meriam mengusik konsentrasi Hans, meski niata Meriam adalah untuk membuat Hans menghindari pukulan tak terduga dari orang itu. Namun, malah pipi kiri Hans lolos terkena satu tonjokan karena Hans yang tadi menoleh ke arah Meriam berada.


"Mas!'' pekik Meriam dan hampir saja ikut maju menolong Hans. Meriam bukan Leni yang bisa bela diri, tapi dai tipe orang yang selalu maju untuk membantu tanpa takut terluka. Apalagi itu suaminya yang lagi berantem.


"Mas gak apa apa, kamu tetap diam disitu ya,'' Hans mencengkeram tangan orang tadi sambil menoleh sejenak untuk melihat Meriam.


"Sialan, Kamu!'' umpat orang itu, breoknya lebat dan berkulit gelap, badannya tidak terlalu cungkring junga tidak gemuk, di tengah tengahnya.


"Nyerah aja, Kamu! Atau mau aku bawa ke penjara?! Saya pengacara,'' hardi Hans.

__ADS_1


Orang itu mengangkat keduan tangannya, dia menyerah. Bibirnya sudah berdarah, juga tulang hidungnya sepertinya ada yang patah. Karena hidungnya berdarah. Hans sedikit kaget juga saat melihat wajah orang itu ternyata sudag babak belur. Seingat Hans dia hanya menonjok ala kadarnya, jadi tidak dengan kekuatan penuh, nyatanya hasilnya berbeda.


Hans meninggalkan orang tadi dan beralih ke tas Meriam yang tergeletak disamping pencopet. Hans membungkuk untuk mengambil tasnya. Pencopet tadi beringsut mundur, dia tergopoh gopoh berlari menjauh, Hans membiarakn dai pergi, karena dia tidak mau ribet dan terlibat masalah berat hari itu, dia harus pergi ke suatu tempat dengan Meriam, jangan sampai tertunda lagi dan untungnya dia menggunakan jet pribadi Gabriel yang bisa dipakai kapan saja tanpa menunggu jadwal.


Hans menghampiri Meriam dan menyerahkan tas itu kembali ke Meriam, dan alhamdulillah isinya masih utuh. Bukannya menerima tas dari Hans, Meriam malah memeluk Hans dengan erat, air matanya keluar. Meriam panik dan sangat mengkhawatirkan Hans, baru kali pertama dia melihat Hans berantem kayak tadi.


Dengan jarinya Meriam menyentuh pipi Hans yang terluka. Hans menyakinkan kepada Meriam bahwa dia baik baik saja.


Dengan mata berkaca kaca Meriam membenahi kemeja Hans yang miring, wanita itu benar benar terharu dan merasa sangat bersyukur bisa memiliki seseorang yang bisa menjaganya setiap waktu.


"Terima kasih, Mas." lirih Meriam sembari berjinjit untuk mengecup pipi Hans.


Mata Hans membulat sempurna, dia masih terkejut dengan perhatian yang manis, yang tiba tiba ia dapatkan dari Meriam. Hans semakin semangat untuk cepat bulan madu.


Hans dengan senyum sumringah membopong tubuh Meriam hingga mereka sampai masuk ke dalam jet. Hans tidak menghiraukan tatapan ratusan tatap mata yang memandanginya dan Meriam saat berjalan tadi, tapi Hans abaikan.

__ADS_1


Di dalam jet pribadi Gabriel, Meriam mencari kotak p3k lalu mengobati luka Hans dengan lembut.


Tapi, karena tidak kuat melihat wajah cantik Meriam, Hans merengkuh tengkuk Meriam dan menekannya ke depan, hingga mereka berciuman.


__ADS_2