Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 67


__ADS_3

" Maaf Bang .... Aku datang terlambat. "


Suara itu ngos ngosan seperti sudah berlari menempuh puluhan kilo meter.


Semua kaget melihat kearah sumber suara itu. Rizky.


Kenapa Dia selalu mucul tiba tiba ??? Tatapan Al berubah menjadi tajam.


" Dari mana Kamu tau lokasi Kami ??? " cetus Al mulai curiga.


Al berdiri dari duduknya dan mendekati Rizky yang masih membungkuk dan kedua tangannya bertumpu pada lututnya. Kepalanya mendongak menatap Al.


" Ittu .... Aku sengaja melacak lokasi Abang ... Aku mau bantu untuk menyelidiki kasus ini. Bang Nicho saja diajak masa Aku gak ??? " jawab Nicho sambil menunjuk Nicho.


Nafasnya masih tersenggal senggal. Entah itu sungguhan atau tipuan belaka.


Merasa muak, Nicho membuang pandangannya dari Rizky.


" Kami memang berniat tak mengajakmu. Pulang sana !!! Kamu belum cocok untuk tugas ini ! " cetus Al mendorong pundak Rizky.


Perasaan Al campur aduk, Sekuat tenaga Al menahan emosinya. Clinton dan yang lainnya berjalan mendekati Al.


" Tanggung Bang .... Sudah sampai sini juga. Aku hanya mendengar saja dan tidak mengganugu. " jawabnya masih saja berbohong.


Buat Rizky berbohong itu sudah menjadi santapan kecil buatnya. Al masih belum mengatakan sampai Rizky mengatakan sesuatu.


" Apa Kamu sudah menemukan buktinya Bang ?? Jika belum, Aku siap untuk membantu Bang. Aku juga ingin tau pelakunya siapa, Geram juga lama lama. berani beraninya Dia mengusik kehidupan Bang Al. " katanya mengoceh membuat semua saling pandang karena Bajingan satu ini tidak tau malu.


" Pulanglah sebelum Aku ingin makan sesuatu .... " cetus Al dan melangkah meninggalkan Rizky.


" Aku gak mau Bang. Pokoknya Aku mau bantu. " jawab Rizky ngotot.


Tidak tahan lagi, Al memutar tubuhnya mencengkeram kerah Rizky dan menghujaninya dengan pukulan bertubi tubi di wajahnya.


Hans dan yang lainnya hanya menonton. Membiarkan semuanya terjadi, Jika diberi kesempatan, Mereka juga akan melakukan hal yang sama.


" Bang Al ..... Aduh ... Sakit Bang .... " teriak Rizky. Kedua tangannya berusaha melindungi wajahnya dari serangan yang di tujukan Al yang sudah membabi buta.


" Berani beraninya Kamu menghianatiku, Dan masih berlagak sok baik ??? Bug ..... Bugh ... Bugh .... "


Emosi Al benar benar memuncak.


" Aku tidak menghianatimu, Bang ... " jawab Rizky masih ngelak. Al langsung meninju hidungnya hingga membuat darah segar keluar dari sana.


" Aku tidak akan berhenti memukulmu hingga Kamu mengakuinya sendiri. Walau, Bukti yang sudah Aku miliki dapat memasukkanmu ke Penjara !!! " bentak Al menyeret tubuh Rizky dan mendudukkannya di kursi.


" Katakan, Cepat !!!! " bentak Al membuat Rizky kaget.


Itu tidak akan membuat Rizky jujur, Wajahnya sudah babak belur oleh Al. Al langsung mengambil dan menganggkat kursi yang disamping Rizky dan hendak membantingnya ke tubuhnya.


" Al .... "


Clinton mendekat dan memegang pundak Al saat melihat sahabatnya itu sudah hilang kendali. Al langsung melempar kursi itu kesamping dan berteriak. Membuat Rizky takut dan tidak berani menatap Al.


" Aish .... Sial !!! "

__ADS_1


Saat melihat celana Rizky basah, tiba tiba Al tertawa dengan keras.


" Bawa Dia ke kamar mandi Bro .... Setelah itu masukkan kedalam bersama preman preman itu. "


*******


Callista mengendap endap berjalan melewati rumah kosong itu. Dia mengintip dari lubang lubang dinding yang kebetulan berdinding kayu.


Callsita spontan syok saat mengetahui di ruang depan ada Al, Clinton dan satu Orang Laki Laki yang tidak Dia kenal. Dia juga melihat Nicho juga ada disana.


Callista sangat kecewa melihat Nicho ada disana dan telah menghiantinya. Dibanding Al, Nicho yang sangat banyak memiliki dan menghabiskan waktu bersamanya.


" Apa kerena itu juga, kemarin Dia tidak mau diajak ketemuan ??? Katanya sedang kerja di luar kota. Nyatanya disini !!! "


Pikiran Callista benar benar kalut. Dia beralih dan berjalan lagi ke arah sebuah kamar dan mencari tau apakah Rizky ada disana. Awalnya Callista berpikir bahwa Pamannya yang menyekapnya. Ternyata Al dan Clinton sudah mengetahui semuanya.


Wajah Callista berubah menjadi sangat panik karena Dia tidak mau masuk penjara. Jantung Callista semakin tak karuan saat Dia melihat Rizky diikat dengan kursi dan kondisi yang menyedihkan. Callista sangat ngilu melihatnya. Wajahnya penuh dengan memar dan darah dimana mana membuat Callista sangat lemas.


Callista mengusap kasar wajahnya. Dia sudah tidak bisa berbuat apa apa. Dia berpikir sesuatu untuk mencari jalan.


Dia langsung memberi isyarat ke Pengawalnya tadi untuk mengintai disekitar lokasi. Jika ada kesempatan, Mereka harus mengeluarkan Rizky dari sana dan jika tidak maka dibiarkan saja. Daripada menimbulkan masalah baru.


Callista pelan pelan berjalan dengan berjongkok. Pelan pelan hingga ke mobil. Hari ini Dia benar benar syok. Dia ingin menjalankan rencananya yang lain.


*******


" Pa. Al sudah tau semuanya. Callista dari awal memang sudah membuat masalah. Sekarang Callista bingung takut Al akan melaporkan ke Polisi. Tolong cegah Al, Pa. Besok Callista akan memberi instruksi untuk mengadakan pertemuan Direksi. Dan semua saham akan Saya kembalikan ke Papa. "


Papa Al membaca pesan itu dengan senyum yang menghiasi wajah lelaki paruh baya itu. Dia menghela nafasnya sejenak.


Dia pun langsung membalasnya.


" Papa gak janji Callista, Besok Papa akan coba bicara dengan Al. Papa tidak tau, Kejahatan apa yang sudah Kamu lakukan. "


Callista langsung menghubungi semua dewan direksi. Dia akan menjalankan rencananya. Dia sudah menunggu di ruang rapat dan Dia sudah tidak memikirkan Om nya itu yang akan marah besar jika tau Callista akan memberikan semua saham itu ke Papa Al.


Tidak menunggu lama, Semua dewan direksi hadir termasuk Papa Al dan disusul Erwin dari belakang.


Callista menghela nafasnya melihat Om nya itu melirik aneh ke arahnya. Semua sudah siap.


Callista memulai rapat itu tanpa Al, info dari Papanya, Dia tidak bisa hadir karena masih di luar kota.


" Baik. Saya akan langsung saja. Kemarin Saya berniat untuk mengganti posisi direktur RS ini untuk digantikan oleh Paman Saya. Akan tetapi ada beberapa hal yang terjadi sehingga membuat Saya untuk mengurungkan niat itu. Saya akan memindahkan semua saham Saya untuk Papa Mertua Saya. " kata Callista menatap Pamannya dan terlihat sekali Erwin tidak menyukainya.


" Baik Bu Callista. Kami akan mengurus semuanya. " jawab salah satu Direksi.


Setelah rapat selesai, Semua langsung kelaluar. Papa Al mendekati Callista dan duduk disampingnya serta mengucapkan terima kasih. Dia akan membicarakannya jiak Al sudah pulang. Callista memohon ke Papa Al untuk benar benar melakukannya.


" Tolong Callista Pa .... " katanya dengan matanya yang berkaca kaca karena benar benar takut. Erwin menatap tajam ke arah Papa Al dan Callista. Erwin benar benar tidak terima akan hal ini.


Callista memutuskan untuk langsung pulang, Dia ingin masuk ke mobil dan tiba tiba saja Dia kaget karena ban mobilnya semua kempes.


" Aish .... Kok bisa barengan gini sih ??? " gerutunya sambil menendang ban mobilnya.


Dia buru buru karena harus menemui Mami karena Dia ingin membahas sesuatu. Dia tidak mau kalau Mami cuci tangan begitu saja. Baru saja Callista ingin memesan taksi Online, Papa Al muncul dari belakangnya.

__ADS_1


" Kenapa Cal ??? "


Callista kaget dan menoleh.


" Bannya kempes. " jawabnya singkat.


" Mau bareng Papa ??? " tanya Papa Al setelah berpikir.


Callista berpikir bahwa Mertuanya itu lagi bahagia hingga bersikap baik untuknya.


" Biarkan saja .... Nanti juga kapan kapan bisa direbut lagi. " gumamnya dalam hati.


" Boleh Pa. Tolong antarkan Callista ke club Alexiz. " jawab Callista sambil masuk mengikuti mertuanya itu.


*****


Siang itu Yesline sangat bosan karena Al yang tidak pulang semalaman. Jadi Dia tidak kemana mana dan hanya dirumah saja menonton bersama Leni. Disampingnya juga ada Mama mertuanya itu yang baru saja membawakan beberapa cemilan.


" Makasih Ma. Kue buatan Mama enak bangat. " kata Yesline sambil mengacungkan jempolnya sambil tersenyum membuat Mama mertuanya itu ikutan senyum.


" Hayo, Habisin semua. Kamu juga Len, Makan yang banyak biar bisa jagain Yesline. " kata Mama Al.


" Takutnya kalau makan banyak, malah gak kuat lari Tan, Hehehe .... " jawab Leni sambil tertawa bercanda.


" Ada ada saja Kamu Len ... " kata Yesline sambil menyenggol Leni.


Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama, cerita dan bercanda membuat rumah itu jadi rame.


Tiba tiba ponsel Yesline dan Mama Mertuanya itu berdering bersamaan. Mereka sempat tertawa karena merasa lucu dan mengangkat panggilan itu.


" Apa ??? tidak mungkin .... itu tidak mungkin .... Saya akan segera kesana. " jerit Mamanya itu dan sudah menangis histeris.


Sementara Yesline, Wajahnya berubah sangat pucat. Toples makananya yang dipegangnya jatuh menumpahkan isinya dan berhamburan dilantai.


" Tuhan .... kenapa cobaan ini bertubi tubi ??? "


" Bu, Ada apa Bu ??? Siapa yang telepon ???? " tanya Leni sambil memegang tubuh Yesline yang berdiri kaku. Air matanya mengalir deras dan Dia memeluk Leni tanpa menjawabnya.


Mama mertuanya itu gemetaran saat panggilan terputus. Dia bahkan tidak tau kalau air matanya itu sudah mengalir deras dan bahkan tidak tau jika Menantinya itu menangis disampingnya. Atau hatinya yang terlalu kacau untuk melihat ke arah lain.


Kaki Yesline sangat lemas dan tidak kuat untuk menopang tubuhnya berdiri. Leni sangat bingung dan cemas melihat Mereka berdua tiba tiba seperti itu setelah menerima panggilan itu.


Dia langsung menepuk punggung Yesline untuk menenangkannya.


" Tarik nafas Bu. Saya ambilkan minum dulu. "


Leni hendak mengambil minum dan melepas Yesline tapi tiba tiba Mertuanya itu lemas dan jatuh pingsan.


" Astaga .... Mama ....!!! " teriak Yesline histeris dan kaget. Dia bergegas mengangkat tubuh Mamaya itu ke sofa dibantu Leni juga. Leni langsung berlari ke dapur untuk mengambil air dan mencari minyak kayu putih.


Leni langsing menyuruh Yesline untuk minum terlebih dulu dan Dia sembari memberi minyak kayu putih di hidung Mama Al dan berharap bisa menyadarkannya dari pingsan.


Yesline meneguk air putih yang ditangannya itu dan dengan gugup mimijit kaki dan mengipasi wajah Mamanya itu.


Entah apa yang harus Dia lakukan, Dia sangat bingung.

__ADS_1


__ADS_2