Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 68


__ADS_3

" Astaga .... Mama ....!!! " teriak Yesline histeris dan kaget. Dia bergegas mengangkat tubuh Mama Nya itu ke sofa dibantu Leni juga. Leni langsung berlari ke dapur untuk mengambil air dan mencari minyak kayu putih.


Leni langsing menyuruh Yesline untuk minum terlebih dulu dan Dia sembari memberi minyak kayu putih di hidung Mama Al dan berharap bisa menyadarkannya dari pingsan.


Yesline meneguk air putih yang ditangannya itu dan dengan gugup mimijit kaki dan mengipasi wajah Mamanya itu.


Entah apa yang harus Dia lakukan, Dia benar benar bingung.


" Sebenarnya siapa yang menelpon tadi Bu ??" tanya Leni penasaran.


Mertuanya itu belum sadar dan Leni menatap Yesline, Sementara Dia tidak mau langsung berterus terang siapa sebenarnya yang menelpon.


" Mulai sekarang, Panggil namaku saja iya Len. " kata Yesline mengalihkan permbicaraan tanpa menjawab pertanyaan Leni.


Leni hanya menghela nafasnya melihat Bos nya itu.


" Oke Yes. Sekarang tolong kasih tau siapa yang menelpon tadi ??? dalam keadaan yang seperti ini dan jika Kamu mencintai Al, dan keluarganya serta calon Anak Kamu jangan biasakan menutupj apapun dariku dan yang lain, Mengerti ??? " cetus Leni bersikap tegas karena Dia sangat kesal.


Mendengar perkataan Leni membuat Yesline kaget meski Dia sadar bahwa yang dikatakan Leni itu semua benar.


" Mami yang menelponku. Dia menangis memohon mohon untuk tidak dilaporkan ke Polisi karena Dia terlibat dalam kasus pembunuhan Mamaku. " jawab Yesline dan airmatanya langsung tumpah tidak terbendung lagi.


" Kamu tau siapa Mami, Len ??? " tanya Yesline dengan sedikit pusing.


Leni menggelengkan kepalanya.


" Aku sudah menganggapnya seperti Mamaku juga. Karena dulu saat Aku butuh biaya untuk pengobatan Mama, Mami yang selalu membantuku. Aku tidak menyangka karena hanya demi uang Dia mau disuruh untuk ikut dalam proses pembunuhan Mama. Dia tega melakukan itu padaku. Aku tidak punya salah apa apa sama Mami, Kenapa Dia tega melakukan itu ??? Mereka membunuh satu satunya Orang yang Aku punya di dunia ini. Hanya karena iming iming uang. Lalu karena takut dilaporkan ke polisi, Dengan gampangnya Dia mengakui kesalahannya dan minta maaf. Apa itu setimpal ???? " kata Yesline histeris.


" Yes .... "


Tangan Leni menyentuh pundak Yesline. Leni tidak bisa mengatakan apa apa. Dia ikut sedih dan prihatin melihat dan menyaksikan hidup Yesline yang selalu ada masalah.


" Terkadang Dunia memang tidak adil Yes ... Kamu harus kuat untuk bisa bertahan. Musuh tidak pernah datang dari Orang yang tidak Kita kenal, Malah sebaliknya. Mereka adalah Orang yang paling dekat dengan Kita. Sabar iya ..." kata Leni menenangkan.


Saat Yesline merasakan bahwa tangan Mertuanya itu bergerak, Dia segera mengusap air matanya. Mamanya membuka matanya pelan dan Yesline langsung bangkit menopang tubuh Mamanya itu untuk duduk.


Leni juga langsung memberikan air putih dan Mamanya menerima dan langsung meminumnya.


Dengan tubuhnya yang masih lemas, Dia memegang tangan Yesline.


" Kita ke RS sekarang, Tadi Callista nelpon Papamu kecelakaan dan keadaannya kritis. " kata Mamanya itu dengan menahan air matanya. Terlihat jelas Dia sangat sedih memikirkan suaminya itu.


" Apa ???? " kata Yesline syok dan kaget dan berusaha tetap tenang karena Dia mulai kehilangan kesadaran dirinyam. Dadanya sesak karena tidak bisa membayangkan, Apa Dia kuat untuk memberitahu ke Al.

__ADS_1


" Kenapa lagi Tuhan .... Kenapa ini terjadi lagi ???? " gumamnya gemetaran.


" Siapkan mobil Len. " katanya pelan dan memegang Mamanya itu. berusaha tegar untuk bisa tetap menguatkan Mamanya itu.


******


" Pa .... Papa .... " teriak Istrinya itu disampingnya. Menggocang tubuh Suaminya yang berlumuran darah itu. Membiarkannya dengan pasrah dibawa perawat dan dokter ke ruang UGD.


Kepala Papa Al mengeluarkan banyak darah. Tangan dan lengannya terkena kaca mobil.


Mama Mertuanya itu tidak habis pikir kenapa bisa terjadi seperti itu. Mobil melaju dengan normal sampai Callista merasa ada yang membuntuti Mereka sehingga Dia menyuruh Papa Mertuanya itu untuk menambah kecepatan hingga lampu merah diterobos karena rem blong.


Papa Al membanting setir ke arah kanan dan menghantam tiang besar. Callista sangat takut, Dia juga terluka tapi tidak separah Papa Mertuanya itu. Dia hanya luka ringan saja.


Callista ketakutan, Dia teringat saat Orang Tuanya kecelakaan mobil dan meninggal dunia. Dan kini Dia juga merasakan hal yang sama tapi masih selamat. Dia bertekuk memegang kedua lututnya, merapatkan tubuhnya ke samping kursi. Dia menangis sejadi jadinya.


" Arrgghhh .... Tuhan tolong jangan hukum Aku seperti ini .... Bagaimana Aku akan menghadapi Al ??? Bagaimana mampu Aku menatap Al ?? Bagaimana bisa Aku melihatnya yang semakin membenciku ??? Al pasti akan menyalahkanku !!! Aku tidak tau apa apa soal ini !!! " gumam Callista tak karuan dan tiba tiba seorang Perawat menanyakan keluarga Papanya Al itu.


Dengan susah payah Callista berdiri dengan pikiran yang sangat kacau. Perutnya tiba tiba sakit, sakit sekali. Callista menghela nafasnya dan mengatur emosinya.


" Saya akan menelepon Keluarganya Sus .... " katanya pelan.


" Baik. Segera iya Bu karena Kami untuk segera melakukan tindakan operasi. Karena Beliau mengalami pendarahan yang cukup banyak di kepalanya. "


Mendengar itu membuat Callista sangat lemas. Hampir saja Dia jatuh kalau tidak berpegangan ke kursi. Dengan tangan gemetar Dia menelpon Mama Al.


" Al, Kamu gak pulang ??? " tanya Clinton menghampiri sahabatnya itu yang duduk disamping pintu. Al masih belum bisa memejamkan matanya. Sementara Nicho dan Hans sudah tertidur di depan pintu kamar. Tempat dimana Mereka menyekap para Preman itu.


Al menekuk kedua lututnya dan menyandarkan kedua tangannya dilututnya.


" Aku ingin segera menyelesaikan ini Clin... Kasihan Yesline yang ikut memikirkan ini. Gak tau tiba tiba juga Aku teringat Papa. " kata Al. Pandangannya jauh kedepan menembus kegelapan di depannya. Entah apa yang menjadi sekat diantara Mereka berdua. Hubungannya menjadi seperti itu semenjak Papanya menikahkannya dengan Callista.


" Om, Sebenarnya baik. Cobalah untuk memaafkannya dan bicaralah pelan pelan agar Kalian bisa saling mengerti satu sama lain. " kata Clinton sambil memegang pundak Al.


" Kamu benar. Tapi tumben tumbenan Kamu bisa pintar dan bijak begini?? Kesambet apaan Kamu ??? " goda Al ke Clinton dan senyum.


" Sialan Kamu. " jawab Clinton dan menyenggol lengan Al membuat Mereka tertawa.


Dokter ganteng dan mesum itu tertawa dan melupakan sesuatu hal. Tanpa keberadaan Sahabatnya itu, Tubuhnya akan pincang sebelah.


" Terima kasih, Bro... " kata Al.


Clinton tidak percaya akan apa yang dikatakan Al barusan sehingga menyentuh kening Al yang tidak panas sama sekali.

__ADS_1


" Kamu sakit iya ??? " kata Clinton karena heran dan tidak biasanya temannya itu seperti itu.


" Siiial ... "


Al menghentikan perkataanya karena Dia mendengar suara sesuatu dari dalam kamar dimana Rizky disekap. Tanpa mengatakan apa apa, Mereka langsung berlari dan bergegas menuju kesana. Clinton membangunkan Hans dan Nicho.


" Sepertinya ada penyusup. " kata Clinton membuat Nicho dan Hans yang masih setengah sadar langsung waspada.


Al berusaha membuka pintu dengan kunci, mungkin karena gugup dan sedikit ingin cepat cepat membuatnya susah dibuka.


Al langsung mendobrak pintu itu berkali kali dengan tubuhnya hingga pintu mengenai salah satu Orang yang ingin berusaha melepas ikatan Rizky.


" Aish .... Sial !!! " cetus Rizky karena tinggal sedikit lagi ikatannya itu lepas.


Anggotanya yang lain sudah berhasil melepaskan ketiga preman itu. Kini Mereka harus menghadapi suruhan Callista itu yang hampir 10 Orang.


Al menghindar saat salah satu dari Mereka mengayunkan kursi ke arahnya. Dengan sigat Al langsung menendang dengan salah satu kakinya membuatnya terkapar jauh.


Dari arah belakang, Seseorang memukul punggung Al hingga Dia hampir terjatuh jauh ke depan. Tangan Al langsung meraih kayu yang disampingnya dan langsung memukul Orang itu. Mereka mencari celah untuk untuk menyerang Al secara bersamaan.


Nicho langsung mengejar beberapa Orang yang hendak kabur. Dia lari dengan sangat cepat dan melompat hingga kedepan Mereka. Dengan sigap, Dia langsung menendang Mereka satu persatu hingga jatuh dan dengan cepat juga bangkit dan siap untuk melawan Nicho. Mereka berjalan memutari Nicho.


Ingin mengecoh konsentrasi Nicho. Satu lawan empat Orang membuat kecepatan dan konsentrasinya untuk melawan dan mengambil tindakan. Nicho memasang kuda kuda dan menangkis setiap pukulan yang dilayangkan ke Dia. Hingga salah satu dari Mereka menendang punggungnya dengan keras membuat lukanya yang kering langsung mengeluarkan darah. Membuat Nicho sedikit kewalahan.


Clinton membantu Al untuk melawan Mereka di dalam. Al dan Clinton berdiri saling membelakangi, saling melindungi. Clinton menangkis salah satu pukulan dari Mereka dan melingkarkan kedua tangannya di leher Orang itu, menguncinya lalu membalikkan badan dan berusaha untuk mematahkan lehernya. Dengan sigap kakinya menendang Orang didepannya yang ingin menyerangnya.


Hans berdiri disamping Rizky dengan memegang kayu untuk berjaga jaga. Malam itu terjadi baku hantam yang sengit. Orang orang suruhan Callista itu sudah mulai kewalahan melawan Mereka berempat. Mereka mencari senjata dan terus melawan, lebih baik mati daripada tertangkap lagi.


Al semakin berapi api, mengambil kursi dan memukulnya dengan keras ke Mereka satu persatu. Meninju wajah dan perut Mereka satu persatu. Bahkan sekarang Dia tidak peduli jika harus membunuh Orang. Dia juga sudah tidak takut kehilangan gelar Dokternya itu.


Dia sudah terlalu muak dengan semua ini. Clinton berbalik arah dan mencari senjatanya di laci meja. Ada seseorang yang mengikutinya, Dia langsung melompat dari atas meja dan memukulnya dengan keras membuat tubuh Orang itu terkuai jatuh tak berdaya.


Orang itu masih berusaha untuk berdiri dan mendekati Clinton yang sudah menemukan senjatanya itu. Tanpa berpikir panjang Clinton langsung menarik pelatuknya dan langsung menembak Mereka di pangkal paha sehingga Mereka terpingkal pingkal. Clinton langsung melumpuhkan serangan Mereka sementara Hans langsung menelpon Polisi. Dia sudah tidak sabar menunggu besok atau nanti.


Mendengar kata Polisi membuat Rizky tegang. Dia masih memutar otak bagaimana caranya Dia bisa kabur.


Al langsung berlari keluar membantu Nicho dan Clinton menyusul di belakang Al. Nicho sudah kurang fokus akibat luka dipunggungnya yang terasa sakit sekali. Rasanya seperti terbakar membuatnya dihajar habis habisan sama Mereka.


" Hei !!! " teriaknya keras dan marah.


Melihat Nicho ditendang dipukuli oleh Mereka. Al langaung berlari keras dan menendang Mereka satu persatu. Clinton langsung menembak Mereka satu persatu tepat di pahanya membuat Mereka mengerang kesakitan.


Al langsung membantu Nicho berdiri. Memapahnya untuk kembali masuk kedalam. Membaringkannya di ranjang kayu tanpa kasur itu. Nicho meringis menahan rasa sakit yang menjalar di punggungnya itu. Baru saja Al ingin mengecek punggung Nicho tiba tiba ponselnya berdering.

__ADS_1


" Iya sayang ??? " jawab Al berusaha tenang saat menerima panggilan dari Yesline. Wajahnya langsung berubah khawatir saat mendengar Yesline menangis.


" Kenapa sayang .... Ada apa ???? ''


__ADS_2