
" Aku lagi perbanyak puasa dan sholat malam juga sedekah. Aku benar benar serius mengajukan proposal dia sebagai calon imamku ke Allah. Doain ya kak, Dia mau menerima ajakanku untuk taaruf. "
" Sip, deh. Aku doain kamu juga. Tapi aku yakin Hans pasti mau kok, cuma dia itu suka jual mahal. Biasanya dia yang ngejar cewek sekarang di kejar cewek, Gak tanggung tanggung lagi ceweknya, secantik dan sepintar kamu, Sholehah pula. Maju terus pantang mundur, Aku dukung kamu 100 persen. "
" Kakak bisa aja. Emang siapa yang pernah di kejar kejar sama Hans, kak?? " tanya Meriam tiba tiba penasaran.
" Seseorang. Adalah ... Itu dulu, gak usah di bahas lagi. Sekarang masa depan Hans adalah kamu. Semangat! " seru Leni sembari mengepalkan tangannya memberi dukungan penuh kepada Meriam.
Dokter Meriam hanya senyum senyum sembari kembali memfokuskan dirinya untuk bekerja. Leni menselonjorkan kakinya di sofa. Dia benar benar menikmati waktu senggangnya.
Gabriel tidak mengijinkannya bekerja dan membebaskan Leni untuk melakukan apapun.
****
Malam itu Hans ada janji meeting dengan kliennya di jam makan malam di sebuah kafe. Saat dirinya baru saja mau pulang tiba tiba matanya menyipit melihat seseorang dimeja ujung seperti yang dia kenal. Hans melangkahkan kakinya mendekati gadis itu.
" Kamu?! Kamu pasti sengaja ngikutin aku, kan? Makanya kita ketemu terus? " tuduh Hans kepada seorang wanita yang ternyata dia adalah dokter Meriam.
Wanita itu kelihatan senang, karena kebetulan secara tidak sengaja menarik mereka selalu berada di tempat yang sama. Sebenarnya Meriam sedang makan dengan Leni, cuma waktu ada Hans, Leni sedang ke toilet.
" Kamu tau apa artinya itu, calon imamku? " wajah Meriam menghadap lurus ke arah Hans, seperti hendak membaca pikiran laki laki itu, andai saja dia bisa.
Nyatanya dia hanya melihat wajah tampan Hans yang membalas tatapannya, ketika mata mereka beradu, membuat Hans buru buru menarik pandangannya lagi.
" Kamu wanita penguntit!! " sergahnya.
" Salah! Ini artinya kita berjodoh! " tandas Meriam masih dengan senyum lebar yang sangat manis dan memukau.
__ADS_1
" Kamu tau ini apa? " Meriam mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya dan membuka sebuah halaman lalu menunjukkannya ke Hans.
" Lihat! Ini foto kamu. Ini tanggal pertama kali kita ketemu, aku menulisnya dan aku membuat ikrar di dalam hatiku, jika takdir mempertemukan kita lagi, berarti kita berjodoh! See! Kita dipertemukan lagi meski setelah lima tahun. " jelasnya dengan penuh percaya diri. Telunjuk Meriam menunjuk sebuah foto dan beberapa tulisan disekitar foto.
Dengan sedikit malas Hans melihat ke buku milik Meriam, Dia terkesiap, melongo menatap wanita itu yang ternyata juga sudah menyimpan fotonya. Dan otaknya kini sedang mengingat ingat kenangan beberapa tahun lalu, Dia ingat ada seorang perempuan yang bermain voly dan bolanya mengenai kepalanya.
" Oh, Jadi cewek itu, Kamu? "
Meriam mengangguk. Tidak sabar menanti ekspresi Hans atau tindakan Hans selanjutnya. Matanya berbinar namun sesaat kemudian,
" Gak ngaruh, Itu kebetulan aja. Udah ah, Aku mau balik. " balas Hans, meninggalkan Meriam begitu saja. Namun di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Dia juga mulai mengagumi Meriam yang begitu teguh menjaga dirinya. Ya, beberapa kali dia memang mendeklarasikan sebagai jodohnya tapi tidal lebih dari itu. Dia tidak pernah mendekati Hans dengan cara yang salah.
Meriam lagi lagi hanya tersenyum manis, melihat Hans pergi meninggalkannya. Lain kali dia yang akan datang ke rumah menjemputnya.
" Assalamualaikum, calon imam. Jangan lupa sholat tahajud, ya? sampai ketemu lagi besok. " Meriam melambaikan tangannya.
" Walaikumsalam. " ketus Hans.
Mata Meriam beralih menatap foto Hans di buku diary nya. Foto yang ia ambil lima tahun lalu. Foto itu adalah proposal pertama yang ia ajukan kepada Tuhan. Mintalah apapun kepada Tuhanmu, Niscaya kamu tidak akan kecewa karena Dialah sang pembolak balik hati manusia.
" Ah, Tuhan. Jika dia memang jodohku, dekatkanlah.... Gerakkan hatiku untuk juga mencintai makhlukmu yang begitu indah ini. "
Hans melangkahkan kakinya meninggalkan Meriam, Namun dia menoleh sejenak kebelakang, Dia mendapati gadis itu sudah tidak menatapnya lagi, membuatnya tiba tiba merasa kecewa. Seharusnya dia kan menatap Hans sampai dirinya benar benar pergi.
" Katanya suka! " kesal Hans.
Dia menggerutu dan pergi meninggalkan kafe.
__ADS_1
****
" Hari ini kamu ikut ke klub alexiz ya, sayang. Aku mau ngecek beberapa laporan keuangan bulan ini, oke? " pinta Clinton saat Clara baru saja menutup pintu mobilnya. Wanita itu menoleh ke arah Clinton sembari memakai sabuk pengamannya dan tersenyum manis.
" Iya, sayang. Boleh. Aku temani kamu malam ini, mau karaokean juga gak apa apa. Kalau kamu mau aku menginap di apartemenmu malam ini juga aku mau. Sebagai tanda maafku karena kemarin belum menerima ajakanmu untuk menikah. Aku sangat mencintaimu, tapi ..... " mata Clara mengerling manja.
" Iya, gak apa apa. Mas ngerti kok. Mas juga sangat mencintaimu. Mas boleh tanya sesuatu? " agak ragu Clinton menanyakannya, tapi ia ingin memastikan saja. Mata Clinton tak berkedip menatap Clara malam ini yang nampak seribu kali lebih cantik dari biasanya.
Clara menganggukkan kepalanya.
" Em .... Gak jadi deh. " ucap Clinton. Membuat Clara memukul dadanya beberapa kali dengan jengkel. Dia sudah menunggu dan penasaran tapi tiba tiba Clinton mengurungkan niatnya. Iya, dia pikir gak perlu bertanya, karena memang ini demi kebaikan cinta mereka juga. Ingin mematahkan prinsip Clara yang menurutnya masih kurang bersahabat.
Clinton melajukan mobilnya dengan cepat, sebelah tangannya terus bergandengan tangan dengan tangan Clara. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di club alexiz. Clinton membuka pintu mobilnya dan berlari kecil untuk membukakan Clara pintu.
Clinton membantu Clara untuk membukakan sabuk pengamannya. Tubuh Clinton mengungkung tubuh Clara begitu saja, membuat jantung Clara berdebar debar.
" Kamu sangat cantik, Kemejamu juga agak terbuka malam ini. Mau godain Mas, ya? Hm? " Clinton menaikkan alisnya, menatap Clara sayu. Wanita itu terkejut saat melihat kemejanya, Dia lupa mengancingkan beberapa kancing bagian atas hingga belahan indahnya terlihat melambai lambai. Membuat Clinton membelalakkan matanya.
" Maaf mas, kelupaan. " Clara dengan cepat kembali mengancingkan kemejanya. Dia tahu Clinton akan tergoda, apalagi selama ini beberapa kali Clinton sudah melihat seluruh tubuhnya dan dia kuat untuk menahan gairahnya.
Clara juga pernah berpikir bagaimana jika Clinton suatu hari nanti tidak kuat menahan lagi gairahnya karena selalu begitu berdekatan selama ini, jika dirinya terus saja menolak menikah. Clara menyadari mereka sudah sama sama dewasa dan Clinton adalah laki laki normal yang akan tergoda dengan kemolekan tubuhnya.
Sebenarnya, Clara sudah jauh hari menyerahkan segala jiwa dan raganya untuk Clinton. Tubuh itu pun nanti hanya dia peruntukkan untuknya. Hanya menunggu waktu yang pas.
Beberapa detik sebelumnya, Clara tidak menyadari saat bibir Clinton sudah mulai melingkupi bibirnya yang ranum dan menggoda. Sudah terlalu lama Clinton menunggu, Dia sudah sangat tergoda.
Tubuh Clara sangat indah. Segala bagaian di dalam tubuhnya Hans sudah melihatnya, dari sanalah ia mulai tidak bisa melupakan Clara. Kini sudah saatnya Clara menjadi miliknya seutuhnya.
__ADS_1