
Callista terus menghindari sosok Leni. Leni yang terus bertanya kepadanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Bukan Callista yang tidak ingin memberitahunya kepada Leni, hanya saja ia takut.
Sebaiknya, ia tidak melibatkan siapapun dalam masalahnya, termasuk Leni. Callista yakin dia bisa mengatasinya sendiri tanpa menyusahkan orang lain.
Huh!
Helaan nafas dihembuskan begitu saja. Leni akhirnya mengalah untuk tidak memaksa Callista menceritakan apa yang tengah terjadi. Sudahlah, kasihan jika ia terus menerus memaksa wanita yang terlihat tertekan itu. Pasti sudah terjadi suatu hal yang berat.
"Ya sudahlah, jika kamu tidak ingin berterus terang. Maaf sudah mendesakmu begini." kata Leni penuh sesal.
"Tidak perlu meminta maaf. Karena tidak ada hal apapun yang terjadi kepadaku." dusta Callista.
Leni tentu saja tahu kalau Callista tengah berbohong. Jelas ketara dari raut wajah ekspresinya.
Meski Leni tidak akan memaksa Callista untuk berterus terang. Ia akan menyelidikinya sendiri. Jiwa detektif seorang Leni meronta ronta. Mana mungkin dia bisa diam begini. ia harus tahu yang sebenarnya terjadi.
"Ya sudah, kalau gitu aku pamit dulu." ujar Leni.
"Iya, hati hati." sahut Callista.
Callista bisa merasa sedikit tenang dengan kepergian Leni. Ia melambaikan tangan ke arah Leni yang tersenyum manis kepadanya.
"Maaf, Leni. Aku harus berbohong kepadamu." lirih Callista.
__ADS_1
Ia merasa begitu bersalah. Sangat merasa bersalah. Memang ya, apapun itu ceritanya jika yang menyangkut dengan kebohongan pasti membuat pelakunya tidak tenang dan damai. Seperti yang dialami Callista saat ini.
"Aku harus menemui mami sendiri. Aku tidak mau berpisah dengan Mas Nicho. Semoga ada jalan keluarnya."
Callista pun dengan nekat akan menemui mami keesokan harinya. Tentunya hanya seorang diri tanpa seorang pun yang tahu termasuk Nicho, suaminya.
Ia tidak peduli dengan bahaya yang akan dihadapinya nanti. Yang Callista tahu kalau dirinya harus bertindak. Meskipun akhirnya ia harus berpisah dengan Nicho. Hal itu tidak menjadi masalah asal bukan Nicho yang meninggalkan duluan.
Callista ingin membuat seolah olah dia yang menghilang. Agar Nicho tidak dihantui rasa bersalah. Namun, terbesit di hati kecilnya semoga aja rumah tangganya tidak akan pernah hancur. Hanya Nicho yang dirinya cinta.
Ia akan memohon bahkan jika perlu bersujud di kaki mami hanya untuk mempertahankan rumah tangganya.
********
Dengan sisa tenaganya, Hans duduk di teras di depan rumah itu. Keringat masih mengucur deras dari pelipisnya. Dia sedang berusaha mengatur ritme nafasnya.
"Begitu penuh perjuangan untuk sampai kesini, Mer. Semua ini demi kamu. Baru kali ini aku rela berlari berkilo kili meter untuk menaklukkan jarak rumahmu. Dari sekian wanita yang kukenal, kamu berbeda. Andai terpaksa kamu memintaku untuk mendaki gunung tertinggi pun, aku akan melakukannya. Meski kaki ini menjerit meminta untuk berhenti, aku tidak akan berhenti. Aku tidak akan membiarkan kamu disakiti atau dimiliki laki laki sejak awal kamu memintaku untuk taaruf lebih dulu, sejak itu kamu sudah memiliki tempat di hati ini. Meriam, terimalah aku dengan segala kekuranganku, akan ku beri kau segala yang ku miliki, termasuk seluruh sisa hidupku." Hans bergumam sendirian, dia akan menunggu di sana sampai pintu rumah dibuka.
"Assalamualaikum, mohon maaf pak, pak kyai dan ibu sedang tidak ada di rumah, jika berkenan bapak bisa beristirahat dulu di asrama tamu, pak, monggo." seorang santri atau ustadz tiba tiba menghampiri Hans.
Hans menggerakkan kepalanya untuk pria berpeci dengan mengenakan kaos panjang dan balutan sarung, juga tangannya yang memegangi sebuah senter.
Dengan susah payah, Hans bangun untuk berdiri, sedikit tertatih ia berjalan untuk mendekati pria itu.
__ADS_1
"Walaikumsalam, aku memang sedang menunggu beliau. Terima kasih atas tawarannya, Mas. Kalau boleh tahu dimana letak asrama tamu?" sahut Hans dengan sopan dan santun.
Pria itu tersenyum, dia mempersilahkan Hans berjalan lebih dulu, dia akan menunjukkan dimana tempatnya.
Hans menurut saja, kakinya sudah berteriak, minta diselonjorkan dengan nyaman. Telapak kakinya terasa perih. Entah hati itu dia yang kurang beruntung ataukah memang Tuhan sedang menguji kesungguhan cintanya, yang jelas dia sudah berusaha dengan sekuat tenaga yang ia punya untuk menaklukkan tantangan itu.
Melihat Hans yang berjalan sedikit pincang dan tertatih tatih, pria yang sedang berjalan dibelakangnya kembali bertanya.
"Apakah anda baik baik saja, Pak? Jika butuh bantuan, Bapak bisa mengatakannya, saya akan meminta seorang santri untuk mengambilkan sepeda untuk bapak."
"Ah, tidak perlu. Aku akan menikmati rasa ini, ini termasuk usahaku untuk mendapatkan neng Meriam. Kamu tahu, kenapa kaki aku seperti ini?'' Hans bertanya dan pria itu hanya menggeleng.
Hans tertawa, menertawakan dirinya sendiri yang begitu kasihan hari ini. Tapi di luar semua itu, Hans senang, karena akan bertemu Meriam.
Pasalnya, setelah mendapat pesan dari Meriam, Hans inginnya langsung berangkat ke jogja tapi tiba tiba ada kasus yang harus diselesaikan. Seorang napi uang pernah ia tangani kasusnya tiba tiba meninggal di dalam tahanan. Karena itu Hans ketinggalan jadwal penerbangan, jadi dia memilih menggunakan jalur darat yang memakan waktu sekitar delapan jam, tapi ketika jaraknya tidak jauh lagi, mobilnya malah mogok saat belum keluar dari jalan tol.
Pria tadi yang mungkin adalah santri membukakan Hans pintu salah satu kamar untuk asrama tamu. Setelah itu menyerahkan kuncinya.
"Ini, Pak. Bapak bisa langsung istirahat."
Hans menerima kuncinya. "Terima kasih ya, Mas."
Pria itu mengangguk dan pamit undur diri. Hans merasa nyaman diperlakukan dengan ramah seperti itu. Dia masuk ke dalam asrama. Di dalam, Hans langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Setelah beberapa saat, dia ingin membersihkan diri, dia ingat dia bahkan meninggalkan semua barangnya di dalam mobil. Hans mendekati lemari dan membukanya. Ada tiga atau empat stel baju di sana untuk pria.
__ADS_1
Saat pria yang mengantar Hans ke asrama tadi mau kembali ke asramanya sendiri, dia melihat pak kyai berkata. "Sekarang sudah terlalu larut, besok pagi saya akan temui dia."