
Karena kesibukan di pagi hari, Callista belum sempat bertanya kepada Nicho perihal isi paket itu. Dia sudah harus ke supermarket untuk belanja kebutuhan bulanan dan Nicho juga berangkat kerja.
Pagi itu Callista berangkat sendirian karena Chloe ditinggal di rumah bersama pengasuhnya.
Callista mendorong trolinya memasuki lorong rak khusus buah, tak disangka dia sedang melihat mami sedang duduk disebuah kafe bersama seorang laki laki. Callista bergegas ke kasir untuk membayar apa yang sudah terlanjur ia masukkan ke troli. Setelah itu Callista langsung masuk ke dalam kafe, mengintip serta menguping apa yang sedang wanita jahat itu bicarakan.
Callista penasaran.
"Jarot, kamu harus bisa masuk ke rumah sakit, kamu pura pura aja jenguk Suzan, Wanita itu seperti kucing, sudah aku akalin biar mati tapi masih juga hidup," geram mami.
"Tapi, Mi. Aku takut ketahuan, Pak Clinton sudah mecat aku dari klub. Aku harus kerja apa sekarang? Aku butuh uang buat makan." Laki laki bernama Jarot itu mengambil minumannya dan menyeruputnya.
"Hallah! Gampang itu, nanti aku akan gaji kamu. Apalagi kamu berhasil bikin klub itu balik lagi ke aku, aku akan kasih beberapa persen saham klub Alexiz. Gimana?''
Mata Jarot berbinar.
"Wihhh, Beneran Mi?' ulang Jarot.
"Iya....'' jawab mami sambil memasukkan potongan steak ke mulutnya.
Callista termenung, ternyata banyak yang diincar tuh wanita uler. Callista punya ide, dia pergi ke tempat pelayan kafe itu, saat melihat mami memesan tambahan jus tomat campur susu. Dengan memberikan beberapa tip uang, Callista minta ijin untuk memakai seragam pelayan dan mengantar pesanan mami yang sudah ia campur dengan cabe sekilo. Biar dower tuh mulut, kesel lihatnya.
"Ini, Bu.'' Callista meletakkan gelas itu tepat di depan mami. Lalu berbalik badan pergi. Tapi Callista memperlambat langkahnya agar bisa melihat reaksi kepedasan dari si mulut cabe.
__ADS_1
"AAAAA!!!! Apa ini!! Hah.... Hah....Air! Mana air!'' teriak mami sembari mengipas lidahnya yang terbakar.
Jarot yang kebingungan sedikit bengong.
"Kenapa, Mi? Apa yang pedes?" Tidak menkawab pertanyaan Jarot, Mami malah mengambil minuman Jarot dan langsung meneguknya.
Dari kejauhan, Callista cekikikan, dia menahan tawanya. Kemudian Callista berjalan mendekati mami, dia melepas masker yang sedari tadi menutupi wajahnya. Dia ingin sedikit menekan wanita itu.
"Itu baru cabe, Apalagi kalau racun?!'' sindir Callista.
Membuat mami langsung menoleh menatap tajam ke arah Callista dengan muka kepedasan. Istri Nicho itu balik menatap garang ke arah mami.
"Aku pernah jadi jahat, Aku pernah lebih jahat dari pada kamu, Jadi jangan macam macam sama aku dan keluargaku. Kamu belum tahu rasanya minum racun kan?'' gertak Callista.
"Aku peringatkan sekali lagi, jangan sampai kebebasan kamu ini tidak bertahan sampai bulan depan, umur kamu berapa sih? Masih cukup kuat kan, kalau masuk penjara lagi. Oke, kalau kamu gak masalah sih, enggak apa apa, bukan aku juga yang rugi,'' tandas Callista dengan muka serius.
Mami menarik tangannya dari genggaman Callista dengan kuat.
"Kamu punya hutang sama aku, Call. Jika bukan aku, yang membuat kamu masuk penjara, maka Polisi sendiri yang akan memenjarakan kamu, Kamu otak dari semuanya.''
"Ya, saya otaknya dan dalangnya, Anda pengeksekutornya. Jika saya masuk kedalam penjara, saya akan membuat anda kembali masuk penjara juga. Nicho punya semua bukti kejahatan anda Mami, sedang anda hanya memiliki rekaman suara saya yang tidak 100 persen akurat,'' ancam Callista lagi, kini ia berikan penekanan pada beberapa kalimat yang ia ucapkan. Mami menegang, dia tahu semua yang dikatakan Callista memang benar, wanita itu memang lebih licik dari pada dirinya.
"Mi,'' bisik Jarot ditelinga Mami.
__ADS_1
"Hm....,'' sahut mami pelan, matanya masih menatap Callista yang juga masih menghakiminya dengan mata yang melotot tajam.
"Lebih baik kita pergi dulu, Mi. Kita susun rencana jangan debat disini, banyak yang lihat.''
Mami terdiam, dia mencerna kata kata Jarot.
''Benar juga yang dikatakan Jarot, Callista tak akan berhenti berbicara sampai disitu. Aku harus mencari cara lain untuk menghancurkan keluarga mereka, jika memasukkan ke penjara Callista adalah kemustahilan, jika itu kasus tentang ibu Yesline, karena Yesline dan Al tidak akan mau mengungkit masalah itu lagi. Kecuali, aku bisa menghasut Yesline. Atau menciptakan kasus baru untuk Callista.''
Ponsel Callista berdering, terpaksa ia harus meninggalkan Mami.
"Ingat apa yang aku katakan Mami!'' setelah mengatakan itu, Callista pergi ke dapur kafe, dia melepas kembali baju pelayannya dan pergi. Mami tak menggubris, malah membuang muka, ia tak peduli. Beberapa detik kemudian, perutnya mules, mungkin efek cabe tadi baru bekerja, dia berlari ke toilet dengan panik.
Callista mendapat telepon dari Nicho kalau dia sudah ada di depan mall dengan Chloe juga, karena senggang jadi Nicho menjemput putrinya kecilnya dari sekolah lalu menjemput Callista untuk makan siang bersama di luar.
Callista melambai ke arah Nicho yang berdiri di samping mobilnya sambil menggendong Chloe. Nicho membalas lambaian tangan Callista. Wanita itu langsung mengecup bibir Nicho sekilas dan mengecup pipi Chloe.Lalu mereka masuk ke dalam mobil
"Kok kamu tahu aku ada disini, Mas?'' selidik Callista ketika mobil sudah melaju.
"Kamu lupa, aku bisa melacak dimana pun kamu berada dengan aplikasi pencarian.'' NIcho nyengir.
Callista ingat, Nicho sudah menginstal semacam aplikasi pelacak di ponselnya, Callista tidak masalah sebenarnya, toh dia juga bukan orang yang sednag menyembunyikan sesuatu dari suami, tidak ada yang ditakutkan.
Soal Mami tadi, Callista merasa puas.
__ADS_1