
Si sombong yang rese!
"Laki laki gak penting tapi sok penting!'' jawab Ak atas pertanyaan Nicho itu. Nicho yang tidak mengerti dengan perkataan Al hanya mengeryitkan dahi. Nicho memang belum pernah mengetahui ada keterikatan buruk apa Al dengan pria itu.
Nicho ikut mengeringkan dirinya dan masuk ke dalam bilik ganti saat Al berjalan keluar pemandian. Hans yang baru saja membuka matanya melihat langkah Al yang meninggalkan mereka. Laki laki itu juga nampak heran.
Berada di tempat seperti ini untuk orang orang seperti mereka sangatlah cocok.
Pria itu hanya berendam sebentar saja. Saat Nicho keluar dari kamar ganti, Nicho melihat pria itu sudah berjalan ke kamar mandi.
"Aku kok merasa aneh ya, melihat Al. Apa niatnya cuma agar Al tahu kalo dia disini ada dia? Mencurigakan sekali," Nicho berjalan ke tepi kolam sambil sesekali melihat ke arah laki laki itu sampai tubuhnya hilang di balik pintu.
Pandangan beralih ke Hans berada.
"Hans, aku keluar dulu ya!'' teriaknya kepada Hans. Pandangannya lalu beralih ke tempat Gabriel berendam. "Aku keluar dulu, Gabr. Jangan lama lama berendam entar jadi raja duyung loh," ledek Nicho membuat Gabriel mencebik kesal.
"Sialan, Kamu!'' umpat Gabriel sedikit kesal.
Kalo Hans hanya menanggapi dengan acungan jempol.
Sementara itu di luar tempat pemandian ada tempat khusus pijat relaksasi, Al masuk ke dalam sana. Dia butuh mereklasasi tubuhnya. Ototnya tegang.
"Sial bangat sih ketemu dia. Pengen aku tonjok tuh muka songong. Sok kaya, sombong, padahal pasti lebih kaya aku," sombong Al dengan membusungkan dadanya. Sambil kakinya melangkah masuk ke dalam sana.
Sementara yang terjadi di tempat pemandian wanita adalah acara saling memijat punggung masing masing.
"Duh, Len. Enak bangat pijatan kamu, tangan kami yang kalo dipakai tinju orang langsung bonyok enak juga ternyata buat mijit," puji Yesline. Sementara Callista yang berada dibelakang Leni, ikut menimpali.
"Tangan dia udah kebal, Yes. Jadi otot ototnya sudah terbentuk dari dalam, kayak otot kawat belung besi," ledek Callista sambil tertawa pelan.
Meriam yang berada di Callista hanya ikut tersenyum, merasa lucu dengan tingkah teman temannya.
__ADS_1
"Tangan kamu juga lembut, Mer. Rajin perawatan ya pastinya," celetuk Callista kepada Meriam yang kini memijat pundaknya.
Meriam menjawab, ''Enggak sering juga sih, Kak. Hanya sesekali saja kalo ada waktu di sela sela pekerjaan."
Jadi posisi mereka itu saling memunggungi dan melingkar, Yesline yang berada di belakang Meriam, dia memijat punggung Meriam. Hanya Meriam yang masih menggunakan dress pendek untuk menutupi lekuk dan tubuh bagian dalamnya agar tidak terekspos. Karena satu pemandian itu terpisah laki laki dan perempuan, jadi Meriam melepas jilbabnya dan berganti dengan dress selutut.
"Meriam sudah terjaga tanpa harus luluran dan perawatan di salon setiap hari, Call. Jadi kulitnya selembut ini." Yesline menimpali.
"Iya, kayak kulit bayi, aku aja harus perawatan dulu biar dapat kulit mulus ini dari dulu semenjak jadi model."
Mereka saling mengobrol sampai mereka puas.
Kembali ke tempat dimana Al tadi masuk, ternyata Pak Sutradara juga masuk ke sana. Entah apa yang diinginkannya.
"Hei, Bung!'' panggilnya yang melihat Al berbaring di sebuah ranjang kecil untuk melakukan spa treatment. Terdengar bunyi desisan berat Al yang ia lontarkan. Melihat si sutradara itu membuatnya jengkel.
Al bangun dari posisi rebahannya dan duduk menghadap sang sutradara, semenjak laki laki itu bersikap acuh, meremehkan Al.
"Kamu sengaja ngikutin aku? Mau kamu sebenarnya apa?! Hah?'' desak Al tidak sabar.
"Aku mau mengajukan satu pertanyaan langsung ke kamu," jawabnya angkuh.
Al sangat kesal, dia sampai membuang pandangan ke arah lain.
"Apa?! Jangan bertele tele. Cepat katakan!" sentak Al dengan lantang. Dua wanita pekerja yang baru saja masuk ke ruangan mereka, karena akan memijat Al dan Sutradara itu menjadi kaget karena bentakan Al. Tubuh kedua pekerja itu mendekat ke dinding dan tidak berniat mendekat sampai kedua klien mereka baikan.
"Tenang, Bro. Gak usah marah marah. Aku cuma mau tanya, aku suka sama istri kamu yang cantik, aku mau ngajak dia main di film aku, satu kali aja untuk film ini. Aku sudah yakin sekali, film ini akan booming kalo dia yang main."
Mendengar penuturan sang sutradara membuat Al tertawa, ''Aku gak butuh duit kamu, istri aku sedang hamil dan gak boleh capek capek, lagian aku gak mau istriku kerja. Uang aku gak bakalan habis sampai tujuh turunan." tolak Al dengan sombong.
"Sombong amat kamu, saya tau kamu kaya, Saya menawarkan ini bukan karena Yesline butuh uang atau tidak, tapi lebih ke minta tolong. Aku butuh pameran wanita seperti Yesline. Itu saja," sanggah sutradara itu.
__ADS_1
"CK- karena itu kamu ngikutin kita sampai kesini?" tuding Al.
"Bukan, aku bukan ngikutin kalian, aku memang lagi ngerjain film disini."
"Penipu malu kan, kalo mau ngaku. Aku gak peduli juga sih, terserah kamu. Yang jelas aku sudah ambil keputusan. Yesline tidak boleh kerja. Titik!'' Al menegaskan.
"Kasihan sekali Yesline terkurung di sangkar emas, padahal dia punya bakat. Tapi suaminya gak mau dukung. Seharusnya kamu sekali kali tanya ke Yesline, biar dia jawab apa yang dia mau. Apa jangan jangan selama ini kamu hanya menyuruh dia tanpa bertanya. Kejam sekali anda!''
Kuping Al sudah panas. Dia mencoba menahan emosinya.
Sutradara itu mengingat sebuah kejadian dalam hidupnya yang membuatnya bisa bertemu dengan Al. Dan kenapa dia mengejar ngejar Yesline.
Flashback On.
Bugh!
Seseorang tiba tiba memukul laki laki yang sedang mencari sisa sisa makanan di sebuah tong sampah di depan sebuah restoran mahal yang cukup ramai pembeli.
Laki laki dengan wajah yang gak terawat dan brewok agak tebal yang menutupi sebagian wajahnya itu tak mempedulikan pukulan dari orang yang gak dikenalnya. Dia terlalu lapar. Pukulan kedua dari laki laki dibelakangnya hanya ia respon sekenanya, mengibaskan lengannya dengan kuat saat tangan orang itu mencengkeram pundaknya. Sampai sebuah tongkat dipukulkan beberapa kali ke punggungnya dengan kuat. Laki laki kelaparan itu mendongak, raut wajahnya nampak kesal dengan salah satu tangan yang memegangi roti yang sudah ia gigit di beberapa bagian.
"Kenapa kamu memukul saya?'' tanyanya pada seorang pria gendut yang memakai pakaian serba hitam, seperti bodyguard atau mungkin penjaga yang disewa untuk menjaga restoran mewah itu.
"Kamu cepat pergi dari sini! Bau tubuhmu mengganggu para tamu yang datang! Menjijikkan!" hardiknya tanpa belas kasihan. Padahal orang itu hanya ingin mengais sisa sisa makanan layaknya anjing dan kucing yang kelaparan.
"Saya tidak mengganggu siapa siapa, setelah kenyang saya akan pergi," katanya, kembali l memunggungi bodyguard itu.
"Pergi sekarang kataku! Bosku akan memarahiku jika sampai pelanggannya yang protes." pria dengan setelan baju hitamnya itu menarik kerah baju laki laki gelandangan itu menjauhi restoran, menyeretnya tanpa belas kasihan. Gelandangan itu hanya meronta, menghentakkan kakinya ke aspal, berusaha melepaskan diri, namun hanya membuat bagian tubuh belakangnya terasa panas.
"Lepaskan aku! Jika tidak, aku akan melaporkan kalian ke sahabatku! Lepaskan!'' katanya dengan berani, seperti memiliki pelindung yang bisa dengan mudah mengalahkan laki laki kejam yang menarik bajunya.
Laki laki itu tertawa keras meremehkan.
__ADS_1
"Panggillah! Aku tidak takut," sentaknya sembari mendorong tubuh laki laki gelandangan itu ke tepi jalan hingga membuatnya tersungkur, lututnya menabrak jalanan aspal yang besar. Dia meringis kesakitan.
"Hei!!!!''