
"Kenapa kalian tidak mau membuka jalan?!'' Yesline menjerit. Namun mereka hanya bagaikan robot, yang menerima satu perintah saja, menghadang Yesline.
Tidak ada hal lain yang Yesline bisa lakukan lagi selain menangis dan memeluk Azka. Dia merebahkan tubuh Azka di atas permukaan paving begitu saja, Yesline menyeka air matanya dan maju, dengan berani dia mendorong tubuh para wartawan yang hanya menatap nyalang ke arah Yesline. Dosa apa yang dia lakukan hingga mereka begitu kejam memperlakukan dia dan putranya. Bukankah, mereka manusia? Lantas, kenapa hati mereka bagaikan iblis? Bukankah mereka memiliki seorang anak di rumah? Bagaimana bisa mereka menutup mata dan telinga hingga mengabaikan seorang anak kecil yang tengah dalam keadaan kritis butuh bantuan?
Yesline mencengkeram kerah seorang wanita yang ikut bergabung dalam barisan wartawan laknat itu.
"Kamu, apa kamu punya anak di rumah? Kamu juga wanita kan? Lihat putraku, dia sakit dan segera butuh pertolongan, tolong kasihan aku. Kalian boleh meminta apapun tapi setelah aku masuk ke dalam rumah sakit dan membawa anakku masuk. Biarkan dia ditolong oleh dokter di dalam, aku mohon kasihani aku sebagai seorang wanita dan ibu. Aku mohon....." isak Yesline sendu. Dia mengiba pada manusia namun berhati batu.
Yesline sampai bersujud tapi mereka tak bergeming.
"Kami tidak akan membuka jalan sampai suamimu memutuskan untuk bertanggung jawab dan menutup rumah sakitnya."
Degh!
Mendengar salah satu perkataan wartawan itu Yesline mendongak terkejut.
Ia bangkit dan menatap tajam ke arah mereka.
"Berapa pasien yang telah dirugikan oleh rumah sakit ini? Berapa?! Aku tanya kamu. Tuduhan kalian belum terbukti, lalu kalian kenapa memaksa kami menutup rumah sakit ini. Selama berpuluh tahun rumah sakit ini sudah banyak berjasa dan menyembuhkan banyak orang. Kenapa hanya karena isu ini kami harus menutup rumah sakit ini dan mengabaikan banyak pasien lainnya yang masih menjalani pengobatan. Berikan bukti bahwa rumah sakit kami bersalah, bukan cuma omong kosong kalian. Siapa yang menyuruh kalian untuk menyerang kami? Hah! Berapa uang yang mereka kasih?! Aku bisa memberi kalian lebih, tapi jangan libatkan putraku! Aku bersumpah akan membuat kalian menyesali perbuatan kalian ini jika sampai putraku tak tertolong!'' ancam Yesline. Wanita itu kini berapi api.
__ADS_1
"Hahaha, mana ada maling yang ngaku. Kamu dan suamimu akan mendapat ganjarannya, bukti pasti akan segera didapatkan. Dasar sok baik tapi nyatanya biang kerok yang membuat pasien meninggal karena malapraktik."
Yesline tidak percaya dengan setiap kalimat yang ia dengar. Bukan masalah jika mereka mengatakan hal yang mereka ucapkan tadi jika memang bukti sudah ada yang menyatakan rumah sakitnya bermasalah. Tapi ini kenapa mereka seyakin itu hanya karena sebuah isu yang belum ada buktinya?
"Bu Yesline?!'' panggil seseorang yang baru saja tiba dan melihat wanita yang ia kenal berada dalam keadaan sulit.
Yesline menoleh, dia sepertinya mengenali suara itu.
Ya, mata Yesline membulat melihat sosok sutradara yang tempo hari menawarinya main dalam filmnya, tiba tiba ada di sana.
Mau apa dia?
Sutradara itu melihatnya dengan tatapan kasihan. Dari raut wajahnya dia benar benar memahami masalah apa yang sedang terjadi, tapi jelas dia sudah melihat berita di tv karena berita itu sudah disiarkan live di beberapa stasiun tv.
Sutradara itu mendekati Yesline dari balik punggung wartawan yang masih mengurung Yesline.
"Saya sudah melihat beritanya di televisi, Bu. Meski saya belum tahu siapa yang benar dan siapa yang salah disini, saya akan membantu ibu Yesline karena rasa solidaritas saya yang kasihan dengan anak ibu."
Apapun itu Yesline hanya mengangguk. Dia hanya ingin Azka segera mendapat pertolongan segera.
__ADS_1
Masalah pembuktian untuk isu itu, dia juga perlu berbicara dengan suaminya, meski dalam benak Yesline dia seratus persen percaya kepada Al kalo dia tidak pernah melakukan kesalahan. Dia orang yang jujur dan baik, hanya nasib saja yang kini sedang tidak memihak mereka.
"Baiklah." jawabnya.
Beberapa wartawan mulai menatap ke arah sutradara itu. Mereka waspada karena ada yang akan membantu seseorang yang dalam benak mereka menjadi tersangkanya.
"Anda tidak usah ikut campur, Pak. Kami hanya berusaha melakukan proses bersama demi kebaikan banyak orang, agar tidak terjadi lagi kasus malapraktik yang memakan korban." kata salah satu wartawan.
Sutradara itu tersenyum tipis, dia melirik ke id card wartawan itu, melihat informasi nama dan perusahaan yang menaunginya. Setelah sutradara itu melihat dengan teliti, ternyata mereka bekerja di bawah perusahaannya.
"Kalian bisa melakukan protes itu kepada pelakunya saja, biarkan ibu ini menyelamatkan nyawa putranya. Kalian tidak mengenali saya? Saya pemilik perusahaan tempat kalian bekerja, saya tidak akan bertanggung jawab jika sampai terjadi apa apa dengan putra ibu ini dan kalian dituntut. Jangan bawa bawa nama perusahaan saya, karena saya sudah memperingatkan kalian. Jika kalian ingin membantu korban melakukan protes, carilah bukti dari kasus ini, jangan hukum anak yang tidak bersalah ini, jika dia meninggal kalian akan menjadi pembunuh." sutradara itu menekan setiap yang ia katakan.
Para wartawan itu mendelik kaget, mereka mencari setiap apa yang dikatakan Adi sang sutradara itu, entah mereka benar benar lupa dengan direktur mereka atau memang mereka belum pernah melihat wajah direktur mereka. Yang jelas setelah Adi menunjukkan kartu namanya kepada wartawan, mereka langsung percaya dan mulai melepas tautan tangan mereka, mereka mundur memberikan Yesline jalan.
Yesline sempat tertegun melihat betapa mudahnya Adi menyakinkan mereka, dan betapa terkejutnya Yesline setelah tahu betapa berpengaruhnya Adi, laki laki yang ia kenal sebagai sutradara itu ternyata bukan orang biasa. Yesline berjalan melewati mereka sambil mendekap tubuh Azka dengan pikirannya yang berkecamuk. Banyak pertanyaan yang ia pikirkan tapi belum sempat ia tanyakan. Yesline hanya mengucapkan terima kasih atas bantuan Adi sebelum dia berlari masuk ke dalam rumah sakit.
Clinton baru saja tiba di rumah sakit, dia langsung berlari menuju lobby, tapi di depan rumah sakit dia melihat Yesline baru saja berlari masuk ke dalam rumah sakit sambil memeluk Azka, dan Clinton juga heran saat melihat ada laki laki yang muncul saat di pemandian air panas di korea kemarin, dalam pikiran Clinton kenapa laki laki itu selalu muncul di saat yang tidak tepat.
Tapi, Clinton tidak menyapa atau menanyakan hal yang ia pikirkan, Clinton hanya meliriknya sambil terus berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Dia harus segera menemui Al dan mengetahui keadaan Yesline dan Azka.
__ADS_1