
Melihat tubuh Yesline yang jatuh terkulai, Pandangan Papa Al sangat ketakutan. Wajahnya menjadi sangat pucat. Yesline butuh pertolongan segera. Leni yang datang bersamanya berlari dengan cepat menghampiri Mereka, Dibelakangnya disusul oleh Satpam, Pembantu dan Supir Papanya Al.
" Yesline ??? " teriaknya sambil melihat sekeliling.
" Apa yang terjadi Pak ??? Siapa yang melakukannya ??? tanya Leni sangat khawatir melihat Yesline.
" Siapkan mobil segera ... " kata Papa Al sama Supirnya tanpa mempedulikan pertanyaan Leni.
Wanita itu berlari dengan tangannya yang memegang pistol penuh siaga. Siap menarik pelatuknya untuk mengejar pelaku penembakan. Belum sempat Dia berlari, Papa Al menghentikannya sembari tangan kirinya menekan titik keluarnya darah dengan sebuah kain taplak meja didepannya.
" Tunggu dulu. Jangan pergi, Tolong bantu menganggkat Yesline. Dia harus segera di bawa ke RS atau Dia akan kritis. " kata Papa Al dengan sangat gugup dan cemas.
" Yesline !!!! Dengarkan Saya !!!! Kamu harus sadar .... Jangan tertidur, Yesline !!! " teriak Papa Al.
Kedua tangannya menepuk nepuk pipi Yesline dengan keras agar Dia tetap sadar. Kelopak mata Yesline hampir saja tertutup sebelum tangan Papa Al menggoncang bahu Yesline dengan kuat membuat Yesline tersendka mengeluarkan nafasnya. Matanya melotot menahan sakit, Nafasnya tersenggal senggal melihat darah yang bercucuran dan Dia pingsan.
" Yesline, Bangun Yesline .... " teriak Papa Al semakin gugup.
" Buruan .... " kata Papa Al ke Supirnya.
" Baik Pak. "
" Saya akan naik motor di depan Kalian untuk mencarikan jalan. Bibi tolong temani Pak Al untuk mendampingi Yesline ke RS. " kata Leni.
Leni langsung mengendarai sepeda motor tujang kebun yang bekerja disana. Dia menghalau setiap kendaraan yang menghalangi mobil Papanya Al menuju RS. Lampu merah pun Mereka terobos demi melawan waktu dan maut yang bisa saja menghampiri Yesline yang hampir tidak sadarkan diri lagi.
Supir Papa Al melihat Dua Orang yang sedang mengendarai sepeda motor melaju kencang menghampiri Mereka.
" Duar .... "
Tiba tiba terdengan suara dari mobil bagian belakang. Ternyata itu peluru yang mengenai bodi belakang mobil. Supir pun semakin panik, Dia meng klakson berulang kali memberi kode bahaya kepada Leni.
" Duar .... Duar .... "
Suara tembakan semakin menjadi jadi.
Syukurlah Leni merupakan Seorang Bodyguard yang sangat tampil akan hal seperti ini. Leni langsung berputar 180 derajat menuju pengendara motor itu.
Hanya butuh beberapa menit, Leni telah berada dibelakang bersiap menyerang balik kedua Orang itu dengan pistol otomatis yang sudah siap dari tadi.
" Duar .... "
Satu tembakan dari Leni mengenai ban bagian belakang salah satu motor itu hingga motor oleng dan akhirnya terjatuh. Leni pun bergegas mengejar Mereka untuk merebut senjata Mereka yang sudah terjatuh.
Satu dua tiga pukulan dilayangkan Leni dan " Duar ... Duar ... " satu tembakan dipaha Mereka masing masing membuat Mereka tidak bisa melawan.
Leni melihat pengendara lain langsung kabur dan tidak mengejar mobil lagi. Mungkin nyali Mereka menciut setelah melihat aksi Leni saat menghajar temannya yang sudah tidak berdaya itu.
" Tok ... Tok ... Tok ... "
Leni mengetok pintu salah satu pengendara mobil sambil menodongkan pistol dengan tangan kanannya.
" Tolong jangan berteriak !!!! Bawa motor Saya dan ikuti dari belakang jika mau mobil Kamu kembali. Jangan coba coba lapor polisi !!! Ingat !!! " kata Lebi dengan tatapan tajam dan pistol yang ada ditangannya. Pemilik mobil pun langsung meng iyakan dan gemetaran.
" Duar .... Duar ....Cepat masuk !!! "
Dua tembakan tepat disamping kanan dan kiri pelaku yang telah dilumpuhkan dengan kedua tangan terikat, Leni menghardik Mereka agar segera masuk mobil untuk dibawa ke Apartemen Clinton untuk introgasi.
" Satpam .... Tolong ambilkan bankar segera .... Ini ada Orang tertembak !!! teriak Papa Al saat sampai di RS.
" Suster, Bawa Pasien ke ruang 2 operasi segera !!! " kata Papa Al.
Dengan kondisinya yang masih kurang sehat, Dia pun tidak sanggup mengantarkan Yesline sampai ke ruang operasi. Dengan muka pucat dan sesekali terbatuk batuk, Papanya duduk di kursi lobi dengan mencoba menelpon Al.
" Al, Yesline tertembak .... Dia kehabisan banyak darah dan tidak sadarkan diri. Dia berada diruang operasi 2. Segera kesana .... " kata Papanya yang sedari tadi sangat panik dan cemas.
" Apa ???? Yesline tertembak ??? Saya kesana Pa. " jawab Al dengan sangat panik dan sangat bingung dan masih penuh pertanyaan kenapa Yesline bisa sampai tertembak.
" Leo, ikut Saya ke ruang operasi 2 sekarang, Suster tolong siapkan 1 kantong darah A+ dan bawa langsung keruang operasi 2. " kata Al dengan penuh khawatir. Keringatnya bercucuran karena Dia sangat panik dan takut terjadi apa apa dengan Yesline.
Semua kecemasan itu jelas terlihat diwajah Al. Tangannya mulai gemetaran saat memegang peralatan bedah dan akan memulai Operasi pengambilan peluru di tubuh Yesline.
" Al, Apa Kamu yakin melakukannya sendiri ?? Jika Kamu cemas dan gugup akan berakibat fatal. Biar Aku yang memimpin operasi kali ini. " kata Leo.
" Tidak. Aku masih bisa. Dia Istriku. " jawab Al.
" Baiklah. Tarik nafas. Tenangkan dirimu. Mari Kita mulai. "
Meskipun operasi pengambilan peluru berjalan lancar dan tidak memakan waktu yang lama, Operasi berjalan dengan sangat menengangkan karena kondisi Yesline yang lagi hamil dan tidak sadarkan diri serta banyak kehilangan darah ditambah lagi Al yang kondisi Psikologisnya yang sednag tidak stabil bersikras memimpin jalannya operasi itu.
Kurang lebih 2 jam Al dan Leo berada diruang operasi hingga akhirnya peluru dikeluarkan dari tubuh Yesline.
" Syukurlah, Akhirnya pelurunya terangkat juga. "
Akhirnya Al bisa sedikit lega melihat nyawa Yesline tidak lagi dalam bahaya.
__ADS_1
" Bagaimana Leo, Apa Yesline baik baik saja ??? " Pap Al langsung mendatangi Leo dan bertanya saat Dia keluar dari ruang operasi.
" Syukurlah golongan darah Yesline A+ dan bisa memakai persediaan darah dari RS ini. Dan luka tembakannya tidak terlalu dalam dan jauh dari organ penting. Yesline pingsan karena melihat darahnya yang banyak keluar dan ditambah Dia yang lagi dalam posisi hamil. " kata Dokter Leo menjelaskan.
" Dimana Al ??? Kenapa Dia tidak terlihat ??? "
" Dia masih didalam Pak, Menemani Istrinya yang belum sadarkan diri. " jawab Leo singkat.
" Baiklah Pak. Saya keruangan Saya dulu soalnya ada Pasien lain yang sudah menunggu. " kata Leo pamit dan meninggalkan Papa Al.
*
*
*
*
" Pak Clinton, Kamu ada dimana ??? Yesline ditembak oleh Orang tak dikenal dan Pelakunya Saya bawa kerumah kosong milik Bapak untuk diinterogasi. " kata Lebi menelpon sambil mengendarai mobil ke rumahnya Clinton.
" Apa ???? Yesline ditembak ??? Bagaiman keadaannya ??? " kata Clinton dengan sangat kaget mendengar perkataan Leni.
" Semoga baik baik saja Pak. Yesline langsung dibawa Papanya Al ke RS dimana Pak Al bekerja. "
" Baik. Aku kesana sekarang. " jawab clinton menutup panggilan itu.
*
*
*
*
" Pa, Bagaimana ini bisa terjadi sama Yesline ??? Kenapa Yesline bisa sama Papa ??? Apa Papa yang merencanakan semua ini ??? " tanya Al sama Papanya ketika Mereka bertemu setelah operasi.
" PLAKK ..... "
Satu tamparan keras mendarat di wajah Al.
" Bagaimana mungkin Kamu bisa berpikir seperti itu ??? Apakah Papa seperti Penjahat, Hah???? "
Papanya sangat marah disaat Dia juga sangat khawatir tapi malah dituduh Anaknya sendiri dibalik Penembakan Yesline.
" Begini kronologinya, Papa mengundang Yesline ke rumah. Saat Papa beranjak dari tempat duduk, tiba tiba Yesline tertembak dari depan. " kata Papanya menjelaskan.
" Tenangkan dirimu. Kelihatannya sasaran sebenarnya bukan Yesline karena setelah Mereka tahu Yesline yang tertembak dan dibawa ke RS, Mereka masih mengejar dan menembaki mobil secara membabi buta. Untungnya ada Wanita teman Yesline yang bisa menangani Mereka. " jawab Papanya menerangkan.
" Apa ??? Papa sasarannya ??? Tidak mungkin. Siapa musuh Papa ??? Bukankah hubungan Papa dengan siapa pun baik baik saja ??? " kata Al dengan masih tidak percaya dengan penjelasan Papanya itu.
" Jika tidak percaya coba telepon Wanita itu, Kamu pasti kenal Dia kan ??? "
Al langsung mengikuti saran dari Papanya itu dan langsung menelpon Leni.
" Halo Len ... " kata Al
" Iya Pak .... Bagaimana keadaan Ibu, Pak ??? Apakah sudah sadarkan diri ??? " tanya Leni yang khawatir juga sehingga Dia tidak peduli karena melontarkan pertanyaan ke Al.
" Dia sudah baikan. Mungkin beberapa saat lagi akan sadarkan diri. Bagaimana kronologi penembakan itu terjadi ??? Kenaoa Kamu tidak ikut mengantar Yesline ke RS ??? Bukankah tugasmu memastikan keselamatan Yesline, Hah ???? " kata Al dengan sesikit marah dan nada tinggi memarahi Leni.
" Maaf Pak. Tadi Ibu ingin bicara dengan Papanya Bapak jadi Saya mengawasi Beliau dari jarak yang agak jauh. Trus saat Saya mengawal untuk ke RS, ada Dua Orang pengendara motor yang menembaki mobil Bapak dari belakang makanya terpaksa Saya harus menghentikan Mereka terlebih dulu. " jawab Leni menjelaskan ke Al.
" Bagaimana pelakunya ??? Apakah ada yang tertangkap ??? "
" Dua dari Mereka tertangkap Pak. Dan ini Saya bawa ke rumah Pak Clinton untuk Kami introgasi. "
" Baik. Selidiki dengan baik dan cepat. Nanti beritahu Saya. " Al mengakhiri panggilannya karena Yesline sudah sadar.
" Baik Pak. Siap. "
Melihat Al mematikan panggilannya, Papanya menghampirinya.
" Bagaimana Al ?? " tanya Papanya.
" Dua dari Mereka tertangkap Pa." jawab Al dengan khawatir. Detak jantungnya masih berdetak tak karuan.
" Benar kata Papa. Sasarannya bukan Yesline tapi Papa. " gumam Al mulai membenarkan perkataan Papanya tadi.
" Tapi siapa dibalik itu semua ??? " Al mengusap wajahnya kasar.
" Maaf Pa. Kelihatannya Yesline sudah sadar. Nanti Kita bicarakan lagi. " jawab Al yang ingin segera menemui Istrinya itu.
*
*
__ADS_1
*
*
" Sayang .... Buka matanya pelan pelan iya ... Jangan tergesa gesa biar tidak pusing dan pingsan lagi. " kata Al dengan penuh rasa khawatir sama Istrinya itu.
" Dimana Aku Mas ??? Apa yang terjadi denganku ??? "
" Ceritanya panjang Sayang ... Sekarang Kamu sudah di RS, Kamu sudah tidak sadarkan diri lebih dari 2 jam setelah tertembak saat dirumah bersama Papa. " jawab Al.
Yesline langsung menggerakkan tangannya pelan dan memegang perutnya. Pikirannya mulai panik.
" Bagaimana dengan kandungan Saya Mas ??? Apakah terjadi sesuatu dengan Bayi Kita ??? Aku gak kalau terjadi apa apa dengan kandunganku Mas ... " kata Yesline menangis ketakutan.
" Tidak apa apa Sayang .... Bayi Kita baik baik saja. " jawab Al sambil memeluk Yesline dan menenangkannya sambil mengusap lembut perut Yesline.
" Tenang iya Sayang .... Semua akan baik baik saja. " kata Al menenangkannya dan mengecup kening Yesline dengan sedikit lama sambil meneteskan air mata.
Suasana kekhawatiran seketika menjadi syahdu ditambah dengan sejuknya pendingin ruangan operasi dan ruangan yang tertutup rapat sehingga tidak terdengar suara apapun. Hanya detak jam dinding dan aroma bunga yang ada dimeja dekat Mereka berdua membuat semakin romantis.
*
*
*
*
Papanya yang masih kebingungan dengan apa yang baru saja Dia alami memutuskan untuk memanggil Nicho. Karena menurutnya hanya Nicho satu satunya Orang yang mengerti Dia. Dan Dia yakin Nicho bisa diandalkan untuk menyelidiki dalang dibalik penembakan itu.
" Nicho, tolong temui Saya di RS. Bawa senjata karena ada yang ingin mencelakaiku." katanya saat menghubungi Nicho.
" Apa Om ??? Ada Orang yang ingin mencelakak Om ??? Om baik baik saja kan ??? " tanya Nicho tanpa menjawab Om nya itu.
" Ceritanya panjang. Kamu segera kesini. "
" Baik Om. Saya segera kesana. " jawab Nicho dan mematikan panggilan itu.
*
*
*
*
Leni sudah sampai di depan rumah Clinton. Dia pun turun sembari mengawasi kanan kiri takut ada yang mengikutinya. Dia langsung membuka pagarnya dan masuk kedalam.
" Turun Kalian !!! " bentak Lebi dengan keras ke Dua Orang itu. Kedua tangannya mencengkeram kerah Dua Orang itu. Dari arah rumahnya Clinton datang dan berlari menghampiri Mereka. Clinton sudah menunggu. Walau sebenarnya Dia ingin ke RS untuk melihat keadaan Yesline.
" Bugh ...."
" Bugh .... "
Dua pukulan mendarat tepat dimuka penjahat itu.
" Masuk kedalam, Cepat!!! Bugh .... Bugh ... " bentak Clinton serta mendaratkan tinju lagi ditubuh Mereka berdua.
Pemilik Mobil yang mengendari sepeda motornya, Leni minta langsung pergi membawa mobilnya kembali.
" Mas, Ini kunci mobilnya. Dan ini sebagai tanda terima kasih. Mereka berdua adalah Penjahat yang mencoba membunuh Majikan Kami. Anda tadi melihat sendiri kejadiannya dan Kami harus menyelidiki ini sendiri karena Polisi tidak bisa diandalkan. Mohon kerja samanya dan sekali lagi terima kasih. " kata Leni sambil menyodorkan amplop yang berisi uang, Leni memintanya untuk segera pergi.
" Baiklah. Terima kasih Mbak dan uangnya Saya terima. Saya berjanji tidak akan melaporkan kejadian ini. " jawabnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Leni langsung menutup pagar itu dan berjalan masuk ke dalam. Baru beberapa langkah, Tiba tiba Dia mendengar suara benturan yang sangat keras.
" Bruak .... "
Pintu pagar rumah jebol ditambrak mobil pajero diikuti satu mobil lainnya dibelakang.
" Duar .... Duar .... Duar ..... "
Tembakan bertubi tubi menyerang Leni secara mendadak dan cepat. Untung dengan sigap Leni menghindari tembakan itu.
" Duar .... Duar ... Duar .... "
Leni menghabiskan pelurunya membalas tembakan Mereka satu persatu. Tapi Mereka masih dengan sigap menangkisnya sehingga hanya terkena bagian yang tidak berbahaya. Hanya terkena tangan dan pundak dari salah Mereka.
Mendengar suara keributan, Clinton keluar melihat suasana. Clinton melihat Leni yang kewalahan menghadapi kurang lebih 10 Orang dengan sendrian. Dia pun langsung dengan sigap membantunya.
" Ayo Pak. Kita pergi saja. Tidak mungkin Kita bisa menang melawan Mereka. " kata Leni bergegas dan melompat mengendarai sepeda motornya sembari menarik Clinton untuk ikut bersamanya naik.
" Sialan.... Belum sempat Kulita dapat informasi apapun dari Mereka. Mereka sudah langsung mengikuti Kita. " kata Clinton yang mengendarai sepeda motor itu.
Mereka tidak mengejar Leni dan Clinton karena sasarannya bukan Mereka. Mereka hanya diberi tugas untuk memastikan tidak ada informasi yang bocor dari suruhan yang tertangkap itu.
__ADS_1
" Siapa Mereka ??? Kenapa Mereka bisa tau rumah Pak Clinton ??? Mungkin yang menyuruhnya masih ada hubungan dengan Keluarga Pak Al, Papanya dan Anda Pak. " kata Leni saat Clinton melaju cepat menuju RS.