Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 273


__ADS_3

Acara liburan geng kampret sudah seminggu lamanya tak terasa. Mereka merasa senang, menikmati waktu nyaman dimana tidak ada tuntutan pekerjaan apapun, melainkan hanya perlu bersantai, bercanda serta bercinta dengan pasangan masing masing. Semua merasa kembali seperti pasangan muda saat honeymoon saking indahnya.


Tentu saja pengecualian itu terjadi pada Hans. Pria itu menjadi satu satunya orang dari anggota geng kampret yang merasa kesal karena quality timenya bersama Meriam di negeri ginseng jadi terganggu. Mau bercinta beberapa ronde saja terus menerus diganggu untuk berbagai. Jadi, bukankah wajar bagi Hans untuk mengamuk?


"Udah, ayo, siap ke taman sakura kan?'' tanya Nicho.


Memang sedari tadi sarapan pagi, para istri istri lagi merengek minta di ajak ke taman kota Yeouido Cherry Blossom Festival yang terkenal dengan keistimewaannya karena ditumbuhi banyak pohon sakura. Apalagi di musim semi seperti ini, suasana menjadi sangat sejuk sementara bunga sakura bisa mulai tumbuh. Selain itu, suasana yang indah semakin sempurna, deretan bunga indah itu mengarah kepada pemandangan sungai han yang fenomenal.


Jadi ya begitu deh, mau seminggu atau sebulan, berkeliling korea khusus untuk mencari wisata destinasi saja tidak akan ada habisnya. Ya, kalo para istri sih senang senang aja misal setahun disuruh mendekam disini. Tapi, kalo suami ya stress dong lama lama. Uang menipis, kerjaan di Indonesia juga terbengkalai. Bahkan, walaupun mereka setuju untuk memenuhi keinginan para istri, diam diam mereka mencoba mencari celah untuk menghubungi para pegawai mereka yang berada di Indonesia.


"Oke," balas Gabriel santai.


Mereka pun melajukan mobil menuju taman tersebut. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa bunga sakura yang tumbuh itu sangat indah. Bunganya merekah dengan ramai namun juga banyak yang berjatuhan tak kalah ramai. Suasana sejuk yang mereka rasakan berkali kali membuat perasaan mereka menjadi nyaman. Seperti tengah dipuaskan.


"Wah, cantik bangat," puji Callista seraya meraih satu bunga sakura dari pohon.


Pendapat itu segera disetujui oleh Meriam yang terlihat gembira akan pemandangan di depannya.


"Iya, Kak. Betul bangat. Sayangnya di Indonesia tidak ada ya," komentar Meriam sopan.


Kesenangan itu segera di sambut oleh Yesline yang terlihat tak ceria dari Callista.


"Hihihi. Iya, benar bangat. Kalo ada di Indonesia, aku sudah pasti bakal ajak kalian melihat ini. Mana harum lagi baunya. Aromanya kayak parfum, benar gak sih?''


Leni yang sedari tadi tidak banyak bicara seketika ikut menyahut, "Iya, kayak bau parfum Evangeline. Aku punya satu dan emang mirip bangat baunya. Eh, tapi lihat tuh, para suami sedang sibuk nelpon sendiri."


Ucapan Leni segera memprovokasi para perempuan posesif itu untuk segera melihat tingkah para suami yang memencar masing masing guna melakukan telepon. Bisa mereka dengar begini.

__ADS_1


"Oh, Iya. Terus buat proyek lusa ada kendala apa enggak?" itu Nicho.


"Loh, gimana sih? Harusnya kan operasinya dipercepat biar enggal fatal begini!'' teriak Gabriel kesal kepada bawahannya di sana.


Sementara itu, Hans tampak tertekan, ''Astaga. Sabarlah sedikit. Aku kan masih dalam masa honeymoon. Kalo aku udah masuk, kasus kalian bakal segera aku tangani."


Diantara semua orang itu, Hanya Al yang terlihat santai tanpa beban, ''Iya iya. Urus aja semuanya sesuai kebutuhan. Oke. Aku setuju."


"Tuh, gimana ini? Bukannya manjain istri malah sibuk sendiri?" tanya Leni.


Yesline terlihat paling kesal, "Ih, iya sih. Pada gak sabaran bangat buat ngurusin pekerjaan. Lagian, kenapa sih, istri sampai di nomor duakan gara gara pekerjaan? Padahal, kita kan liburan juga jarang. Cuma sekali sekali buat nenangin pikiran gini."


"Maklumi aja, Kak. Mereka orang orang sibuk yang keberadaanya di butuhkan banyak orang. Jadi, mungkin saja mereka harus rela menggadaikan kesenangan mereka dengan mengurus pekerjaan dari jauh," ujar Meriam bijak.


"Iya, sih. Tetapi tetap aja sampai gak gitu sabarnya. Padahal, kita juga udah mau pulang!''


Si Leni yang gak lain adalah provokator dominan disini tentu saja tersenyum bangga. Perempuan itu segera memberikan gestur agar para wanita bergerak mendekat.


"Ide apa, Len?'' tanya Callista penasaran.


"Kamu sama Meriam sambut para suami buat makan makanan ringan yang habis kita beli ini. Sementara, aku sama Yesline nanti yang ngambil hape para suami diam diam," jelas Leni bersemangat.


Yesline bertepuk tangan kegirangan. Itulah yang dia inginkan. Jangan sampai pada suami jadi egois demi kesenangan mereka pribadi. Jadi, Yesline tentu saja langsung setuju. Sementara Callista dan Meriam nampak seperti berpikir pikir.


"Yes! Ayo kita laksanakan. Kamu setuju kan, Call?'' tanya Yesline.


Callista hanya tertawa hambar. ''Ya udah deh, kalo kamu sama Leni maunya gitu, aku ngikut aja. Kamu mau kan, Mer?''

__ADS_1


Meriam hanya mengangguk seraya tersenyum. Sehingga dimulailah pertempuran dingin ala istri dan suami. Dimana, Callista dan Meriam sudah mulai menggelar tikar di bawah pohon sakura beserta makanan ringan. Sesudah siap, Callista memanggil mereka.


"Hai, Sayang. Ayo istirahat dulu. Kita minum sama makan pie dulu. Teman temanmu ajak sekalian," panggil Callista dengan santai.


Nicho yang merasa di ganggu istrinya, mau tak mau tetap merasa kesal meski tetap menurut.


"Woy, Bro. Ayo makan dulu," ajaknya kepada Hans begitu ia melihat disitu hanya ada Meriam dan Callista.


"Loh, Mas. Al sama Gabriel ajak sekalian dong." rengek Callista.


Nicho seketika kikuk. "Hehehe, Iya, sayang." setelah mendatangi Al, dia berkata "Al, ayo makan makan dulu. Gabr, kamu juga."


Sebenarnya, para suami tengah makan sembari bermain ponsel. Namun, Callista melarang dengan tegas para suami untuk memegang ponsel disini. Jadi, terpaksa deh, semua ponsel itu mereka letakkan begitu saja. Sementara itu, Leni mengambil kesempatan untuk mencuri satu per satu ponsel yang tergeletak begitu saja.


Baru deh, setelah ponsel orang orang itu terambil, dia menyerahkan kepada Yesline yang dikumpulkan dan disembunyikan menjadi satu ke dalam tas Yesline. Dengan begitu, Leni bisa berperan bak perempuan yang baru datang dari kamar mandi.


"Wih, Corn dognya kayaknya enak bangat tuh," ujarnya seraya mengambil satu buah makanan.


Tak lama, Yesline juga melakukan hal serupa. Mereka terlalu asyik dan bercanda bersama sampai tidak sadar bahwa ponsel mereka sudah tidak ada. Sementara itu, orang yang pertama kali sadar bahwa keberadaan ponselnya lenyap adalah Gabriel si paling workaholic di antara mereka.


"Loh, hapeku mana ya?"


Semua perempuan itu terdiam seraya menahan tawa. Sementara itu, para pria lain juga mulai sadar bahwa ponsel mereka juga hilang.


"Loh, iya benar. Hape ku dimana? Perasaan, tadi gak taruh di sampingku deh," keluh Nicho.


Leni selaku biang kerok atas masalah ini menengahi bak pahlawan.

__ADS_1


"Udah, santai dulu. Lupakan pekerjaan kalian. Mari kita bersantai bersama." begitu katanya.


Sementara, ucapan Leni memang cenderung seperti titah yang membuat mereka tidak bisa berbuat apa apa. Sehingga, para suami hanya bisa mendengus kesal sekaligus diam diam kelimpungan karena ponsel mereka raib disembunyikan para istri mereka sendiri.


__ADS_2