
" Iya Cho, Ada apa malam malam begini nelpon ??? Kelakuan Kamu sudah di luar nalar deh !!! Dasar ..... !!!!!"
" Buka pintunya !!! "
" Pintu ??? Pintu apa ??? " kata Callista bingung.
Kemudia Dia mendengar suara ketukan dari pintu lagi.
" Astaga !!! "
Malam itu benar benar mencekam, lampu Apartemen yang masih remang remang karena belum Dia nyalakan sepenuhnya, sehingga menambah kesan horor. Callista mengendap endap mendekati pintu.
" Pintu apa Cho ??? !! " teriak Callista.
" Pintu Apartemen Kamu lah. " sentaknya.
" Hah ??? Jadi yang mengetuk pintu dari tadi itu Kamu ??? " Callista benar benar syok. Bagaimana mungkin Nicho tiba tiba sudah di Amerika karena kemarin Dia masih disingapura.
Callista segera membuka pintu dan benar saja disana ada Nicho yang berdiri dengan menenteng beberapa kantong besar berisi bahan belanjaan.
Callista langsung meraih beberapa kantong dari tangan Nicho karena Dia sudah kewalahan. Nicho berjalan masuk dan mendorong pintu dekat kakinya hingga tertutup. Callista meletakkan bahan belanjaan itu diatas meja, begitu juga Nicho. Callista melongok isi kantong itu yang berisi bahan makanan, snack dan beberapa minuman.
" Kamu beli semua ini buat apa, Cho ?? " tanyanya dan duduk disamping Nicho, menatapnya masih tidak percaya dengan adanya Nicho dan apa yang dilakukannya itu.
" Itu untuk mengisi kulkas, Aku yakin Kamu belum sempat belanja. " jawab Nicho sambil melepas sepatunya lalu merebahkan tubuhnya di sofa.
" Whatt ??? Kamu datang jauh jauh dari Singapure kesini karena mengkhawatirkan Aku ??? " tanya Callista merasa terharu.
Nicho langsung mengoreksi perkataan Callista itu.
" Ih ..... kepedean !!! Aku kesini karena harus menemui Client penting, kebetulan ingat nama gedung Apartemen Kamu, makanya Aku sekalian mampir. Kamu pasti belum sempat belanja, Jadi Aku sempatkan untuk belanja bahan bahan terlebih dah ..... " Nicho belum selesai bicara, Callista sudah menubruk tubuhnya, Callista memeluk Nicho erat.
" Thank You, Cho. "
" Hei, jangan salah paham !! " sentak Nicho sambil melepas pelukan Callista.
" Iya, Aku gak kepedean. Aku hanya terharu. Pokoknya makasih sudah datang. "
" Santai ajah. Kamu belum makan kan ??? Aku buatin makanan dulu. " kata Nicho dan bangkit melipir ke dapur. Callista menatap Laki Laki di depannya dengan perasaan campur aduk.
__ADS_1
" Kenapa Dia berubah jadi sok bertanggung jawab ??? Jadi tambah seksi. "
Callista mengikuti langkah Nicho. Dengan cekatan Laki Laki di depannya itu langsung mengeluarkan beberapa bahan, Dia akan membuat capcay kuah. Menu yang mudah dan cepat di masak juga enak di santap saat masih panas.
Callista duduk di kursi makan sambil menopang dagu, menatap Nicho yang begitu mempesona. Dia merasa terharu disusul ke Amerika.
Callista terus menggoda Nicho, mengajaknya bercanda dan mengobrol sepanjang malam. Masakan Nicho sangat enak dan ludes dimakan Callista sampai bersih.
Jam 2 subuh lewat, Dia memutuskan untuk tidur. Nicho memeluknya dari belakang. Sepertinya Nicho merindukan kebersamaan Mereka.
" Kamu masih mual ??? " tanya Nicho tiba tiba sembari tangannya mengelus elus perut Callista.
" Sepertinya sudah gak. " jawab Callista.
" Jangan jangan Kamu bohong, ya ??? Biar Aku datang kesini ?? " kata Nicho.
Menurut Callista baru kali ini Nicho berpikir paling berani seperti itu selama Mereka kenal.
" Kenapa harus berbohong sama Kamu ??? Toh nanti juga pasti ketauan. " sergahnya.
" Iya, Maaf. Lebih baik besok Kita periksa ke Rumah Sakit, mumpung Aku masih disini. " kata Nicho.
Callista meringguk di dada Nicho. Tidurnya malam ini terasa nyaman dan menenangkan.
Nicho menyanyikan lagu untuk Callista agar Dia bisa tertidur sambil mengelus elus rambutnya.
" Tidurlah .... "
******
Al berjalan melewati lorong Rumah Sakit, Dia membawa beberapa buah segar untuk Yesline. Al sadar, Istrinya itu butuh banyak nutrisi. Dia harus makan banyak.
Al memegang gagang pintu, memutarnya hingga terbuka. Matanya melotot melihat siapa yang menemani Yesline di dalam sana. Yesline sedang makan, Makanan yang dibawa Gabriel. Al mengcengkeram tangannya. Memasuki ruangan Yesline dengan mata tajam yang memerah.
Al menarik tangan Gabriel, mengajaknya keluar sudut ruangan untuk bicara. Yesline menatap Mereka dengan tertawa geli.
" Saya sudah bilang jangan dekatin Yesline!! Kamu masih belum paham?? Hah ?? " hardik Al.
Gabriel menepis tangannya.
__ADS_1
" Tadi Dokter Senior yang memintaku secara khusus untuk merawat Yesline. " jawab Gabriel dengan suara garang, tapi Dia kelihatan tenang dan santai.
" Tetap saja tidak boleh !!! " cetus Al.
" Jika Kamu menyayangi Istrimu, maka Kamu akan membiarkan Saya untuk merawatnya. "
" Jangan lancang Kamu !! " Al membentak Gabriel yang terdengar oleh Yesline.
" Mas tadi dari mana ?? " tanya Yesline.
" Beli buah buat Kamu, Yes ... " jawab Al sambil meletakkan buah itu diatas meja.
Yesline tersenyum senang , Dia menyerahkan mangkok kosongnya ke Gabriel.
" Terima kasih ya, Dok. " kata Yesline sambil tersenyum simpul.
Gabriel senyum dan bangkit hendak melangkah pergi.
" Besok Saya akan datang lagi, Saya buatin Kamu menu lainnya. " kata Gabriel.
Al yang mendengarnya langsung marah " Jangan datang lagi !!! "
Gabriel hanya tersenyum meremehkan ke arah Al dan pergi meninggalkan ruangan itu.
*****
Besok harinya, Callista baru saja selesai melakukan pemeriksaan. Dia duduk di kursi menghadap Dokter di depannya yang sedang menuliskan sebuah resep. Nicho duduk disamping Callista, memperhatikan dengan seksama.
" Sebenarnya, Saya kenapa Dok ??? " tanya Callista penasaran.
" Iya, Dok. Dia kemarin mual dan muntah disertai pusing. Kenapa bisa begitu Dok ??? " tanya Nicho yang ikut penasaran.
Dokter cantik di depannya itu mengulas senyum manis, memandang Callista dan Nicho bergantian.
" Selamat ya Pak, Ibu Callista positif hamil. "
Bagai petir menyambar di siang bolong, Bagai ratusan peluru tiba tiba menghujam dada bertubi tubi, Bagai kabar kematian yang datang dengan sepucuk surat. Nicho menatap tajam ke arah Callista yang lemas. Matanya basah. Wajahnya menegang, kaku. Sesaat matanya terasa berkunang kunang dan kepalanya berdenyut hebat.
" Aku tidak mungkin hamil !! "
__ADS_1