Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 66


__ADS_3

" Callista .... Tolong Aku .... " kata Rizky melalui panggilannya dengan mulutnya yang berdarah darah.


" Rizky, Kenapa Kamu ??? Hah??? Kamu kenapa ???? " Callista bingung mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenal.


" Halo ..... Halo .... Halo .... "


Panggilan langsung terputus membuat Callista sangat bingung dan takut.


Tangannya gemetar dan ponselnya terjatuh. Csllista berjongkok untuk mengambil ponsel itu dan membuka sebuah web pelacak yang biasa Dia gunakan.


Callista langsung memasukkan nomor Rizky karena Dia ingin tahu posisinya sekarang. Web itu langsung memunculkan titik merah dan disitulah posisi Rizky.


Callista berlari dan menelpon Seseorang.


" Mami, Aku butuh pengawal sekarang. Suruh


Mereka ke lokasi yang sudah Aku kirimkan."


Callista langsung mematikan teleponnya dan masuk ke mobilnya dan akan menuju ke lokasi itu. Jika Rizky dalam bahaya, maka keselamatannya juga akan terancam.


Callista dan Rizky hanya sebatas rekan kerja yang bertukar keuntungan. Jika saja itu tidak ada hubungannya dengan dirinya, Callista tidak akan peduli dengannya. Apakah Dia selamat atau mati bukan urusannya jika tida ada hubungannya dengannya.


Tapi siapa yang menyerang Rizky ??? Apa motifnya ???


" Psikopat itu bisa juga di gertak !!! " gerutu


Callista sambil berpangku tangan dijidatnya.


Mobil Callista melaju cepat dari kota menuju jalur sepi. Kanan kirinya hanya ada hutan dan pohon besar membuat Callista sedikit merinding.


" Kenapa tadi Dia kesini sendirian " gumam Callista sambil memakai airphone dan langsung menghubungi Mami.


" Mi, Mana pengawal yang Aku minta ??? " cetus Callista kesal. Tubuhnya sudah keringat dingin, Tangannya memutar kemudi dan mobilnya melewati belokan tajam yang ada di depan.


" Sudah jalan kesana. Kenapa Kamu terdengar gelisah begitu ???? " tanya Mami penasaran.


" Rizky disekap." jawab Mami dan kedua matanya melihat layar ponsel karena tinggal sebentar lagi Dia sampai disana.

__ADS_1


" Apa ???? " teriak Mami keras.


Pikiran Mami sama dengan yang dipikirkan Callista bahwa akan menyeretnya juga tentang kematian Mamanya Yesline itu. Meski Mami sempat ada feeling, karena sudah ada yang tau kalau Mereka terlibat. Apakah itu Clinton dan Al ?


" Oh .... Tidak !!!! Semuanya selesai, Callista !!!" pekik Mami.


" Jangan bikin Aku tambah pusing deh Mi. Mami mikir sesuatu kek, bagaimana jalan keluarnya biar Kita selamat. Biar Rizky saja yang dicelakai dan dimasukin ke penjara. " cetus Callista.


" Iya. ini juga lagi mikir !!! Aku mau minta maaf ajah sama Yesline, mungkin Dia mau maafin Aku karena Dian kan dulu kerja di tempat Saya. Aku balikin semua uang Kamu deh Call, Tapi jangan bawa bawa nama Saya !!! " jawab Mami mulai panik.


" Enak ajah !!!! Aku gak butuh uang itu !!! " cetus Callista marah dan menutup panggilannya.


Callista mematikan earphonenya dan memarkir mobilnya di semak semak. Kedatangannya tidak boleh terlihat dan ketauan. Callista mencari sesuatu di laci mobil dan di kursi karena seingatnya Dia pernah menyimpan sebuah senjata di mobilnya itu.


Dia mencondongkan tubuhnya ke dalam mobil dan mencari benda itu dan tiba tiba ada yang menepuk punggungnya dari belakang. Dengan sigap, Dia menarik pelatuk sembari memutar tubuhnya dan mengacungkan senjata yang Dia pegang itu tepat di kepala Orang itu. Membuat penampilan Preman itu mengangkat kedua tangannya diikuti rekan rekannya yang lain.


" Kami Orang yang disuruh Mami kesini. " kata Preman itu dan Callista masih belum menurunkan senjatanya.


Menatap Mereka satu persatu penuh selidik, Wanita licik seperti Callista selalu penuh selidik dan waspada. Preman didepannya menepis senjata itu hingga terjatuh.


Callista menghela nafasnya dan merasa lega karena Preman itu menunjukkan chat dari Mami. Callista hampir saja takut karena Dia kira itu Orang orang yang satu komplotan yang menangkap Rizky.


Preman Preman itu langsung mengambil posisi masing masing.


********


Sebelumnya ....


Clinton dan Al duduk disebuah kursi sedangkan Hans dan Nicho mengikat 3 Preman yang berniat mencelakai Yesline di RS kemarin. Setelah dirawat dengan penjagaan ketat, Kondisi Mereka sudah membaik dan Clinton membawa Mereka ke tempat persembunyian sesuai perintah Al.


Nicho dan Hans mendudukkan Preman itu di kursi, Mengikat kaki dan tangannya dan mulutnya dilakban. Mengunci Mereka dalam sebuah kamar karena kesaksian Mereka dibutuhkan nanti.


" Langsung lapor ke Polisi ajah Al. " kata Clinton.


Al masih terlihat berpikir.


" Iya betul Al yang dikatakan Clinton. Lagian Kita sudah mengantongi semua bukti. " lanjut Hans.

__ADS_1


" Lebih cepat memang lebih baik. " sambung Nicho.


Nicho seakan lupa dan tak peduli karena yang dilaporkan itu adalah Adiknya sendiri. Atau memang Dia tidak peduli dan menganggap bahwa hubungan itu sudah tidak ada apa apa baginya. Terlalu biasa hidup sendiri. Keluarga hanya status tanpa ada ikatan atau kehangatan layaknya keluarga lain pada umumnya.


Biarkan Rizky mempertanggung jawabkan perbuatannya.


" Baiklah. Kamu urus semuanya Hans ... Kamu yang lebih tau tentang hukum. Meski tindakan ini akan membuat Keluargaku terguncang. Om pasti akan kaget apalagi Mama Kamu Cho. Dia sangat menyayangi Rizky. " kata Al dengan berat.


" Aku gak peduli. Gak ada juga yang peduli samaku. " jawab Nicho dan mengalihkan pandangannya karena Al menatapnya.


" Oke. Demi Yesline Aku siap melakukan apapun. Akan Aku perjuangkan sampai titik darah penghabisan. " jawab Hans membuat dirinya seperti pahlawan hingga Tiga Laki Laki yang bersamanya itu menatapnya sinis dan tidak suka.


Hans menunjukkan bahwa Dia sangat mencintai Yesline dan akan melakukan apapun untuknya. Hans lupa bahwa semua laki laki yang bersamanya itu mempunyai perasaan sama Yesline bahkan lebih.


Tidak ada yang ingat bahwa suami Yesline juga ada disana. Masing masing dari Mereka hanya ingin merasakan rela melakukan apapun untuk Wanita itu membuat Al menatap tajam Hans.


Al yang merasa paling ber hak atas Yesline langsung emosi. Dia langsung melepas sepatunya dan melempar ke Hans. Belum juga sempat Hans membela diri, Nicho sudah menonjok bahunya duluan.


" Kamu pikir, Kamu saja yang siap berkorban ??? Lihat nih, Saya sudah berkorban kemulusan punggung Saya demi Yesline. " kata Nicho sambil mengangkat bajunya dan meperlihatkan bekas luka bakar berwarna coklat itu yang cukup membekas di punggungnya.


" Aku juga nih ... " Hans langsung mengangkat lengan kaosnya dan menunjukkan sebuah tato yang bernama Yesline terlukis disana dan memperlihatkan senyum Hans saat menunjukkan itu.


Bukan cuma Nicho malah Al ikut melongo karena Dia saja tidak punya tato dengan nama Yesline di tubuhnya. Dan belum mampu melakukan pengorbanan fisik apapun. Bukannya nyalinya gak ada tapi malah itu yang membuat Al makin jengkel.


Clinton langsung mengambil lakban dan hendak melakban mulut Mereka berdua yang sedari tadi memperdebatkan Istri Orang.


Sontak membuat Nicho dan Hans berdiri cepat dari kursinya dan berlari karena Hans yang mengejar Mereka. Berputar mengelilingi meja dan tawa Mereka menghiasi ruangan itu.


Tanpa Mereka sadari, Yesline lah penyebab Mereka bisa bersatu untuk melawan kejahatan.


Melihat tingkah Mereka, yang awalnya Al ingin marah jadi ikut tertawa. Namun tetap, Yesline hanya milik Al Seorang.


" Maaf Bang .... Aku datang terlambat. "


Suara itu ngos ngosan seperti sudah berlari menempuh puluhan kilo meter.


Semua kaget melihat kearah sumber suara itu. Rizky.

__ADS_1


Kenapa Dia selalu muncul tiba tiba ????


__ADS_2