Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 155


__ADS_3

" Tumben kamu telpon, ada apa? " tanya Nicho, Dia sebenarnya tidak terlalu dekat dengan Gabriel, hanya saja mereka saling kenal semenjak Gabriel berubah haluan menjadi baik. Lalu menikah dengan Leni. Itu berarti status mereka sama sama teman.


Seharusnya memiliki nama geng sendiri, apa yang cocok??


" Saya mau minta bantuan kamu nih. Kita bisa ketemuan gak? Atau cukup kita ngomong lewat telepon aja? " jawab Gabriel yang diakhiri dengan pertanyaan juga.


" Baru juga sampai Indo, udah ada yang minta tolong aja!! " gerutunya.


" Langsung ngomong aja, Saya lagi di rumah Yesline nih, sama istri dan anak jadi gak bisa kemana mana. Kalau saya bisa bantu sih gak apa apa. "


" Gini, Saya ada rekomendasi Dokter yang kompeten meski usianya masih muda muda. Nah .... Sedangkan rumah sakit saya lagi kekurangan Dokter senior, Bagaimana kalau saya mutasi beberapa Dokter muda disini ke rumah sakit kamu, biar tambah fresh dan kinerja Dokter di sana semakin terdepan. Oke gak saran saya? Kamu kan masih ada saham tuh di rumah sakit itu, bisa lah ya ngasih persetujuan untuk mutasi ini. " papar Gabriel dengan menaik turunkan kedua alisnya meski Nicho tidak bisa melihatnya.


Laki laki itu nampak berpikir. Semenjak jadi CEO, kini pikiran Nicho hanya memikirkan untung dan rugi, jadi menurutnya selama saran Gabriel menguntungkan untuk rumah sakit Healthy, kenapa tidak? Beberapa detik kemudian.


" Oke deh. Tapi sebenarnya dalam masalah ini tetap memerlukan persetujuan dari Al karena Dia direkturnya. "


" Kamu bantu ngomong ke Al deh, Tapi jangan ngomong itu dokter mutasi dari rumah sakit saya. Auto nolak dia tanpa memikirkan keuntungan buat rumah sakitnya. Padahal kinerja dokter muda itu bisa menaikkan pamor rumah sakit dia loh. " Gabriel dengan pandai memanipulasi pikiran Nicho.


Laki Laki di seberang sana hanya manggut manggut dengan perkataan Gabriel.


" Iya, nanti saya bantu nego ke dia. Udah ya, saya tutup. Yang diomongin udah datang tuh! " kata Nicho yang melihat Al baru saja turun dari mobilnya dan berjalan mendekatinya.


" Oke deh. " Gabriel langsung menutup sambungan teleponnya.


Nicho menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


" Telepon siapa sih, serius amat? " tanya Al langsung duduk di kursi teras.

__ADS_1


" Dari kenalan yang punya rumah sakit juga. Dia punya rekomendasi Dokter berkompeten dalam bidangnya, Kalau kamu izinin dia mau memutasi mereka ke rumah sakit kita. Dokter kita kebanyakan sudah senior dan berumur, gak apa apa kali ya kalau kita tukar beberapa?? Gimana menurut kamu?? " kata Nicho yang langsung ikut duduk disamping Al.


Pada dasarnya seorang Al yang tidak pernah memikirkan sesuatu apapun dengan jeli langsung saja menyetujuinya asalkan itu baik untuk rumah sakit. Tapi dengan sifatnya itulah dia bisa menjadi baik dan begitu peduli dengan orang tanpa melihat asal usulnya terlebih dahulu.


" Kamu urus deh, kamu info ke pihak HRD, Saya sudah setuju biar mereka yang mengatur kelanjutannya." imbuh Al.


" Oke deh, Semoga ke depannya rumah sakit kita bisa berkembang lebih baik lagi. "


" Betul, tuh. Harus bisa ngalahin pamornya rumah sakit abal abal milik Gab. Biar gak gede kepala terus tuh orang. " Al menyebut nama Gabriel membuat Nicho yang sedang menyeruput kopinya langsung tersedak, saking kagetnya.


Pasalnya atas permintaan Gabriel, Dia tidak memberi tahu Al jika Dokter itu dari dia. Benar kata Gabriel, kalau Al tau pasti langsung menolak. Mereka dari dulu ternyata belum berubah, kayak kucing dan tikus.


" Kamu kenapa si? Dengar nama Gabriel langsung keselek! Nama dia memang mengandung keburukan kali ya, sekali dengar bikin tenggorokan gatel!! " ledek Al.


Nicho mengusap ujung mulutnya, lalu meletakkan cangkir kembali di atas meja.


" 11-12 kayak kamu resenya! Mungkin di alam lain kalian itu saudara kembar! " Nicho menimpali disertai tawa lebar.


" Masuk yuk, Belum menyapa Callista saya. " selorohnya. Membuat Nicho memasang badan untuk mencegahnya, Dia seperti melihat gelagat tidak enak dari intonasi Al.


" Mau apa kamu? gak usah nyapa nyapa. "


" Kamu juga tadi pasti sudah menyapa Yesline pas gak ada saya, Sekarang giliran saya menyapa Calilsta. Sudah 5 tahun gak ketemu. Masih cemburu kamu sama saya? Hhmm?? Apa Callista sadar kalau saya lebih baik dari pada kamu? "


" Najis, pede bangat sih Kamu! Callista sudah cinta mati sama saya, perasaanya sama kamu sudah mati alias dead. "


" Ya elah, Gak penting juga buat saya. Tadi cuma mau ngetes kamu, ada cemburu gak sama Callista. Saya ikut senang kalau kalian bisa saling mencintai seperti itu. " Al merangkul Nicho dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Bergabung dengan keluarga kecil mereka. Bergurau bersama dan Al mengajak mereka untuk makan malam bersama di rumahnya.

__ADS_1


Kalau makan di restoran mahal, pasti sudah biasa. Jadi dia mengajak Nicho dan Callista masak bersama dan makan bersama, tak lupa dia mengajak Gabriel dan Leni juga. Begitu juga dengan Hans dan Clinton.


Yang satu sudah punya tunangan tapi nasibnya masih seperti jones, sedangkan yang satunya jones beneran.


Namun, persahabatan mereka tak lekang oleh waktu. Kadang akur, kadang berantem, itu sudah hal biasa.


***


Siang harinya Leni kembali ikut ke rumah sakit. Selama itu membuat Leni tenang, tidak masalah bagi Gabriel. Hari itu Gabriel sedang sibuk menangani beberapa pasien yang mau melahirkan, jadi Leni pergi mencari Meriam.


Semenjak Leni suka ngikut ke rumah sakit, Dia jadi sering bergaul dengan Meriam. Leni berbelok keruangan Meriam dan mengetuk pintunya.


" Assalamualaikum. "


" Walaikumsalam, Masuk! " kata seseorang dari dalam ruangan. Leni menekan gagang pintu hingga terbuka. Dia sedang melihat Meriam sedang memeriksa beberapa dokumen.


" Hai, Kak Leni. sini sini, duduk. " Meriam menyambut Leni dengan ramah dan senyum manisnya. Dokter berjilbab itu langsung menutup dokumennya dan berhambur ikut duduk di samping Leni.


" Ada apa, Kak? Dokter Gabriel bikin ulah lagi? " tanya Meriam penuh perhatian.


" Gak kok. Dia udah nurutin mau aku untuk mengganti beberapa Dokter muda disini dengan Dokter senior. "


" Aku juga? "


" Gak lah. Kamu spesial. Kamu kan teman aku, Aku mau kamu disini aja. Jadi kalau aku gak ada teman bisa main kesini. Aku gak ganggu kan? Kamu lanjut kerja aja gak apa apa. Aku nonton drakor aja disini. " kata Leni membuat Meriam mengulas senyum manisnya lagi.


" Terima kasih, Kak Leni yang baik hati dan cantik. Iya nih, kak. Ada banyak catatan laporan pasien yang harus aku cek, ada beberapa jadwal operasi juga. Aku tinggal gak apa apa ya? Ini aku ada drama terbaru, Kakak bisa nonton dulu. Nanti malam kita makan bareng diluar gimana? " kata Meriam dengan sumringah.

__ADS_1


" Boleh deh, sekalian kamu cerita soal Hans, ya? Gimana progresnya? " Leni jadi penasaran. Dia sudah memutuskan mendukung Meriam dari kemarin. Mereka cocok.


Meriam membalikkan badan dan kembali ke kursinya. Dia membuka dokumen tadi lagi dan tertawa kecil setiap mengingat Hans. Matanya menerawang jauh, seperti membayangkan sesuatu hal yang sangat indah.


__ADS_2