
Dalam perjalanan pulang, Al benar benar tidak konsen. Setelah pertemuannya dengan Isti membuatnya mengingat masa lalu yang selalu mampu membuatnya merasa sedih dan terpuruk. Belasan tahun berlalu tapi rasanya masih sama, rasa sakitnya begitu meremas hatinya. Rasa kehilangan yang telah meruntuhkan sebagian semangat hidup Al sendiri kala itu. Kenapa Tuhan menghadirkan dia lagi? Membuat Al mengingat semuanya.
Jika pisau bisa melukai hati dan mengoyaknya.
Hanya mengingatmu saja sudah membuat hatiku tercabik cabik.
Setelah sekian tahun, kenapa kamu kembali?
Bukankah kamu tahu, aku bahkan bertahun tahun kala itu untuk menyembuhkan rasa kehilanganku atas kematianmu.
Lusi.
Apa kabarmu?
Apa kamu kedinginan?
Apa kamu kesepian di alam sana?
Lusi, apa maumu membawa dia bertemu denganku?
Hatiku teriris mengingat kejadian itu, di saat bahkan aku tidak bisa apapun untuk menyelamatkanmu.
Lusi.... Aku merindukanmu lagi, bagaimana bisa semuanya terasa candu. Bagaimana bisa aku merindukanmu lagi setelah belasan tahun tak mengingatmu?
Aku takut tidak bisa mengontrol rasa ini.
__ADS_1
Di tengah lamunannya, Al dikejutkan sebuah truk yang tiba tiba melintas begitu dekat di depannya, Al membanting setir mobil untuk menghindari tabrakan. Mobil bergoyang kesamping, membuat kepala Al sedikit menabrak dek mobil ketika ritme laju mobil tidak stabil, mobil bergerak zig zag sampai Al menginjak rem berhenti.
Pria itu mengatur deru nafasnya yang tidak teratur. Dadanya sesak, seketika memorinya mengingatkan anak dan istrinya di rumah yang akan sangat terpuruk jika sesuatu terjadi dengannya.
"Hah, syukurlah. Aku bisa menghindar. Lusi, kamu benar benar membuatku tidak baik baik saja."
Kebetulan di dekat tempat ia memarkir di tepi jalan, ada sebuah minimarket. Al turun dari mobilnya, dia berniat membeli minuman untuk menetralkan rasa kagetnya.
Sementara ponselnya tergeletak begitu saja di dasboard mobilnya, sehingga Al tidak tahu jika Yesline kembali menelponnya belasan kali.
Di dalam minimarket itu, setelah membeli satu minuman kaleng, Al kembali masuk ke dalam mobilnya. Al meminumnya sekali tegukan saja. Netranya menatap bungkus minuman kaleng yang ia beli, dia baru sadar jika minuman itu adalah minuman favorit Lusi jaman SMA dulu, Al tersenyum getir.
Tiba tiba merasa kalut. Laki laki itu menyandarkan kepalanya di kursi mobil.
"Aku tidak bisa pulang sampai hatiku bisa mengabaikan mu, Lusi. Aku tidak bisa membuat Yesline sedih jika tahu hatiku masih terikat dengan segala kenanganmu. Tapi aku tidak bisa memungkirinya, jika kamu memanglah pemilik hati ini pada awalnya."
"Oh, tidak!!''
FLASHBACK ON
Lusi adalah adik kelas Al waktu SMA dulu. Dia menyukai Lusi yang baik, cantik, kalem juga penurut itu, tapi sayangnya Lusi malah mencintai Nicho. Al tidak mempermasalahkannya waktu itu, dia tahu hati tidak bisa dipaksakan.
Namun, suatu hari Al melihat Lusi berdiri di pinggir jalan dengan wajah pucat dan sedih. Al mengajak Lusi berbicara di taman. Saat itulah Lusi cerita ternyata dia tengah mengandung anak Nicho tapi Nicho tidak mau mengakuinya tapi malah menyuruh Lusi untuk menggugurkan kandungannya. Al geram, dia mengajak Lusi melabrak Nicho yang sedang nongkrong di kafe dekat sekolah. Sifat Nicho yang tak bertanggung jawab membuat Al semakin kesal, apalagi perkataan Nicho yang mengatakan kalo Lusi tidur dengan banyak pria jadi Nicho menyuruh Lusi untuk mengugurkan kandungannya.
Lusi yang mendengar itu merasa sakit hati dan berlari meninggalkan kafe, tapi naasnya ada mobil sedan mewah yang melintas dan menabrak Lusi. Al membawa Lusi ke rumah sakit tapi sebelum sampai di rumah sakit Lusi sudah meninggal dunia.
__ADS_1
Flashback OFF
Al tiba di depan rumah besarnya, Yesline yang mendengar suara mobil suaminya segera menghampiri Al.
"Ya ampun, Mas! Kami dari mana aja sih, di telepon susah bangat!'' cecar Yesline yang sedari tadi mengkhawatirkan suaminya.
"Maaf, Sayang. Tadi ponselku lowbet. Aku lupa cas, di jalan macet juga karena hujan deras jadi jalanan sedikit macet karena ada banjir di beberapa titik jalan pulang ke rumah." jelas Al yang sedikit berbohong kepada Yesline karena tidak mungkin ia menceritakan habis mengantarkan Isti, bisa bisa dia akan tidur di luar selamanya. Mengingat sifat Yesline yang sedikit galak sekarang.
"Ya udah kamu mandi dulu ya, aku siapin makan malam buat kamu." ucap Yesline.
Al pun mengangguk dan berjalan melalui Yesline ke lantai atas. Yesline sedikit mengerutkan dahi, karena Al tidak memeluk dan mengecupnya. Biasanya setiap pulang, jika Yesline marah marah Al akan segera memeluk dan mengecupnya.
Mungkin Mas Al lagi banyak kerjaan kali, ya! batin Yesline kemudian meminta bantuan Bik Mirna asisten rumah tangganya untuk menyiapkan makan malam untuk Al.
Saat ingin masuk ke dalam kamar, Al berpapasan dengan Azka. Azka yang melihat Al pun langsung memeluk Al.
"Halo, sayang. Belum tidur?" tanya Al sambil memeluk Azka.
Azka menggelengkan kepalanya, "Gimana mau tidur kalo dari tadi mama mondar mandir terus khawatir sama papa yang belum pulang." adu Azka kepada Al.
"Oh, ya?! Kalo gitu nanti papa akan minta maaf kepada mama karena udah buat mama khawatir." jawab Al senyum.
"Dengan adik twins aku juga, Pa! Karena aku yakin adik twins juga pusing di dalam perut mama," sahut Azka.
"Hahaha.... Oke, Sayang. Thanks udah ngertiin papa ya," ucap Al kembali mengecup pipi gembul Azka yang tampan.
__ADS_1
Azka kembali ke kamarnya, begitu juga dengan Al yang bersiap untuk bersih bersih. Sepertinya Al memang harus benar benar minta maaf karena membiarkan istri cantiknya khawatir.