
"Sayang, Mas packing buat barang bawaan buat pulang besok dulu ya. Habis pulang, nanti kita langsung ke dokter kandungan." kata Clinton lembut.
Clara mencoba bangkit dari ranjang namun ditahan Clinton.
"Eh, tenang aja, Sayang. Kamu istirahat aja biar bisa lebih fresh untuk perjalanan besok."
Hanya saja selaku wanita yang biasanya melayani suami, Clara terlihat sungkan sekaligus merasa bersalah. Sehingga, dalam tatapan kecemasan, perempuan itu berujar, "Mas, maafkan Clara ya,"
"Loh, maaf untuk apa, Sayang?" tanya Clinton malah bingung.
Mata Clara agak berair seperti menahan tangis dan penyesalan. "Clara minta maaf karena tidak bisa melayani Mas dengan baik. Sebaliknya, Mas yang malah harus melayani Clara gara gara sakit begini."
Clinton segera mendekati sang istri seraya merangkul pundak wanita yang terlihat resah itu. Sesudahnya, dia mengelus kepala Clara dengan lembut.
"Loh, santai aja, Sayang. Kenapa kamu malah kepikiran sampai situ? Mas kan senang bersama kamu."
Clara yang nampak terharu malah berkaca kaca. "Terima kasih, Mas."
Clinton segera tersenyum lalu mencium kening sang istri. Walaupun dia tidak bisa menyalurkan rasa sayang dengan bercinta dengan Clara untuk sementara, paling tidak, sedikit sentuhan darinya bisa membuat Clara sadar. Betapa sayangnya Clinton sama Clara.
Mereka saling mencium bibir satu sama lain. Berbagi kelembutan yang ada dalam hati, lalu segera berhenti guna menyadari batasan diri bahwa Clara harus istirahat, sementara Clinton harus packing pakaian.
*******
Semua pasangan kampret sudah siap untuk melakukan perjalanan pulang ke Indonesia. Mereka tentu saja rempong bukan kepalang. Apalagi, barang bawaan mereka dari korea juga banyak. Mereka sampai rela menyewa satu mobil untuk mengangkut barang bawaan yang tidak muat.
Sesudah itu, Tibalah mereka di bandara yang ramai namun tetap luas dan nyaman. Sebagian pasangan sudah masuk ke dalam private jet. Sementara Leni dan Gabriel masih asyik bersantai di lobby bandara. Sayangnya, tak lama Leni merasa ingin buang air kecil lagi meski sudah melakukannya di resort tadi.
"Mas, kayaknya kau pengen buang air kecil lagi deh, Efek hamil benar benar bikin aku cepat lelah dan banyak buang air kecil. Tunggu ya," ujar Leni.
Gabriel tersenyum mempersilahkan. Sementara dirinya mulai mengurus berkas kesehatan yang akan mulai dia tangani esok.
"Ya, Sayang. Hati hati ya. Apa mau aku antar?" tanya Gabriel menawarkan.
__ADS_1
Ya sebenarnya hanya basa basi semata demi menjaga mood Leni agar tetap stabil. Selain itu, Gabriel juga sebenarnya lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya daripada mengantar Leni ke kamar mandi saja. Lagi pula, bukankah Leni sudah terbiasa ke kamar mandi sendiri?
Leni menggeleng. ''Tidak perlu, Mas. Lagian, kamar mandinya juga dekat. Emang kalo Mas ikut juga mau apa? Toh, Mas gak bisa masuk."
"Hehehe, Iya juga sih. kalo gitu sampai jumpa lagi, hati hati ya, Sayang."
Leni berjalan tergesa gesa. Dia sungguh tak tahan sampai tak bisa fokus menatap jalan. Sikapnya yang demikian, membuat Leni tak sengaja menabrak seorang perempuan yang hendak keluar dari kamar mandi.
Bruk!
"Hei, jalan itu pake mata. Punya mata jangan lupa dipakai. Jadi kena orang begini, kan?" kritik perempuan itu seraya merapihkan bajunya yang sedikit berdebu.
Leni yang sedang tidak sabar sekaligus tidak bisa menjaga temperamen buruk, memilih marah balik. Dia tidak terima dimaki maki demikian alih alih diingatkan baik baik. Sebenarnya perempuan itu cantik sekali. Tapi, Leni malah benci melihat wajahnya yang sombong dan sok sok an malah menghardik dirinya. Dikira Leni bermental tempe?
"Lebay amat jadi orang! Paling enggak, kalo kamu punya mata menghindar dong! Udah tau ada orang yang mau lewat di depanmu, malah enggak menghindar!'' amuk Leni balik.
Perempuan itu terlihat tidak terima di tuduh balik.
"Ye, jadi orang, udah salah bukannya minta maaf malah ngamuk balik. Situ sehat?''
Perdebatan itu memancing kebingungan sebagian pengunjung kamar mandi yang ketakutan. Mereka memutuskan untuk pergi di sela sela belakang Leni dan wanita itu. Mungkin, Karena karakteristik orang korea yang cenderung tidak suka ikut campur dengan masalah orang lain membuat mereka jadi apatis."
"Kak Leni? Astaga, bisa bisanya kak Leni mengamuk lagi? Sama siapa itu?'' batin Yesline.
Perempuan itu jadi ikut terperanjat menyaksikan keributan yang dibuat oleh Leni dan wanita itu setelah keluar dari bilik kamar mandi. Sepertinya, Leni benar benar mengamuk sampai wajahnya merah. Sementara wanita di depan Leni juga sedang tidak dalam keadaan baik. Matanya terlihat agak sembab seperti habis nangis. Barangkali, mood perempuan itu memang sudah rusak sebelumnya dan bertambah semakin hancur gara gara berdebat dengan Leni. Apalagi temperamen Leni juga semakin berapi api sejak hamil.
"Duh, harus bagaimana aku? Kalo aku yang melerai, bisa kena semprot atau gampar nanti," keluh wanita itu.
Alhasil, Yesline memutuskan untuk berlari mencari sosok Gabriel yang terlihat sibuk menulis nulis sesuatu di atas Ipad. Merasa menemukan emas di dalam tumpukan jerami, Yesline dengan tidak sabar mengonyak ngonyak lengan Gabriel tanpa peduli jika dokumen berisi keterangan itu tercoret coret.
"Kak, ikut aku sekarang juga," tarik Yesline tak sabar.
Gabriel menatap heran. Tidak biasanya Yesline mendekatinya atau menggercokinya begini. Bahkan bisa dibilang tidak pernah. Apalagi aktivitas Gabriel sampai terganggu begini.
__ADS_1
"Ada apa, Yes?'' tanya Gabriel terlihat ikut panik.
"Kak, kak Leni lagi ngamuk di toilet. Yesline takut. Cuma kakak yang bisa mengendalikan emosi kak Leni." jelas Yesline tak sabar.
"Oh, ya udah, ayo!" teriak Gabriel malah buru buru berlari menarik Yesline.
"Sayang, Stop!'' teriak Gabriel kepada Leni.
Semula Gabriel terlihat jauh lebih panik daripada Yesline. Namun, begitu memasuki toilet, mata Gabriel malah terbelalak, terkejut dengan apa yang tengah ia hadapi. Perempuan asing yang tadinya masih ingin mengamuk balik kepada Leni itu juga seketika terpaku mendapati wajah Gabriel. Kemarahan dan kesedihan seakan lenyap dari wajah wanita itu. Berganti dengan rintik rintik kerinduan yang mulai membasahi tatapan matanya.
"Dokter Gabriel?'' pekik wanita itu dengan tatapan tak percaya.
Keterkejutan itu juga dialami oleh Gabriel yang terdiam sesaat seraya menerima kenyataan yang tengah ia hadapi.
"Anas?'' tanya Gabriel balik.
"Ya ampun, Gabr, ini beneran kamu? Astaga!" teriak perempuan itu tak percaya. "Kamu makin ganteng dan gagah aja, Gabr." ujar Anas berganti terharu.
Gabriel terdiam, sementara Leni malah ikut semakin berang. Berani beraninya orang asing mendekati suaminya dan menyebut suaminya makin gagah. Big no, ya. Gabriel hanya milik Leni semata. Tapi, bagaimana bisa perempuan itu tahu nama suaminya? Bahkan suaminya yang terkenal cuek saja tau balik nama wanita itu. Siapa tadi namanya? Anas?
"Hei, apa apan kamu, malah muji muji suamiku gitu! Enggak punya kerjaan lagi ya, kamu?" bentak Leni semakin marah.
Perempuan yang disebut Anas itu sinis balik, "Cih, emangnya kenapa? Toh aku kenal Gabriel sejak lama! Dia itu teman kerjaku waktu tugas bareng di Kanada."
"Apa?''
"Nah, kaget kan? Kalo gak percaya, tanya aja suamimu," tantang wanita itu.
Leni segera beralih memandang Gabriel dengan penuh tanda tanya. Semua kemarahan dan tanda tanya itu mencuat dengan hebat sampai Leni ingin meledak.
"Benar apa yang dikatakan wanita itu, Mas?" tuntut Leni.
Gabriel mengusap tengkuknya pelan. Terlihat kikuk sekali. "Iya, Sayang," ucap Gabriel agak takut.
__ADS_1
Anas pun tertawa dengan puas, "Nah, sudah tau kan? Baru gitu aja kaget. Kamu pasti lebih kaget lagi saat tau Gabriel itu laki laki yang aku cintai waktu kerja bareng di Kanada dulu!
Jeder!