
Jeder!
Sebuah petir tak terwujud terasa menyambar dada Leni. Leni terkejut bukan kepalang. Dia kira, dari dulu Gabriel tidak punya masa lalu tentang wanita kecuali ibunya. Apa Gabriel juga terkesan cuek kepada umumnya wanita.
"Apa? Benar yang dikatakan perempuan itu, Mas? Apa jangan jangan kamu mantannya dia?'' tanya Leni tak terima.
Gabriel sendiri malah bingung dan sekaligus terkejut sendiri. Pasalnya, dia juga tidak tau kalo Anas menaruh hati kepada dirinya. Apalagi dulu Gabriel yang notabene pendiam dan cenderung pekerja keras dan tidak pernah menganggap Anas demikian.
"Hei, tidak kok, Sayang. Mas hanya menganggap Anas sebagai teman Mas aja. Mas bahkan baru tau kalo Anas pernah mencintai Mas. Percayalah," ujar Gabriel menyakinkan.
Leni terlihat semakin uring uringan dan tidak bisa percaya dengan alasan Gabriel begitu saja. Dia memilih untuk pergi. Dia tidak ingin semakin meledak ledak gara gara perempuan sialan yang tiba tiba datang untuk mengganggu ketenangan batinnya.
"Bohong! Udah, Yes, ayo kita pergi aja. Biarin tuh mereka bernostalgia masa masa indah mereka biar gak ileran," ajak Leni seraya menarik tangan Yesline yang sedari tadi hanya bisa melongo kebingungan.
"Sayang, Tunggu," panggil Gabriel.
Sayangnya, tangannya di tahan oleh Anas. "Dokter Gabr, jangan pergi. Kita ngobrol dulu. Udah lama kita gak bertemu, Dok," rengek Anas.
"Maaf, Anas. Aku harus mengejar istriku. Sampai jumpa di lain waktu."
Bruk!
Gabriel terkejut melihat Anas malah pingsan. Padahal, Anas hanya pura pura pingsan saja. Sementara itu, Gabriel malah bimbang sendiri antara membiarkan Anas demi mengejar istrinya atau membawa wanita itu turut serta. Tapi, tidak mungkin juga, orang yang dia kenal dia biarkan pingsan begitu saja. Dimana hati nuraninya sebagai dokter?
"Argh, sial!'' umpat lelaki itu.
Terpaksa, Gabriel tetap mengangkat tubuh Anas ke dalam gendongannya. Dia merasa agak keberatan membawa wanita itu. Mungkin karena sedang ikut kesal. Gabriel mencoba mengguncang dalam gendongan, sayangnya tidak bekerja. Tanpa mempedulikan tanggapan orang orang dengan Leni yang akan ngamuk, Gabriel memutuskan membawa Anas ke dalam private jet milik pribadinya.
"Eh, eh, siapa itu?'' tanya Clinton kebingungan kala menyadari bahwa Gabriel membawa sosok perempuan yang terkapar lemah.
"Temanku, dia pingsan. Kayaknya harus aku ajak pulang ke Jakarta aja deh," ujar lelaki itu bingung.
__ADS_1
Gabriel meletakkan Anas di salah satu kursi yang masih kosong. Dia membuat kursi jet pribadinya jadi agak mendatar lalu memposisikan Anas dengan nyaman. Tentu saja dia membuat posisi pingsan Anas tidak akan menghalangi sirkulasi udara yang keluar masuk dari hidung temannya. Sementara itu, setelah posisi Anas benar benar tepat, Gabriel mulai mencari alat kesehatan dasar guna membuat Anas siuman.
"Iya, ajak aja sana. Kalo perlu bawa juga ke kamar kamu biar bisa kamu ajak enak enak." sindir Leni kesal.
"Sayang, bukannya gitu. Dia sepertinya tidak punya siapa siapa disini. Masa aku tega ninggalin temanku di negara orang dalam keadaan pingsan?'' ujar Gabriel.
Satu satunya orang yang berani membantah Leni hanyalah Gabriel. Itupun dalam batas wajar. Kalo Gabriel berani mengusik lebih lanjut, bisa mati dirinya.
"Iya makanya, aku bilang apa? Rawat aja tuh perempuan. Bawa dia ke kamar biar kalian puas sekalian!'' sindirnya sarkas.
Tentu saja, semua orang memahami kemarahan yang Leni rasakan. Bahkan, apa yang Leni keluhkan juga terbilang wajar sebagai seorang istri yang kecewa. Hanya saja, tidak ada satupun yang berani menenangkan Leni saat mengamuk seperti ini. Apalagi mengganggu. Mereka hanya bisa mendengar amukan tersebut sampai Leni mereda sendiri.
**********
Satu jam sebelumnya.
Beberapa pasang mata terlihat keheranan mendapati seorang wanita cantik yang tengah menatap tajam ke arah pria tampan di depannya. Kalo dilihat lebih jeli, kedua orang tersebut adalah pasangan sejoli. Mengingat, sepasang cincin terpasang di jari manis masing masing. Hanya saja, percekcokan mereka yang nampak sama sama keras kepala itu seperti memberi petunjuk bahwa lelaki di depannya itu adalah tunangannya.
"Ya, makanya kamu itu dengerin dulu penjelasanku. Jangan cuma nyerocos aja!'' teriak balik lelaki itu.
"Penjelasan apa? Sedari tadi penjelasanmu itu berputar putar enggak jelas ya. Kamu kira aku bodoh sampai bisa tipu terus menerus? Ah, udahlah, aku muak ngomong sama kamu!''
Wanita yang kesal bukan kepalang itu memutuskan meninggalkan pria yang telah mengecewakannya. Dia sedih, marah dan kecewa, bergabung menjadi satu di dalam benaknya. Di dalam toilet, dia hanya menghapus air matanya yang terus menerus ingin terguyur. Yang bisa perempuan itu lakukan hanyalah menghapus air matanya secara kasar.
"Ah, lelaki sialan!''
Merasa tidak menemukan jalan keluar, perempuan itu segera berjalan dengan gontai tanpa memperhatikan sekitar.
Bruk!
Sementara itu, dia tidak sadar tengah menabrak seorang wanita yang tidak lain adalah Leni. Si cantik tomboi yang semakin emosional sejak hamil. Jadilah percekcokan antara dua orang yang sama sama sedang emosional di satu tempat bernama toilet.
__ADS_1
*******##
"Kamu ngapain bawa bawa dia kesini sih, Gabr?!" tanya Clinton yang melihat Gabriel yang melihat dia menggendong seseorang masuk ke jet pribadinya. Langkah kaki Gabriel terhenti di tangga terakhir. Pandangan Gabriel mengedar dan menemukan Leni yang duduk di pojokan, disamping Yesline. Leni tidak menatap Gabriel sama sekali, hatinya terlanjur perih. Bukan Karena dia tidak percaya kepada Gabriel, dia kecewa dengan sikap Gabriel yang terlalu khawatir dengan wanita itu, meski dia tahu dirinya tidak suka, rasa kasihan terlalu membuat Gabriel lupa hati Leni sedang tidak baik baik saja.
Di depan mata Leni, dia menggendong wanita asing itu dan membawanya pulang, bukankah itu terlalu berlebihan? Seharusnya biarkan orang lain yang menolong, atau telepon polisi saja. Itu lebih aman dan tidak menimbulkan fitnah. Leni masih disibukkan dengan pikirannya yang amburadul, layaknya benang kusut.
Gabriel belum berniat menjawab pertanyaan Clinton. Dia menatap ke arah Al yang duduk berjauhan dengan Yesline, apa yang mengganggu pasangan yang biasanya selalu menempel seperti prangko itu.
Wah, menarik untuk dijadikan bahan ghibah nih.
Gabriel masih bersemangat, dia tidak tahu jika Leni semarah itu, dia melangkah masuk ke dalam jet, Gabriel membantu wanita tadi untuk berbaring di kursi.
Beberapa mata memandang Gabriel, agak terkejut dengan sikapnya yang tiba tiba berani membawa wanita asing di depan Leni, biasanya dia terlalu takut dengan amukan Leni dan sang mertua.
Setelah membaringkan tubuh Anas, Gabriel menghampiri Leni yang duduk di dekat Yesline.
"Leni sayang, kamu marah sama, Mas?'' tanya Gabriel menatap wajah Leni yang tak menghadapnya. Dia masih kesal.
"Tidak usah menanyakan pertanyaan yang seharusnya kau tau sendiri jawabannya, Mas. Apa otakmu sudah pikun akhir akhir ini?" ketus Leni kembali membuang muka setelah sempat memandang Gabriel beberapa detik.
Gabriel tahu Leni marah, setelah sampai jakarta nanti, dia akan membiarkan Anas pergi sendiri tanpa ikut campur lagi.
Ya. Mereka berpisah di bandara. Anas berterima kasih kepada Gabriel yang telah menolongnya, dia akan pulang ke rumah orang tuanya.
Leni lebih memilih bungkam, tapi Gabriel berusaha untuk menuruti Leni.
"Sayang, udah ya marahnya. Suerr Anas itu cuma teman kerja Mas dulu. Cinta Mas cuma buat kamu kok," gombal Gabriel dengan bangga.
Leni menghela nafas sejenak, dia mengangkat kepalanya untuk menatap Gabriel.
"Berjanjilah untuk selalu menjaga hati dan pikiranmu, Mas."
__ADS_1