
"Siapa Anda?''
Clinton langsung membuka mata dan duduk kembali. Dia memperhatikan orang itu dengan pakaian lusuh, pria itu seperti baru saja pulang dari berkebun di sawahnya.
"Saya reporter dari Agensi Mediatama Group, Pak. Saya ingin berbicara dengan bapak," jawab Clinton sekenanya sambil dia menunjukkan id card yang ia pakai.
Pria itu menyisir penampilan Clinton dari ujung kaki sampai ujung kepala, seraya berkata, " Mari masuk ke dalam."
Clinton menghembuskan nafas lega. Penyamarannya tidak diketahui. Clinton masuk ke rumah sederhana itu, matanya mengedar ke sekeliling, tidak ada benda mahal di sana, sempat membuat Clinton merasa kasihan, jika orang ini mau diajak kerjasama, dia mungkin akan memberikan pria itu hadiah sejumlah uang.
Clinton terkejut saat matanya sampai pada pemandangan seorang wanita tua yang berbaring lemah di atas ranjang kayu di dekat ruang televisi.
Clinton mengelus dadanya.
Dia benar benar merasa kasihan.
#########
Hiduplah apa adanya tanpa sombong. Menikmati apa yang ada tanpa pamrih, tanpa iri dengki, meski sulit lakukan saja, mencoba menutup mata atas sesuatu yang berada jauh di luar kemampuan. Menundukkan pandangan serendah mungkin jika diperlukan agar diri ini tidak terlalu mendongak sampai tidak bisa melihat kesalahan diri sendiri.
Hiduplah seperti itu, setenang mungkin, sebisa mungkin tanpa sandiwara.
"Kenapa kamu melamun?'' tanya Leni saat tiba tiba bangun dan melihat sang suami sudah duduk disampingnya dengan tatapan kosong. Kondisi Leni hati itu sedang kurang baik, dia mual dan lemas, jadi seharian hanya berada di tempat tidur. Dia tertidur sepanjang hari. Gabriel yang tahu kondisi sang istri sengaja titip pesan ke pembantunya untuk memastikan Leni tidak menonton televisi. Jika dia tau, kejadian lama terulang lagi, seseorang mengusik keluarga Al dan Yesline maka dia tidak akan tinggal diam.
"Gabr!'' panggil Leni lagi. Dia baru saja berusaha bangun namun tenaganya begitu lemah, saat itulah Gabriel sadar pergerakan Leni dan langsung membantu sang istri untuk duduk bersandar pada sandaran ranjang.
Namun sebisa mungkin Gabriel menyembunyikan raut wajah cemas dan bingungnya meski nyatanya itu tergambar jelas pada setiap garis wajahnya.
Yang bahkan tidak bisa ia sembunyikan dari balik redup cahaya kamar itu. Leni menatap lurus wajah Gabriel dengan tatapan menyelidik.
"Ada hal besar yang terjadi dan aku gak tau kan? Kamu mau menyembunyikan dariku?" sergah Leni, Gabriel kesal, dia mengumpat dalam hatinya, kenapa istrinya itu seperti punya indera ke enam, atau mata tiga seperti dewa erlang!
Ah, Sial!!
__ADS_1
"Mana ada! Aku hanya capek, Sayang. Bagaimana keadaanmu hari ini? Sudah baikan? Mau aku buatkan teh hangat dengan perasan lemon? Atau mau aku kupaskan buah?" Gabriel mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, dia hendak mengambil Leni buah yang ada di piring di atas nakas, lalu mengupasnya. Namun, tangan Leni menarik lengannya hingga tubuhnya kembali mundur.
"Tatap aku, Gabr!'' perintahnya.
Gabriel bergeming. Namun dengan desakan Leni akhirnya dia menoleh dan pandangan mereka bertemu.
"Aku tidak bisa menjelaskannya sayang, kamu tonton saja beritanya di YouTube. Pasti ada," terang Gabriel dengan wajah lesu. "Tapi besok saja," lanjut Gabriel.
"Aku gak mau kamu tambah banyak pikiran, sekarang kamu istirahat tidur, besok kamu boleh cari tau sendiri." Gabriel langsung membantu Leni merebahkan tubuhnya lagi, membenahi selimutnya dan langsung memeluk tubuh sang istri dengan erat. Leni menurut, dia memang merasakan tubuhnya sedang melakukan aksi demo hari ini, Leni akan cari tahu besok. Dia meringkuk menempel pada dada bidang Gabriel. Seperti bayi yang sedang menyerap kehangatan dari pelukan sang ibu.
#######
Beberapa jam sebelumnya.
Setelah dilakukan pemeriksaan dan pertolongan kepada Azka, Alhamdullilah tidak kondisi yang serius. Azka hanya demam saja, dia akan membaik setelah melakukan perawatan selama beberapa hari ke depan.
Yesline sedang menyuapi Azka saat Callista datang menjenguk sendirian di RS. Yesline tersenyum senang saat Callista masuk ke dalam ruangan itu dan memeluk Yesline.
Azka menguyah makanannya dengan pelan sambil memperhatikan kedua orang dewasa yang kini sama sama duduk di dekatnya.
"Terima kasih, Call."
Callista mengangguk tersenyum sambil beralih menatap Azka.
"Anak ganteng cepat sembuh ya, ada salam dari Chloe buat kamu, katanya kalo besok kak Azka enggak sembuh Chloe bakalan ngambek," cerita Callista dengan sedikit tawa pelan yabg menghiasi bibirnya.
"Iya, Tante. Azka pasti akan cepat sembuh karena ada mama yang selalu siap siaga menjaga Azka." jawab Azka yang langsung diangguki oleh Callista.
"Sayang, Mama dan Tante Callista ngobrol di luar ya? Kamu istirahat dulu, Sayang."
Azka mengangguk.
Di depan ruangan Azka, mereka mengobrol banyak hal, Callista juga memberikan rantang berisi makanan itu kepada Yesline.
__ADS_1
"Di mana Al, Yes? Pasti juga belum makan kan? Kenapa tidak kamu panggil biar bisa makan bersama?'' tawar Callista, Yesline berusaha mencerna kalimat Callista, yang ia katakan memang benar. Tapi, sedikit terdengar aneh di telinganya karena Callista mengkhawatirkan suaminya.
"Jangan salah paham ya, Yes. Aku cuma ingin di situasi seperti ini kalian tetap kuat dan sehat, tidak lupa makan agar tetap sehat dan bisa menjalani semuanya. Kalo kalian lemah, musuh kalian pasti akan langsung menang, kalo di film film pasti kurang seru karena tidak ada perlawanan. Kalian haru melawan, sekuat tenaga kalian." Callista berbicara panjang lebar. Yesline mengangguk, dia mengamini apa yang Callista katakan.
Yesline baru saja berdiri dan ingin keruangan Al untuk memanggilnya tapi Callista ikut berdiri dan menghentikannya.
"Yes, kamu makan aja, biar aku yang nelpon Al dan memintanya untuk datang ikut makan, boleh ya?''
Lagi lagi Yesline terdiam, aneh? Dalam hati Yesline merasakan hal itu tapi Callista tidak melakukan hal lain kecuali menawari Al makan, jadi tidak ada yang aneh kan? Seharusnya itu cuma pikiran jelek Yesline karena mereka dulu pernah karena dulu pernah memiliki hubungan dan Callista dulunya jahat. Tapi sekali lagi Yesline meyakinkan dirinya bahwa itu dulu.
"Boleh, Call."
Yesline duduk kembali, sementara Callista tersenyum dan mengambil ponsel seraya menghubungi Al.
"Al," panggil Callista setelah panggilan tersambung.
Yesline memperhatikan sambil membuka rantang makanannya.
"Aku bawa makanan, maaf aku telepon kamu, Yesline menunggu di depanku, aku bilang ke dia kalo kamu pasti belum makan, datanglah kesini ikut makan, nanti baru lanjut kerja lagi. Di Situasi seperti ini kamu harus menjaga kesehatan, Al. Jangan sampe lupa makan."
"Iya, Aku tahu. Tapi kamu harus tetap makan, aku akan bantu pecahin kasus ini kalo kamu ngizinin."
"Oke, gampang. Aku tunggu kamu di depan kamar Azka."
Setelah mengatakan itu Callista menutup teleponnya kembali. Dia lalu membantu Yesline menyendok nasi dan lauk lalu menyuapinya di saat Yesline masih berusaha mencerna dengan perhatian Callista, dia sekuat tenaga meyakinkan hatinya bahwa Callista itu sudah baik.
Yesline berusaha membuka mulutnya dan menerima semua perhatian dari Callista, dia beruntung memiliki sahabat yang peduli dengannya.
Al datang dan ikut bergabung.
"Hai, Al. Sini duduk." Callista menggeser bokongnya dan menepuk permukaan bangku di sampingnya. Sambil tersenyum menatap ke arah Al.
"Mas!''
__ADS_1