
Al melepas jacketnya, menutupi kepala Callista saat hujan tiba tiba turun. Mereka berlari memasuki rumah. Callista memeluk kedua lengannya. Dia basah kuyup, Tubuh Mereka kedinginan.
" Masuklah, Ganti pakaianmu. Aku akan tidur diluar malam ini. " kata Al lalu mendekatkan kedua tangannya lalu mengosok gosokkannya keduanya.
" Baiklah. Selamat malam. " kata Callista langsung berlalu pergi meninggalkan Al yang menyusul dibelakangnya menutup pintu. Callista sudah masuk kekamar saat Al mengetuk pintunya.
" Call, Bisa tolong ambilkan baju gantiku, Aku lupa ternyata tidak ada di kamar tamu. " kata Al saat Callista sudah membuka pintu.
" Oke. Tunggu sebentar. " jawab Callista yang bersembunyi dibalik pintu, Dia hanya mengeluarkan kepalanya sedikit karena Dia sudah menggunakan handuk saja.
Al menunggu di luar dengan rasa dingin yang menusuk persendiannya. Dia benar benar menggigil. Tak lama berselang, Callista mengulurkan tangannya dan memberikan baju ke Al.
Al menerimanya, Dia memicingkan matanya menatap heran ke arah Callista karena hanya tangannya saja yang terulur, kepala dan tubuhnya tidak kelihatan.
" Kamu kenapa ??? " tanya Al.
Callista tertawa kecil dan menjawab " Aku hanya pakai handuk, Aku gak mau dibilang godain Kamu lagi. Apalagi posisinya dingin begini. "
" Oh .... " jawab Al tersenyum mengerti.
'' Oke. Terima kasih. Good Night, Besok Kita ke kantor Polisi bersama sama. " kata Al dan melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan kamar Callista.
Wanita itu mengintip kepergian Al dari cela pintu. Dia tersenyum lega.
" Ternyata seperti ini, Jauh lebih membahagiakan Al .... " gumam Callista.
Sementara itu Al langsung menuju kamar lantai 2 karena di kamar tamu lantai bawah ada Hans dan Clinton yang sudah tidur. Dia langsung menuju kamar mandi. Dia berendam dengan air hangat.
Selesai mandi, Dia merebahkan tubuhnya di kasur dan meraih ponselnya dari tas. Sejak pulang dari Bangka, Dia belum membuka ponselnya.
" Sial, Batrenya lowbet lagi !!! "
Al langsung mengambil charger dan mencharger ponselnya. Dia mulai menyalakan ponselnya sambil di charge. Dia baru tahu bahwa Yesline sudah menelponnya puluhan kali. Al langsung menelpon balik tapi nomornya tidak aktif.
" Tumben, Apa Dia sudah tidur ya ??? " gumam Al.
Lalu Dia langsing berinisiatif untuk mengirim pesan ke Leni.
" Len, Seharian ini ponsel Saya mati. Aku baru tahu Yesline menelponku berkali kali. Aku coba menghubungi nomornya tapi tidak aktif. Tolong Kamu lihat, Apa Dia sudah tidur ??? "
Tidak lama kemudian Leni langsung membalas pesan itu.
" Iya Pak. Sudah tidur. "
__ADS_1
" Syukurlah. Aku akan menelponnya besok pagi. "
******
Nicho yang baru selesai menelpon Clinton, Dia mengira keadaan Yesline akan jauh lebih tenang setelah perceraian itu, Tapi malah sebaliknya malah membuatnya gelisah.
Momentnya benar benar pas, Jiwanya terpanggil untuk ada disisi Yesline. Dia benar benar merasa harus ada disana. Meski sebelumnya Dia sudah merelakan Wanita itu untuk Al dan berjanji untuk tidak akan mengganggu Yesline lagi. Tapi Al yang melanggar janjinya untuk tidak membuat Yesline menangis. Jadi bukan salah Nicho.
" Maaf, Al. Yesline butuh sandaran. Jika bukan Kamu Orangnya, maka Orang lain yang akan mengambil tempatmu. " gumam Nicho.
Laki Laki itu membuka dompetnya dan mengeluarkan foto Yesline yang Dia simpan di dalam dompetnya. Hanya itu cara Nicho untuk mengobati kerinduannya jika tidak melihat Yesline. Dia tau cintanya tidak terbalas, Tapi Dia tidak pernah menyesali perasaanya.
" Yes ..... Aku akan selalu ada saat Kamu butuh. Tunggulah.... Kamu harus kuat. "
Dia meraih ponselnya dan menelpon Tantenya, Mama Al. Meski Dia gau sudah jam 3 lewat dini hari. Dia ingin tau apakah Yesline masih di bangka atau sudah di jakarta.
Nicho sangat tau Yesline. Dia Wanita nekat. Jika memungkinkan dan ternyata Dia memang tau kalau Al bersama Callista, Dia pasti akan menyusul ke Jakarta tanpa sepengetahuan siapa pun.
Panggilan untuk Tantenya tidak tersambung dan Nicho tidak mau membuang buang waktu, Dia langsung memesan tiket ke Jakarta karena Dia yakin Yesline pasti sudah di Jakarta.
******
" Aku hancur sehancur hancurnya. Tak tau arah pulang.
Bolehkah *Aku menghilang dan tak kembali ???
Jika cinta pasti Mengeti. Jika Cinta pasti bahagia*.
Jika Cinta harusnya tak ada luka, Tak ada rasa sakit.
Kamu cinta ??? Atau hanya nafsu belaka ???
Aku hanya lelah untuk terus bersabar.
Biarkan Aku pergi .... "
Wanita itu masih memeluk gundukan tanah yang basah karena hujan, Disana Dia menangis semalaman.
Mencurahkan segalanya kepada Seseorang yang ada didalam gundukan tanah itu. Dia juga sendirian, tidak memiliki siapa siapa lagi kecuali Laki Laki yang membuat luka besar dihatinya.
Entah Dia rasa atau tidak, Tubuhnya menggigil dan hampir kebas. Bibirnya sudah pucat, saat dalam kondisi seperti itu, Dia lupa bahwa Dia sedang hamil.
Dia harus sehat dan tidak boleh stress dan banyak beban pikiran. Seharusnya Suami paham akan hal itu, Tapi malah mengabaikan semuanya hanya demi empati kepada Orang lain??? Lalu kenapa Wanita ini harus peduli ??? Dia sudah terlalu lama berjuang, menahan semua sakitnya.
__ADS_1
Kini .....
Biarkan Dia menepi. Sejenak saja, Jangan ganggu Dia lagi dengan alasan Gunawan. Dia adalah Yesline. Iya Yesline semata.
*****
Paginya tepat pukul 6 pagi, saat Al bangun, Dia teringat Yesline. Dia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Yesline. Tapi nomornya tetap tidak bisa dihubungi. Al mengetik pesan singkat dan mengirimkan ke nomor Yesline. Berharap saat buka ponselnya, Dia langsung baca.
" Sayang, Kamu bagaimana kabarnya ??? Maaf ya, Kemarin seharian ponselku tidak aktif dan lupa ngasih kabar. Baterainya lowbet Sayang ... Malamnya, Aku langsung charge dan telepon Kamu, Tapi malah gantian nomor Kamu yang gak aktif. Balas pesanku ya kalau sudah baca. "
Al menunggu hingga satu jam lebih dan masih centang satu, Membuatnya semakin gelisah.
" Apa Yesline marah ya ???? " gumamnya tidak yakin.
Dia mondar mandir sambil memegang ponselnya.
Dia mengingat bahwa Istrinya sangat baik, sampai seingat Al, Yesline tidak pernah bisa benar benar marah dengannya. Lalu kenapa kemarin dan hari ini masih tidak bisa dihubungi ???
Dia langsung menelpon Mamanya dan Leni tapi sudah dua kali Dia menelpon Mereka tidak ada jawaban juga. Tidak diangkat.
" Sial !!!!! Kemana perginya semua Orang ??? "
Al mengepal tangannya dan meninju telapak tangannya sebelah kiri. Dia benar benar tidak tau harus berbuat apa.
" Apa Aku kesana untuk melihat Yesline ya ??? " desah Al bimbang.
Laki Laki itu tidak tahu harus mendahulukan yang mana. Padahal seharusnya Dia tau.
" Tapi ..... " Dia masih ragu. Batinnya menolak. Menyanggah sisi hatinya yang lain.
" Balik ke Bangka. Dan temani Yesline. Biar Aku yang temani Callista ke kantor polisi hari ini. " suara itu muncul dari belakang hingga membuat Al terkejut.
Orang itu seperti tau apa yang sedang dipikirkan Al. Al menoleh kebelakang dan melihat sumber suara itu.
" Hans ??? Kamu ??? " tanya Al terkejut.
" Kenapa Hans bisa tertarik dengan urusan yang berhubungan dengan Callista ??? " gumam Al penuh tanda tanya menatap Hans.
" Kasihan Yesline yang Kamu tinggal disana. Meski ada Leni dan Tante, tetap saja itu bukan Suaminya, Al. " kata Hans menjelaskan. Hans yang bukan suaminya saja tau dan mengerti, tapi kenapa Al tidak ?????
" Tapi Aku kemarin udah bilang ke Callista bahwa hari ini Aku akan menemaninya ke Kantor Polisi. Kenapa jadi Kamu yang bersemangat ??? Kamu menyukai Callista ??? " tanya Al dan menuduh Hans dengan nada suara yang sedikit ketus.
Hans menyandarkan bahunya di tepi pintu dan melipat kedua tangannya.
__ADS_1
" Ternyata Kamu masih belum mengerti juga, Al ??? " Hans menatap remeh dan senyum masam.
" Maksud Kamu ??!!! "