
" Apa Om yang membunuh Papa Al ??? " tanya Callista.
Erwin menoleh, menatap Callista tanpa menjawab pertanyaan itu Dia malah tertawa keras.
Menekan kedua tangannya ke pinggir sofa, Menghentakkan kakinya lalu berdiri.
" Om pulang dulu. Kamu cepat sembuh. Nanti Kita lanjutkan untuk rencana baru. "
Callista bergerak dari tidur miringnya dan kini terlentang menatap Erwin yang tak jauh dari ranjangnya. Erwin mematikkan korek api ke sebatang rokok yang sudah Dia siapkan diantara bibirnya. Sesekali kedua telunjuknya menjepit rokok itu dan mulutnya mengeluarkan asap rokok.
" Jangan buat Om kecewa lagi. Kembali ke rencana awal, Nyawa harus dibayar dengan nyawa, Callista. Mereka baru membayar satu nyawa, Masih ada satu lagi dan belum termasuk bunganya. " katanya sambil mulutnya mengeluarakan asap rokok itu. Kepalanya menoleh kearah Callista yang tidak menjawab. Pandangan Callista tertunduk ke bawah, Memegang selimut tebal yang setengah menutupi tubuhnya.
" Kamu memang sudah berubah, Callista. Kemana semangat membaramu yang dulu saat menenmui Om dan mengatakan akan balas dendam ??? Kamu belum mendapatkan apa apa, Sekarang Al sudah melayangkan gugatan cerai untukmu. Masa harus Om, semua yang urus ???? " kata Erwin menatap tajam Callista.
Melihat Callista yang masih bergeming, Erwin berjalan maju. Sebelah tangannya Dia masukkan ke dalam saku celananya dengan sedikkt mencongdongkan tubuh mendekatkan bibirnya ke telinga Callista.
" Kamu harus ingat, Keluarga Gunawan telah membunuh kedua Orang Tuamu. " cetus Erwin tersenyum sinis dan menarik kembali tubuhnya menjauh. Callista terdiam.
" Pikirkan dulu. Besok Om kesini lagi. "
" Iya Om " jawab Callista singkat.
Callista tau, Dia harus membalas dendam untuk kematian Orang Tuanya itu. Tapi gairah dan semangat itu kian menyusut. Dia ingin memiliki hubungan yang normal dengan Al. Dia sadar tatapan kebencian Al kepadanya malah meembuat hatinya luluh walaupun hatinya lelah.
*****
Al membuka matanya perlahan saat mendengar suara gemercik dari arah kamar mandi. Dia bergerak duduk dan matanya mengarah ke sumber suara itu.
Matanya tersilat saat melihat tubuh polos Yesline dibawah guyuran air. Al menatapi tubuh Yesline dengan intens. Gelenyar hangat merasuki tubuhnya. Tangannya menarik selimut yang menutupi kakinya dan turun dari ranjang.
Tiba tiba Dia menginginkannya. Tanpa sadar, Dia melepas baju dan celana tidurnya sembari berjalan mendekati Yesline.
Tubuh Yesline terlihat begitu menggoda. Al menempelkan tubuhnya dan memeluknya dari belakang.
" Sayang .... Lukamu sudah tidak sakit kan ??? " tanya Al dengan penuh kehangatan karena ditambah tangannya tengah meraba bagian depan Yesline intens. Yesline menggeleng dengan cepat.
" Kamu sangat seksi... " bisik Al dengan mata bersilat, menatap kulit putih dan mulus Yesline.
" Kamu juga sangat nikmat Sayang .... Aku ingin .... "
" Hanya Kamu yang selalu memuji keindahan tubuhku. " kata Yesline tersenyum manis dengan ikut merasakan tubuh Al yang semakin erat menempel ditubuhnya.
__ADS_1
Ada rasa lega setelah berhari hari hening dan membeku, Akhirnya Al sudah bertingkah normal lagi.
" Karena memang hanya Aku yang boleh melihat dan menikmati tubuhmu. " jawab Al semakin mengeratkan pelukannya. Mendekatkan wajahnya ke leher Yesline.
" Mereka yang tidak pernah melihat tubuhmu, memang tidak akan tahu betapa indahnya dirimu. "
Yesline tersenyum bahagia, Merasakan hatinya berbunga bunga oleh pujian Al yang terdengar tulus.
Yesline memang tidak pernah berhubungan dengan Laki Laki manapun kecuali Al.
" Aku sangat merindukan dan menginginkanmu sekarang juga. " bisik Al dengan tangan yang merayap ke depan Yesline sembari mengelusnya pelan.
" Silahkan Mas. " jawab Yesline menahan kenikmatan yang akan keluar karena tangan Al sudah bergerak nakal.
" Sudah lama Aku tidak merasakan tubuhmu. " kata Al sambil mengecup leher Yesline lembut dan membelai rambut Yesline dengan lembut.
" Mas .... " panggil Yesline dengan menahan desahannya.
" Hemm ... Nikmati saja Sayang .... "
Yesline langsung mendongak saat merasakan kenikmatan yang sudah mulai menjalar ke seluruh sarafnya. Karena Al sudah mulai memporak porandakan permainan itu
Yesline mendesah menatap Al yang tidak merasa jijik dengan menikmati itu.
" Kamu sangat manis. " bisik Al tepat di bibir Yesline. Menyatukan bibir Mereka dan berbagi rasa.
Al dengan cepat mengangkat tubuh Yesline dan meletakkannya pelan di atas ranjang. Dia langsung menindihnya dan siap melakukan kenikmatan yang lebih dalam lagi.
Al kembali mencium bibir Yesline dengan lembut dan mulai melakukannya. Yesline juga terus berusaha untuk mengimbangi dan bekerja sama karena lukanya sudah tidak sakit lagi. Mereka berdua terus menerus mengeluarkan suara suara khas itu sepertinya Mereka sudah kecanduan dan tidak ingin berhenti.
******
Clinton bergerak tanpa instruksi dari Al, Dia bersama Hans pergi ke kantor polisi yang tidak jauh dari lokasi penyekapan itu untuk memeriksa laporan pengaduannya kemarin sudah masuk dan sudah diproses atau belum.
Pihak kepolisian menjelaskan bahwa Mereka menerima laporan itu dan mengirim beberapa anggotanya ke lokasi, Tapi setelah itu Kami tidak menerima laporan lagi.
" Siapa yang pergi untuk menangani kasus itu kemarin ??? " tanya Seorang Polisi kepada Seseorang yang berdiri disampingnya. Orang itu menyebutkan beberapa nama dan memeriksa laporan yang sudah ada. Ternyata setelah kejadian itu, Mereka tidak terlihat untuk datang tugas lagi.
Aneh. Clinton langsung beranjak berdiri dari kursinya dan mengepal tangannya dengan kuat.
" Sial !!!! Ada yang membodohinya!!! "
__ADS_1
" Pihak Kami akan mengutus beberapa Anggota kesana untuk menelusuri jalan itu, Mungkin ada petunjuk disana. "
" Baiklah Pak. Kabari Kami segera jika ada info selanjutanya. " kata Clinton sembari memberi kartu namanya. Dia dan Hans langsung pergi meninggalkan kantor polisi itu.
" Kenapa kemarin Kita tidak menyadarinya ??? " kata Clinton yang masih tidak percaya bahwa bahwa kali ini Dirinya sangat teledor.
" Mungkin sudah ada Orang lain yang merencanakannya. Rizky yang dalam kondisi seperti itu tidak akan bisa melakukan banyak hal. Menurutmu siapa yang melakukan itu ??? " tanya Hans sembari melipat lengan kemejanya. Kakinya terus berjalan bersama Clinton yang disampingnya.
" Kenapa Clin ??? " tanya Hans menghentikan langkahnya dan menatap Laki Laki disampingnya itu dengan wajah yang tiba tiba pucat.
" Aku tau siapa yang melakukannya. " jawab Clinton tiba tiba dan masih berdiri disana.
" Siapa ???? " tanya Hans penasaran.
" Mami. " jawabnya pelan. Ada emosi yang tidak bisa dijelaskan saat menyebut nama itu dan emosinya memuncak.
" Kita harus segera menemukan keberadaan Rizky. Aku takut, Dia akan semakin tidak takut dan berani untuk mengancam Yesline. Papanya Al sudah tidak ada. Jika Mereka menginginkan posisi Direktur itu maka sasaran selanjutnya adalah ....... "
Hans belum selesai melanjutkan perkataannya saat Clinton tiba tiba berbicara.
" Al. " jawab Clinton menyela.
" Kita perlu memperketat penjagaan. " kata Hans.
Hans menghentikan langkahnya di dekat mobil bmw miliknya dan membukanya dengan tombol kunci yang sudah dipegangnya.
Clinton langsung masuk dan duduk disamping Hans yang mengemudikan mobil itu.
******
Dua orang Polisi mengendarai mobilnya memasuki kawasan hutan pinus yang begitu lebat itu. Jalanan itu gelap tanpa ada penerangan lampu.
" Apa lokasi ini sudah sesuai ??? Coba Kamu perhatikan jalannya dan pantau ke segala arah. Kita harus menemukan Mereka segera. " kata Seorang Polisi yang mengemudikan mobil itu.
Temannya itu turun dari mobil dan menelusuri jalanana setapak yang membelah hutan itu. Dibelakangnya Polisi lain mengikutinya.
Mereka langsung berpencar. Untuk memastikan bahwa Rekan Mereka masih ada disana baik itu dalam keadaan hidup maupun tidak.
Dengan tongkat patrorinya, Mereka menyibak semak semak yang hampir menutupi seluruh hutan karena tidak pernah ada yang kesana.
" Tidak mungkin Mereka disini. "
__ADS_1