
" Maafkan aku, Clar. Aku gak tahan kamu godain terus semalam. Efek mabuk juga mungkin. Kamu memangnya lupa? " tanya balik Clinton, membuat Clara menghentikan tangisnya. Dia menatap tajam Clinton.
" Apa? Aku yang godain duluan? Kamu jangan ngarang, Mas? Mana mungkin aku ngajak begituan duluan? " tepisnya kesal. Dia merasa dituduh melakukan sesuatu yang bahkan dia tidak mengingatnya.
Clara mencoba mengingat ingat lagi, kepalanya masih sedikit pusing. Dia ingat semalam minum sebotol minuman beralkohol, meski dirinya mabuk seharusnya Clinton tidak akan hilang kendali seperti waktu pertama kali mereka bertemu.
" Mas Clinton juga mabuk? Kenapa sampai hilang kendali? Dulu waktu awal awal Mas masih bisa untuk ngejaga aku? Mas jahat!! Padahal aku merasa aman di dekat Mas karena meski aku selalu berpakaian terbuka, Mas bisa menjaga diri. Gak seperti laki laki mata keranjang di luaran sana. " Clara kembali terisak, meratapi dirinya yang sudah tidak perawan lagi. Meski kesuciannya direnggut oleh tunangannya sendiri, tetap membuatnya kecewa.
" Sayang, Mas masih normal dan berada di bawah pengaruh minuman beralkohol juga, jadi mana tahan. Kamu semalam ganti pakaian di depan Mas! Sudah ya .... jangan nangis. Kita kan sudah tunangan, Mas tanggung jawab kok. Kita nikah ya? " bujuk Clinton, tangannya meraih tangan Clara.
Namun dengan cepat Clara menarik tangannya kembali. Mata Clinton menatap lekat manik Clara yang membulat karena mendengar kata menikah. Dia menatap Clinton curiga.
" Apa ini rencanamu agar kita menikah, Mas? " tuduhnya membuat Clinton terkesiap.
" Mana mungkin seperti itu. Karena kita sudah melakukan ini, jadi Mas menawarkan diri untuk menikah. Mas mencintai kamu, Mas janji akan menunda keturunan seperti yang kamu mau, dan gak akan menghalangi kamu untuk mengejar karirmu. Mau ya nikah sama, Mas? Mas sudah sabar nunggu lima tahun loh, Kamu gak kasihan sama Mas yang sudah semakin tua ini? Tapi masih enak kan yang semalam? " goda Clinton mengedipkan matanya genit.
Wajah Clara memerah menahan kesal. Bisa bisanya Clinton malah menggodanya di saat seperti ini. Dia bahkan tidak ingat Clinton melakukan apa saja terhadap tubuhnya.
Kalau membahas cinta, Clara juga mencintainya. Tapi masalahnya bukan itu.
" Apaan sih kamu, Mas!! " Clara kesal dan langsung memukul Clinton dengan guling berkali kali.
__ADS_1
Laki laki itu meringis menahan sakit, kedua tangannya melindungi mukanya agar tidak babak belur. Melihat Clara yang semakin menjadi jadi, Clinton meraih tangan Clara dan menarik tubuhnya itu ke dalam pelukannya.
Clara meronta berusaha melepaskan diri namun Clinton mendekapnya terlalu kuat, di dekat telinga Clara, Laki laki itu membisikkan yang membuat Clara tertegun.
" Mas gak nyesel karena kita berhubungan semalam, Mas sayang kamu, Mas akan datang ke rumah, minggu depan kita menikah. "
" Clar, semuanya sudah terjadi. Mau sampai kapan kamu menolak untuk menikahi Mas Clinton? Dia laki laki baik dan sudah sabar menunggu kamu selama ini. Apa salahnya menikah dengannya? Toh selama ini kamu bahagia? " Clara berbicara di dalam hatinya sendiri, menceramahi sudut terdalam dirinya yang terus saja enggan untuk menikah.
" Baiklah, Aku mau kita menikah. Tapi tetap Mas jangan paksa paksa aku untuk punya anak dulu ya? Aku belum siap punya anak. " Clara berwajah murung. Clinton memutar tubuh Clara untuk menghadapnya lalu sedetik kemudian mengecup bibir Clara sedikit lebih lama. Bibir mereka berciuman lebih dalam.
" Mas janji. Kamu nanti bisa pakai alat kontrasepsi nanti. Yang penting kalau sudah menikah, Mas bisa minta jatah tiap hari. Habis tubuh kamu ngangenin, benar benar enak semalam. " kata Clinton mengedipkan matanya dengan genit. Dia masih ingat dengan jelas apa yang sudah dia lakukan semalam kepada tubuh seksi Clara. Meski sama saja dia mencuri kesucian gadis itu sebelum waktunya. Setiap mengingatnya membuat Clinton merasa bersalah.
Clara mengerucutkan bibirnya, menggeram marah. Tangannya mencubit perut Clinton membuat laki laki itu mangaduh.
" Kenapa gak dari dulu, saya pakai cara ini? Hihihi... " Clinton berbicara sendiri sambil cekikikan.
*****
Beberapa dokter mutasi yang di kirim oleh Gabriel dengan cara meminta bantuan Nicho, hari ini sudah mulai bekerja di rumah sakit healthy.
" Rumah sakit ini ternyata besar, Dengar dengar rumah sakit ini sudah terkenal dengan kualitas dan kinerjanya yang bagus dari dulu. Ibarat kata nih, ini itu rumah sakit favorit. Senang aku dipindah tugaskan kesini. " celetuk seorang Dokter muda yang bernama Novi.
__ADS_1
Beberapa dokter pindahan kita itu kini sedang duduk di bangku, mereka sedang menikmati waktu istirahat dengan makan di kantin rumah sakit. Sekitar ada tiga orang yang kini mengobrol.
" Meski rumah sakitnya Dokter Gabriel juga besar, tapi lebih senior tempat ini. Dengar dengar Direkturnya juga ganteng, Dia rival abadinya Dokter Gabriel. Siapa tadi namanya aku lupa? " Sally menepuk jidatnya pelan. Dia menertawakan dirinya sendiri. Bisa bisanya dia melupakan nama Direkturnya sendiri. Tadi pihak HRD terlalu bersemangat tadi sampai membuatnya lupa dan gugup.
Seorang Dokter lain mencondongkan kepalanya ke depan, diikuti ke dua dokter yang lain, mereka saling mendekatkan kepala. Lalu Dokter yang paling muda itu berbisik sambil tangannya merangkul beberapa pundak temannya.
" Na-ma-nya Dok-ter Ar-ga-- " bisik Fresy dengan menjeda setiap suku katanya membuat yang lain mendengus kesal. Kirain temannya itu mau memberi tahu hal penting apa. Mereka kembali menarik kepala mereka masing masing untuk menjauh.
Al tidak tahu jika dokter yang di mutasi ke rumah sakitnya adalah Dokter muda dan cantik cantik, Dia hanya tahu ada dokter rekomendasi dari teman Nicho. Selebihnya Al pasrahkan kepada pihak HRD.
Dua hari ini juga Al belum ke rumah sakit untuk melihat laporan mereka. Di rumahnya sedang sibuk untuk menyiapkan pesta ulang tahun Azka yang ke lima tahun.
*****
Hans ke rumah sakit, Dia menyelesaikan pembayaran ke bagian administrasi untuk semua biaya perawatan Papanya selama di rumah sakit karena hari ini sudah diperbolehkan untuk pulang.
Terlihat Dokter Meriam baru saja keluar dari ruang operasi, masih dengan memakai baju scrub nya. Hans menatap Dokter Meriam tidak berkedip, Dia sedikit heran karena wanita itu seperti biasanya yang tiba tiba selalu nyerocos mengganggunya jika melihat dirinya ada di sana. Namun Meriam hanya terus berjalan melewati Hans begitu saja tanpa menyapa ataupun menoleh. Membuat Hans merasa tidak enak hati.
Dia ingin bertanya kemana senyum manis itu menghilang dari wajah jelitanya? Netra Hans terus saja mengekori Meriam yang kini sudah masuk ke dalam ruangannya.
" Sudah Pak Hans. Ini kwitansinya. " kata salah satu petugas administrasi.
__ADS_1
" Terima kasih, Bu. " Hans mengambil kwitansinya lalu berjalan ke arah ruangan dokter Meriam, Dia penasaran apa yang membuat gadis itu murung.
" Apa?! Ada yang datang menemui Papa kamu untuk melamar kamu? "