Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 239


__ADS_3

Nisa mendapat tugas resmi dari rumah sakit untuk mengikuti seminar di Singapura, antara senang dan sedih. Dia senang diberikan kepercayaan itu, mewakili rumah sakit tapi tidak mau bertemu Rizky di Singapura. Dia tidak mau dianggap menguntit lagi. Sudah cukup hari itu Rizky memakinya habis habisan. Seharusnya dia tidak seperti itu, seharusnya dia bisa melihat Nisa layaknya dia melihat Meriam dulu, benar benar menghormati tanpa merendahkan, seharusnya jika saja Rizky mengerti. Dicintai itu adalah anugerah. Bukan masalah.


Nisa baru saja keluar dari gedung seminar, dia dan teman temannya berjalan keluar dari gedung, ada yang langsung ke hotel untuk istirahat, ada juga yang ke mall untuk belanja, ada juga yang ke kafe. Dan Nisa yang termasuk ke restoran, dia lapar, meski tadi sudah makan di dalam gedung. Dia ingin menjajal makanan Singapura.


Setelah mengendarai taksi dia sampai di sebuah restoran. Nisa bernagkat sendiri, dia tidak terlalu dekat dan nyaman berinteraksi dengan orang baru.


Nisa di kursi dekat di dinding kaca besar dan tinggi, sambil mendengarkan alunan musik bernuansa romantis, dia menunggu gidangannya datang malam itu. Kota ini cantik.


Malam yang cantik. Nisa melihat keluar dinding kaca, ada lampu gemerlap di sepanjang jalan, juga kerlap kerlip lampu kota yang dihias sedemikian rupa. Agar nampak cantik dan memukau di mata siapa saja yang memandang. Para pejalan kaki banyak yang saling bergandengan tangan menikmati malam itu.Nisa menatapnya dengan kegetiran, dia belum punya pasangan. Dan hidupnya terasa sepi.


Seorang pelayan datang, dengan ramah dia menyapa Nisa yang terlihat berwajah Indonesia, dia mengajak mengobrol Nisa, menceritakan kenapa makanan ini bernama ini, dan kenapa restoran ini bernama itu, meski mearik tapi tak cukup membuat Nisa bisa melupakan kesepiannya malam itu. Melihat kota itu kembali mengingatkannya kepada Rizky. Laki laki dingin yang telah mengambil hatinya. Separuh hatinya.


Malam sunyi bertabur bintang.


Ramai namun berasa sepi.


Alangkah indah jika kidung itu dari suaramu.


Menyebut aku yang kau mau.


Namun, kidung kematian itu jelmaan dari baris kata kasar yang kau ucap hari itu.


Masih membekas dan membeku.


Tak bergerak namun juga tak diam.


Malam.... ingat namaku,


Sampaikan pada laki laki dingin itu,


Dia telah memaku hatiku pada kebekuan jiwanya.


Memenjarakan rasa ini dalam hatinya yang dingin,


Jika dia tidak mencintaiku, tolong minta dia membebaskan hati ini, tanpa sakit dan kebisuan yang mencekam.


Aku Nisa, wanita yang mengaguminya tanpa syarat, namun kau buang begitu hina.


Nisa mengerjapkan matanya, samar namun perlahan terlihat jelas, sosok laki laki yang berdiri di depannya, memandangnya kini adalah sosok yang ia kenal.

__ADS_1


"Rizky!'' pekiknya terkejut, nyaris hanya berbisik. Membiarkan mata mereka saling bertukar pandang. Melesakkan rindu yang tak bisa diartikan lebih dalam.


Ada yang lebih berat dan cukup membuat perih selain rindu.


Ketika kamu mencintai seseorang tapi keadaan memaksamu memenggal perasaan cinta yang baru saj tumbuh itu.


Aku kira, aku akan baik baik saja.


Namun, nyatanya kamu telah mengkudeta rasa baik baik sajaku menjadi penuh sesak.


Nisa sampai berdiri, menatap lekat ke arah sosok Rizky. Di luar tiba tiba hujan rintik, Rizky terkesiap dan berlari masuk ke dalam restoran.


Nisa kembali duduk di kursinya mencoba menikmati hidangan yang sudah tersaji di atas meja, dia tidak berniat menyapa atau menemui Rizky, sakit rasanya dikatai wanita penguntit, kayak gak ada harga diri saja.


Laki laki masih banyak! Bukan cuma Rizky doang, Nis! Jangan takut enggak kebagian!


Nisa berusaha menyemangati dirinya sendiri.


"Ya, benar. Laki laki banyak, kalo single gak ada masih ada laki orang,'' seloroh Nisa bercanda. Enggak mungkin juga dia mau nikah sama yang sudah jadi milik orang, dia bukan wanita berhati berlian yang jadi nomor dua, meski si laki tajir melintir. Lebih baik gak menikah sekalian.


Nisa minumannya saat tiba tiba Rizky duduk di dekatnya dengan rambut dan wajah yang basah. Kelihatan tampan sekali. Dan seksi.


Nisa, stay calm!


Dicuekin seperti itu membuat Rizky jengkel. Dia menaruh beberapa lembar uang di atas meja Nisa dan menarik tangan Nisa keliar dari restoran.


Nisa terburu buru menguyah daging yang baru saja ia lahap, langsung ia telan.


Rizky aneh!


"Kamu apa apaan sih, Rizky. Lepasin tanganku, kamu mau bawa aku kemana?'' geram Nisa sambil menyentakkan genggaman tangannya berkali kali.


Rizky membawa Nisa menembus hujan sampai masuk ke dalam mobil, baru dia berbicara dengan Nisa.


"Kamu sok nyuekin aku, padahal kamu kesini karena nguntit aku kan?'' tukasnya tanpa merasa malu.


Nisa tersenyum sinis.


"Gila ya kamu, buat apa aku nguntit orang kasar, judes, jutek dan dingin kayak kamu, kayak gak ada cowok lain aja. Enggak usah kepedean,'' cibir Nisa emosi.

__ADS_1


Tubuh Nisa yang terguyur hujan mulai menggigil karena kedinginan karena ditambah udara AC dari dalam mobil. Rizky yang diam diam memperhatikan Nisa, kasihan melihat gadis disampingnya menggigil. Rizky menyentakkan kursinya kebelakang, dia membungkuk untuk mengambil jaketnya dan melemparkannya ke Nisa. Laki laki itu tidak tahu bagaimana caranya memberi perhatian kepada perempuan dengan cara yang manis.


"Tuh, pakai aja. Kamu kedinginan kan? Jangan sampai kamu sakit.'' Rizky si dingin tapi ternyata juga perhatian, meski caranya terlalu kasar. Membuat Nisa bingung dengan sikapnya yang kadang baik kadang dingin.


Nisa melongos, mana mau dia, jaket dilempar lempar begitu, Nisa tidak membutuhkan bantuan dan tidak akan menerima bantuan yang kesannya enggak ikhlas.


"Aku gak mau,'' tolak Nisa, melempar jaket Rizky ke jok belakang. Rizky melotot menganggap Nisa cewek tidak tahu terima kasih.


"Udah, ya. Aku minta kamu turunin aku sekarang, aku mau pulang ke hotel,'' tegas Nisa, menyilangkan kedua tangannya di dada dan sedikit memajukan bibirnya, dia menatap ke arah lain.


"Enggak usah sok jual mahal, biasanya kamu yang ngejar ngejar aku,'' sentak Rizky tak mau kalah.


"Ya, itu dulu. Aku berhenti mengejar kamu, karena lelaki yang tepat, tidak akan lari, dia akan datang dengan sendirinya,'' Nisa menatap lurus ke dalam mata Rizky, kalimatnya ini menusuk hati Rizky begitu dalam, menohok hingga ke pangkalnya.


"Nisa, kamu itu beda dari Meriam, gak ada apa apanya aku bilang. Tapi, tanpa ada kamu di hidupku tiba tiba sepi, tidak ada yang jailin aku. Kamu ibarat air yang aku butuhkan saat aku kehausan."


Melihat Rizky yang melamun sambil menatapnya membuat Nisa jengah, dia menggoyangkan tangannya di depan muka Rizky, mengecek apakah laki laki itu benar benar melamun?


Dan ternyata Rizky sedang memang melamun, melamunkan dirinyakah?


Tidak usah kegeeran Nisa, nanti jatuh lagi, sakit.


"Woi!'' seru Nisa, sedikit berteriak di depan Rizky. Rizky terkesiap, dia mengerjapkan matanya untuk mengembalikan kesadarannya. Rizky melihat mata bening Nisa, saat itulah entah kenapa hatinya berdesir hebat.


Rizky, apa kamu menyukainya?


Hati Rizky berbisik pelan di dalam sudut yang terdalam. Dia tidak tahu apa jawabannya. Tapi sampai detik kesepuluh, Rizky masih tak berkedip, dia mengagumi mata Nisa.


"Kalo kamu ngelihatin aku terus terusan seperti itu, Aku gak mau semobil lagi sama kamu.'' Nisa mencondongkan tubuhnya melewati Rizky, dia mencari tombol pembuka pintu mobilnya. Rizky terkekeh pelan. Rizky menyentuh pinggang Nisa, menariknya hingga kini Nisa duduk di atas pangkuan Rizky.


Nisa kaget, saat Rizky memeluk pinggangnya.


"Rizky, lepasin aku, Kamu gak sopan bangat sih!'' geram Nisa sambil berusaha melepaskan pelukan Rizky. Meski sebenarnya, jantungnya berdetak begitu cepat, tidak karuan. Dia gugup berdekatan seperti itu.


"Kamu yang dekat dekat sama aku, Jadi bukan salah aku jika aroma tubuh kamu bikin aku gak bisa jauh dari kamu,'' Rizky bergumam lirih.


Nisa tidak salah dalam mendengar kan? Tadi Rizky bilang apa? Enggak bisa jauh dari Nisa?


"Kamu gak bisa jauh dari aku?'' ulang Nisa kaget campur senang, tapi sedetik kemudian, dia berusaha menetralkan ekspresinya lagi.

__ADS_1


"Apa? Aku gak bilang gitu tadi. Kamu salah dengar, turun gih! Kamu berat!'' sanggah Rizky dua detik kemudain. Laki laki itu puas menggoda Nisa saat tiba tiba raur wajah Nisa langsung berubah ke mode cemberut.


Rizky, kamu itu keren. Tapi Nyebelin.


__ADS_2