Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Bab 282


__ADS_3

Nisa terus deg deg an, lebih baik dia tidur aja. Sampai pesawat ini berhenti. Namun, saat dia akan memejamkan matanya, ada seorang laki laki yang berjalan ke arahnya, dsn berhenti di sana. Melihat padanya seperti sedang meneliti.


"Wah, Mas, ini pacarnya ya, yang mau di lamar? Selamat ya, Mas. Selamat dan lancar sampai hari H." ucap laki laki itu pada Nisa dan Rizky.


Otomatis, Rizky komat kamit, lalu membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangan. Pura pura tidak melihat apa apa, tepi Nisa sudah terlanjur tahu.


"Kamu, utang penjelasan samaku, Rizky!'' tandas Nisa cepat di telinga Rizky. Dan seringan jail pun terbit di bibir Nisa.


"Penjelasan? Penjelasan apa? Orang itu hanya berbicara ngasal!" elak Rizky datar, sambil matanya memberikan isyarat kepada laki laki untuk segera pergi. Orang itu sedikit bingung tapi tetap mengangguk dan berlalu pergi.


Nisa menatap Rizky dan laki laki itu dengan kening mengerut dalam.


"Ada yang kamu sembunyikan ya, Rizky?" batin Nisa.


Dalam hati, Nisa masih curiga dengan Rizky. Tidak mungkin orang asing itu berbicara soal tunangan dan mengenali wajahnya juga wajah Rizky, jika Rizky tidak memberitahunya sesuatu sebelumnya.


Bilang aja malu karena ketahuan.


Nisa masih menatap tajam ke arah Rizky. Sementara laki laki selalu berusaha menghindari mata Nisa. Dia berpura pura melihat ke luar jendela pesawat.


Nisa memberenggut kesal, dia meraih pundak Rizky dan menarik pundak laki laki itu hingga kini mereka saling berhadapan.


"Apa sih?!'' protes Rizky berpura pura kesal. Membuat mata Nisa membulat sempurna.


"Kok, kamu yang marah? Harusnya aku dong, kamu hutang penjelasan ke aku. Mana ada orang tadi asal bicara, pasti kamu sembunyiin sesuatu kan, dari aku? Kamu beneran bilang ke orang tadi kalo aku tunangan kamu? Kalo iya, kenapa kamu mesti malu buat ngakuin itu? Kalo baru gitu aja malu, bagaimana kamu bisa memperjuangkan apa yang ada di hati kamu? Cemen! Aku paling gak suka sama cowok cemen begitu, udah ah, malas aku sama kamu," beo Nisa dengan emosi. Wanita itu menarik tubuhnya untuk memunggungi Rizky.


Laki laki itu tidak percaya diri untuk menyatakan perasaannya kepada wanita itu, perasaan yang belum seratus persen ia yakini adalah sebuah rasa cinta. Tapi, memang tidak bisa Rizky pungkiri dia lebih merasa nyaman berada di dekat Nisa, meski mereka lebih sering cekcok setiap ketemu. Rizky menatap punggung Nisa lekat sambil menimbang nimbang semuanya. Rizky sudah gemes melihat Nisa yang ngambek. Laki laki itu berniat menanyakan sesuatu yang pasti akan membuat Nisa heboh lagi. Atau salah paham lagi? Biarkan saja terjadi, Rizky memang lebih senang seperti itu.


"Hei! Emang kamu beneran mau jadi tunangan aku?'' cicit Rizky, yang seketika membuat Nisa melemas. Dia memutar kembali tubuhnya menghadap Rizky.

__ADS_1


Setengah tidak percaya. Dan apa yang barusan dia dengar bagaikan suntikan boster yang membuat sesuatu dalam dirinya bangkit, lebih semangat dan membahagiakan. Nisa masih menatap lekat ke arah Rizky yang kini juga menatap lurus ke arah matanya, seperti mengulik sesuatu yang Rizky cari selama ini.


"Kamu tahu aku mantan napi?" tanya Rizky. Itu adalah kenyataan terburuk di masa lalunya yang membuatnya menjadi orang kejam.


Nisa melongo, dia menggeleng dengan sangat lambat. Dia tidak tahu. Sekali lagi cinta datang tanpa membawa alasan apapun. Bahkan soal identitas Rizky yang menjadi pemimpin sebuah di rumah sakit besar di singapura aja, Nisa baru tahu beberapa hari yang lalu. Apalagi soal masa lalunya yang lain? Nisa hanya tahu, Rizky adalah laki laki yang dulu mengejar ngejar sahabatnya Meriam.


Rizky tersenyum miring.


"Lupakan soal yang menjadi tunanganku, sebelum kamu tau semua masa lalu aku yang kelam. Aku gak mau kamu atau keluarga kamu yang tiba tiba menolak aku atau kamu terpaksa menerima aku yang jauh dari kata baik ini. Kamu cantik dan baik Nisa, suami kamu nanti harus sepadan atau bahkan harus lebih baik dari kamu," jelas Rizky.


"Kalo gitu kamu harus jadi laki laki baik itu yang akan menjadi suami aku." Nisa serius, dia tidak peduli dengan masa lalu Rizky, sesungguhnya dia melihat kebaikan pada diri laki laki itu. Hanya saja, sifat juteknya itu harus di ruqyah kali ya, biar hilang.


Rizky tertegun. Dia menatap Nisa lekat lekat lalu tertawa ringan. Kenapa wanita di depannya begitu mudah mempercayai laki laki? Meski tidak bisa dipungkiri ada kelegaan di hati terdalamnya.


"Apa kamu suka samaku karena aku ganteng? Karena aku kaya? Atau karena aku yang pertama kali nyium kamu?'' tanya Rizky penuh keberanian yang dianggap Nisa terlalu tidak sopan.


"Kamu sangat salah dalam menilaiku, Rizky. Kalo hanya masalah ganteng dan kaya, banyak yang sudah mengutarakan isi hati dan perasaannya sama aku tapi aku tolak, kalo soal ciuman memang kamu pencuri ulung! Tapi bukan karena itu." Nisa mengabaikan kebenaran bahwa yang dinyatakan Rizky memang masuk dalam beberapa kategori kenapa Rizky nampak menarik, hanya saja hal hal tadi bukanlah yang menjadi prioritas Nisa dalam mencari jodoh.


Tidak langsung menjawab, tapi Nisa malah hanya tersenyum jail sambil menarik tubuhnya menghadap ke depan. Mengabaikan Rizky yang kentara sekali sangat gemas karena dipermainkan Nisa.


"Aku akan kasih tau kalo kamu datang ke rumahku nanti," jawab Nisa dengan niat memancing sebesar apa atau seyakin apa Rizky dengan perasaannya terhadap dirinya. Kata orang dulu, kalo seorang laki laki yang benar benar serius mencintaimu, dia akan mendatangi rumahmu dan memintamu kepada bapakmu secara langsung.


"Siapa juga yang mau datang ke rumah kamu, aku gak terlalu ingin tahu jadi simpan aja jawaban kamu itu sampai tua,'' umpat Rizky kesal. Yang juga menarik pandangan dari Nisa. Seketika membuat Nisa kecewa. Ya, dia terlalu berekspektasi tinggi bahwa Rizky akan memperjuangkannya. Memang laki laki itu hanya sebatas bermain main saja. Belum ada keseriusan untuk menjalin sebuah hubungan dengannya.


Nisa mendesis, "Sok bangat, sih. Terserah kamu deh,"


Keduanya saling membelakangi satu sama lain. Berperang dengan argumen masing masing. Ego mengalahkan segalanya.


Cinta masuk ke dalam daftar pilihan paling akhir ketika keadaan memaksa.

__ADS_1


Rizky ingin tahu apa benar Nisa menerimanya tanpa syarat. Tapi, belum saatnya untuk datang ke rumah Nisa. Dia belum punya cukup kebaikan untuk ia sombongkan kepada calon mertuanya.


Nanti.


Dia pasti akan menjemputnya sebagai seorang istri.


Nisa menarik nafas beberapa kali, dia ingin menoleh dan melihat apakah Rizky menoleh ke arahnya? Atau hanya harapannya yang kosong? Ah, sial. Dia bahkan terlalu gengsi untuk menengok.


Rizky juga sama, dia ingin tahu apakah Nisa melihat ke arahnya atau tidak. Tapi ego Rizky terlalu tinggi.


Sampai mereka tidak kuat dan sama memutuskan untuk menoleh, akhirnya kedua mata itu bertemu. Tanpa keluar sepatah kata pun, tanpa ada pergerakan apapun.


Yang ada dada mereka sama sama berdebar.


"Rizky."


"Nisa."


Terlalu gugup dan canggung, mereka sampai berbicara dan mengeluarkan suara di waktu bersamaan.


"Kamu dulu deh,"


"Kamu aja dulu,"


Aish, terlalu menggemaskan. Akhirnya tidak ada yang berbicara dan hanya ada keheningan.


Sampai pesawat turun dan mendarat di bandara.


Perdebatan mereka selesai.

__ADS_1


Setelah itu, entah apa yang akan mereka lakukan untuk punya alasan bisa bertemu dengan satu sama lain.


__ADS_2