Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 260


__ADS_3

Clinton kembali dari kamar Hans seorang diri, sementara teman temannya sudah menunggu di ruang tamu, mereka akan makan malam bersama malam ini di sebuah restoran.


"Kok sendiri Clinton? Mana si Hans?" Leni sudah ngerocos aja, dia paling gak sabar untuk makan di luar.


"Sabar Leni, mereka butuh mandi dan bersiap, sepertinya baru saja melakukan nina ninu." Clinton mengacungkan dua telunjuknya sebagai isyarat tanda kutip.


Leni yang semula berdiri kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Hah, dasar pengantin baru, masih semangat semangatnya." Leni mendesah sedikit menggerutu. Tapi bukan berarti tidak memaklumi apa yang mereka lakukan. Dulu dia juga seperti itu kan?


Gabriel menghampiri Leni dan bermanja manja di pangkuan Leni.


Sebelah tangan Gabriel mengelus perut Leni.


"Sabar ya, Babyku. Biar papa yang jemput Om Hans ya, biar mandinya cepetan," lirih Gabriel sambil terus mengelus elus perut Leni.


Gabriel turun dari sofa setelah diangguki oleh Leni. Gabriel langsung buru buru ke kamar Hans dan membawa kedua sejoli itu pergi makan bersama.


********


Yesline masih mematut dirinya di depan cermin besar di dalam kamarnya. Dia memperhatikan tubuhnya di balik balutan gaun yang menampilkan gundukan perutnya yang semakin melembung besar. Ya, wajar, ada dua baby dalam perutnya. Juga umur kehamilannya yang semakin bertambah.


Al dengan setelan jas hitamnya nampak sekali terlihat sangat keren dan tampan, dia berjalan menghampiri Yesline tapi tiba tiba senyumnya memudar tatkala melihat pakaian Yesline yang terlalu memamerkan punggungnya. Yesline memakai gaun pandang dengan belahan terbuka pada bagian punggung. dengan rambut digulung. Juga bentuk potongan lehernya yang berbentuk huruf V memamerkan belahan dadanya yang indah.


Al mengecup tengkuk Yesline dengan lembut.


Satu, dua, dan tiga. Yesline bergidik.


Al menelusupkan kedua tangannya ke dalam gaun Yesline.


"Kamu mau makan malam atau olahraga ranjang, Sayang? Kamu terlalu seksi, aku aja tidak kuat melihatnya. Bagaimana tatapan laki laki di luar sana? Hm?'' bisik Al pelan dekat di telinga Yesline. Sambil bibir Al tak berhenti untuk menciumi tengkuk Yesline.


Yesline melenguh, sambil melepaskan diri dari setiap sentuhan Al, dia berbalik badan dan menyentuh kedua pipi Al dengan kedua tangannya.


"Tapi, gaun ini bagus kan di tubuhku, Mas? Lihat perutku masih terlihat seksi. Dan aku juga terlihat cantik. Ini gaun pemberianmu dulu waktu makan malam di acara ulang tahun pernikahan kita tahun lalu, tiba tiba aku ingin memakainya." jawab Yesline kepada Al.

__ADS_1


Al sedikit cemberut bukan karena Yesline selalu punya kemauannya sendiri tapi lebih karena Al tidak mau Yesline keluar dengan penampilan secantik itu dan seseksi itu, dia tidak mau itu menarik perhatian hidung belang.


Al teringat di lantai bawah ada butik. Al melangkah mendekati nakas dan membuka brosur yang terletak di sana. Dan menemukan nomor telepon butik itu, kebetulan pemiliknya adalah orang Indonesia. Yesline mengikuti langkah suaminya.


Al meletakkan jari telunjuk di bibir Yesline, sementara sebelah tangannya yang bebas meraih ponsel dan menghubungi nomor tersebut. Yesline menunggu dan terdiam sesaat. Ikut mendengarkan.


Setelah panggilan tersambung, Al berbicara dengan orang diseberang telepon dengan sebelah tangannya tetap memeluk pinggang Yesline dengan mesra.


"Tolong bawakan beberapa stel gaun terbagus dan terbaru tapi dengan potongan model yang sedikit tertutup, ada kan?'' pinta Al dengan penuh wibawa.


"Oke."


Yesline tidak mendengar suara jawaban dari seberang. Al setelah mengatakan itu langsung segera menutup telepon.


Yesline menerima saja, jika sudah seperti ini keputusan sang suami mana bisa dibantah?


Yesline memainkan kerah baju Al sambil berucap, "Kamu telepon siapa tadi, Mas? Kok pakai bahasa indonesia?'' tanya Yesline penasaran.


Al kembali memasukkan ponselnya ke saku seraya menjawab pertanyaan Yesline.


"Pemilik butik di lantai bawah, Sayang. Kebetulan memang orang indonesia, kamu harus ganti baju. Aku gak mau kamu keluar dengan pakaian seperti itu," ngotot Al.


"Iya, Mas. Bagaimana kalo aku memakai gamis tertutup seperti Meriam saja, kamu suka enggak?'' mata Yesline berbinar, tiba tiba Kepikiran seperti itu.


"Atau sekalian aja aku pakai cadar, biar yang lihat kemolekan tubuh dan kecantikanku hanya kamu seorang, suka enggak?'' lanjut Yesline.


"Kamu meledek Mas ya?'' sahut Al.


"Kok meledek? Aku ini kepikiran hal baik loh, Mas. Habisnya kamu, aku pakai gini aja sewot, jadi lebih baik sekalian aku pakai tertutup seperti Meriam. Kamu suka, enggak?''


"Em, boleh lah. Nanti kamu coba deh." seru Al. Yesline membalas dengan tersenyum.


Tak beberapa lama ada yang mengetuk pintu.


Al dan Yesline bergegas ke arah pintu dan membukanya. Ternyata itu Nicho datang membawa pesanan baju dari Al.

__ADS_1


"Kamu lama bangat sih, Leni sudah gak sabar pengen makan tuh. Buruan ya, nanti ngamuk dia," ujar Nicho sambil mengulurkan beberapa baju dari tangannya ke Al.


"Iya, iya. Bawel. Yesline pake bajunya terlalu seksi jadi harus ganti dulu."


"Terima kasih, Cho. Enggak terlalu seksi kok, Mas Al nya aja yang gak jelas." Yesline menjulurkan lidahnya, mengejek Al. Sementara Nicho hanya tertawa.


"Kalian memang gokil, terserah deh. 10 menit lagi sudah turun ya," Nicho berlalu pergi meninggalkan mereka, dan Al segera menutup pintu kembali.


Azka sudah lebih dulu turun kebawah dan bersama Chloe.


Yesline langsung melepas gaunnya dan mengganti dengan yang dia suka dari beberapa pilihan yang ada.


Al menatap Yesline tak berkedip. Melihat Yesline berganti pakaian di depannya membuatnya ingin olahraga tapi lagi lagi Yesline mengingatkan Al kalo mereka sudah ditungguin sedari tadi.


Akhirnya setelah berganti pakaian, Yesline menggandeng tangan Al dan langsung ke bawah.


"Akhirnya turun juga yang ditungguin. Kirain cuma aku yang terlambat, ternyata malah kamu sendiri," protes Hans yang datang beberapa menit sebelum Al.


Yesline nyengir.


"Maaf, harus ganti baju dulu."


Mereka berangkat menggunakan kedua mobil yang menjemput mereka siang tadi. Sebenarnya Al mau beli mobil saja, tapi beli di negara orang tak semudah beli di negara sendiri.


Jarak restoran tak jauh, hanya beberapa menit saja.


Sesampainya di sana, mereka langsung duduk di kursi yang sudah mereka booking sebelumnya.


Mereka makan dengan lahap, saling menyuapi satu sama lain. Terlihat romantis dan keluarga bahagia.


Pandangan Al teralihkan oleh Leni yang seperti orang kesurupan, makannya banyak bangat dan lama sendiri. Al tertawa, dia punya bahan ledekan untuk si Gabriel.


"Ngakunya orang kaya, tapi istrinya sampe dibikin kelaparan gitu," cibirnya ke Gabriel.


"Mulai deh, perang dunia." Leni langsung menimpali.

__ADS_1


"Sialan ya kamu, Al. Itu Leni sedang makan banyak, biar bayiku di perutnya sehat. Jadi enggak salah kayak Yesline. Makan banyak tapi berat badan bayinya kecil." Gabriel menimpali dengan berkacak pinggang.


Al tidak membalas perkataan Gabriel tapi dia menimpuk tubuh Gabriel berkali kali dengan sepatunya.


__ADS_2