
"Anu, Dok. Ada pasien satu lagi."
Gabriel yang baru saja bangkit dari duduknya dan berniat untuk makan siang karena sudah jam istirahat itu pun terhenti karena ucapan seorang suster yang mendampinginya.
"Pasien? Apa maksudmu? Ini sudah jam istirahat. Bilang pada pasien itu, saya mau istirahat dulu," ucap Gabriel yang berjalan ke luar ruangannya.
"Tapi, Dok. Pasien ini bilang kalo beliau adalah teman dekat dokter." ucap suster itu lagi dan berhasil menahan Gabriel.
Gabriel mengernyitkan dahinya. "Siapa?" tanya pria yang merupakan dokter ahli kandungan itu.
"Pasien tersebut mengatakan bahwa ia tidak mau disebutkan namanya." ucapan suster tersebut Gabriel semakin kebingungan.
Ia pun akhirnya menyuruh suster yang mendampinginya agar meminta pasien yang mengaku sebagai teman dekatnya tersebut masuk ke dalam ruangannya. Setelah beberapa saat berlalu, seseorang menyembulkan diri ke dalam ruangan itu.
"Anas?'' betapa terkejutnya Gabriel ketika mendapati pasien yang dimaksud suster itu adalah Anas, seseorang dari masa lalunya.
Gabriel benar benar heran karena hal itu. Seingatnya, Anas belum menikah sama sekali hanya baru saja bertunangan. Namun hari ini, Anas datang ke ruangannya sebagai pasien yang berarti ingin memeriksa kandungannya.
"Sedang apa disini? Aku tidak menyangka kalo kamu yang akan datang." ucap Gabriel yang kembali duduk di meja kerjanya.
Wanita pemilik nama Anas itu tersenyum ke arah Gabriel sebelum akhirnya memasang raut wajah gelisahnya.
"Hm, jadi, aku datang kesini itu sebenarnya untuk....." ucapan wanita itu terjeda, ia menatap ragu ke arah Gabriel yang dihadapannya.
Anas menghela nafas, ia benar benar ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada Gabriel. Ini terdengar seperti aib, apalagi Gabriel adalah orang yang mengenalnya dengan baik, bahkan keduanya pernah terlibat dalam kisah masa lalu. Anas sedikit menyesal, ia seharusnya datang ke tempat lain saja alih alih ke rumah sakit Gabriel yang merupakan temannya sendiri.
__ADS_1
"Bantu aku, Gabr. Bantu aku periksa kandunganku," kata Anas dengan raut khawatirnya.
Gabriel mengusap wajahnya kasar, mendengar ucapan Anas yang setengah setengah itu.
"Sebaiknya, kamu mengatakan semuanya padaku, Nas. Jangan setengah setengah seperti ini." kata Gabriel.
"Aku dihamili oleh tunanganku sendiri, Gabr. Setelah itu, dia tidak mau bertanggung jawab, aku bingung harus bagaimana." suara Anas terdengar bergetar.
Mendengar hal itu, Gabriel hanya tertegun. Ia bahkan tidak tahu bagaimana harus menenangkannya. Masalahnya, hal ini bukanlah hal yang mudah untuk diatasi. Dan, sudah pasti ini merupakan aib tersendiri bagi Anas. Ia melihat raut wajah wanita itu yang berada di hadapannya, menampakkan kekhawatiran yang cukup besar.
Gabriel kasihan dengan keadaan Anas yang mendadak seperti ini. Ia tidak punya pilihan selain membantunya dan hanya bisa ia lakukan hanyalah mengurus kandungannya itu.
"Baiklah, tenang dulu, Nas. Aku akan membantumu." ucap Gabriel yang kemudian memerintahkan Anas untuk naik ke tempat tidur guna diperiksa kandungannya.
"Terima kasih ya, Gabr. Maaf, aku mengejutkanmu seperti ini dan bahkan menyita waktu istirahatmu. Aku tidak tau harus kemana lagi, yang pertama kali muncul di pikiranku saat muncul tanda tanda kehamilan adalah dirimu. Aku pikir aku harus meminta bantuan kepadamu karena kau dokter ahli kandungan," ucap Anas berusaha terlihat baik baik saja. Namun Gabriel mengerti dengan baik bagaimana Anas.
*******
Hari hari pun berlalu begitu cepat, Gabriel sering mendapati panggilan dari Anas yang bertanya tanya serba serbi kehamilan. Sesekali, Anas juga datang ke ruangannya untuk diperiksa. Dan, Gabriel semakin merasa bahwa itu adalah kewajiban baginya untuk membantu Anas.
Tring!
Ponsel milik Gabriel berdering, membuat pria yang berstatus sebagai dokter kandungan itu bergegas meraih ponselnya yang ia letakkan di meja makan. Di sisi lain, Leni istrinya, kebingungan dengan ponsel milik Gabriel yang terus berdering sejak kemarin. Padahal, ini adalah akhir pekan.
Gabriel mengangkat panggilan yang tentu saja dari Anas, "Halo, Nas?'' ucap Gabriel mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1
"Halo, Gabr. Maaf, sudah mengganggu waktumu, ini ada yang mau aku tanyakan soal kandunganku lagi," ucap Anas diseberang sana dengan nada yang menunjukkan bahwa ia merasa tidak enak karena telah mengganggu Gabriel di akhir pekan seperti seperti ini.
Ya. Anas pun tak punya pilihan lain selain berkonsultasi pada Gabriel. Karena ia masih cukup awam untuk hal seperti ini. Ia cukup terbantu oleh Gabriel. Mungkin akan menjadi kesalahan yang fatal, jika ia melakukan sesuatu yang tanpa berkonsultasi dulu pada Gabriel yang lebih tau tentang kesehatan kandungan.
Anas bertanya kepada Gabriel soal kandungannya yang sejak tadi pagi terasa tegang, ia bahkan sesekali mengeluarkan cairan yang entah apa itu, Anas benar benar tidak tau apapun. Gabriel dengan tegas memberi tahu kepada Anas tentang hal tersebut, ia juga memberikan solusi untuk Anas agar bisa mengatasi lagi jika terjadi lagi kedepannya.
Di sisi lain, Leni yang penasaran denan suaminya yang sibuk berbincang di telepon itu pun diam diam menguping. Ia mendengar Gabriel beberapa kali menyebutkan nama Anas dan itu membuatnya semakin yakin bahwa lawan bicara Gabriel di panggilan itu adalah sosok masa lalunya. Tentu saja Leni tau soal Anas yang merupakan rekan kerja Gabriel dulu, namun ia juga tahu bahwa Anas pernah menyukai Gabriel di waktu silam.
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Leni memergoki Gabriel yang sedang berada di sebuah panggilan dengan Anas. Ia sempat mengetahui hal itu, karena belakangan ini, Anas sering menghubungi Gabriel. Bahkan mungkin hampir tiap hari. Memang hal tersebut membuat Leni sempat curiga, tapi setelah ia mendengar percakapan mereka hari ini, Leni pun akhirnya mengetahui bahwa Anas sedang mengandung anak dari tunangannya yang tidak mau bertanggung jawab itu.
"Sayang, sedang apa disitu?'' Leni terkejut dengan suara yang menginterupsi rungunya.
Gabriel mendapati Leni yang sedang berdiri di belakangnya selama ia melakukan panggilan dengan Anas.
Leni melipat kedua tangannya di depan dada, ''Kamu habis teleponan sama siapa?" tanya Leni pura pura tidak tau.
"Oh, ini Anas. Dia sedang mengandung, dan sering meminta bantuan kepadaku,"
"Haruskah sesering itu?" pertanyaan itu membuat raut wajah Gabriel berubah menjadi.
"Aku ini dokter, Leni. Siapa lagi kalo bukan aku yang membantunya." ucap Gabriel.
"Tetapi, apa perlu sampai menganggu istirahatmu di akhir pekan ini? Aneh, lagipula kamu bukan dokter pribadi yang selalu siap melayani!''
Suasana menjadi tegang. Keduanya terdiam, tak ada yang saling memandang dan berbicara satu sama lain. Terutama Leni, ia sudah tersulut dengan perasaan cemburunya yang perlahan menjadi emosi.
__ADS_1