
Leni menunggu di belakang punggung Gabriel, Laki Laki itu menatap nanar gundukan tanah yang masih basah milik Ayahnya.
Erwin diputuskan mendapat hukuman mati setelah semua kejahatan yang telah Dia lakukan selama ini. Terlebih lagi, Dirinya yang ketahuan melakukan tindakan kriminal saat masih menjalani masa hukuman dari kasus pertamanya.
Gabriel sedikit terpukul, tapi kata kata Leni kembali menguatkannya. Setelah dari pemakaman Erwin, Leni membawa Gabriel ke rumah Al, Hari ini Al dibantu sama Hans Pengacaranya akan melakukan pembagian harta dari Kakek Callista yang selalu jadi rebutan, seperti hang Dia katakan kemarin.
Disana juga ada Callista dan Nicho. Setelah diputuskan Gabriel sebagai pengganti Erwin akan tetap mendapat haknya, begitu juga dengan Callista.
Sebenarnya Callista tidak terlalu mempermasalahkannya begitu juga dengan Gabriel. Tanpa sepengetahuan Mereka, Erwin memiliki banyak bisnis legal dan ilegal di luar sana. Setelah kematian Erwin, Gabriel berniat menjual semua bisnis ilegal milik Ayahnya dan akan membangun bisnis baru. Dia tidak mau sesuatu dari bisnis itu akan menimbulkan masalah.
Callista hanya meminta yang menjadi hak milik Orang Tuanya. Dia sedang hamil, tentu ingin memberikan warisan kepada Anaknya kelak dan Hans sudah memberi tau Al berapa takaran persen yang harus dibagi kepada Mereka. Semua sudah disepakati dan ditanda tangani oleh ketiga belah pihak.
Baik Al, Callista maupun Gabriel masing masing telah membawa dan memegang surat pembagian harta itu. Al hanya ingin hidup tenang bersama Anak dan Istrinya tanpa takut akan ada yang merebut harta itu. Semua sudah Dia baik dengan baik.
*******
Callista dan Nicho duduk di atas kursi pengantin bak Raja dan Ratu. Pernikahan Mereka disulap sedemikian rupa layaknya Negeri dongeng. Benar benar mewah dan megah. Callista terlihat sangat cantik dengan gaunnya dan Nicho nampak tampan dengan setelan jasnya.
Mereka terlihat bergurau di sela sela menyalami para tamu yang naik ke panggung untuk memberi selamat.
Sesekali Nicho mencuri pandang ke wajah Callista yang terlihat berbeda hari ini. Wajahnya bersinar, berseri seri tidak seperti biasanya. Dia nampak bahagia sekali. Nicho bisa melihat itu.
" Terima kasih. " bisik Callista di telinga Nicho saat Mereka berdua sedang berdansa mengikuti alunan irama lagu yang diputar malam itu. Sangat merdu dan mendayu dayu.
Nicho menganggukkan kepala, menatap sekeliling. Dia mencari Teman Temannya itu.
" Mana sih Mereka ?? Awas ajah kalau sampai tidak hadir. " gerutu Nicho, tangannya terkepal. Callista menatap gemas ke arah Laki Laki yang kini sudah menjadi Suaminya itu.
Callista meremas jari jari Nicho, menelusupkan jari jarinya ke dalam jari jari Nicho.
__ADS_1
" Mereka mungkin sudah dalam perjalanan. Tidak mungkin Mereka tidak datang kan ??? " ujar Callista mencoba menghibur Suaminya yang semakin galau.
Dari arah pintu, di tengah tengah para tamu tiba tiba terlihat Al dan Yesline yang berjalan dengan mendorong sebuah kado paling besar.
Ukurannya hampir sama dengan ukuran brankas besar. Memikirkannya membuat saja membuat terkekeh. Nicho menarik tangan Callista mengajaknya menuruni panggung. Mukanya sangat antusias.
" Aku penasaran, apa sih ini ??? " tanya Nicho saat sudah berada di depan Al dan Yesline. Mata Nicho menyisir dari atas hingga ke bawah begitu juga Callista yang terlihat mengetuk ngetuk ujung kotak kado itu.
" Rahasia. Kamu yang harus buka sendiri. " tantang Al jail, Dia menatap Nicho dengan tersenyum miring.
Saat Laki Laki itu untuk membuka bungkusnya, Al sudah menyiapkan gunting besar untuk membuka kotak besar itu.
" Aaaaaa !!!! " Callista menjerit saat tiba tiba setelah kado terbuka seutuhnya, Dia melihat Teman Temannya sedang duduk melingkar dengan sebuah kue besar di tangan Mereka.
" Anjir !!! Kalian ngapain disitu ??? " pekik Nicho. Mereka yang disebut Nicho hanya tersenyum jenaka.
" Terkejut kan ??? " Clinton menimpali, Dia duduk disamping Clara. Saat turun, Dia membantu Wanitanya turun. Disusul Hans, Gabriel dan Leni. Gabriel turun terlebih dahulu dan membantu Leni untuk turun juga. Hans turun terakhir dan sendirian. Bibirnya mencebik ke bawah, Di Pernikahan Artis seperti itu harusnya begitu.
Clinton menatap Clara dengan tatapan aneh saat dirinya melihat Clara dan menarik tangannya menjauhi Hans.
" Aku naru sadar, Baju Kamu terlalu terbuka Clar. " kata Clinton. Dia membuka jasnya dan memakaikan di pundak Clara.
" Ini fashion Mas, Clinton. Emang modelnya begitu. Jangan tergoda, tubuhku memang indah. " seloroh Clara. Membuat Clinton menyentil sedikit hidungnya.
" Aku gak mau tubuh indah Kamu dilihat Orang, cukup Aku saja. " Clinton mengedipkan matanya dengan genit.
Whats ????
Clinton Gila !!
__ADS_1
Sedangkan Gabriel tidak henti hentinya menatap Leni.
" Kamu sangat cantik jika berpenampilan seperti ini, Feminim sekali dan sangat anggun. Besok pakai rok ajah jangan celana lagi ya ??? " goda Clinton bercanda.
Malam itu pernikahan berjalan lancar dan membahagiakan. Selamat buat Nicho dan Callista.
****
3 Bulan kemudian
Al memberikan hadiah tiket liburan gratis untuk Nicho dan Callista dan seluruh Temannya juga. Leni, Gabriel, Hans, Clinton dan Clara berada di resort miliknya di Bangka.
Mereka sudah tiba di Bangka dan sudah pergi ke kamar masing masing kecuali Hans yang masih asyik menatap senja di pinggir pantai. Dia sedang meratapi nasib. Seharusnya Dia tidak ikut liburan kali ini. Semuanya punya gandengan, Dia sendiri yang tidak.
Beberapa kali Hans hanya melempar beberapa kerang ke tengah lautan demi menghalau rasa bosan.
" Aduh !!! " pekik Hans kesakitan saat sebuah bola volly mengenai kepalanya. Dia bangun dari duduknya, mengambil boal volly itu dan membalikkan badan mencari tahu siapa yang telah melakukan itu.
" Maaf Mas, Saya tidak sengaja. " kata Gadis berjilbab hitam itu dengan senyum manisnya. Matanya tak berkedip menatap Hans yang sangat tampan, sedang Hans hanya melempar bola itu kembali begitu saja, tanpa menatapnya balik.
Jantung Gadis itu bertalu talu seperti menabuh genderang perang saat tiba tiba kata kata maut itu lolos begitu saja dari mulutnya.
" Aku mencintaimu karena Allah tapi dalam bahasa Islam. " teriak Gadis cantik berjilbab itu.
Hans langsung menoleh, Dia tau arti dari kata kata itu. Sedangkan Gadis itu langsung menutup mulutnya yang lancang.
" Ups, Sorry keceplosan. Permisi Mas. " Dia berlari meninggalkan Hans dan membawa bola volly itu kembali dan bergabung dengan Teman Temannya yang lain.
Disisi lain di dalam kamar, Nicho dan Callista sedang memadu kasih bersama. Saling menikmati satu sama lain, mendesah dan menggelinjang menikmati setiap sensasi kenikmatan yang memabukkan itu.
__ADS_1
Callista mencengkeram sprei sutra itu saat Nicho kembali menghujaninya dengan serangan penuh cinta. Callista membusungkan dadanya yang indah, peluh di seluruh tubuh sintalnya terlihat begitu menggoda, menjadikan Nicho mau lagi dan lagi.