
Wisnu dan Meriam sudah pergi menuju bandara. Meriam begitu kalut dan cemas. Takut terjadi apa apa dengan Hans. Di sepanjang perjalanan Wisnu hanya bisa melirik Meriam. Ia tahu kalau perempuan pujaan hatinya itu tengah memikirkan Hans. Sial! Ia sedikit tidak rela.
Kenapa Meriam sama sekali tidak bisa melihat kearahnya? Ia sudah lama memendam perasaan dan menunggu Meriam dalam waktu yang lama. Namun, apa yang ia dapat? Hanya sebuah kekecewaan.
Sejujurnya, Wisnu enggan mengantarkan Meriam untuk menemui pria itu, hanya saja ya sudahlah. Setidaknya ia bisa bersama dengan Meriam dalam waktu yang cukup lama.
"Tolong agak ngebut sedikit.'' lirih Meriam hampir tidak terdengar. Yang ada di dalam kepalanya hanyalah Hans. Meriam berdoa agara tidak terjadi hal buruk apapun kepada Hans.
Wisnu menghela nafas. "Baiklah." Ia pun menuruti Meriam dengan sedikit menaikkan laju mobilnya.
Cemburu. Ya, Wisnu begitu cemburu dengan kepedulian Meriam yang begitu besar kepada Hans. Hal yang sama sekali tidak bisa Wisnu dapatkan selama ini. Begitu sulit untuk membuat seorang Meriam mau menoleh kearahnya. Sebenarnya apa kehebatan pria bernama Hans itu? Wisnu mengeram di dalam hati.
Di tempat lain.
Hans tampak ngos ngosan keringat bercucuran dari pelipisnya. Hal itu wajar mengingat dirinya yang harus berjalan kaki sampai kesini. Ke pondok pesantren dimana Meriam berada.
Sungguh tidak disangka kalau mobilnya mogok ditengah jalan. Malah cukup jauh lagi. Ya, Tuhan! ini karma atau sebuah ujian.
"Aku harus segera bertemu dengannya.'' Hans bermonolog.
Pria itu pun mulai berjalan menuju gerbang pondok pesantren. Dengan cepat ia hapus sisa keringat yang terus mengalir.
*************
Tampak tiga orang yang tengah berkumpul. Keadaan agak sedikit tegang. Dua pria terlihat begitu penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Al.
Hening.
__ADS_1
Tidak ada satu pun yang berusaha memulai percakapan. Ketiganya hanya saling pandang. Akhirnya setelah hampir lima belas menit lamanya, Al pun mulai menarik nafas.
"Aku mau memperlihatkan kalian ini!'' Al menunjukkan sesuatu yang diyakini adalah surat. Bukan hanya satu surat, tetapi ada beberapa. Langsung saja Nicho dan Clinton melihat surat surat itu Mata keduanya seketika membola. Tidak percaya dengan apa yang sedang dilihat. Al belum berkomentar apapun. Ia maklum dengan reaksi keduanya. Karena sebelumnya dirinya juga begitu.
Surat surat tersebut adalah surat pernyataan Clinton menyerahkan club alexiz ke mami dan sudah ditanda tangani oelh Clinton.
"Bro! Jadi kamu hanya diam aja setelah melihat ini semua?'' Clinton mulai berujar. Ia tidak menyangka kalau isinya adalah surat yang tidak ia lihat dan ambil dari wanita iblis seperti mami.
"Sebelum aku bertindak dan melakukan sesuatu, Kamu sebaiknya harus mencari tahu dulu Clinton, siapa penghianat itu. Tidak mungkin mami bisa mendapatkan ini semua jika tidak ada orang dalam? menurutmu mami hantu yang bisa keluar masuk ke ruangan kamu tanpa ada yang lihat?'' tutur Al.
Clinton terdiam, Dia memikirkan setiap kata yang Al lontarkan. Dua otaknya mengambil kesimpulan bahwa yang dikatakan Al adalah benar.
"Sudah tahu, siapa yang berhianat itu?" selidik Al, matanya menelisik raut muka Clinton. Clinton mengangguk. Clinton saat itu juga hanya terpikirkan satu nama, tidak mungkin ada selain dia.
"Kamu urus deh, orang itu dulu. Baru lanjut aku pikirin gimana langkah selanjutnya. Karena kalau kamu sudah nemuin orang itu, urusannya bakalan lebih gampang lagi.'' Al berbicara begitu entengnya. Merasa sedikit lucu, karena dulu dirinya yang dibuat pusing oleh kelakuan para penjahat kurang uang itu, kini sahabat sahabatnya juga kena imbasnya.
"Kamu bulang, kamu nemuin berkas ini di dalam tas Suzan kan, jadi sudah pasti pelakunya hanya satu orang. Tapi, kenapa aku bisa terkecoh ya?'' Clinton merutuk dirinya sendiri.
Al terkekeh. "Ingat, umur sudah tidak muda lagi.'' cibir Al, sambil terkekeh pelan.
"Nyenyenyenye." Clinton menye menye, dia menirukan gaya bicara Al dengan nada bercanda.
Reflek, Al menoyor kepala Clinton. "Sialan, kamu! gak sopan bangat main noyor kepala orang aja. Ini punya nilai aset itnggi tau! Usaha aku sukses karena kepala ini." sombong Clinton semakin membuat Al terkekeh.
Kedua tangannya menangkup kepala Clinton dengan gemas, dan memijat mijatnya.
"Nih, sudah aku betulin. Omset perusahaan aku juga harus lebih melejit lagi bulan depan.'' lanjut Al.
__ADS_1
"Yaelah.... Kemaruk sekali anda! Uang sudah bejibun masih aja butuh omset tambahan.'' gerutu Clinton.
"Kalian, berantem aja mainnya. Serius dong.... aku lagi puyeng nih, Yang diincar mami itu keluargaku, mana bisa aku relain Callista begitu saja.'' Nicho ngamuk. Mendorong tubuh Al dan Clinton agak berjauhan, dan dia duduk di tengah tengah, diantara mereka berdua.
"Sabar.....'' Al menimpali.
"Kamu harus bertindak, Al. Ini gak bisa dibiarin.'' timpal Nicho. Seketika Nicho ingat dengan mami. Mami yang ingin dirinya meninggalkan Callista, Jelas hal itu tidak bisa. Nicho berharap agar Al mendapatkan solusi.
Ia tidak mungkin meninggalkan Callista, wanita yang dicintainya.
"Tenang semua. Aku ada rencana.''
"Rencana apa?'' Clinton begitu penasaran.
"Santai. nanti aku jelasin perlahan.''
Karena Al sudah berkata seperti itu, Clinton dan Nicho pun mengangguk setuju. Mereka percaya kalau Al pasti bisa memberikan yang terbaik. Tak lama, muncullah sosok Yesline. Yesline tampak terburu buru. Ia segera menghampiri sang suami.
"Mas, aku pamit ke rumah sakit dulu ya, mungkin pulangnya agak lama nanti.'' Yesline mencium sekilas bibir Al dan tak lupa menyalim tangan sang suami.
Sudah hampir tiap hari belakangan ini, Yesline pasti akan pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Suzan setelah selesai mengurus Azka. Mengingat Suzan sama sekali tidak memiliki sanak saudara. Jadi, Yesline lah yang akan menjenguk. Yesline sudah menganggap Suzan sebagai keluarganya sendiri. Lagipula, Ia juga tidak memiliki sanak saudara. Jadi mereka senasib. Yesline sangat tahu bagaimana rasanya tidak memiliki keluarga. Pahit sekali.
Al yang paham mengangguk kecil. "Hati hati ya, sayang.''
''Iya, Mas.''
Yesline pun membungkukkan badan kecil kepada ketiganya. Ia begitu bersyukur karena Al mau memahami keadaannya. Sungguh beruntung dia memiliki suami seperti Al. Al terus memperhatikan punggung sang istri sampai benar benar tidak terlihat. Senyum terbit di wajah tampannya. Hati istri yang paling dicintainya itu memang begitu baik seperti malaikat. Mungkin hal itu lah yang paling membuat Al tidak bisa lepas dari sosok Yesline. Sampai kapan pun, tidak mungkin ada sosok yang bisa menggantikan Yesline di hatinya.
__ADS_1
Clinton dan Nicho hanya diam memperhatikan keharmonisan rumah tangga salah satu sahabatnya tersebut.