
" Ayo, Cal. Kita makan dulu. " kata Nicho mengulurkan tangannya.
" Mau makan disini ??? " Callista memicingkan matanya, melihat testoran di depannya yang menjajakan begitu banyak menu makanan Indonesia dengan harga terjangkau. Meski beberapa saat hujan reda, tapi suasananya begitu ramai.
" Kamu tau saja kalau Aku lagi pengen makan bakso. " katanya dan tiba tiba matanya terlihat begitu bersemangat.
" Tahu. Lah ......... " Nicho menyahut dengan PD. Padahal Dia hanya menebak saja. Suasana hati Callista sedang tidak bagus, Kalau Nicho pribadi, Dia pengen makan bakso kalau lagi galau. Kebetulan sekali kalau tebakannya itu benar.
" Nanti Kita bersenang senang sebentar sebelum pulang ke Apartemen. " kata Nicho. Callista menerima uluran tangan Nicho, sebelah tangannya lagi menggamit jacket Nicho. Suasana dingin tapi Callista lupa memakai baju tebal. Dia hanya memakai legging ketat hitam dan gaun pendek berlengan sesiku warna merah.
Nicho menutup pintu mobil, lalu membantu Callista mengenakan jacketnya kembali. Sebelum ke pasar malam, Nicho mengajak Callista makan di sebuah Restoran makanan Indonesia. Disana ada menu makanan bakso urat khas Indonesia. Callista ingin makan bakso dan Restoran ini cukup terkenal.
Mereka duduk di meja dekat dinding kaca. Callista memesan bakso urat, es kepala muda dan sate kambing satu porsi. Sedangkan Nicho memesan nasi goreng seafood, es teler dan iga sapi bakar dan juga beberapa makanan ringan seperti gorengan. Malam itu entah kenapa Mereka ingin makan banyak.
" Makanan disini enak, Kamu tau dari manan, Cho ??" tanya Callista tiba tiba.Mood Wanita di depannya begitu cepat berubah, hanya karena makanan. Tahu gitu, sudah diajak makan dari tadi.
" Dari geogle. " jawab Nicho asal sambil nguyah nasi gorengnya.
" Oh ... " Callista menganggukkan kepalanya.
Nicho meneguk minumannya, matanya melirik ke arah Callista yang kinj sedang meniimati es krim. Pada sisi bibirnya, ada tertinggal sisa es krim. Tangan Nicho bergerak mengambil tissue dan mengelap bibir Callista yang belepotan. Wanita itu sedikit mendongak menatap mata coklat Nicho yang menawan, rahangnya yang sedikit terbuka, menampilkan bibirnya yang terlihat seksi.
Callista segera menundukkan pandangannya. Meraih tissue yang dipegang Nicho dan mengelap bibirnya sendiri.
" Terima kasih. " ucapnya datar.
" Kamu itu model terkenal, tapi cara makanmu masih belepotan. Kalau ada paparazi bisa dijadiin gosip itu. " kata Nicho. Dia sudah selesai menghabiskan semua makanannya.
" Gak sengaja, Cho. Biasanya kalau Aku makan rapih dan bersih kok. " dalih Callista, menyudahi makan es krimnya. Dia mengeluarkan kaca kecil dari dalam tasnya. Dia melihat wajahnya di kaca dan melihat bibirnya sudah bersih. Callista memasukkan kembali kaca itu ke dalam tasnya.
" Ayo pulang. Aku sudah kenyang. "
" Ayo. " Nicho bangkit. Berjalan ke tempat kasir dan langsung membayar tagihan Mereka. Dalam perjalanannya menuju mobil, Callista menggamit tangan Nicho tanpa sadar. Nicho hanya diam saja diperlakukan seperti itu. Membiarkan Callista menikmati malam itu.
Callista dan Nicho masuk ke dalam mobil. Nicho mengemudikan mobilnya menuju pasar malam yang sudah biasa diadakan disana.
__ADS_1
Menghadapi kesedihan Wanita disampingnya, Nicho berjanji akan selalu menemaninya. Sebagai Seorang Teman yang baik. Karena saat ini status Mereka hanya itu. Entah nanti, takdir siapa yang tau.
*******
Setelah mengunjungi Yesline di taman, Mamanya memutuskan untuk menjenguk Papa Leni dan diantar oleh Leni. Sedangkan Hans juga mau pulang karena masih ada pekerjaan, Tapi Dia menunggu Clinton terlebih dahulu.
Clinton lagi minta ijin untuk mennjemput Clara di kantornya disambut candaan dari Teman Temannya yang disana.
" Udah, Halalin ajah ... Keburu ditikung sama Hans tuh ... " canda Al disertai gelak tawa. Matanya melirik ke arah Hans yang melihat ke Al dengan tatapan gak jelas.
" Iya, Mas Clinton suka sama Clara kan ??? " kata Yesline menimpali. Sengaja mengabaikan Hans. Dia hanya ingin menggoda Temannya itu.
" Nantilah. Baru juga kenal. Emang Kalian, Baru juga kenal sudah langsung enak enak dan langsung nikah. " balas Clinton.
Yang langsung disambut kepalan tangan Al yang siap meninjunya.
Yesline hanya tertawa dan berkata.
" Itu namanya jodoh. "
" Kalian gak adil !!! " kata Hans tiba tiba. Mensedekapkan tangannya dan menarik tubuhnya membelakangi Mereka.
" Woe, Hans. Masa Kamu mau nikung Teman Kamu sendiri ??? " sergah Clinton.
" Ya, gak. Kan Kalian belum resmi berhubungan, jadi masih ada jalan menuju Clara. " kata Hans sambil menyeringai.
" Awas ajah kalau Kamu berani. " Clinton mengulurkan kepalan tangannya serta memasang wajah garangnya.
Hans hanya menanggapinya dengan acuh tak acuh.
" Tuh, Leni masih jomblo. Kamu dekatin Dia ajah. Sesama Teman tidak baik tikung menikung. " bisik Yesline.
" Lenk juga sasarankj. " jawab Hans malu malu kucing. Dia mengusap rambutnya dengan pelan.
" Huh, dasar. " kata Yesline menyikut lengan Hans.
__ADS_1
Disusul Clinton yang menggamit lengan Hans dan mengacak acak rambutnya dan Al yang merangkul Yesline hanya tertawa menatap kedua Temannya itu.
*****
" Ini buat Kamu. " kata Al yang tiba tiba memakaikan sebuah jam tangan ke pergelangan tangan Yesline. Ini sudah malam dan kira kira jam 8 malam.
Al duduk disamping Yesline.
" Apa ini Mas ?? " tanyanya. Dia tahu itu jam, tapi kenapa Suaminya tiba tiba memberikan Dia jam tangan ?? Yesline sedikit mengerutkan keningnya.
" Aku memesan jam tangan ini khusus buat Kamu. Ini bukan jam tangan biasa, Dia akan mengirim sinyal kepadaku jika Kamu dalam keadaan bahaya. Jika tiba tiba detak jantungmu melemah dan Kamu kembali pingsan saat kelelahan, atau saat Kami dalam bahaya yang lain. Jam itu sudah terhubung ke ponselku. " jawab Al.
Yesline mengangguk mengerti dan senyum ke Suaminya itu.
" Makasih ya, Mas. " jawab Yesline.
Al mengangguk lalu tidak lama kemudian bibirnya sudah melingkupi bibir Yesline dengan sangat intens. Tangan Yesline mencengkeram pinggang Al, Dia menikmati ciuman panasnya malam itu.
Al kembali menemani Yesline tidur diatas ranjang Rumah Sakit yang tidak terlalu lebar itu. Al menempelkan tubuhnya ke tubuh Yesline, memeluknya dari belakang.
" Besok Aku akan tanyakan perkembanganmu ke Dokter genit itu. Kalau dilihat secara langsung, sepertinya kondisimu sudah membaik. " kata Al sambil mencium cium rambut Yesline yang wangi.
" Dia genit ??? " tanya Yesline usil. Mengulangi kata kata Suaminya yang terdengar sedikit aneh.
" Iya. Lah .... Dia sok ngasih perhatian sama Kamu. Yang dikasih perhatian gak nolak lagi !!! " jawab Al menyindir Yesline.
" Bukan gitu Mas. Aku hanya menghargai usahanya yang sudah membawakan makanan sehat untuk Calon Anak Kita. Aku kan tidak sengaja mendekatkan diri atau berlebihan dalam menanggapinya. Aku hanya memakan makanan yang bisa memberi nutrisi dan vitamin untuk calon Bayi Kita. Itu saja. Aku tau batasanku, Mas. Tapi menolak rejeki itu gak baik, mungkin Mereka ingin menolong karena menganggap Aku butuh pertolongan. Jangan melihat setiap sesuatu dari sisi buruknya, cobalah lihat dari sisi baiknya, Mas. Seperti waktu Aku tinggal di Apartemen Nicho, Itu juga bukan Aku sengaja meminta pertolongan, bukan. Karena Nicho sempat melihatku pingsan di rumah Mama. Aku dalam kelaparan dan sangat lemah. Dia menawarkan bantuan dan Aku menerimanya. Karena Aku tidak mau hanya karena keegoisanku, Calon Bayimu ikut sakit juga. Aku sedang marah dan kesal serta kecewa sama Kamu waktu itu Mas. Disanapun Aku tidak perha melakukan hal hal yang buruk. Aku benar benar menjaga diri dan jarak. Nicho merawatku dengan baik. Aku bukan Wanita gampangan yang dengan sengaja mencari atau mau dengan semua Lelaki, Meski Aku kerja di club malam. Sekali lagi, Jika Kamu mau melihat semua hal dari sisi baiknya, maka Kamu akan bersyukur, Karena dimanapun Aku berada, Tuhan selalu mengirim Orang yang bersedia menjagaku dengan baik. Disaat Kamu tidak disisiku untuk melakukannya. Aku mencintaimu dengan tulus, Mas. Tolong jangan ragukan itu. " Yesline berbalik dan mencium Al. Lengan Al menarik tubuh Yesline semakin mendekat.
" Maafkan Aku. " bisik Al lirih.
Bibir Mereka menyatu dan saling menikmati satu sama lain. Malam semakin larut dan Mereka semakin bergairah. Namun, Al melepas ciumannya setelah ingat bahwa Yesline belum pulih total, Dia takut perutnya akan keram lagi. Memasuki usia kandungannya yang semakin besar akan semakin rawan.
Yesline merasa kecewa karena Al melepas ciumannya.
" Kenapa berhenti ??? "
__ADS_1