
Hallo semuanya .....
Jangan lupa mampir di novelku yang berjudul semua karena kamu ya .... Bantu komen, likenya Dear ....
Happy readiing ....
" Apa kalian dari rumah sakit Kasih? " tanya Al ingin memastikan.
Kedua dokter itu mengangguk serentak. Membuat Al berdecih kesal.
" Sial! Jadi ini ulah Gabriel! Dan Nicho mau saja di ajak kerjasama? Meski yang dia katakan benar juga, demi keuntungan dan kebaikan untuk rumah sakit ini, tapi bisa gawat kalau Yesline tahu. " Al mulai cemas.
" Ini sudah saya tanda tangani, bekerjalah dengan baik. " Al memberikan dokumen itu dan tersenyum ramah. Kedua dokter itu menerima dokumen mereka. Tak lupa membalas senyum manis Al. Mereka terkagum kagum dengan kegantengan Al.
" Dokter ganteng sekali sih. " celetuk salah satu dari mereka, membuat Al tersipu.
" Iya, memang saya ganteng. Sudah sana kembali bekerja. Jangan lihatin saya saja disini. " Al mengusir mereka pergi, tapi malah yang diusir malah tak bergeming dan cengengesan memandangi Al.
" Mas! " panggil Yesline dengan wajah kesalnya.
Al menoleh, dia sangat mengenali suara istrinya.
" Hai, mau ngajak Mas makan siang ya, ayo! " Al langsung merangkul pundak istrinya mengajaknya pergi, sebelum Yesline meledak, memarahi kedua dokter itu dan membuatnya malu.
" Tapi, Mas! "
" Sudah, ayo! Azka pasti juga sudah lapar ya, sayang? "
Azka mengangguk saja, seperti tahu kedipan mata Ayahnya yang memberikan kode.
Sementara dibelakang Al, dua dokter tadi masih saja ngerumpiin Al dan istrinya.
__ADS_1
" Istrinya cantik bangat. Masyaallah ... "
" Iya, Dokter Al juga ganteng bangat. Sayang sudah punya istri. "
" Itu anaknya juga kenapa ganteng bangat, sih! Jadi gemes! "
" Semoga aja nanti suamiku seganteng itu ya, Allah. "
" Amin, udah ayo kerja lagi. Ngehaluin dokter Al gak bikin kita gajian dan kenyang. " salah satu dokter itu menarik tangan temannya dan kembali melakukan tugas masing masing.
*****
Di Restoran.
Hans merasa canggung seperti ini makan berdua dengan Meriam. Sedang wanita di depannya sedang asyik menikmati makanannya. Hans melirik sekilas, belum ada pembicaraan apapun yang keluar dari mulut Hans. Padahal banyak yang ingin ia bicarakan dan tanyakan. Sedari tadi saja, dia hanya memegang sendok dan garpu itu tanpa menyentuh makannya.
Meriam baru menyadari kecanggungan Hans, wanita itu terkekeh.
Hans masih tidak bergeming, dia malah mengambil minumannya dan meneguknya dengan cepat.
" Langsung nikahin aku aja, nanti kamu jadi halal lihatin aku sepanjang hari, kalau sekarang cuma dapat dosanya aja, Mas. " Meriam mengatakan sesuatu yang menohok ulu hati Hans, membuat laki laki itu menelan salivanya. Wanita itu sampai keceplosan memanggil Hans dengan panggilan Mas.
Hans menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.
" Iya, aku mau mempertimbangkan ajakan taaruf dari kamu. Kemarin aku sudah baca CV yang sudah kamu titipkan ke mama tempo hari. " Hans mengutarakan maksudnya. Padahal tadi mau bilang dia sudah menerima ajakan taaruf dari Meriam, kenapa yang ia lontarkan adalah mempertimbangkan? Hans menepuk jidatnya pelan.
" Terus? " Meriam menimpali.
" Ya, kita mulai saling mengenal dulu. Kalau aku merasa cocok nanti kita lanjut. " Hans masih kaku mengatakannya.
" Arghh!!! kenapa sih gak bisa berbicara atau merayu dengan normal seperi dulu dulu, Hans! " geramnya dalam hati kepada diri sendiri.
__ADS_1
Tiba tiba ekspresi wajah Meriam berubah, pandangannya tertunduk.
" Mas, " panggilnya.
" Iya? " Hans menyahut, wajahnya ikut serius.
" Aku senang kamu sudah mau menerimaku, meski kamu masih canggung mengatakannya. Tapi, minggu depan aku akan ke Jogja. Papa memintaku pulang untuk memberikan jawaban atas lamaran mas Wisnu kepadaku. Menurut kamu, aku harus memberi jawaban apa, Mas? "
Glek!
Hans kembali menelan salivanya. Dia harus memberikan jawaban apa? Apa tidak apa apa kalau dia bilang langsung untuk menolak Wisnu saja? Atau apa? Hans bingung.
" Aku sebenarnya juga ingin menanyakan hal itu. Sebenarnya apa hubunganmu dengan Wisnu? Kenapa dia tiba tiba bisa melamarmu? "
Mendengar itu malah membuat Meriam tertawa jenaka.
" Kamu lucu, Mas. Pertanyaan kamu itu aneh. Kalau kamu ingin bertanya soal Mas Wisnu yang tiba tiba melamarku, Kamu tanyakan ke beliau langsung. Tapi kalau kamu mau tahu kenapa aku yang tidak mengenalmu sama sekali bisa melamarmu, aku akan kasih tahu jawabannya. Sejak pertemuan pertama kali kita di Bangka, aku sudah menyukaimu, Mas. Dalam hati aku berjanji, jika kelak kita dipertemukan lagi, berarti kita jodoh. Dan kenapa aku langsung mengajukan lamaran tanpa menunggumu mengenalku dulu? Sebelum aku bertemu kamu, aku pernah begitu mencintai seseorang, dia juga mencintaiku. Tapi kami saling menjaga jarak karena salah paham dengan perasaan masing masing. Dia kira aku suka dengan yang lain, begitu juga sebaliknya. Diantara kami, tidak ada yang berani menyatakan cinta terlebih dulu. Dia hanya laki laki biasa, mungkin itu yang membuatnya merasa canggung. Sampai akhirnya dia dijodohkan oleh orang tuanya dengan pilihan mereka, dia tidak bisa menolak. Aku kehilangan dia, dia juga kehilangan cintanya. Yah, meski semua adalah takdir. Aku hanya tidak ingin kehilangan orang yang aku suka lagi, Mas. Aku punya cita cita bisa menikah dengan orang yang aku suka, dan dia juga menyukaiku. Tapi jika papa sudah memberi keputusan, aku juga tidak bisa berbuat apa apa. "
Hans terdiam.
" Aku tidak tahu, apakah aku sudah menyukaimu atau belum. Aku hanya tidak rela kamu menikah dengan yang lain. " ucap Hans lirih.
Meriam tersenyum. Ada rasa senang yang membuncah di dalam dadanya. Namun, wajahnya kembali sendu.
" Jika kamu mulai menyukaiku, datanglah minggu depan ke Jogja, katakan kepada papa kalau kamu mau menikahiku. Jika kamu masih terlalu lama berpikir, dan tidak memiliki jawabannya esok hari, aku tidak bisa memastikan apakah ajakan taaruf dariku masih bisa berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Karena sebesar apapun perasaanku padamu, akan tetap kalah dengan laki laki yang berani memintaku kepada papaku langsung. Mengucap janji sakral di pelaminan. Menjadikanku istrinya, Dialah laki laki yang akan memenangkan aku, Mas. "
Hans semakin terdiam, dia membeku, bingung.
Mereka menyelesaikan acara makan itu dengan hening, tanpa ada obrolan lain. Hans mengantar Meriam pulang ke Apartemennya. Hans hanya menatap dari belakang punggung Meriam yang mulai menghilang masuk ke dalam apartemen.
Itu lumayan sulit baginya. Harus menentukan jawaban dalam tujuh hari?
__ADS_1
Hans memukul bemper mobilnya beberapa kali, merasa kesal dengan semuanya.