Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 210


__ADS_3

Pagi ini seiisi pondok dibuat heboh oleh ulah Al, karena kondisi Yesline yang muntah muntah terus tadi pagi. Membuat Al kasihan dan heboh sendiri mengumpulkan para sahabatnya di dalam kamarnya terkecuali pengantin baru, Apalagi sang putra Azka terlihat sangat mandiri sekali membantu memijat tangan Yesline.


"Bini kamu mungkin hamil lagi kali?'' celetuk Gabriel.


Membuat orang orang yang berada disekitar menatap Gabriel.


"Hamil!!'' kompak dan serentak kata kata itu keluar dari mulut para geng kampret termasuk Yesline yang sedikit terkejut.


"Kamu ini gimana sih, Al? Istri hamil masa gak tau!'' cibir Gabriel kepada Al yang nampak bingung dengan kondisi Yesline. Suara Yesline yang memuntahkan isi perutnya masih terdengar jelas dari luar kamar.


Para sahabat itu melingkar di kursi ruang tamu. Clinton menyilangkan kedua tangannya di dada. Matanya menatap Al, yang mondar mandir di depan pintu.


"Udah gak usah panik, Ada Dokternya nih. Biar Gabriel periksa Yesline, Al. Bukan ranah kamu yang dokter jantung soalnya." Clinton menimpali.


"Aku gak yakin, Gabriel bisa profesional. Nanti aja biar diperiksa sama dokter di rumah sakit aku." jawab Al.


Gabriel berdecak kesal. ''Ck! Sialan kamu!''


"Ribut terus...... Gak ingat umur ya kalian ini!" Nicho ikut berkomentar.


Callista pergi ke dapur, dia berinisiatif untuk membuatkan Yesline teh hangat, dulu dia merasa mendingan setelah habis muntah muntah. Nicho yang melihat Callista ke dapur, mengikutinya dari belakang.


Sedang Clinton mulai menguap, dia mengantuk. Itu masih jam tengah malam dan Al membangunkan mereka semua. Rada gila emang tuh dokter.


Melihat Clinton sudah menguap berkali kali, Clara langsung memijat pundak Clinton pelan. Gabriel yang melihat Clinton di pijat, membuatnya ingin dipijat juga. Gabriel menjawil hidung Leni.


"Ada apa, Mas?" tanya Leni yang masih asyik dengan ponselnya. Dia sedang sibuk melihat banyak gambar gambar bayi lucu dari kemarin. Leni ingi bayi perempuan lucu. Biar nanti bisa besanan sama Yesline. Dia mau mantu ganteng kayak Azka.


"Sayang, mau dong dipijitin juga. Pegal, nih." Gabriel mengedipkan matanya dengan sebelah tangannya menepuk nepuk pundaknya yang pegal.


Clinton menertawakan Gabriel, Dia semakin ingin menggoda Gabriel.


"Jangan mau, Len. Masa niru niru. Yang kreatif dong.... Pak konglomerat." canda Clinton.


Muka Gabriel sudah memerah, Dia menghampiri Clinton dan memukul lengan Clinton sedikit kuat.


"Rese, kamu!!" umpat Gabriel.


Leni meletakkan ponselnya di pahanya. Dia tak konsen dengan apa yang sedang mereka ributkan.

__ADS_1


"Mas sini sini? Aku pijitin, Duh.... kasihan suamiku." Leni melambai memanggil Gabriel. Dan Gabriel mendekat seperti anak kecil yang nurut dipanggil ibunya.


Pintu terbuka, Yesline keluar dengan muka lesunya, dia lumayan lemas. Al membimbingnya ke tempat tidur. Callista datang dan memberikan teh hangat yang sudah ia buat. Al membantu memegangi cangkirnya sementara Yesline meneguk beberapa kali isinya.


"Terima kasih, Callista." Yesline mengatakannya dengan sedikit lemah. Dia berbaring di ranjang.


"Terima kasih ya Call." Callista menganggukkan kepala untuk keduanya.


"Kita pulang aja ya, sayang? Kondisimu sedang butuh banyak istirahat." Al membelai pipi istrinya. Dia tidak tega melihat Yesline seperti itu. Azka yang tadi masih tidur, tiba tiba bangun, dia mengucek ngucek matanya pelan, dan langsung merangkak ke pelukan Yesline.


"Mama kenapa?" tanyanya begitu perhatian. Yesline tersenyum dan membalas pelukan Azka.


"Mama hanya sedikit pusing dan lemas." katanya sedikit manja di depan Azka.


Azka mengerti, dia hanya memeluk Yesline erat tanpa bertanya apa apa lagi. Al mengelus punggung Azka.


Gabriel yang melihat Al hendak mau menelpon, dia menawarkan diri.


"Kita pulang pakai jet pribadi aku aja." usul Gabriel. Clara dan Clinton sedari tadi hanya memperhatikan dan akan memberi pendapat jika sudah diperlukan.


"Enggak!!! Aku punya jet pribadi sendiri." Al menolak ajakan Gabriel, dia juga punya jet pribadi.


Yesline meraih tangan Al dan mengatakan sesuatu.


"Mas, boleh gak kita pulangnya pakai jet milik Gabriel aja?" tanya Yesline dengan hati hati. Raut wajah Al langsung berubah tetapi karena yang minta Yesline, dia tidak akan marah.


Gabriel tersenyum senang karena tiba tiba Yesline lebih memilih jet miliknya.


"Ya udah deh, Kita ijin ke Hans juga Ibu dan Ayahnya dulu."


"Biar aku yang wakilkan. Kamu jaga Yesline." Nicho menawarkan diri.


Dia keluar ruangan dan langsung bergegas menuju rumah Meriam. Nicho dan Callista bergandengan tangan sepanjang jalan.


"Assalamualaikum,'' kata mereka sesaat setelah mengetuk pintu. Tak butuh waktu lama, pintu pun terbuka dan terlihat wajah Hans dengan rambut masih basah.


"Cie.... yang sudah ehem ehem," goda Nicho. Hans nyengir, sembari mengajak mereka duduk di kursi tamu. Meriam yang baru turun dari tangga dengan langkah tidak biasa, daerah intinya masih sedikit nyeri, Meriam jalan seperti pinguin. Tapi dia tetap berusaha menghormati tamu dan langsung menghampiri dan menyapa mereka, Callista sempat sedikit mengajak mengobrol.


"Kamu suka gak sama hadiahnya?'' tanya Callista. Dia dan Meriam duduk di sofa, berjarak dengan kursi tamu.

__ADS_1


"Suka kok, Wangi parfum dari kakak sip abis." jawab Meriam sambil tersenyum kecil. Dia kembali mengingat kejadian malam itu. Membuatnya senyum senyum sendiri. Callista menjawil lengan Meriam. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Meriam.


"Mer, masih sakit ya?'' tanya Callista. Meriam melihat sekeliling, di rasa aman, dia langsung menganggukkan kepalanya dengan malu.


"Gak usah malu, aku juga dulu gitu, kamu masih bisa jalan, aku udah kayak robot tau gak,'' kata Callista, disambut tawa renyah dari Meriam.


Beralih ke Nicho dan Hans yang duduk berdua.


"Hans, aku dan teman teman mau pamit, nih. Terima kasih atas jamuannya yang begitu hangat." ucap Nicho.


"Sama sama, Terima kasih juga, kalian semua sudah mau datang tepat waktu meski aku mendadak ngasih tahunya."


"Iya, besok besok jangan gitu lagi. Aku sama Callista lagi anu jadi harus terputus," protes Nicho yang langsung membeku dan menghampiri Ayah Meriam lalu menjabat tangannya.


Laki laki paruh baya itu duduk di kursi paling dekat dengan pintu masuk. Mereka mengobrol banyak hal. "Baiklah, Hati hati ya, Nak." ucap Ayahnya Meriam.


Nicho dan Callista kembali ke rumah tempat mereka menginap.


Clara dan Leni sudah selesai mengemas semua baju dan barang bawaan mereka semua ke dalam koper.


Gabriel berdiri di dekat jendela. Matanya melongok keluar menatap awan.


"Baru pukul 4 pagi,'' gumam Gabriel.


"Iya, tapi buruan. Jet kamu mana sih, kok belum datang?" tanya Al dengan intonasi yang sulit diartikan.


"Jangan mulai deh, kamu pikir kita sedang terjebak di film. Pesawat yang banyak fantasinya itu, tunggulah, sabar dikit napa!" Gabriel menengok ke arlojinya.


"Kalau punya aku kan cepet tuh, 20 detik sampai." bantah Al.


"Ngarang! Kamu! Mana ada! Kamu pikir, kamu punya portal pindah tempat? Ngehalu banget sih dari tadi, gak jelas kamu, Al!''


Al tertawa, begitu juga Yesline dan yang lainnya.


Leni menghampiri Yesline, dia khawatir dengan kondisinya.


"Kamu baik baik saja kan?''


Yesline mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2