
Leni terlihat baru saja keluar dari Rumahnya dengan menenteng helm sport miliknya. Dia memakai jaket motor warna hitam membuatnya gayanya terlihat tomboi dan sangar. Leni menaiki motor hearleynya.
Sebelum memakai helm, Dia mengibaskan rambut sebahunya itu layaknya seperti yang di film flm itu. Papanya sudah sembuh jadi hari ini Dia akan mulai kerja lagi di rumah Al. Menjaga Yesline dan Mamanya.
Embun pagi masih begelayut mesra, menempel pada dedaunan. Udara pun masih berkabut, dan hawa dingin membuat tubuh meremang. Papa Leni sedang menikmati kopi panasnya dan membaca koran di depan rumahnya, menatap motor Leni yang sudah melewati gerbang. Entah kenapa tiba tiba Alki Laki garang itu teringat kata kata Hans.
" Bagaimana jika itu membuat Leni lama mendapatkan jodohnya, Om ??? "
Papa Leni berusaha mencermati kata kata Hans. Perawakannya yang kalem dan tenang membuat Laki Laki itu untuk mempertimbangkannya untuk menjadi jodoh Leni. Meski Hans tidak pernah atau belum mengatakan untuk menjadi Pasangan Leni. Papa Leni sadar, Leni berbeda dari Wanita pada umumnya.
Disisi lain, Leni mengendarai motornya dengan pikiran hang melayang kemana mana. Perkataan Papanya benar benar sangat mengganggu pikirannya. Bagaimana bisa sang Papa langsung klepek klepek sama Hans ??? Padahal baru sekali ketemu.
" Len, kalau ada waktu Kamu bilang sama Hans suruh kesini. Papa mau bicara empat mata. " kata Papanya yang tidak langsung di iyakan oleh Leni.
" Mau bahas yang kemarin, Pa ??? " tanya Leni dengan gugup. Seperti sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran Papanya itu.
Melihat Leni gugup, membuat Papanya malah tertawa. Lalu sesaat menjeda tawanya, tangannya terulur meraih kopi di atas meja. Menganggkat cangkirnya dan meneguk isinya. Membuat tubuhnya terasa hangat di pagi buta yang dingin seperti itu. Setelah meletakkan kembali cangkirnya di atas meja, Dia kembali melanjutkan perkataannya.
" Memangnya kenapa kalau iya ??? Hans baik, kalem dan pekerjaannya juga sudah mapan. Wajar kalau Papa ingin mendekatkan Kamu sama Hans. " jawabnya.
Lebi mengeryit, alisnya tertaut. Menatap kesal Papanya karena yang terlalu to the point. Tanpa menjawab apa apa, Leni langsung bangkit dari duduknya sambil tangannya menyambar helm.
" Terserah deh, Pa. Leni mau berangkat kerja dulu. " pamit Gadis cantik berambut sebahu itu dengan muka masam.
Leni malu, Dia tidak mau Papanya membahas hal itu dengan Hans. Mereka belum pernah dekat sebelumnya. Dan bagaiman jika Hans sudah pacar, gebetan atau bahkan calon Istri ??? Jika seperti itu, berarti Papanya membuatnya menjadi Wanita kejam yang merebut Hans dari Kekasihnya.
Leni bergidik, Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat dan memfokuskan kembali pandangannya ke jalan.
__ADS_1
Tapi tiba tiba, Ccciiiiittttt .....
Leni mengerem motornya tiba tiba. Roda depan motornya meliuk menabrak bemper mobil di depannya. Mobil hitam di depannya itu berhenti mendadak atau karena Leni yang melamun sampai tidak menyadari jika fi depannya lampu lalu lintas sudah berubah warna merah. Otomatis mobil dan kendaraan berhenti. Tabrakan tadi menimbulkan suara keras.
Kedua tangan Leni mencengkeram setir motornya dengan kuat, tubuhnya condong ke depan, ikut menahan tekanan. Bokongnya terangkat, berjarak dengan jok motor. Roda belakang motornya kembali menjejak di aspal, setelah beberapa saat terangkat ke atas.
Seorang Laki Laki keluar dari dalam mobilnya, menatap ke arah mobilnya yang penyok. Matanya melotot merah, sudah siap menyembur Leni dengan amukan garangnya.
" Astaga !!!! Apa yang Kamu lakukan dengan mobilku ??!!! " sentaknya, mengundang perhatian dari para pengendara lain. Tapi Mereka hanya menonton tanpa melakukan apa apa. Ada yang berlalu begitu saja melewati Mereka berdua.
Leni masih berusaha menguasai dirinya. Dia membuka helmnya, sebelah tangannya mengusap rambutnya kebelakang. Lalu menatap Laki Laki di sampingnya dengan rasa bersalah.
" Maafkan Saya, Pak. Saya tidak sengaja. " kata Leni sambil nyengir. Kedua telapak tangannya mengatup di depan dadanya.
Sebelumnya mata Pria di depannya masih merah padam, sampai kedua bola matanya menatap dalam ke arah Leni berada. Amarah itu sedikit berkurang, meski suaranya masih terdengar kesal.
" Mobil ini tidak akan kembali mulus dengan hanya kata maafmu! Kamu harus tanggung jawab !! " katanya dengan keras.
Leni turun dari motornya, kembali menatap wajah itu sambil mengingat ingat, dimana Mereka pernah bertemu sebelumnya.
" Oh, Iya. Di Rumah Sakit!! " gumamnya.
" Kamu .... " belum selesai Leni bicara, Gabriel langsung menyelanya.
" Apa ??? " tantangnya dengan menjentikkan dagunya ke depan.
" Kamu tidak boleh kemana mana, Kamu harus ikut Saya ke bengkel dan membayar semua biaya perbaikannya !! " tandasnya lagi.
__ADS_1
Mata Leni masih terus fokus menatap ke arah Gabriel. Leni sampai tidak protes ketika tangannya di tatik masuk ke dalam mobil.
" Sepertinya Dia tidak menyadari kalau Aku kenal dengannya. " gumam Leni.
" Ah, sudahlah. Malah bagus ... Pura pura tidak kenal saja. "
Gabriel menyalakan mesin mobilnya dan membawa mobilnya melaju dengan cepat menuju bengkel.
" Saya akan bayar semuanya, jangan khawatir. " kata Leni melipat kedua tangannya di dada. Mengarahkan pandangannya ke depan. Dia tidak mau Dokter reseh itu meremehkannya.
" Harus itu !!! Karena Kamu mobilku rusak!! " sergahnya.
Tidak sengaja Leni menatap wajahnya yang kelihatan semakin tampan saat marah. Tapi marahnya kali ini berbeda saat dihadapan Al kemarin. Leni tidak tau kenapa.
" Kamu juga berhenti mendadak. Kamu lihat kan ??? Motorku juga rusak!!! Seharusnya Kita sudah impas. " mata Leni menelisik menatap Gabriel dari ujung sepatu hingga ujung rambut.
" Saya kira Kamu juga bukan Orang yang tidak mampu untuk membayar biaya service mobil. " sindir Leni menatap Gabriel dengan tatapan meremehkan.
" Kamu yang salah. Kamu yang harus bertanggung jawab, Meski Aku mampu jika sekarang harus membeli mobil baru." sombongnya dengan angkuh.
" Dasar sombong !! Tapi masih butuh dana Orang lain! " cetus Leni semakin kesal.
" Orang ini ganteng, tapi nyebelin. Songongnya minta ampun, minta di tonjok. " gumam Leni geram.
" Aku tidak suka membiatkan Orang yang salah tidak mendapatkan hukumannya. " jawab Gabriel dan mengatakan hal itu sepertinya benar benar tidak ditujukan untuk Leni. Matanya menatap jauh melewati kaca mobil.
" Seharusnya sebelum Kamu melihat kesalahan Orang lain, dan memberikan hukuman kepada Mereka, Kamu cari tahu dulu, kenapa Mereka bisa berbuat salah. Karena setiap Orang punya alasannya. Bisa jadi karena Kamu berhenti mendadak Aku jadi menabrak mobil Kamu. Meski Aku salah, tapi Kamu juga salah. Cari tau dan selidiki dulu, apa memang Orang yang ingin Kamu beri hukuman itu benar benar salah atau tidak ??? " Entah kenapa Leni jadi ingin memarahi Laki Laki itu. Geram juga lama lama melihat sifatnya itu.
__ADS_1
Gabriel tidak menjawab perkataan Leni itu, Tapi otak dan hatinya berusaha mencerna setiap kalimat yang Leni lontarkan barusan.
" Apa memang perlu Aku menyelidiki semuanya sendiri ???"