
Di club Alexiz, Mami berjalan mondar mandir. Dia takut apakah terjadi sesuatu dengan Callista. Mereka janjian untuk ketemu hari ini tapi sampai malam Callista belum datang juga. Karena panik ponsel Callista tidak bisa dihubungi, Akhirnya Mami meminta anak buahnya untuk menyelidiki dimana keberadaan Callista dan bagaimana keadaannya. Mami juga mengutus beberapa Orang untuk menyelamatkan Rizky.
******
Al masih menangis histeris diruangan Papanya itu.
" Papa .... Jangan pergi Pa... !!! " suara tangisan Al menggema menembus tembok ruangan itu.
Tubuh Papanya sempat menegang, Alat pendeteksi detak jantung menampilkan garis lurus panjang pada monitor itu membuat kaki Al lemas. Al menekan tombol darurat berkali kali.
Yesline yang dari tadi menunggu di depan ruangan langsung membuka pintu dan berlari mendekati Al. Laki Laki gagah itu tiba tiba begitu ringkih dan lemah, Yesline tidak bertanya apa apa saat Al melihatnya. Dia langsung memeluk Al dan menumpahkan semuanya. Membenamkan kepalanya di dada Yesline.
Seperti Seorang Ibu yang menenangkan Anaknya, Dengan lembuta Yesline mengusap usap kepala Al. Dia bisa mendengar tangisan Al yang tanpa suara itu, terlalu menyayat hati.
" Ya Tuhan ... Kuatkan Suamiku. " gumam Yesline dan ikut menangis tapi Dia langsung buru buru untuk menyeka air matanya.
Dokter dan beberapa Perawat datang untuk melakukan pemeriksaan, Meminta Yesline dan Al untuk menunggu di luar. Yesline terus mendekap kepala Al, Dia bisa merasakan tubuh Al yang gemetar.
" Papa, Orangnya kuat. Dia pasti sembuh dan melihat Cucunya tumbuh besar. Aku yakin. " kata Yesline pelan menyakinkan Al dan membuat Al menatapnya.
" Apa Kamu meragukan Papa, Mas ?? "
menangis dan tanpa ada DenganTanpakesedihan, mantap dan yakin Yesline mengatakannya dan menyeka setiap air mata Al dengan jemarinya yang begitu halus.
Al menggeleng dan masih bersandar pada Yesline.
" Aku ingin Papa sembuh. " kata Al pelan.
" Iya. Papa akan sembuh. Kita hanya perlu kuat dan yakin. Kita menunggu disini. " jawab Yesline mengangguk dan meyakinkan meski hatinya sendiri ragu.
Suara pintu dibuka membuat Al langsung menarik tubuhnya mendekati Dokter. Laki Laki ber jas putih itu terlihat gugup, Dia bingung mau mengatakannya. Melihat mata Al hang dipenuhi harapan membuatnya untuk tidak sanggup berkata jujur.
" Bagaimana Papa Dok ??? " tanya Al.
Melihat ekspresi Mereka yang menundukkan kepalanya, Al tahu tatapan itu. Dia mengusap air matanya yang hampir jatuh.
Yesline tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia masih bergeming di tempatnya, Dadanya terasa sesak.
" Maafkan Kami Dok, Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin. "
__ADS_1
Dengan tubuh gontai, Al berjalan melewati Mereka. Dunia seperti berhenti berputar. Hanya ada keheningan dan kesunyian di depan mata. Rasa penyesalan itu menusuk tepat mengenai jantungnya. Dia layaknya bangkai hidup.
Kesedihan seorang Anak yang kehilangan Ayahnya. Bagaikan matahari tidur yang merenggut siang dan hadirkan malam yang abadi. Seperti apa lagi digambarkan ??? Rasa sakit dan kehilangannya bagaikan musim kemarau berkelanjutan. Dahaga akut tanpa jumpai setetes air untuk diminum. Layaknya Orang hidup yang hilang arah, mau mati tapi hari masih panjang.
Yesline belum berani mendekat, Dia tidak punya obat untuk menyembuhkan lukanya. Yesline hanya berjalan di belakang Al, mengikuti langkahnya yang pelan dan lambat. Kaki itu seperti menyeret ber ton ton besi sehingga terlalu berat untuk digerakkan.
Al berhenti disamping pintu, berbalik menghadap dinding, Meninjunya dengan kepalan tangan berkali kali. Melampiaskan kemarahan dan kekesalannya. Yesline ingin menghentikannya tapi tangannya berhenti menyentuh udara.
" Aku bodoh !!!! Dasar bodoh !!! "
Al membenturkan kepalanya ke dinding berkali kali hingga Yesline memeluknya dari belakang. Yesline menyentuh kedua tangan Al dan membekapnya. Tulang punggung tangan Al berdarah.
Al melepaskan pelukan Yesline dan masuk keruangan Papanya itu. Setabah mungkin untuk tetap kuat berdiri, Yesline terus berjalan mengikutinya dari belakang.
Perawat Perawat tadi sudah melepas semua alat bantu medis yang ditubuhnya. Tubuh itu kini sudah tertutup dengan kain putih. Dengan gemetar Al membuka ujung kain itu, Dia ingin melihat wajah Papanya untuk terakhir kalinya.
" Maafkan Al, Pa. Maafkan Al ..." Al memeluk tubuh yang sudah kaku itu untuk terakhir kalinya. Yesline berdiri disampingnya.
**********
" Borgol tangannya !!!! "
Hans dan Clinton berdiri di depan pintu dan menatap Polisi Polisi itu melakukan tugasnya.
" Akhirnya satu masalah selesai. Kita pulang sekarang Clin??? Disini sudah aman. " kata Hans.
" Ayo. " jawab Clinton dan berbalik arah serta berjalan keluar dan diikuti oleh Hans. Mereka benar benar lega. Minimal satu Penjahat sudah diringkus.
" Sekarang bagaimana keadaan Al ??? " tanya Clinton mencemaskan Sahabatnya itu.
" Kamu mau langsung ke Rumah Sakit ? " tanya Hans sembari membuka pintu mobil.
" Iya. Aku khawatir dengan Al. " jawab Clinton sembari berjalan memutari mobil dan membuka pintu depan serta duduk disamping Hans.
Mobil melaju dengan kecepatan diatas rata rata menerjang kegelapan yang terbentang hampir setiap arah mata memandang.
Clinton menghela nafasnya lega. Dia melipat kedua tangannya di belakang kepalanya sebagai pengganti bantal. Dia berpikir untuk memejamkan matanya sejenak. Hari ini benar benar melelahkan.
" Al, Semoga Kamu baik baik saja. " gumamnya.
__ADS_1
****
" Bagaimana ??? " tanya Mami dengan sedikit gugup melihat wajahnya di depan cermin. Mengoleskan gincu merah di bibirnya yang seksi.
Di luar senja sudah mulai menghilang, berganti malam. Waktunya Mami beraksi. Club Alexiz tidak pernah kekurangan pengunjung. Selalu ramai bahkan full booking.
" Beres Mi. " jawab Seseorang dari telepon.
" Bagus. Bawa langsung ke alamat yang sudah Saya kirimkan. Biarkan disana sampai semua keadaan aman. " jawab Mami.
Sekarang tangannya dengan lentik memencet ujung botol parfum dan menyemprotkannya kebagian daun telinga, pergelangan tangan dan daerah daerah yang jadi pusat perhatian.
Menatap tubuhnya dicermin dengan pakaian gaun merah ini seperti mengingatkannya lada sesuatu. Ah .... Dia lupa lagi.
Tangan Mami memijit pelipisnya lembut, tiba tiba merasa pusing.
" Sisca !! Tolong ambilkan Saya minum. " perintahnya pada Wanita yang berdiri tidak jauh darinya. Susi langsung meng iyakan dan pergi.
Mami memasukkan bedak dan lipstiknya kedalam tas dan berjalan keluar dari toilet.
*****
Al memutuskan untuk membawa langsung jenazah Papanya itu ke rumah dan untuk di makamkan. Saat Mamanya sadar, Dia histeris mengetahui Suaminya sudah tidak ada lagi. Dia histeris dan syok hingga pingsan lagi.
Yesline sibuk mengurus semuanya dibantu Leni. Juga Tante dan Pamannya, Orang Tua Nicho dan Rizky datang untuk mengucapkan turut berduka.
Hans, Clinton dan Nicho akan ikut membantu proses pemakaman hingga selesai.
Orang Orang yang datang melayat berkumpul di ruangan tengah. Jenazah diletakkan ditengah tengah untuk menunggu di sholatkan.
Yesline duduk tak jauh dari Mamanya. Tiba tiba Al masuk denga mata merah, pandangannya menunduk ke bawah. Terlihat jelas raut wajahnya bahwa Dia sudah hancur.
Tatapannya lurus melihat tubuh kaku itu hingga Al melihat Mamanya yang tak berdaya itu duduk bersandar ke dinding, Mata itu sembab. Namun sudah tidak mengeluarkan air mata.
Al berjalan menghampiri sang Mama dan menundukkan kepalanya. Mengatur duduknya disamping Mamanya. Yesline bisa melihat Mamanya mengangkat wajahnya untuk menatap Al lalu merangkul lengan Al, Tangisan itu tumpah lagi.
Pandangan Al beralih menatap sang Papa yang kaku di dalam keranda bertutupkan kain warna hijau itu.
Semua terasa gelap. Hidupnya benar benar sudah tidak berdaya lagi. Hampa terasa menyesakkan dada.
__ADS_1