
" Kita memiliki musuh yang sama. Aku akan membantumu menyingkirkan musuh musuhmu. Tapi Kamu juga harus membantuku mendapatkan hakku kembali. Jika tertarik besok Aku akan menemuimu. "
Erwin Menerima sebuah pesan dari nomor baru. Sebenarnya Dia tidak ingin peduli. Tapi Dia ingat betapa dendamnya Dia dengan Keluarga Gunawan membuat Erwin naik pitam karena tidak suka diperintah.
" Aku tidak butuh bantuan siapapun. Jalanku sudah tinggal satu langkah lagi. " gumam Erwin sambil tersenyum sinis. Membuka kancing kerah kemejanya yang paling atas.
Dia mulai mengetik dan membalas pesan itu.
" Lupakan !!! Enyah dari urusanku, Aku tidak butuh siapapun !!!!"
Erwin tidak tertarik membawa Orang luar dalam menyelesaikan urusannya. Karena kerja Mereka akan memperlambat langkahnya. Karena Erwin sudah merasakan itu dari Callista sendiri yang membuatnya memperlambat jalannya.
Ada suara ketukan di pintu, Erwin menggerakkan kepalanya ke arah pintu.
" Masuk. " katanya dan menatap siapa yang datang.
" Ada apa ??? " tanya Erwin karena melihat ekspresi Pengawalnya itu tegang.
" Beberapa klien Kita membatalkan kontraknya, Pak. " kata Pengawal sekaligus Asistennya itu membuat Erwin melotot marah.
" Kenapa Mereka tiba tiba membatalkannya ??? " tanya Erwin marah.
" Mereka mengatakan jika akhir akhir ini, Pengerjaan Kita sedikit lambat Pak. Ada beberapa yang sudah lewat deadline. Dan cenderung harga lebih mahal. " jawabnya sembari sedikit membungkukkan badannya, Menghormati Orang yang didepannya itu.
" Jadi Mereka pindah dan beralih ke Perusahaan lain ??? "
Asistennya itu mengangguk pelan.
" Apa nama perusahaan itu ??? " tanya Erwin dengan kesal.
" Sinar Mulia Grup, Pak. " jawabnya pelan.
" Sialan !!!! Siapa yang berani berurusan denganku ??? " Erwin menggebrak menja dengan keras serta mengepak tangannya dengan penuh amarah.
Asistennya itu masih berdiri disana dengan menundukkan kepalanya di depan Erwin. Perhatian Erwin kembali menatap Asistennya itu.
" Coba Kamu suruh satu Orang untuk masuk ke Perusahaan itu. Kita membutuhkan terkait Informasi sistem dan harga yang Mereka tawarkan, Sehingga Aku bisa menarik klien klienku. Aku tidak akan membiarkan siapun merusak bisnis ini. " kata Erwin dengan berapi api.
__ADS_1
" Baik Pak. " jawab Asistennya berjalan mundur beberapa langkah lalu membalikkan badannya membelakangi Erwin.
Erwin menghempeskan tubuhnya pada kursi kerjanya yang nyaman. Kepalanya dilempar kebelakang dengan mata menatap langit langit. Tangan kanannya mengapit batang rokok yang sesekali Dia hisap dan hembuskan asapnya dari hidungnya.
Pandangannya menerawang jauh. Memikirkan cara untuk mengambil saham itu lagi karena Callista sudah tidak bisa diandalkan. Wanita itu sudah lemah perasaannya. Erwin menarik kembali tubuhnya untuk duduk tegap dan melempar puntung rokok ke tempat sampah di sampingnya.
******
Dalam bayangannya, meski samar, Dikejauhan Mama Al melihat Anak kecil melambaikan tangan kepadanya, Memintanya untuk mendekat. Anak itu tersenyum sangat manis, Rambutnya terurai dibahunya membuat Dia semakin manis dan imut. Matanya lebar menatap Mama Al bersinar. Mama Al ragu ragu untuk mendekat. Dia tidak mengenal anak itu.
" Nenek .... " kata Anak itu membuat Mama Al terbelalak kaget.
" Kenapa Dia memanggilu, Nenek ??? " gumamnya. Tapi jauh dari lubuk hatinya, Dia menyukai panggilan itu, Menghadirkan semacam haru yang berbeda.
Mendengarnya saja mampu menarik garis senyum pada bibirnya yang semula kelu. Matanya yang sembab bagaikan memiliki harapan baru.
" Siapa Anak itu ??? " gumamnya dengan persaaan yang penasaran.
Dari arah berlawanan datang Seorang Pria yang sangat Dia kenal yaitu Al Putranya.
" Al, Kamu disini juga ??? "
" Sayang, Sini peluk Papa. " kaya Pria itu.
Mama Al masih berdiri di tempatnya dan terus memperhatikannya. Dia semakin penasaran.
" Papa ??? " gumamnya kaget, Pandangannya terus menatap Gadis kecil itu dan Pria yang mirip dengan Al itu.
Dengan tawa riang, Gadis kecil itu menoleh dan berlari berhambur membenamkan dirinya ke pelukan Pria itu.
" Nenek .... " Panggilnya lagi dan tangannya terus melambai.
" Sini ... "
Pria itu tersenyum dari arah samping Gadis itu, Datang Seorang Wanita cantik dengan menggunakan gaun putih selutut dengan sangat cantik. Wanita itu berlari kecil memeluk Pria itu dan Gadis kecil itu. Mereka tertawa bahagia melihat Mama Al yang masih terpaku berdiri.
Pria itu berinisiatif bangkit, Menggendong Gadis kecil itu dengan sebelah lengannya. Wanita cantik yang Mamanya lihat itu mirip sekali dengan Yesline, mungkin itu Dia.
__ADS_1
Wanita itu berdiri disamping Pria itu sambil menggenggam tangannya. Pria itu mendekatkan wajahnya ke Gadis kecil itu dan menciumnya pipinya lembut. Bibir Mereka tersenyum lebar, Terlihat jelas kebahagiaan disetiap sorot mata dan lekukan bibirnya.
Mereka berjalan menghampiri Mama Al, tiba tiba dadanya bergetar. Bibirnya ikut menyunggingkan senyim indah dan bahagia. Ada kelegaan yang begitu dalam di hatinya.
" Nenek .... " Gadis kecil itu memanggil pwnuh riang, berlari dan menubruk tubuh Mama Al dan mendaratkan ciuman di wajahnya.
Panggilan itu menjadi candu buat hatinya yang merasakan kepiluan karena kepergian Suaminya. Tawa Gadis kecil itu perlahan mengikis kekosongan didalam dadanya. Dia membalas pelukan Gadis cantik itu yang kini terus bergelayut manja di dadanya.
" Nenek .... " panggilnya lagi menatap lekat matanya. Pria dan Wanita itu duduk berjongkok di depan Mama Al.
Jari jari kecil Gadis itu menyentuh Pipinya.
" Nenek ... " panggilnya lagi sembari jari jarinya yang lain menarik bibirnya untuk tersenyum. Entah kenapa mata Mama Al itu tiba tiba berkaca kaca, Dia langsung mendekap erat Gadis itu dan menangis bahagia.
Dia seperti menemukan harapan baru dalam hidupnya setelah beberapa hari lalu sempat menghilang. Wanita dan Pria itu ikut memeluknya.
Mamanya merasa ada yang menggoncang tubuhnya, membuat kesadarannya lambat laun kembali. Matanya dibuka dengan perlahan lahan. Disampingnya, Yesline senyum menyapa.
" Bangun, Ma. Yesline sudah siapkan sarapan. Mama harus sarapan, ya ??? "
Mertuanya itu sadar, Tadi Dia sedang bermimpi. Tapi Dia sudah mengingat dengan jelas Gadis kecil yang selalu memanggilnya Nenek dan menggambar senyum dibibirnya.
" Dia tidak ingin Aku sedih. " gumamnya.
Dia menggerakkan pandangannya menuju perut Yesline yang sudah mulai membesar. Jika Dia tidak salah mungkin sudah memasuki usia 4 bulanan. Dia mengelus elus perut Yesline membuat Yesline tertegun kaget.
Melihat wajah Mertuanya yang tiba tiba bersemangat, Yesline merasa sangat lega. Niatnya hari ini memang ingin menghibur Mamanya tapi ternyata sudah bersemangat saat melihat dan mengelus perut Yesline dengan lembut.
" Cucuku akan tumbuh menjadi Gadis cantik dan memanggilku Nenek. " gumamnya pelan dan masih menaruh tangannya di perut Yesline. Bibirnya mengulas senyum indah, penuh harapan.
" Iya Ma. Mama akan punya Cucu yang cantik sekali, Yang akan memanggil Mama dengan sebutan Nenek. Tawa riangnya akan memenuhi seisi rumah ini. Dan bagaikan bidadari kecil yang diutus membawa kebahagiaan. Mama harus sehat dan melihat cucu Mama tumbuh dewasa. " kata Yesline dengan berbinar disambut tangis haru Mertuanya itu.
Wanita paruh baya itu menarik Yesline ke pelukannya. Dia menangis, Beberapa hari lalu Dia kehilangan. Bukan hanya kehilangan Suami, Tapi membawa sebagian semangat hidupnya. Dia bagaikan mayat hidup tanpa memiliki harapan lagi untuk melanjutkan hidup, Tubuhnya berubah kurus kering karena tidak nafsu makan.
Tapi hari ini, Tuhan seperti mengirimkan bidadari kecil dalam mimpinya yang akan datang juga ke dunianya. Membawa senyum dan harapan kembali. Dia berjanji, Dia akan melanjutkan hidup.
" Terima kasih Yes .... Sudah sabar merawat Mama selama ini. " katanya masih sedikit terisak.
__ADS_1
" Sama sama, Ma. Yesline sudah tidak memiliki Orang Tua. Melihat Mama sedih ,Yesline jadi ingat sama Orang Tua Yesline. Aku gak mau melihat Mama sedih seperti ini. Mulai sekarang, Mama harus semangat lagi, Demi cucu Mama. " kata Yesline mengelus pundak Mamanya dengan lembut.
Mertuanya itu mengangguk dan Yesline menyeka air matanya itu. Yesline membantu mamanya untuk duduk lalu berjalan untuk mengambil baju dari lemari untuk Mamanya itu.