
Leni sudah siap memegang handle pintu, tapi tiba tiba menoleh ke arah Hans.
" Benaran sudah siap mau ketemu Papaku ??? Soalnya Aku gak pernah bawa Laki Laki untuk mau jenguk Papamu, Bukan mau pelatihan jadi Tentara !! " jawab Hans.
" Mungkin akan lebih parah dari situ. " jawab Leni sambil berusaha menyembunyikan senyumannya.
Meski sebenarnya, Hans bisa melihat tingkah Leni yang sedikit aneh. Seperti tidak mengijinkannya untuk bertemu Papanya.
Hans semakin bingung, karena sedari tadi Dia hanya bertanya kesiapan Dirinya untuk bertemu Papanya. Padahal Dia hanya ingin menjenguk saja. Apa yang harus ditakuti ???
Leni memutar gagang pintu hingga terbuka. Hans mengikuti dari belakang, Dia lupa tidak membawa buah tangan, Tapi sudah terlanjur. Hans menghela nafasnya karena entah kenapa Dia tiba tiba merasa gugup.
" Assalamualaikum, Papa. " sapa Leni pada Laki Laki paruh baya yang terbaring diatas tempat tidur Rumah Sakit dengan sebelah kaki diangkat, disangga dengan menggunakan kain warna putih.
Hans masih menatap muka Orang hang kelihatan garang didepannya. Matanya menatap lurus ke arah Hans.
" Malam, Om ... " sapa Hans dengan tersenyum ramah. Alih alih menjawab Hans, malah melontarkan pertanyaan kepada Hans yang langsung membuat Laki Laki berwajah kalam, cool dan ganteng itu seketika terperangah.
" Kamu, pacarnya Leni ??? " tanyanya dengan nada suara yang berat dan besar tapi sedikit serak. Hans tetap berusaha santai, meski matanya terlihat syok melihat kearah Leni. Wanita disampingnya itu hanya senyum.
" Bu ... bukan Om. " jawab Hans tergagap.
Leni duduk di sofa memperhatikan sembari mengupas buah untuk sang Papa.
" Dia hanya Teman dari Bos Leni, Pa. " kata Leni.
" Benarkah ??? Ini pertama kali Kamu membawa Laki Laki untuk menemui Papa, Jangan coba coba bohong sama Papa, Kamu tau kan ?? Kalau mau jadi pacar Kamu harus lulus tes dari Papa dulu ??? "
" Hm ... " sahut Leni merasa jengah, itu yang memuatnya awet menjomblo. Karena ketegasan sang Papa dalam memilih calon pasangan untuknya.
__ADS_1
Banyak Pria yang berusaha mendekati Leni, tapi berakhir kapok dan lari terbirit birit, takut sama tes yang akan diberikan oleh Papanya.
" Tes apa Om ?? " tanya Hans memberanikan diri. Meski Dia bukan pacar Leni, tapi siapa tai nanti Dia ingin melakukannya.
Jujur, sekarang Hans hanya berusaha membuka hatinya untuk mencintai Wanita lain, itu demi agar dirinya bisa melupakan Yesline dan semua tentangnya. Sudah waktunya Dia memberi kesempatan untuk Wanita lain yang akan membuatnya bahagia.
" Tes kebugaran dan tes yang lainnya, terserah Om. Pasangan Leni harus bisa bela diri dan harus bisa menjaga Leni dari penjahat sama seperti Papanya." kata Papanya menatap Hans.
" Leni kan sudah jago bela diri, Om. Kalau menurutku sebaiknya Pacarnya tidak harus jago dalam bela diri juga. Karena kalau berantam sih bahaya nanti. " jawab Hans bercanda.
Hans tidak tau bahwa Papanya Leni adalah Seorang Komandan Tentara tertinggi dan Senior yang sangat keras, tegas dan sedikit kaku. Menatap tajam ke Hans.
" Jangan coba coba untuk jadi pacar Leni, kalau Kamu tidak punya nyali !! Anak Saya dari kecil memang sudah Saya ajari bela diri demi bisa menjaga dirinya dan Orang Lain dari bahaya. Namun, ketika Dia sudah memiliki pasangan, maka sudah ada Orang lain yang harus bertanggung jawab menjaganya. " kata Papanya Leni dengan tegas membuat tubuh Hans meremang.
Leni masih terus menahan senyumannya. Dia berjalan menghampiri sang Papa, menyuapi buah untuknya. Leni duduk disamping Papanya dan Hans masih berdiri mematung di dekat kaki Papanya.
Tapi Hans berani menanyakannya sampai Leni geleng geleng dibuatnya.
" Dasar Pengacara banyak omong .... " gumam Leni hendak tertawa.
" Jika Pria itu benar benar mencintai Leni, maka Dia akan mengusahakan sebisa mungkin untuk bisa mendapatkannya. Tidak akan menyerah begitu saja, sesulit apapun rintangannya. Bahkan jika nyawa menjadi taruhannya, Dia tidak akan gentar sedikit pun. Jika mendapatkan Laki Laki yang seperti itu membutuhkan waktu lama makan Putri Saya akan menunggu. Saya akan menyuruhnya untuk menunggu daripada menyerah pasrah untuk pasrah pada Laki Laki lemah yang bersembunyi di balik kata cinta, tapi tidak mampu untuk memperjuangkannya. " kata Papa Leni dengan nada memberi tekanan disetiap kalimat yang diucapkan.
Hans mematung ditempatnya, Dia tertegun takjub. Dia sekarang tahu kenapa Leni bisa tumbuh menjadi Wanita yang sangat kuat seperti itu, karena memang didikan Papanya yang tegas dari kecil.
" Kaki Papa terluka karena terjebak saat perang di daerah Papua sana. " kata Leni mulai membuka pembicaraannya. Suaranya yang lebih tapi tegas, membuyarkan lamunan Hans.
Hans membeku di tempatnya. Mendengarkan cerita Leni yang begitu mencekam. Dia bisa bela diri meski hanya sedikit karena Dia tidak benar benar mendalami hal itu. Bagi Hans yang penting Dia bisa menendang dan memukul lawannya, itu sudah cukup.
" Anda hebat Pak. Saya yakin Leni akan mendapatkan Laki Laki terbaik yang pantas untuknya. " jawab Hans sudah mulai kagum dengan katakter Papanya Leni.
__ADS_1
" Iya. Besok kalau Saya sudah sembuh, Kamu bisa mulai melakukan tes. " kata Papanya membuat Hans terperanjat kaget.
" Apa, Om ??? "
" Papa !!! " pekik Leni yang tak kalah kagetnya.
" Sudah ... Papa mau istirahat. " jawab Papanya sambil memejamkan matanya, berpura pura tidur. Leni dan Hans keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk.
" Maafin, Papaku ya Hans. " kata Leni menghentikan langkahnya dan menatap Hans.
" Tidak apa apa Len, Aku salut sama Papa Kamu."
Hans menatap wajah Leni lekat lekat. Wajahnya memang sangat manis dan tidak cocok tomboh sebenarnya.
*********
Callista mengerjap ngerjapkan kelopaknya. Matanya menyipit melihat ke arah jam dinding, sekarang sudah jam 12 malam. Callista bahkan tidak menyadari bahwa Dirinya sudah tidur begitu lama. Dia belum makan dari pagi.
Dia menyibak selimutnya, bergerak turun dari ranjangnya. Perlahan kakinya melangkah ke dapur. Dia membuka kulkas dan hanya ada telur dan mie instan. Dia bahkan lupa semenjak sampai kemarin, Dia belum sempat untuk belanja.
Csllista terpaksa membuat mie karena perutnya sudah keroncongan. Baru saja Dia menuang air di panci kecil dan menyalakan kompor, Callista mendengar suara ketukan dipintunya dari luar.
" Siapa yang datang malam malam begini ??? Apa itu hanya halusinasiku saja karena tidur terlalu lama ??? " gumam Callista takut dan mengecilkan api kompornya.
Dengan sedikit takut, Dia berjalan keluar dapur dan mendekati ruang tamu, Dia ingin mengintip keluar. Callista tersentak kaget mendengar ponselnya berbunyi. Dia mengabaikan ketukan diluar yang semakin berkali kali.
Callista berlari ke kamarnya dan meraih ponselnya yang berada diatas nakas. Callista bernafas lega karena yang menelpon itu Nicho. Laki Laki bagai malaikat untuk Callista.
" Iya Cho, Ada apa malam malam begini nelpon ??? Kelakuan Kamu sudah di luar nalar deh !!! Dasar ..... !!!!!"
__ADS_1