Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 220


__ADS_3

Yesline berdiri tak jauh dari mobil sedan terbaru yang parkir di halaman rumahnya. Tak lama pintu mobil terbuka, dan Yesline langsung sumringah saat melihat yang keluar adalah Meriam, wajahnya langsung bersinar.


"Kalian?'' seru Yesline senang.


Berbeda dengan Yesline, Al langsung berwajah masam.


Udah kayak jelangkung aja, datang tanpa dijemput.


Dalam hati, Al ngedumel gak jelas. Hans keluar dari mobil setelah Meriam, matanya memandangi Meriam dan Yesline yang saling menyapa dan mengobrol dengan akrab. Hans berjalan menghampiri Al yang memaku ditempatnya dengan wajah ditekuk.


"Kamu kenapa, Bro? Kesambet?" selidik Hans, setelah menyisir Al dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Kamu setannya!'' sentak Al sangat kesal. Hans malah ketawa.


"Setan setan gini juga dicariin sama bini dan calon anak kamu," kelakar Hans dengan bangganya." dalih Al semakin kesal.


"Cih, kepedean kamu! Yesline itu cuma mau lihat wajah kamu bukan suka sama kamu.


Tawa Hans semakin lebar, jarang jarang kan bisa bikin seorang Al kesal setengah mati.


Dari kejauhan, Yesline memanggil mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumah.


"Ayo, Hans. Masuk!'' teriak Yesline.


Hans yang dipanggil Yesline bukannya Al, ia pun berdehem beberapa kali dan melirik canggung ke arah Al.


"Iya, Yes!'' jawab Hans.


Al semakin cemberut, dia melangkah meninggalkan Hans dengan hentakan kaki kekesalannya. Kok bisa, Yesline lupa untuk tidak mengajaknya masuk.


Yesline yang masih berdiri di depan pintu menunggu Hans, melihat Al sampai ke depannya lebih dulu. Tanpa berdosa dan merasa kalau dia sudah membuat Al berwajah masam. Yesline malah menyinggung soal Hans lagi dengan wajah berbinar dan antusias.


Suami mana yang tidak akan cemburu?


"Mas, kok sendirian? Hans gak kamu ajak masuk sekalian?" kalapa Yesline celingukan, mencari sosok Hans.


"Kamu kok gitu sih, Sayang, cuma Hans yang dicariin, dia udah besar, bisa jalan sendiri, lagian kamu gak boleh gitu juga, nanti Meriam cemburu gimana?" protes Al.

__ADS_1


"Maaf, Mas. Aku cuma mau lihat Hans, 15 menit aja aku pandangi wajahnya, lalu udah deh, oke? Jangan ngambek, nanti gak ganteng lagi loh. Kalau Meriam dia sudah tahu kok, kalau aku ngidam ngelihatin wajah suaminya, insyaallah gak akan marah ya, Mer. Kamu gak marah kan?'' Yesline melongokkan kepalanya ke dalam rumah, melihat Meriam yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Gak kok, Kak. Cuma lihat aja kan? Gak nambah yang lain?'' canda Meriam dengan senyum di bibirnya yang membuatnya kelihatan nampak manis.


"Sipp." jawab Yesline sambil menarik kembali kepalanya keluar.


"Tuh, Mas. Aku sudah minta ijin ke Meriam. Dia mah gak akan marah." Yesline menatap Al penuh selidik.


"Apa kamu yabg gak ridho, aku memandangi Hans, Mas?'' tuduh Yesline. Al mengalihkan pandangannya dari mata Yesline yang seringnya melemahkan pertahanan Al.


"Ck-ck-ck cicak, kamu dimana? Azka, sayang! Tadi kamu bilang minta diambilkan cicak kan? Ini Papa ambilin, banyak ini, lagi ngintip," seru Al yang seakan akan kalimat itu ditujukan ke Azka. Laki laki itu membalikkan badan, kini ia memunggungi Yesline, Al berusaha menghindari pertanyaan yang ujung ujungnya akan menyudutkannya.


Yesline geram, dia meraih pundak Al dan membalikkan badan kekar suaminya lagi untuk menghadapnya.


"Mas," panggil Yesline lagi, dia menatap lekat Al, sedang Al hanya nyengir memamerkan giginya.


"Mas, ridho, kok." Al terpaksa menyunggingkan senyum di bibirnya dan mengusap usap pucuk rambut Yesline, agar Yesline tak lagi menatapnya begitu.


Hans datang, dia sengaja memperlambat langkahnya agar Yesline tidak lagi menunggunya, tapi dia lupa, tekad wanita itu terlalu kuat dipatahkan jika sudah menginginkan sesuatu.


"Kamu lama bangat, Hans," protes Yesline, yang langsung mengalihkan pandangannya dari Al ke Hans.


Yesline menautkan kedua alisnya, terlihat sangat cantik, dan berdiri tepat di depan Hans, memandangi wajah Hans tanpa berkedip.


"Diam disitu," kata Yesline.


Jika ini terjadi sebelum Hans bertemu Meriam, hatinya pasti sudah berdebar tak menentu, dia akan kembali mengagumi wajah Yesline, dia memang cantik tiada banding. Tapi untungnya, dia sudah ada Meriam yang kini menguasai hatinya. Meski rasa dejavu itu masih ada.


Meriam yang sedari tadi menunggu di dalam rumah, kini keluar saat mendengar Yesline menyebut nama suaminya. Meriam berdiri mematung di dekat pintu, menyaksikan Yesline dan Hans yang berdiri berhadapan. Ada rasa aneh yang tiba tiba menyapa. Ada sakit yang tak begitu menyayat tapi cukup membuat perih.


Apa aku cemburu, Mas?


Melihatmu begitu ditatap oleh wanita lain?


Padahal aku kira, hatiku sekuat baja. Dan untuk Kak Yesline, aku tidak akan merasa apa apa.


Nyatanya, kamu telah mengkudeta rasa baik baik sajaku menjadi penuh khawatir.

__ADS_1


Al kesal, geram, mau marah dan emosinya sudah sampai ke ubun ubun. Tapi, berkali kali ia mengisi sesak di dadanya dengan oksigen penuh, dia tahu bukan waktunya dia untuk marah.


Meskinya kamu harus punya obat, untuk mengobati rasa sakit ini, Yes....


Yang rela terbakar api cemburu, demi senyum di wajahmu itu.


Obatmu harus berdosis tinggi sampai aku lupa, jika hari ini kamu meminta ijinku untuk menginjikanmu menikmati wajah lelaki lain didepanku.


Obat yang kubutuhkan harus kau siapkan malam ini juga, sebelum sakit ini membaku ke antah berantah bernama kecewa.


Aku hanya cemburu, karena hatiku sudah tergadai dengan hatimu sejak lama.


Cepatlah, akhiri tatapan itu, lalu pandangi aku penuh cinta.


Lagi.... Lagi.... dan lagi.


"Sudah," kata Yesline tiba tiba.


"Terima kasih, Hans," imbuhnya. Setelah mengatakan itu, Yesline langsung berhambur meraih tangan Al dan membawanya ke dapur.


"Hans, Mer, kalian masuk saja. Duduk dulu, aku buatkan makanan dan minuman." Yesline berteriak dari dapur.


Al masih membisu.


Yesline tahu, sepanas apa hati Al kini. Yesline mendorong tubuh Al pelan hingga mentok ke tembok, dia melingkarkan kedua tangannya di pundak Al. Memiringkan sedikit wajahnya lalu mencumbu bibir Al dengan inten.


Al merespon setiap pagutan bibir Yesline, dia mengangkat tubuh Yesline membawanya masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dapur.


Al menyalurkan amarahnya dengan menikmati tubuh Yesline, melakukan hubungan intim membuatnya bisa mengalihkan amarah itu dengan benar.


"Kamu bersemangat sekali, Mas," cecar Yseline.


"Pelan pelan, Mas, ah," desahnya lagi di sela sela gempuran Al.


Laki laki itu masih diam.


"Kamu berani membuatku cemburu, ini balasannya," geram Al menambah kecepatan ritme permainannya, membuat Yesline membelalak nikmat saat ternyata dia sudah melakukan pelepasan.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mas,'' kalimat itu yang terakhir Yesline ucapkan di akhir permainan.


Al masih menciumi wajah dan seluruh tubuh Yesline. Dia seperti orang kesetanan.


__ADS_2