Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 227


__ADS_3

Leni tidak marah dan cemburu pada Gabriel. Hanya saja, ada rasa yang aneh yang sedang mengusiknya. Mungkin dia menunggu laki laki itu merayunya dulu.


Melihat Leni melengos pergi begitu aja, Gabriel semakin menunduk lesu, dia semakin takut pulang karena amukan Leni, Apalagi dia dalam mode garang begitu. Entah kemana perginya jiwa Gabriel yang cool dan jagoan dulu. Tergerus Leni mungkin.


"Kamu kok diam aja, Gabr. Kejar tuh istri kamu. Sebelum nanti di rumah kamu hancur tinggal tanah aja, mau?" Clinton menyenggol lengan Gabriel yang mematung.


"Cepat pergi, keluarkan jurus rayuan terbaikmu, Bro. Cepat!" Clinton sedikit mendorong tubuh Gabriel.


"Aish, Iya... iya... Bye, semuanya, jangan lupa aku tunggu kabar mami yang dipenjara seumur hidup!'' Gabriel berlari mengejar Leni.


"Clinton, kamu telepon polisi, jangan biarin mereka lolos. Aku mau urus ratuku dulu, sebelum rumahku kebanjiran dan aku harus tidur di depan pintu." Al menepuk pundak Clinton yang tersenyum kecut. Kan, dia juga mau pulang lihat kondisi Clara. Gimana sih nih si Al, katanya mau pembalasan yang sadis dulu, malah mau langsung pergi.


Al yang menyadari wajah Clinton berubah, langsung mendekati sahabatnya itu dan bercakap.


"Kamu gak mau aku suruh suruh?''


"Emang boleh gak mau? Biasanya juga gak ada pilihan!'' cetus Clinton cemberut.


Al malah tertawa. ''Emang gak ada. Udah ah, Aku balik dulu." setelah menepuk pundak Clinton, Al langsung nyelonong pergi.


Sementara lain, Nicho masih duduk di kursi menatap mami. Wajahnya berubah menjadi serius.


"Mi," panggil Nicho kepada Mami.


"Apa!'' jawabnya judes.


"Kamu segitu kangennya ya sama penjara? Heran deh aku, baru juga keluar sudah bijin ulah lagi, emang kamu mau balik ke penjara lagi?" tanya Nicho merasa penasaran.


Mami mengarahkan matanya ke hal lain, dia tahu, di hati terdalamnya tidak ingin menjawab pertanyaan Nicho. Karena secara sadar dia ingin tetap bebas.


Apa ada jaminan jika kamu masuk penjara akan langsung berubah baik seketika itu juga?


Hey, kamu buka noda pada baju putih yang akan hilang saat dicuci dengan menggunakan cairan khusus. Tapi, setidaknya kamu di sana punya lingkungan yang memaksamu untuk berubah.


Meski begitu, seharusnya tidak cukup untuk membuatmu merindukan tempat yang sebagian orang anggap mengerikan.

__ADS_1


"Bukan kangen, tapi mungkin di sanalah baru otak dia bisa bekerja dengan baik , tidak ngusilin orang. Dunia ini terlalu ramai buat dia, Cho." Clinton berjalan mendekati Nicho, dia baru saja selesai menghubungi polisi.


"Tertawalah, Clinton. Tertawalah, Nicho. Tertawalah sepuas kalian. Kalian semua bersenang senang di atas penderitaanku. Aku gak peduli jika sekarang aku akan di penjara lagi, Aku sudah pernah merasakan 5 tahun mendekam di dalam sana, tidak terlalu buruk untuk masuk lagi, Tapi kamu yang harus khawatir Nicho, jika Callista yang tiba tiba masuk ke penjara, kamu yang akan merasa paling sakit daripada Callista, karena setiap hari akan mendengar tangisan anak kamu memanggil manggil nama ibunya. Kamu boleh menyembunyikan Callista dari aku atau dari kesalahannya, tapi dosa itu tetap melekat dan masa lalu itu tetap bersama Callista, bisa terkuak kapan saja, meski dia tidak di penjara, jika rasa bersalah telah mendiami hatinya, rumah pun berasa seperti neraka." beo Mami panjang lebar.


"Ngebacot aja kamu kayak beo!" desis Nicho.


"Gak apa apa, hitung hitung ceramah sebelum subuh." Clinton menimpali dengan sedikit tawa kecil di bibirnya.


Nicho hanya tersenyum simpul.


Matanya seperti berkata.


Terima kasih semuanya, tanpa kalian, apalah aku dan Callista.


Dia tahu, perasaan apa yang dirasakan sahabatnya itu. Clinton hanya ingin Nicho tahu, dia tidak sendirian, mereka sedan berusaha dan pasti berusaha untuk selalu menjaga dia dan Callista.


Sahabat akan saling membantu di kalah susah juga, bukan?


Dan tertawa bersama disaat senang.


Nicho bangun, menata kursi yang tadi dia putar lalu dia duduki, dia yakin pemilik suara sepatu itu adalah polisi.


Mungkin yang dikatakan Mami sedikit ada benarnya, tapi tak semua kesalahan harus di tebus dengan cara seperti itu, terkadang ada manusia beruntung yang diberi keringanan untuk menebus kesalahannya. Kadang cukup dengan maaf, kadang ada yang dengan nyawa pun serasa tidak cukup. Tergantung nasib masing masing.


Disini bukan maksud untuk membela Callista atau menyalahkan Mami, hanya menghadirkan dua peran dalam keadaan yang berbeda.


Intinya, hindari salah, jika tidak mau terus merasa bersalah.


Aku bukan laki laki yang sepenuhnya bersih dari dosa seperti Hans, Callista juga bukan wanita bersih sepenuhnya dari dosa seperti Meriam, tapi aku dan Callista sedang dalam perjuangan melewati lika liku menjadi manusia baik. Dia sedang dalam proses tobat dari segala salah dan khilafnya. Aku dalam mode menjadi suami yang menjalankan perannya.


Lantas, salahkan jika aku berusaha melindunginya?


Bukan dari salahnya di masa lalu, tapi pada keadaannya kini setelah melewati masa panjang untuk berubah.


Aku tidak mau dia terluka atau dilukai, bahkan oleh rasa bersalah itu sendiri.

__ADS_1


Aku ingin menjaganya dari ingatan ingatan yang menyakitkan itu.


Setiap dia ingat separuh hidupnya hanya dipermainkan untuk jadi boneka balas dendam sang paman, dia selalu frustasi, merasa hidupnya tiada arti.


Hatiku sakit, melihatnya tersiksa.


Apalagi jika ia harus di penjara?


Sebenarnya aku sedang menyelamatkan diriku sendiri dari rasa sakit kehilangan Callista.


Bolehkah, aku dan dia mengubur masa lalu dalam dalam, tanpa ikut lagi terlibat di dalamnya?


Kami lelah terbayang bayang masa lalu.


Jika boleh dan jika bisa kami ingin membunuh ingatan itu dari memori otak kami.


Tapi, bagaimana caranya?


"Selamat pagi," suara bariton itu membuyarkan segala lamunan Nicho. Laki laki itu nampak terkesiap, tapi dengan cepat menguasai dirinya. 4 Orang polisi berdiri di depannya. Nicho dan Clinton memberikan hormat.


"Terima kasih sudah datang, Pak. Mereka bisa bapak bawa pergi sekarang juga, untuk detail tuntutan dan segala hal lainnya, nanti pengacara kami yang akan urus." Clinton berbicara dengan tenang, meski di dalam hatinya sedikit galau karena harus menganggu rencana bulan madu Hans. Pengantin baru itu belum juga bulan madu sudah disuguhi masalah beruntun dari sahabat sahabatnya.


"Maaf ya, Hans. Bukan mau aku sebenarnya, cuma rejeki kamu aja yang datang lebih cepat.''


"Baik, Pak. Kami akan membawa mereka ke kantor polisi, guna melakukan penyelidikan lebih lanjut. Permisi."


Nicho dan Clinton hanya menganggukkan kepala memberi hormat.


Mami melempar pandangan maut ke mereka berdua. Mata Clinton menatap Jarot sekilas, laki laki itu sedari tadi tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Entah dia merenung, menyesali kesalahannya atau hanya memendam rasa sakit di dalam hatinya.


Nicho dan Clinton menatap kepergian mereka, hidupnya serasa lebih tenang setelah melihat mami di bawa dan diborgol seperti itu.


Secara jelas, baru dia musuh sisa dari masa lalu, cukup ya, jangan ada lagi. Tapi, namanya hidup yang lebih kejam daripada sinetron, jadi ada peran antagonis baru.


"Akhirnya..... Misi pertama terselesaikan." Clinton menguap.

__ADS_1


__ADS_2