Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Bab 281


__ADS_3

Hari ini Hans berniat untuk memberikan kejutan rumah baru kepada sang istri, Meriam. Ia sudah lama berencana untuk membelikan rumah baru atas nama Meriam, mengingat mereka belum memiliki rumah sendiri. Selama di Jakarta ini, Hans dan Meriam tinggal di rumah orang tua Hans.


"Kita mau kemana sih? Lagipula, ini masih di mobil. Kenapa harus sampai menutup mataku seperti ini?" kata Meriam sambil tertawa kecil karena matanya ditutup oleh kain yang diikat.


Meriam belum tau sama sekali kalo suaminya ini sudah mempersiapkan kejutan kepadanya, bahkan Meriam tak pernah tau kalo Hans sudah lama menabung untuk membeli rumah baru.


"Sudah, tahan dulu. Sebentar lagi kita akan tiba, kamu tidak boleh membuka penutup mata itu sampai aku yang membukanya," ucap Hans antusias, ia tetap fokus menyetir.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka pun tiba disebuah rumah yang ukurannya cukup untuk keluarga kecilnya. Tak begitu mewah juga, namun terlihat sangat nyaman dengan desain materialnya. Hans pun bergegas menuntun Meriam untuk turun dari mobil dan berjalan ke rumah tersebut.


"Aduh, ada apa ini? Aku tidak sabar!'' ucap Meriam yang terus berjalan di tuntun oleh suaminya.


Hans tersenyum dengan sangat puas, "Oke. Aku buka penutup matamu ya. Sampai hitungan ke tiga kamu boleh membuka matamu," perintah Hans pada Meriam yang terlihat saat bahagia saat ini.


Hans membuka penutup mata di wajah Meriam dan kemudian dia menghitung dari satu sampai tiga sebelum akhirnya Meriam membuka mata.


"Tiga!''


Meriam membuka matanya secara perlahan. Jantungnya berdegup kencang, ia tak bisa mengekpektasikan apapun saat itu. Intinya, ia merasa senang sekali karena Hans memberinya kejutan secara tiba tiba seperti ini.


Seketika ia membuka matanya, betapa terkejutnya Meriam melihat rumah yang benar benar mirip dengan rumah impiannya.


Hampir seratus persen mirip dengan rumah yang didambakan oleh Meriam selama ini. Meriam menangis bahagia, ia bahkan sudah tidak bisa berkata apapun lagi.

__ADS_1


Tanpa basa basi, Ia langsung memeluk Hans. "Kamu memang paling jago membuatku seperti ini. Terima kasih ya," Meriam yang sudah terisak saking bahagianya sejak tadi. Ia memeluk sang suami dengan sangat erat.


"Apa kamu tidak penasaran dengan isinya?" tanya Hans setelah melepas pelukan itu.


Meriam mengusap wajahnya yang basah karena air mata. "Ya, tentu saja. Aku mau! Ayo masuk ke dalam!" mereka berdua pun tertawa kemudian masuk ke dalam rumah tersebut.


Meriam dibuat tercengang. Rumah itu benar benar luas. Dari depan sudah terlihat luas, namun rupanya di dalam terlihat lebih luas lagi. Meriam melihat lihat ke seluruh bagian rumah tersebut.


"Selamat untuk kalian berdua! Terutama kamu, Meriam!"


Sebuah suara yang mengejutkan Meriam, membuat wanita itu menoleh ke arah sumber suara tersebut. Meriam semakin terkejut ketika mendapati orang tua Hans dan orang tuanya.


"Ayah! Mama!'' Meriam berlari ke arah sumber suara tadi yang rupanya adalah orang tuanya sendiri.


Semuanya pun tertawa melihat Meriam menangis tersedu sedu karena terlalu bahagia. "Sudah, sudah. Kamu adalah perempuan yang sangat beruntung mendapati suami sepeti Hans," ucap ibunya sambil mengusap air mata yang ada di wajahnya.


"Bagaimana Mama bisa ada disini tanpa memberitahuku?'' tanya Meriam yang memeluk erat ibunya lagi. Meriam benar benar merasa rindu dengan ibunya.


Seperti itu memang kehidupan setelah pernikahan. Semenjak menikah, perhatian Meriam maupun Hans harus terpecah. Yang tadinya mereka fokus mengurus orang tua, sekarang mereka harus membagi fokus mereka kepada kehidupan pernikahan yang mereka miliki. Bukan hal yang buruk, sebab itu merupakan hal yang wajar yang sudah pasti akan dilalui oleh setiap pasangan.


"Kalo mama bilang padamu, namanya bukan kejutan dong?" celetuk ayahnya yang mendengar percakapan antara ibu dan anak itu. Mereka semua tertawa mendengar ucapan ayahnya.


"Oh, ya! Hari ini mama dan mamanya Hans sudah memasak banyak untuk makan siang. Bagaimana kalo kita makan setelah sholat dzuhur? Mengingat sekarang sudah waktu dzuhur, sebaiknya kita sholat berjamaah terlebih dahulu sebelum makan siang," ucap ibunya Meriam yang kemudian di iyakan oleh semua yang ada di sana.

__ADS_1


Mereka pun melakukan sholat dzuhur bersama sama yang diimani oleh ayahnya Hans yang notabenenya adalah yang tertua. Mereka sholat dengan sangat khusyuk, dan melakukan doa bersama setelahnya. Mendoakan segala galanya, terutama rumah baru milik Hans dan Meriam ini.


Setelah sholat, ibunya Meriam memanggil semuanya untuk makan bersama di ruang makan. Beberapa hidangan lezat yang dibuat oleh ibunya Meriam dan ibunya Hans. Untuk syukuran kecil kecilan ini, mereka memasak nasi briyani kesukaan Meriam dan ayam goreng, serta beberapa makanan lainnya termasuk hidangan pencuci mulut.


Meriam sangat terharu melihat semuanya sudah dipersiapkan begitu matang. Ia benar benar merasa beruntung karena memiliki keluarga yang seperti ini, terlebih ia beruntung karena mendapatkan suami seperti Hans. Benar. Hans adalah yang merencanakan semuanya. Hans sudah lama mempersiapkan hal ini. Ia ingin membuat istrinya itu bahagia.


Mereka mulai menyantap makanan makanan tersebut. Sambil berbincang bincang, membicarakan kehidupan rumah tangga Hans dan Meriam, kemudian membahas pekerjaan Hans yang sebagai pengacara itu. Hans habis mendapatkan penghargaan sebagai pengacara terbaik di kota ini, dan itu membuat namanya menjadi terkenal hingga dimana mana. Kliennya pun semakin banyak.


"Tahun ini, benar benar tahunmu ya, Hans!" ucap ibunya Meriam yang mengetahui bahwa Hans baru saja mendapatkan kabar baik.


"Terima kasih, Ma. Yah, aku berharap seperti itu, semoga aku dan Meriam selalu beruntung," balas Hans setelah menyelesaikan makan siangnya itu.


"Iya, semoga kalian selalu beruntung ya. Omong omong soal beruntung, berarti sudah ada rencana nih!" celetuk ayahnya Meriam yang membuat semua yang di sana tertawa.


Hans dan Meriam saling memandang satu sama lain. Mereka memang sedang menjalani program anak pertama mereka. Dan, saat ini adalah saat yang tepat untuk memberi tahu kepada orang tua mereka yang sudah lama mengharapkan cucu.


"Iya, Ayah. Kami saat ini sedang menjalankan program anak pertama. Semoga Meriam lekas hamil," ucap Hans sembari mengusap tengkuknya malu.


"Alhamdulillah, semoga lancar terus mulai dari hamil nanti sampai lahiran ya, Meriam! Hans kamu harus lebih memperhatikan istrimu ini," kata ibunya Hans sambil tersenyum penuh kebahagiaan.


Ddrrrttt.... Ddrrtt.... Ponsel Hans berdering dan sedikit mengerutkan dahinya melihat nama si penelepon di layar ponselnya.


"Halo?"

__ADS_1


__ADS_2