Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 175


__ADS_3

Al dan Gabriel saling melempar senyum. Mereka akan menjalankan misi sebaik mungkin. Sungguh disayangkan Nicho tidak ikut menjalankan misi ini karena harus menemani istrinya bersama Chloe di rumah sakit. Kalau ada Nicho pasti suasana lebih seru lagi.


" Mas, kamu sudah telepon Clara dan pastiin mereka datang, kan? " tanya Yesline kepada suami tercintanya.


" Sudah, sayang. Sebentar lagi mereka sampai bareng Clara. " jawab Al.


" Baguslah ..... "


Sementara Gabriel menemani Clinton berganti pakaian, Gabriel sengaja menyiapkan pakaian untuk Clinton di kamar tersebut.


" Awas kamu ya, kalau sampai bohongin saya lagi!! " ancam Clinton.


" Yaelah, Bro. Kamu gak percaya bangat sama saya! Pokoknya saya sudah siapin hadiah terbaik buat kamu! " jawab Gabriel.


" Percaya sama kamu musyrik! Kamu yakin, ini ide kamu? Bukan Yesline sama Leni? " sahut Clinton sedikit tidak percaya dengan ucapan Gabriel.


" Yee.... Oncom buluk! Leni itu istri saya. Ya udah pasti idenya dia, ide saya juga!! " kesal Gabriel pada Clinton.


" Setau saya pemikiranmu sama Leni itu beda deh!! "


" Terserah Anda!!! " kesal Gabriel.


Sementara Clara sudah tiba dengan beberapa orang, Mereka naik ke rooftop penthouse yang sudah disulap menjadi outdoor party dengan tambahan lampu kerlap kerlip membuat nuansa romantis, dan disudut rooftop tersedia beberapa makanan dengan tema barbeque party.


Clinton pun yang sudah selesai di ajak Gabriel untuk naik ke atas rooftop. Dalam perjalanan ke rooftop, kedua mata Clinton memperhatikan sekeliling penthouse milik Gabriel yang terbilang sangat mewah ini. Clinton tidak pernah menyangka jika Gabriel benar benar konglomerat.


Clinton dan Gabriel tiba di rooftop, Clinton terkejut melihat dekorasi rooftop yang sangat bagus dan indah. Kedua mata Clinton melihat sahabat sahabatnya yang tersenyum lebar menatap kedatangan Clinton, begitu juga dengan Clara yang sangat cantik malam ini dengan gaun yang terbilang seksi menurut Clinton. Namun, senyum Clinton langsung memudar ketika melihat dua orang yang sangat tidak ia sukai, turut hadir di acara ini.

__ADS_1


" Kalian..... Kenapa kemari?!! "


Rahang Clinton seketika mengeras ketika melihat dua orang yang paling dibencinya. Dua orang yang sudah menorehkan rasa trauma kepadanya sedari kecil.


" Sebaiknya kalian pergi! " ujar Clinton enggan memandang keduanya.


Kedua orang yang dimaksud Clinton adalah Marni dan Budiman, Orang tua kandung Clinton sendiri. Biasanya seorang anak akan bahagia bila bertemu dengan orang tuanya. Namun hal ini tidak berlaku untuk Clinton.


Clinton bahkan sudah menganggap keduanya sudah tiada. Jika boleh memilih, Clinton tidak ingin jadi anak dari mereka.


Seharusnya orang tua lebih memperhatikan anaknya yang sedang bertumbuh dewasa, bukannya malah sibuk menjalin kasih melupakan status sebagai orang tua.


Clinton kecil bahkan menjadi saksi perselingkuhan keduanya. Marni dan Budiman sama sama selingkuh dan akhirnya memilih bercerai tanpa mempedulikan perasaan Clinton yang dulu begitu hancur.


Karena itu, Clinton tidak mau tinggal dengan keduanya.


" Nak, Maafkan kami. Ini sudah berjalan berpuluh tahun lamanya. Dan kamu masih dendam? " Budiman membuka suaranya. Dia juga sudah lelah menjadi Ayah yang abai.


Clinton membuang mukanya.


" Ya. Sudah terlalu lama. Dan kalian tetap tidak peduli. Jika bukan karena undangan Al, mana mungkin kalian peduli dengan pernikahanku karena kalian tidak pernah mengganggap ada. Jadi sekalian saja, aku menganggap kalian juga sudah mati. "


Terlalu sakit dan pilu mengatakannya. Tapi itulah yang Clinton rasakan. Berpuluh puluh tahun, ia sudah terbiasa hidup tanpa mereka. Lalu untuk apa mereka datang dan mengacaukan hari bahagianya?


" Nak, kami mungkin memang egois di matamu. Maafkan kami, Nak. Kami banyak salah, tapi kami ingin ikut hadir di acaramu, boleh ya? " Marni ikut berbicara. Bohong jika dibilang selama itu, dia tidak merindukan putranya. Dia hanya tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan hati putranya kembali. Sampai memaksanya untuk mendiamkan keadaan, jika memang itu lebih membuat Clinton bahagia.


" Terserah kalian. Boleh datang sebagai tamu biasa. Jangan bikang kalau kalian adalah orang tuaku. Karena kalian tidak cukup untuk disebut sebagai orang tua sesungguhnya. "

__ADS_1


Clinton sedikit tidak tahan harus berdekatan terus dengan keduanya. Ia tidak peduli jika dikatakan anak durhaka sekalipun karena keduanya itu tidak pantas menjadi orang tua.


" Clinton, jangan begitu. " Al mengingatkan yang mulai mendekat.


" Saya berterima kasih atas niat baik kamu, Al. Tapi sorry, untuk mereka, saya benar benar tidak bisa. " Clinton mengatakan dengan sungguh sungguh.


Marni dan Budiman tertunduk. Marni menyeka air matanya.


Clara menatap kejadian itu. Dia berjalan mendekati Marni dan Budiman. Kedua orang tua itu terkejut, saat Clara tiba tiba memeluk keduanya. Semua mata memandang bingung, Apa yang ingin Clara lakukan. Termasuk Clinton yang menatapnya terkejut.


Clara melepas pelukannya.


" Bu, bagaimanapun kalian adalah calon mertuaku. Mohon berikan restu dan doa terbaik kalian. " Clara menundukkan kepalanya saat mencium punggung tangan mereka secara bergantian.


Tak terasa Marni dan Budiman meneteskan air mata.


" Terima kasih, Nak. Clinton sangat beruntung memiliki wanita sebaik dan setulus kamu. Ingat, Nak. Kamu harus merawat cintamu dengan baik. Jangan seperti kami yang gagal. Jangan biarkan masa lalu menenggelamkan masa depan indahmu. Cukup kami saja yang merasakan kepahitan dan kegetiran karena kesalahan di masa lalu. Semoga kalian selalu bahagia. Kami merestui dan mendoakan yang terbaik. " Marni mengecup kening Clara. Begitu juga Budiman yang tiba tiba mengeluarkan sebuah cek kosong. Memberikannya kepada Clara.


" Ini hadiah dari papa, Kamu bisa isi berapa pun dan mau digunakan untuk apapun. Itu buat kamu. " Budiman mengusap pucuk kepala Clara.


" Kenapa kamu melakukannya, sayang? Pernikahan kita tidak butuh restu mereka. "


Clara menoleh. Dia langsung menghampiri Clinton. Meraih lengan Clinton dan mengajaknya untuk berdiri lebih dekat dengan kedua orang tuanya.


" Mas, Aku tahu mereka sudah membuatmu terluka. Tapi bukan berarti kamu juga boleh melukai mereka. Meski kamu pungkiri, mereka tetap orang tuamu. Kamu hanya perlu memberikan sedikit maaf, memang sulit, tapi cobalah. Tidak ada manusia yang tanpa salah dan dosa. Kita hanya perlu mencoba memberi maaf sebanyak yang kita bisa. "


Clinton masih terdiam, mencoba mencerna kata kata Clara.

__ADS_1


__ADS_2