
Siang telah mendatangi tanah korea dimana dia berpijak kali itu. Padahal, jika di Indonesia, barangkali masih pukul 8 pagi. Jadi, ya memang agak panas panasan yang penting katanya seru seruan. Apalagi geng kampret ini ramainya luar biasa. Semua, baik bapak bapak, emak emak, sampai anak anak juga ikut semua. Kalo geng kampret ini semua sudah beraksi, hati hati aja, sekampung juga kena imbasnya.
Geng kampret yang tidak jelas itu memutuskan untuk mendatangi festival layang layang yang dilaksanakan di pesisir pantai korea. Suasana siang itu tetap ramai walaupun terik, dimana kebanyakan warga lokal mendominasi. Duh, cewek ceweknya bening, belum lagi oppa oppanya juga tidak ada yang hitam. Menggoda iman gak tuh?
"Wih, layangannya yang disebelah barat sana keren juga," komentar Clinton seraya menunjuk sebuah layangan besar yang berbentuk seekor naga hijau.
"Ih, iya. Bagus, Om." celetuk Chloe ikut mengomentari.
Clinton yang senang pendapatnya disetujui si imut, segera berjongkok lalu memeluk Chloe dengan sayang. Dia jadi tidak sabar ingin segera punya anak yang imut dan menggemaskan seperti Chloe itu.
Memang, dalam festival tersebut, banyak sekali beragam model layang layang yang menarik. Mulai dari ikan, macam kucing, sampai naga. Rata rata semua yang ditampilkan adalah layang layang bermodel unik yang berhasil terbang. Berbeda dengan mereka yang barangkali bisa membuat bentuknya, tapi tidak bisa diterbangkan.
Gabriel mendekat, "Yah, gitu aja mah kecil. Kamu pasti enggak bisa buat." sahut Gabriel sok tahu.
Nah, kan. Sudah Clinton duga, keberadaan Gabriel memang menghancurkan mood nya. Ingin sekali Clinton pukul kepala si tua sok sok an itu demi membuat tua bangka itu sadar, betapa menyebalkannya dirinya. Sampai Clinton kehilangan senyuman dan memutuskan untuk menurunkan Chloe dari gendongan.
"Halah, kayak kamu sok bisa aja, Gabr." protes Nicho membela Clinton.
Wajah Clinton terlihat puas dibela demikian. Sayangnya, Gabriel juga mana mau menyerah? Dia mah pasti akan tetap membela diri.
"Gimana, mau kita buktikan? Ayo kita bikin sekarang." tantang Gabriel.
"Ogah, dah. Repot. Mau cari bahan kemana coba?'' tanya Nicho menampik.
__ADS_1
Si Gabriel ini memang sok sok an. Sehingga, pria itu dengan percaya diri menunjuk salah sebuah sudut pasir yang memperlihatkan berbagai macam bambu, tali dan kertas berkumpul menjadi satu. Semua itu adalah bahan bahan untuk membuat layang layang tentu saja. Dan memang diadakan lomba karena di atas dijelaskan judul pelaksanaan lomba buat layang layang. Ditambah, di bawahnya ada nominal hadiah yang bisa didapatkan.
"Itu, lihat?'' kata Gabriel dengan bangga.
Al yang ikut kesal seketika membela Nicho dengan berkata, "Cih, apa apan. Lagian hadiahnya juga cuma receh gitu. Kita mah enggak butuh hadiah gitu aja. Iya kan, Cho?''
Kepala.yang mendongak dengan bangga itu segera disahut Nicho dengan anggukan dan senyuman pula. Al dan Clinton memang top markotop deh.
"Pasti, dong. Hadiah receh kayak gitu sama sekali belum ada seperempat dari pendapatan kita. Jadi buat apa juga repot repot nyusahin diri?" imbuh Nicho terlihat semakin percaya diri.
Gabriel berdecak meremehkan. Pria itu bahkan sampai melipat lengan di dada dengan arogan.
"Astaga, Al. Bilang aja deh kalo kalian ini tidak bisa membuat layangan. Makanya gak mau begitu. Iya kan?" ujar lelaki itu pongah.
Sikap Gabriel benar benar membuat Al dan Nicho meledak. Ditambah, anak anak mereka juga ikut memprovokasi karena ingin dibuatkan layangan juga.
Si Chloe juga ikut ikutan, anak itu mencebik seraya merengek. "Papa buatin Chloe layangan juga lah. Chloe kan juga pengen. Papa ikut lomba ya. Kalo tidak bisa, nanti Chloe minta tolong sama Om Gabriel aja deh, yang seba bisa."
Astaga. Bisa bisanya Chloe malah memuji pria lain yang hanya bisa membual itu. Nicho otomatis darah tinggi melihat perilaku Gabriel yang bisa mencuci otak anak anak sucinya itu. Sialan memang si tua bangka itu. Pantas saja, Clinton kesal setengah mati!
"Eh, sayang, kok malah tidak bela papa? Papa bisa dong, bikin layang layang juga," ujar Nicho menenangkan.
Dia sungguh tak rela harga dirinya selaku ayah yang sempurna di nodai oleh omong kosong Gabriel itu. Enak aja!
__ADS_1
Si Azka seketika membela temannya, "Kalo om sama papa memang bisa, berarti harus mau ikut lomba dong. Iya kan?''
"Hahaha, Gimana, Al? Cho? Yakin berani ngambil tantangan dari anak kalian sendiri? Katanya gentlemen!'' sindir lelaki itu semakin seenaknya.
"Ya, beranilah! Sembarangan aja kalo ngomong. Palingan kamu juga kalah. Jadi kamu juga gak bakal lebih baik dari kita," kritik Al balik dengan kepala mendidih.
Hans yang sebenarnya punya banyak pengalaman dalam dunia pelayangan itu hanya bisa menggeleng kepala. Acara honey moon dengan Meriam yang begitu sempurna, sekarang sudah rusak sampai bobrok gara gara kedatangan orang orang kampret ini. Sungguh gila!
Clinton juga sama. Lelaki itu sepertinya langsung mental break down semenjak dikritik sejak pertama kali. Apalagi dia menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki skill dalam dunia layang melayang. Jadi, dia lebih memilih menyimak perdebatan itu saja deh daripada semakin kena mental.
Gabriel terlihat puas akan sikap sembrono Al dan Nicho yang hanya mengutamakan gengsi dan harga diri. Orang orang tidak ber skill itu pasti akan kalah telak di bawah tangannya. Jadi, Gabriel berniat memberi tantangan tambahan untuk kedua orang itu.
"Oke, sip. Clinton sama Hans ini diam diam aja. Takut?" sindir Gabriel pada akhirnya menyeret mereka.
Yang tidak terima malah Al. "Astaga, kamu ini sungguh bikin emosi, tau enggak? Ya enggak bakal takut lah! Iya kan, Clinton?"
Padahal Clinton sangat sangat tidak ingin terlibat dalam urusan tidak jelas ini. Dia takut mempermalukan diri sendiri karena nantinya akan kalah telak. Sementara, si Al yang sudah seenaknya membela dirinya itu mau tak mau membuatnya setuju dengan canggung seraya terbata bata.
"Eh, hem, berani kok," ujar pria itu ragu.
Sayangnya, si Gabriel memang terlahir untuk membuat onar. Dia tak cukup mengganggu ketiga orang itu dan memutuskan untuk menyeret Hans juga.
"Kalo kamu gimana, Hans? Siap enggak sih?'' tanya lelaki itu.
__ADS_1
Hans hanya dengan santai segera mengacungkan jempol setuju. Geng kampret ini sungguh tak tau bahwa suhu yang sebenarnya memang tidak banyak bicara. Setelah membaca pengumuman lain disisi kanan, ada keterangan yang menyebutkan bahwa ajang ini memperebutkan juara 1 yang akan dinobatkan sebagai best couple or best family di bulan itu dan akan diterbitkan disebuah majalah ternama di sana. Jiwa kompetitif mereka jadi meroket.
Apalagi, pada dasarnya anggota geng kampret yang tidak mau kalah satu sama lain, menjadikan ajang itu sebagai penilaian siapa yang paling best couple di antara mereka berlima.