Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 206


__ADS_3

Seorang Dokter dan satu perawat berjalan dengan cepat memasuki ruangan seorang pasien. Mereka dengan cepat mengecek kondisi kesehatan pasien yang tiba tiba mengalami kejang kejang.


"Apa ada pihak keluarga yang menjaga di luar Sus?" tanya sang Dokter.


"Saya cek dulu sebentar ya, Dok." Suster membalikkan badan, berjalan ke luar ruangan, kepala dan setengah tubuhnya melongok ke depan. Dan di kursi tunggu di dekat ruangan itu sepi.


Suster Itu kembali masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu. Dia menghampiri sang dokter.


"Tidak ada pihak keluarga yang menjaga, Dok."


Sang Dokter membuka kembali catatannya, pasien atas nama Suzan di daftarkan atas nama keluarga siapa.


"Dokter Wahyu, Ada apa, Dok?'' tanya Suster itu yang melihat raut wajah Wahyu tiba tiba brubah.


"Dia didaftarkan atas nama Ibu Yesline Gunawan. Kita tahu beliau dan Dokter Al lagi berada di Jogja sekarang, ada acara keluarga. Bagaimana kita bisa memberi tahu mereka soal kondisi pasien yang tiba tiba memburuk, Saya takut mengganggu mereka." Wahyu berargumen.


"Tapi jika sampai sesuatu terjadi dengan pasien ini dan kita tidak memberi tahu mereka, kita juga pasti akan kena masalah, Dok. Dokter tau sendiri, Dokter Al sangat mencintai Ibu Yesline, jika dia sedih atau kecewa, habislah kita." sang suster ikut angkat bicara. Wahyu berusaha menelaah setiap perkataan yang dikatakan oleh Susternya. Dan yang dikatakan emang benar.


Amukan Al lebih menakutkan dari pada singa jika dibandingkan rasa sungkan karena dianggap mengganggu.


Lebih baik jadi pengganggu daripada kena omelan atau hukuman.


"Baiklah, saya akan mencoba menghubungi dokter Al." Setelah mengatakan itu, Wahyu sedikit menjauh ke sudut ruangan, dia menghubungi nomor Al berkali kaki tatapi tidak ada jawaban.


Suster itu mendekat, saat tahu apa yang terjadi.


"Tidak diangkat, Dok? Kita lakukan sebaik yang kita bisa saja, Dok. Semoga pasien bisa kembali stabil keadaannya. Nanti kita coba hubungi beliau lagi di pagi hari."


Wahyu menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah, kita ambil tindakan penanganan sendiri, semoga keputusan ini benar."


Perkataan Wahyu langsung diangguki oleh suster itu.


*****


Nisa yang dimintai tolong Meriam untuk menjadi penerima tamu, dia nampak cantik dengan gaun putih kombi brokat yang ia gunakan. Dengan sedikit riasan di pipinya membuatnya nampak manis. Gadis itu melihat Rizky duduk sendirian tanpa bergabung dengan teman teman sang Kakak. Nisa membawa sebotol minuman dan mendekati Rizky yang masih duduk memainkan ponselnya di sudut terop.


"Hai," sapa Nisa. Yang menyikut lengan Rizky menggunakan botol minuman yang ia bawa. Rizky menoleh dengan acuh, dia sedang tidak bersemangat, mungkin kondisi hatinya sedikit membaik karena ada Nisa.


"Hm," sahut Rizky hanya dengan deheman pendek.


Matanya masih menatap layar ponsel, sedangkan dia kini memainkan sebuah game online. Tanpa mempedulikan sekitar. Rizky asik dengan dunianya sendiri. Nisa meneguk minumannya beberapa tegukan, lalu dia memulai pembicaraannya dengan Rizky.


"Kalau menikah nanti, kamu menginginkan wanita seperti apa?" tanya Nisa. Matanya menatap lekat Rizky, laki laki itu hanya melirik Nisa sebentar lalu kembali menatap layar ponselnya dengan acuh.


"Kenapa kamu kepo? Tuh, sana masih banyak tamu datang, jangan ganggu aku, kamu gangguin aja para tamu noh, pada ganteng ganteng dan sholeh." Rizky menyentakkan dagunya berkali kali. Ke arah beberapa laki laki yang sedang duduk di mesjid. Mereka baru saja datang, dan sudah dilayani oleh penerima tamu yang lain.


"Dasa kamu, ih. Masa calon jodohnya disuruh merhatiin cowok lain, nanti nyesel loh kalau aku berpaling." canda Nisa.


Rizky tidak tertawa, dia hanya nyeletuk aneh, bibirnya mengerucut ke depan, menirukan gaya bicara Nisa yang lucu. Tangan Nisa dengan cepat menjitak dahi Rizky. "Di jaga mulutnya, Massee. Nanti aku jitak lagi, mau?''


Rizky tidak sadar sudut bibirnya sudah tertarik membentuk senyuman.


"Nah, kan. Manis kalau senyum gitu. Jadi pengen aku cubit, gemes." ujar Nisa, tangannya mencubit udara, dia tidak menyentuh Rizky sama sekali. Meski Nisa belum berjilbab, tapi keseringan bergaul dengan Meriam, dia lebih menjaga dirinya dalam bergaul dengan lawan jenis. Meski mulutnya cenderung liar.


*******


Al merasa ada yang bergetar di dalam bajunya saat dirinya sedang berciuman dengan Yesline di dalam kamar, Namun Al malah mengabaikan telepon itu tanpa mengeceknya terlebih dahulu. Yesline pun seharian lupa mengecek ponselnya.

__ADS_1


Ya. Seusai acara nikah, mereka tidak langsung ke bandara, mereka diminta menginap di rumah Meriam yang satunya, yang masih berada di dalam lingkup pondok, akan ada jamuan makan malam untuk keluarga besar dan teman dekat.


Rumah itu, dua lantai dengan banyak kamar. Yesline dan Al menempati kamar lantai dua, juga ada Gabriel dan Leni yang berada di kamar lain, dilantai dua.


Sedangkan Clara, Clinton, Nicho dan Callista berada di lantai satu. Masing masing dari mereka sudah selesai melakukan jamuan dari makan malam,


Hans masih nampak riwa riwi melayani tamu yang masih berdatangan sampai malam tiba. Berbeda dengan Meriam yang sudah lebih duku masuk ke dalam kamarnya saat pukul 9 malam tadi.


Wanita itu duduk di depan meja rias membersihkan seluruh make up yang masih menempel di wajahnya. Matanya mengedar melewati bayangan dari cermin di depannya.


Kamar pengantin mereka di dekor sedemikian rupa. Banyak bunga segar yang ditebar di beberapa sudut pilihan, ada juga yang ditata diatas permukaan kasur, membentuk gambar hati. Wangi wangian yang dipakai benar benar berbeda. Meriam merasa nyaman.


"Malam penentuan, kamu siap Meriam?" tanya Meriam pada hatinya sendiri. Saat dia bangun dan meraih koper disampingnya, itu adalah peralatan tempur dari Ibunya, untuk menaklukkan malam pertama mereka. Meriam belum terlalu paham, dia belum membuka koper itu. Dia memutuskan untuk beranjak ke kamar mandi, membersihkan diri.


"Jantungku tidak karuan, Gusti...... Nanti sakit atau tidak ya? Apa Mas Hans langsung mengajakku begituan?"


"Ah, kata Ibu aku harus siap dan tetap melakukannya. Jika berhasil di malam pertama, itu adalah lebih utama,"


Meriam berbicara dengan dirinya sendiri. Dia menyudahi acara berendamnya dalam bathub, dia mengeringkan tubuhnya, lalu rambutnya, dan terakhir membelit tubuhnya dengan handuk.


Meriam berjalan keluar dari kamar mandi, menggunakan handuk saja. Lalu ia duduk ditepi ranjang, dia membuka koper itu perlahan dan matanya syok membelalak saat melihat sesuatu apa yang memenuhi koper itu.


"Masyallah Mama, Mama bilang ini alat tempur?" Meriam bergumam tak percaya, mana mungkin dia bisa memakai itu semua? Wajahnya sudah merah padam karena malu.


Tapi, sekali lagi, Meriam mengingat tugasnya. Dia mengambil satu yang berwarna merah. Menempelkannya pada tubuhnya dan bergegas memakainya.


Kidung cinta menggema di dekat daun telingaku, Hanya ada namamu yang mengalun indah.


Duhai cinta....

__ADS_1


Kusambut kau di dalam kamar kita untuk menjalani malam pertama.....


__ADS_2